Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Terimakasih Tuan Devan


__ADS_3

Cahya tidak tau harus menjawab apa, sifat jeleknya dari dulu adalah selalu berfikiran buruk tanpa mau bertanya yang sebenarnya, begitu juga sekarang, dia berfikir kalau Devan sudah menikah lagi hanya karena melihat nya bersama wanita lain dan tidak mau bertanya kepada Devan yang sebenarnya.


"Ayy!" panggil Devan melihat Cahya yang malah melamun


"Aku mau ke Rafa, kami masih ada acara beberapa hari lagi jadi harus banyak persiapan" ujar Cahya lalu bangun dari duduknya dan menuju pintu keluar kamar, tapi pintu itu tidak bisa dibuka dan kuncinya entah dimana, Cahya sadar pasti Devan sudah menyembunyikan nya.


Cahya berbalik badan dan melihat ke arah Devan yang ternyata tengah melihat ke arahnya.


"Apa kamu sangat tidak bahagia hidup bersama ku? kenapa kamu terus ingin menjauh dariku?" ujar Devan pelan, sorot matanya tidak bisa diartikan Cahya.


"Kembalikan Rafa" pinta Cahya lagi tanpa menjawab pertanyaan Devan.


"Kenapa aku harus mengembalikan dia padamu, dia juga anakku!" teriak Devan, dia tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi Cahya.


Cahya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena pada kenyataannya memang seperti itu, tapi Cahya tidak akan bisa bertahan tanpa Rafa.


"Aku mohon, sekali ini saja, aku tidak akan meminta apapun lagi setelah ini, aku,, aku juga tidak akan mengganggumu, aku tidak tau kalau tempat ini punyamu, kalau tau aku tidak akan kesini, aku tidak akan menampakkan diri ku lagi dihadapan mu, aku mohon kembalikan Rafa, aku tidak bisa hidup tanpa nya, kamu sudah hidup berbahagia, tidak bisakah kamu membiarkan ku"Cahya takut terpisah dari Rafa kalau dia berpisah dengan anaknya, siapa yang akan menguatkan nya.


"Drama apa yang kamu mainkan?!" teriak Devan, dia lalu mendekati Cahya dan langsung mencium paksa, tapi Cahya terus menolak dan memukuli Devan.


"Lepas Devan!! apa kamu tidak merasa bersalah pada istrimu? dia pasti sedang menunggumu" ucap Cahya yang terus berusaha mendorong Devan.


"Maksud kamu apa?" tanya Devan bingung


Cahya tidak menjawab lagi, dia terus berusaha membuka pintu, Devan memeluknya tapi Cahya terus melawan, hingga Devan kesal lalu menggendongnya dan melemparkannya ke kasur, sebelum Cahya bangun, Devan sudah menindihnya.


"Sepertinya kamu tidak suka berbicara baik-baik padaku, baiklah kita lakukan seperti ini" ujar Devan lalu mendekat kan wajahnya ke wajah Cahya seperti ingin menciumnya, terlihat Cahya yang memejamkan mata lalu memalingkan wajahnya, tapi Cahya malah membuka ruang di lehernya terbuka yang langsung disanalah bibir Devan berlabuh.

__ADS_1


"Berbicaralah dengan benar, apa maksud kamu tadi? aku minta maaf karena waktu itu tidak memberi tau kondisi kamu" Devan mulai berbicara tapi hidungnya terus mengendus leher Cahya, wangi yang menenangkan dan dia rindukan selama ini.


"Aku tidak memberi tau mu karena takut kamu meninggalkan ku, dan benar saja, kamu langsung pergi saat tau" Devan menyudahi bicaranya lalu membuat tanda merah dileher Cahya, terdengar Cahya merintih.


"Kamu menginginkan anak secepatnya, sementara kondisiku saat itu tidak bisa, aku takut kamu kecewa dan mencari istri lain, memang hal itu dibenarkan dan diperbolehkan saat istri pertama tidak bisa memberikan keturunan, tapi aku tidak akan sanggup melihatmu bersama yang lain, jadi aku memilih pergi" Cahya mulai menjelaskan alasan kepergiannya yang persis seperti isi dalam surat yang dia tinggalkan saat itu.


"Kenapa kamu selalu berfikiran sempit, aku sanggup menunggumu dari saat kamu SMK, aku menyukai semua yang ada padamu, untuk kekurangan, kita bisa perbaiki bersama, percayalah padaku" Devan meraih kepala Cahya agar istrinya itu memandang padanya.


"Ayy, hanya kamu satu-satunya ibu dari anak-anakku, hanya kamu dan harus kamu"ujar Devan


"Lalu siapa wanita yang bersama mu tadi, wanita yang menggendong bayi" tanya Cahya yang tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya


"Yang mana?"tanya Devan


"Tadi yang bersamamu, dia juga masuk mobil bersama Rafa"


"Itu istrinya Renal"jawab Devan


Cahya terus meminta untuk membawanya pada Rafa tapi tentu saja tidak didengarkan Devan, kalau sudah sampai rumah dia tidak akan bisa berduaan lagi dengan istrinya itu dengan bebas, dia sangat merindukan Cahya.


Devan lalu bertanya tentang mamanya Cahya, apa dia tidak merasa bersalah selalu pergi tanpa kabar, yang Devan tidak tau, ternyata selama ini mama Cahya tau keberadaan Cahya, mereka terus berhubungan, bahkan mama Cahya sering mengunjungi Rafa.


Cahya menceritakan semua pada mamanya tentang dia yang tidak bisa hamil lagi, itulah alasan dia pergi, dan mamanya memahaminya.


"Bukan tidak bisa Ayy, kalau sudah sembuh pasti bisa, makanya harus berobat dan selalu dipantau perkembangannya, kamu suka over thinking dan tidak mau bertanya, selalu semau mu, ingat kamu itu sudah dewasa, bukan remaja lagi" Devan sudah turun dari tubuh Cahya dan sekarang memeluk Cahya.


Cahya hanya diam mendengarkan, setelah mereka cukup lama mengobrol terdengar bunyi perut Devan, dia lapar tapi makanan yang tadi sudah sangat dingin, mereka bangun tapi Cahya yang juga kelaparan tetap memakan makanan yang sudah dingin itu.

__ADS_1


"Sudah dingin Ayy, nanti aku pesan yang baru" ujar Devan lalu membuka ponselnya mencoba menghubungi karyawan nya.


"Sayang" ucap Cahya


"Iya ada apa sayang?" tanya Devan


"Ini makanan nya yang sayang"


"Oohhh, kirain apa"ucap Devan malu karena dia salah paham.


Cahya tidak bisa menahan ketawa mendengarnya, yang di tertawa kan tersenyum malu sambil terus berusaha menghubungi karyawan nya.


Devan melihat Cahya makan yang juga sambil memainkan ponselnya, Devan langsung merebut ponsel itu dan menyimpannya kedalam saku celananya, Devan bilang kalau Cahya menginginkan ponselnya, boleh ambil sendiri nanti.


Tidak lama terdengar pintu diketuk, sepertinya itu makanan yang tadi dipesan Devan, mereka lalu makan bersama, hingga tak terasa waktu sudah malam.


Kring kring kring


Ponsel Cahya berbunyi, Devan tidak mau memberikan nya dan meminta Cahya mengambilnya sendiri kalau mau.


"Devan jangan bercanda, takutnya itu panggilan penting"


"Iya ambil saja, aku kan tidak melarang" jawab Devan dengan entengnya


Cahya bangun dari duduknya, Devan sudah bersiap, dia tersenyum mengira Cahya akan mendekatinya untuk mengambil ponsel di celananya, ternyata Cahya membuka jendela, hawa dingin menyeruak karena siang sudah berganti malam.


Devan mendekati Cahya dan langsung memeluknya dari belakang, tapi kali ini Cahya tidak menolak, tidak lama lalu Cahya menghadap ke arah Devan, Cahya diam-diam mengambil ponselnya sambil pura-pura ingin mencium Devan.

__ADS_1


Saat tangannya sampai kedalam saku celana Devan, dengan cepat dia menarik ponsel nya, dan langsung mendorong Devan menjauh.


"Terimakasih tuan Devan" ucap Cahya tersenyum penuh kemenangan, senyum yang pastinya hanya bertahan sekejap karena Devan kembali menangkapnya.


__ADS_2