
đđđđđđđđđđđđ
Cahya belum mau menikah, dia merasa itu terlalu cepat, umurnya juga masih terlalu muda, dia akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja dan akan mulai kuliah di awal semester.
Cahya bekerja seperti biasa, dia mulai akrab dengan teman kerjanya yang lain, dan Roni masih terus berusaha mendekatinya, setiap masuk kerja pasti Roni akan menunggunya di depan supermarket untuk bisa masuk bersama.
"Ayya, kenapa kamu sangat telat hari ini?"
"Aku bangun kesiangan, maaf ya"
"Ayo cepat masuk, waktunya sudah sangat mepet"
Hari itu terlewati seperti biasa, pekerjaannya lancar, saat tiba waktu pulang Roni terus berusaha untuk bisa mengantar Cahya pulang
"Ayya,, aku antar ya, daripada kamu harus menunggu ojek lama"
"Ojek langganan aku tiba-tiba memberi kabar kalau dia sakit, aku masih mencoba menghubungi mama"
"sudah sama aku saja, ayo" ujar Roni merasa ada kesempatan.
Cahya masih bingung, dia mau menghubungi Devan tapi dia ragu, dia tidak mau menghubunginya lebih dulu.
Cahya pulang bersama Roni, sesaat setelah mereka berangkat lalu datang Devan menjemput Cahya, dia masuk kedalam untuk mencari dan menanyakan ke bagian shif selanjutnya
"Maaf, Cahya ada dimana ya?" tanya Devan
"Cahya sudah pulang, sudah dari tadi pergantian shif"
Devan mengucapkan terimakasih lalu keluar menuju mobilnya, sambil berusaha menghubungi Cahya, tapi tidak ada balasan, ditelepon juga tidak diangkat.
Sementara Cahya karena sedang diperjalanan dia tidak tau ada telefon, apalagi dia bersama Roni naik motor jadi tentu saja agak susah untuk bermain ponsel.
__ADS_1
Cahya meminta pada Roni untuk berhenti sebentar di perjalanan karena dia mau membeli boba kesukaan nya, dan lagi dia merasa lapar jadi dia sekalian membeli camilan.
Cahya menjadi lebih lama sampai kerumahnya, karena tadi mengantri saat membeli boba, dia sampai dirumahnya dan berbincang sejenak untuk ber basa-basidan mengucapkan terimakasih pada Roni
"Besok aku jemput ya, kita berangkat bareng" ujar Roni
"Bagaimana besok saja ya, takutnya sudah ada yang menjemput ku atau ojek langganan aku sudah sembuh"
Lalu Devan datang dan langsung keluar dari mobilnya,
"Ayy, kenapa tidak menungguku? ini siapa?" tanya Devan karena Roni menggunakan helm jadi dia tidak tau itu siapa
"Ini teman kerja aku tadi mengantar aku karena ojek langganan aku sakit"
Devan melihat yang mengantar Cahya dan dia sadar kalau orang itu yang berusaha mendekati Cahya.
Devan cemburu dan langsung merangkul Cahya
Cahya berusaha melepaskan rangkulan Devan karena tidak enak dilihat Roni
"Bukan begitu, kita searah jadi dia mengantar ku"
"Ternyata searah, baiklah terimakasih karena sudah mengantar pacarku" ucap Devan ke Roni
"Kamu sudah punya pacar Ayya?" tanya Roni pada Cahya
Cahya tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk
Lalu Roni pamit pulang, sepertinya dia kaget dan tidak menyangka kalau Cahya sudah punya pacar karena selama ini dia tidak pernah melihat Cahya bersama pacarnya itu.
Cahya lalu membuka pagar untuk masuk kerumahnya saat Roni sudah pergi
__ADS_1
"Kamu pulang saja" ujarnya pada Devan sesaat sebelum masuk ke rumah
"Kamu ngusir aku?"
"Bukan begitu, mama belum pulang"
"Kamu berani ya ayy"
"Berani apa maksudnya, aku kan sudah terbiasa di rumah sendiri kalau mama kerja"
"Kamu berani pulang sama pria lain!"
"Kita searah, dia sudah lama sering mengajak ku pulang bareng tapi selalu aku tolak karena aku sudah ada ojek langganan, tadi kebetulan ojeknya sakit jadi aku bareng dia"
"Kenapa tidak menelfon ku?"
"Aku tidak mau mengganggumu"
Devan kesal dia langsung masuk kedalam dan duduk di teras rumah karena pintu rumah belum dibuka oleh Cahya dan Cahya lalu duduk disebelahnya, dia tidak menyangka Devan akan semarah itu.
Cahya meminum boba nya dan menawarkan pada Devan yang masih cemberut, Devan melihat ke Cahya dan saat Cahya menyedot minuman nya, dia langsung mendekat dan ikut minum dari mulut Cahya, setelahnya tidak langsung melepaskan nya karena dia terus menciumnya.
Cahya kaget dan berusaha mendorong nya, ini di teras bagaimana kalau ada orang lewat atau tetangga melihat, tapi Devan sangat kuat, dia menahan kepala Cahya dengan tangan nya, dia tidak peduli apapun lagi, karena menikah saat ini pun dia sudah sangat siap.
Bahkan saat Cahya menggigitnya dia menahan nya dan tidak melepaskan nya, dia terus menciumnya seperti mencoba untuk menguatkan hatinya yang terbakar cemburu.
"Ayya hanya milik aku seorang selamanya" batin nya sambil terus menciumnya
Cahya kehabisan nafas, dia memukul dada Devan, berusaha memberi tahu Devan kalau dia sudah tidak kuat lagi, Devan lalu melepas ciuman itu, tapi dia masih memegangi kepala Cahya dan memandangnya tajam,
"Jangan pernah bersama pria lain lagi, kamu hanya boleh bersamaku, barusan hukuman buat kamu, kalau kamu masih juga seperti tadi, aku bisa melakukan lebih dari ini"
__ADS_1
Cahya hanya bisa mengangguk pasrah, lalu sedikit bergeser untuk mengatur nafasnya.