
Saat Cahya tertidur, Devan masuk ruangan dan mendekatinya, dia mencium kening Cahya, lalu langsung pergi lagi takut Cahya bangun dan kembali histeris.
Devan pamit dan menitipkan Cahya pada mama Cahya, dia akan kembali dulu ke Jawa, dia akan menuntut Wati agar tidak bisa terus menemui Cahya, dia juga harus memeriksa Rumah Singgahnya yang lagi ada masalah, Devan sudah tenang karena Cahya sudah bersama mamanya.
Pagi itu Cahya diperbolehkan pulang tapi harus selalu menjaga kondisinya, hari itu mama Cahya izin libur lagi untuk menemani Cahya, sekalian mau memberi penjelasan ke Cahya tentang masalah yang sebenarnya terjadi pada Devan.
Cahya diperlihatkan Video itu
"Ayya, kalau ada apa-apa kamu harus meminta dan mendengar penjelasan dulu jangan langsung menyimpulkan sendiri, kamu dari dulu selalu lari kalau ada masalah, sekarang kamu sudah dewasa dan bahkan sebentar lagi menjadi ibu, kamu harus berubah"
Cahya hanya diam, dia menyadari dia salah tapi dia tetap gengsi dan tidak mau menghubungi Devan dulu untuk meminta maaf.
Setelah Devan sampai ke Jawa tidak butuh waktu lama dia langsung melaporkan Wati tentang pasal penyerangan, dan pencemaran nama baik, dia lalu menyerahkan semua pada pengacaranya.
Setelah memeriksa Rumah Singgahnya, dan masalah juga sudah selesai, Devan lalu membicarakan masalah pernikahan pada kedua orang tuanya, Devan berangkat dulu ke Bandung dan orang tuanya akan menyusul setelah mempersiapkan semua.
Devan seperti tidak memperhatikan kondisi tubuhnya dia terus mengerjakan semua agar semua cepat selesai dan bisa secepatnya ke sisi Cahya.
Setelah selesai semua, Devan langsung menuju Bandung, setelah seharian lebih Devan sampai ke Bandung saat malam tiba, Devan izin ke atas untuk melihat Cahya, terlihat Cahya tertidur dengan tenangnya, karena tidak mau mengganggu Devan lalu ke bawah lagi.
"Tidak terjadi masalah tan? atau Ayya mengalami keluhan?"
"Tidak, cuma muntah-muntah tiap habis makan dan di pagi hari, jadi dia hanya makan buah-buahan, tidak apa-apa, itu normal di kehamilan awal"
Devan hanya manggut-manggut mendengarkan karena dia juga tidak tau harus apa dan bagaimana.
Paginya Cahya turun, dia belum tau kalau Devan datang, dia langsung menuju dapur, terlihat Devan sedang memasak, entah kenapa Cahya seperti tidak mau melihat nya, dia langsung pergi lagi dan keluar ke teras.
Mama nya melihat Cahya duduk diteras melamun
"Kamu ngapain Ayya pagi-pagi disana?"
"Aku nungguin yang dagang makanan ma, aku pengen jajan"
"Makan dulu, ini masih pagi, jangan dulu jajan"
"Kenapa tante" Devan keluar dari dapur karena mendengar ada yang mengobrol
__ADS_1
"Ini Ayya pengen jajan, tidak mau makan lagi katanya"
"Sudah bangun Ayy, ayo makan dulu nanti aku belikan, mau jajan apa"ajak Devan lalu mendekati Cahya
"Jangan Dekat-dekat!" ujar Cahya
"Kenapa Ayy?" jawab Devan
"Jangan dekat-dekat, sana menjauh!" tiba-tiba Cahya mual dan ingin muntah lagi
Dia lalu berjalan cepat kembali ke kamarnya
"Ayy pelan-pelan jalan nya!" teriak Devan
Devan lalu bertanya pada mama nya Cahya, apa yang terjadi.
"Mungkin bayi kamu itu, tidak suka sama kamu jadi tidak mau dekat-dekat sama kamu" ucap mama Cahya dan langsung masuk ke dapur
"Apa?, tante jangan bercanda" ucap Devan sambil mengikuti mama Cahya
Siangnya Devan lalu naik ke atas untuk melihat Cahya, terlihat Cahya duduk bersandar di pojokan kasurnya, dan saat Devan memanggilnya, Cahya mengulurkan tangan sambil tersenyum minta di peluk, Devan kaget tapi tetap mendekat dan memeluk Cahya.
"Belikan aku rujak mangga yang ada di pertigaan Depan" ucap Cahya
"Sekarang? kan kamu belum makan nasi"
"Pokoknya aku mau itu sekarang"
Devan lalu keluar kamar, dia senyum-senyum melihat tingkah Cahya, dia lalu pergi mencari rujak yang diminta Cahya, dan saat dia pulang, dia melihat Cahya duduk diteras sambil makan cilung.
"Ini Ayy rujaknya" ucap Devan memberikan rujak dan kembali ingin memeluk Cahya, tapi langsung ditolak Cahya
"Jauh-jauh dariku" ucap Cahya
"Ayy, kamu kenapa? ada masalah apa lagi? tadi kamu minta aku peluk"
Cahya tidak menjawab lagi hanya dengan isyarat tangan dia mengusir Devan.
__ADS_1
Devan masuk ke dalam dan melihat Cahya dari kaca jendela, dia bingung apa yang terjadi pada Cahya sebenarnya, dia lalu duduk di sofa sambil menunggu Cahya masuk kedalam rumah.
Tidak lama Cahya masuk ke dalam, terlihat Devan sedang duduk memainkan ponselnya, Cahya meletakkan sisa rujak dan cilung nya dimeja, lalu mendekati Devan, mengambil ponselnya lalu duduk dipangkuan Devan.
Devan benar-benar bingung sama Cahya, sebentar mengusir nya sebentar mendekatinya dan manja.
Cahya memeluk erat Devan, wajahnya ada dileher Devan yang membuat Devan jadi menginginkan Cahya, Devan mencium Cahya dan dibalas oleh Cahya, yang lebih mengagetkan, Cahya membuka kancing baju Devan, tentu Devan seperti mendapat lampu hijau, dia juga semakin dalam menciumi Cahya, Devan sangat merindukan Cahya, tapi tiba-tiba Cahya melepaskan ciuman lalu bangun dan turun dari pangkuan Devan
"Sudah cukup" ucap Cahya lalu berjalan ke dapur
"Sebenarnya kamu kenapa Ayyyaaaa!" Devan mengacak rambutnya frustasi.
Devan mendekati Cahya yang sedang mencuci apel, Devan lalu memeluknya dari belakang, Cahya berbalik dan mencium pipi Devan.
"Aku mau ke atas, awas ya,, jangan mengikuti ku, atau aku akan marah lagi" teriak Cahya.
Devan makin bingung sama kelakuan Cahya, sebenarnya dia di kerjain atau bagaimana?
Sore itu mama Cahya pulang kerja membawakan buah rambutan untuk Cahya, dia meminta Devan membawakan nya ke atas, tapi Devan tidak bisa karena tadi Cahya sudah mengancamnya untuk tidak naik keatas.
Mama Cahya tertawa, lalu bercerita kalau ibu hamil memang seperti itu, Devan cukup bertahan selama 9bulan, tapi akan banyak kejutan yang akan Devan alami.
"Kamu tunggu saja, kamu sendiri kan yang membuatnya seperti itu?" ujar mama Cahya meledek Devan
Devan hanya bisa pasrah, dia tidak tau kalau hamil sebegitu ribetnya, mana dia sangat merindukan Cahya.
Cahya tidak turun untuk makan malam, mungkin dia kenyang karena makan rambutan, lalu Devan dapat pesan dari Cahya untuk datang ke kamarnya saat nanti mama Cahya sudah masuk ke kamarnya untuk tidur.
Malam itu Devan buru-buru masuk kamar Cahya karena mama Cahya sudah tidur, yang membuat kaget Devan adalah baju yang dipakai Cahya, dia hanya menggunakan Tank Top Crop yang sexy dan rok mini, Devan hanya bisa menelan ludah karena kalau mendekat duluan, takut Cahya menolak atau marah.
Tapi Cahya mendekatinya, mengunci pintu kamar dan mendekati Devan, Cahya mendorong Devan ke tembok, memandang nya lalu menciumnya lembut, Devan tentu hatinya sangat kegirangan karena dia sangat merindukan Cahya, Devan lalu menurunkan tali Tank Top Cahya, lidahnya bermain di dada Cahya, dengan pelan Devan menggiring Cahya ke kasur.
Malam itu Cahya sangat agresif, dia bermain di atas Devan, hal itu sangat membahagiakan Devan, dia terus memainkan dada Cahya, menghisapnya dan meremasnya.
Cahya mendesah, di saat berusaha memasukkan burung devan ke sarangnya, terasa susah karena sudah lama mereka tidak berhubungan, hingga Devan tidak sabar dan dia menghentakkan nya,, Cahya menjerit, yang langsung mulutnya di tutup Devan menggunakan mulutnya, takut ******* dan jeritan nya terdengar mama Cahya.
Mereka melepaskan rindu, dan melakukan penyatuan berkali-kali, Cahya selalu diatas, karena takut perutnya tertindih, Devan sangat bahagia, begitu pula Cahya, mereka saling berpelukan dan tidur bersama.
__ADS_1