Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Devan menemukan Cahya


__ADS_3

Cahya keluar ruangan setelah selesai menyuapi Habib, dia masuk ke kamarnya dan gemetaran disana, dia sungguh ketakutan, dia merasa tidak ada jalan lagi untuk keluar dari sana.


Hari terus berlalu, Habib semakin sehat dan pulih, dia sudah bisa berjalan walau masih menggunakan alat bantu atau dipapah, malam itu dia ingin ke kamar yang ditempatin Cahya, karena sebenarnya itu adalah kamarnya.


"Malam ini aku akan tidur di kamarku nek" ucap Habib pada neneknya


Cahya yang sudah bersiap tidur kaget saat pintu kamar terbuka, terlihat Habib memasuki kamar yang dipapah oleh ajudan nya


"Ada yang bisa aku bantu" Cahya langsung bangun dan mendekati Habib


"Malam ini aku akan tidur disini, karena ini memang kamar aku"


Sungguh perkataan yang membuat Cahya hampir copot jantungnya, Habib dipapah menuju kasur sementara Cahya masih terdiam didepan pintu


"Baiklah, aku akan tidur diruang tamu" ucap Cahya dan langsung berbalik untuk keluar dari kamar itu dan menuju ruang tamu, tapi para ajudan yang menjaga pintu memblokir jalan


"Nona silahkan masuk ke kamar" ujar salah satu dari mereka


Pintu kamar ditutup, tapi Cahya masih tidak bergerak dari tempatnya, Cahya hampir menangis, lalu dengan perlahan Habib berusaha mendekat


"Jangan menangis Ayya sayang, aku tidak akan menyakitimu, kamu tidak perlu takut, aku bukan lelaki jahat yang akan menyentuhmu sebelum pernikahan"


"Habib, kenapa kamu seperti ini? aku mohon lepaskan aku, kamu tau ini anak Devan kan? lalu tolong bilang pada nenek kalau ini bukan bayi kamu"


"Apa yang kamu ucapkan sayang, kenapa kamu menyebut omong kosong?" senyuman Habib saat mengatakan itu sungguh menakutkan.


"Baiklah sayang, sepertinya kamu masih malu-malu padaku, saat aku benar-benar pulih, kita akan segera menikah, bersiap saja dulu" ujar Habib, lalu dia keluar dari kamar itu.


Cahya terduduk lemas mendengarnya, dia hanya bisa menangis dan memanggil Devan.

__ADS_1


💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙


Devan terus memperluas pencarian nya hingga dia menemukan villa dimana Cahya berada, dia bersama orang-orang suruhan ayahnya mendatangi villa itu, tapi terlihat normal dan tidak ada yang mencurigakan.


Dia lalu pergi lagi dari sana, hingga dia berpapasan dengan sopir yang waktu itu mengendarai mobil yang menculik Cahya, dia langsung bergerak untuk menangkap nya, terjadilah perkelahian itu, para ajudan dari dalam rumah keluar untuk membantu ajudan yang diluar, tentu saja Devan kalah jumlah, dia tidak tau dan mempersiapkan, karena dia pikir tidak akan sebanyak ini lawan nya.


Saat Devan terpojok Cahya keluar karena dia mendengar keributan, mereka sama-sama kaget tapi Cahya langsung ditarik masuk oleh ajudan wanita yang selalu ada bersamanya.


Cahya berteriak memanggil Devan, saat itu Devan sudah terpojok tapi karena melihat Cahya dia menjadi lebih berusaha dan kembali mengumpulkan tenaga untuk kembali melawan mereka, Devan yang kalap mengalahkan mereka.


Cahya masih berusaha keluar, dia berontak dari ajudan itu, karena ajudan itu tidak diperbolehkan menyakiti Cahya, jadi tidak bisa berbuat banyak saat Cahya lari.


Saat itu terlihat Devan yang akan dipukul menggunakan tongkat, Cahya berlari mendekati Devan hingga dia yang terkena pukulan itu, Devan menangkap Cahya yang terjatuh karena pukulan itu.


Ajudan itu langsung mundur melihat Cahya terluka, lalu Habib keluar menggunakan kursi roda dan berteriak marah


"Siapa yang melukainya!"


"Cepat bawa nona kembali ke kamarnya dan langsung obati" teriak Habib


Cahya yang masih menahan sakit, dia memegang Devan erat, dia menangis dan terus menggelengkan kepalanya, Devan lalu memeluk untuk menenangkan Cahya.


Tapi ada satu ajudan yang menodongkan pistol ke arah Devan


"Sayangku, cepat kembali ke kamarmu, kamu tidak mau terjadi pertumpahan darah disini kan?" ujar Habib


Cahya terus menangis


"Cepat masuk atau kamu akan melihat dia mati!"Habib kembali berteriak

__ADS_1


Devan masih terus memeluk Cahya,


"Apa mau mu, jangan sakiti Ayya" ucap Devan


"Aku tidak akan pernah menyakiti nya, aku bukan kamu, aku menghargai dan menghormati nya, dia sangat berharga untuk ku, sekarang lepaskan tangan mu darinya!" teriak Habib pada Devan


"Ayya, sekali lagi aku katakan, kalau kamu masih tidak menurut, kamu benar-benar akan melihatnya mati didepan mu"


Cahya memandang ke Devan dan melepaskan pelukan itu, tapi Devan tidak mau melepaskan, hingga dia ditarik ke belakang oleh ajudan Habib yang ada dibelakangnya, pelukan itu terlepas dan Cahya langsung menuju Habib


"Jangan Ayy!" teriak Devan, tapi dia langsung dipukuli lagi, sementara para suruhan ayahnya yang membantunya, semua sudah dikalahkan.


"Cukup Habib, lepaskan Devan,, aku mohon,, aku akan menuruti semua keinginanmu" ucap Cahya memohon


"Keluarkan dia dari sini, dan perketat penjagaan!" teriak Habib


Cahya dibawa masuk ke villa itu, dia masih tidak berhenti menangis


"Mandi yang bersih dan ganti baju Ayy, aku tidak sudi ada jejak pria lain di tubuhmu" ucap Habib


"Apa kamu tidak waras, bahkan didalam perutku ada bayi Devan, kenapa kamu seperti ini, kembalilah seperti kamu yang dulu Habib" Cahya memegang tangan Habib, memohon padanya untuk melepaskan nya


"Tutup mulutmu kalau hanya bicara omong kosong, kamu tidak mau aku menghilangkan nya juga kan? aku berusaha menerimanya karena itu bagian dari kamu, tapi jangan melewati batasan ku lagi"


"Kamu meminta aku kembali seperti yang dulu,, untuk apa? aku tidak dapat apapun dengan aku yang dulu, bahkan kamu pergi dariku"


"Habib, cinta tidak bisa dipaksakan" ucap Cahya memelas


"Bagi ku bisa, sekarang cepat bersihkan tubuhmu" ucap Habib dan memberi kode pada ajudan perempuan yang selalu mengawasi Cahya untuk membawanya ke kamar.

__ADS_1


Cahya sudah mandi dan sudah berpakaian rapi lagi, dia benar-benar seperti seorang putri yang terikat peraturan, atau entah seperti robot.


__ADS_2