
"Aaaauuuuwwww,,, Aaagggghhhh"
Cahya terbangun di pagi hari dengan dikagetkan dengan perasaan ingin kejang yang tidak asing baginya, dan benar saja dia terbangun dengan suaminya yang berada bagian bawahnya.
"Saaayyanngg,,, aaahhhh,,!!" Cahya mengejang dan terpejam merasakan gelombang kenikmatan disaat dia baru saja membuka matanya.
Devan lalu merangkak naik keatas tubuh istrinya yang masih terpejam, Devan menciumi wajah istrinya lalu kembali berbaring di sebelah Cahya, tidak lupa membawa Cahya masuk kedalam pelukannya.
"Kenapa sekarang caramu membangunkan ku selalu seperti ini?" Cahya yang masih merasakan sisa kenikmatan memandang sayu kearah suaminya, Devan tidak menjawab dan hanya tersenyum dan mencium kening Cahya.
"Kapan kamu terbangun? apa kamu tidak merasa lelah? tadi malam bahkan kita tidak sempat membersihkan diri karena kamu selesai begitu malam, kamu mengkonsumsi obat kuat ya?"
Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat Devan semakin bangga dan memeluk erat tubuh istrinya, dia tidak memakai obat apapun saja bisa membuat Cahya selalu kewalahan dengan banyaknya kenikmatan yang dia berikan, apalagi kalau pakai obat.
"Tidak sayang, aku tidak memakai yang seperti itu, setelah ini apa yang masih ingin kamu lakukan disini? masih ingin bermain bersama sahabatmu atau siap berangkat?"
"Sepertinya pamitan saja, biarkan mereka liburan disini, aku tidak boleh terus mengganggunya" Cahya lalu menciumi dada suaminya yang dari tadi memeluk dan mendekapnya.
"Sayang,, " Cahya ingin menanyakan sesuatu tetapi dia malu untuk menyelesaikan nya.
"Ada apa Ayy?" tanya Devan lembut lalu mensejajarkan wajah mereka, Devan menciumi mata Cahya.
"Apa kamu tidak puas karena kamu melakukannya perlahan? apa itu yang membuatmu terus ingin melakukan nya?" akhirnya Cahya memberanikan diri untuk bertanya, karena memang setelah Cahya diketahui hamil, Devan melakukan penyatuan terus menerus bahkan tidak kenal tempat dan waktu, tetapi Devan melakukan nya secara perlahan, itulah yang membuat durasi waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama, karena biasanya Devan selalu bermain panas dan ganas yang tentu saja bergerak dan bergoyang dengan kecepatan tinggi, jadi Cahya merasa ragu dan takut karena sekarang Devan melakukan nya dengan lembut, Cahya takut suaminya menjadi tidak puas karena hal itu.
"Ayy, kenapa kamu bisa berfikir begitu? tentu saja aku sangat puas, aku melakukannya perlahan supaya kamu rileks dan bayi kita tidak kaget, aku melihatmu selalu tertidur dengan nyenyak dan nyaman setelah aku melakukannya, aku sungguh menikmati tahapan ini sayangku, aku ingin selalu membahagiakan mu dengan segala hal, baik materi atau yang lainnya" Devan mencium istrinya sebelum dia membawa istrinya ke kamar mandi.
Cahya dan Devan langsung bergegas untuk pulang karena kepergian mereka ke Bandung terus saja tertunda, tetapi tidak lupa mereka berpamitan pada Reza dan Dena.
"Jangan lupa undang kami ya, dihari bahagia kalian" Cahya memegangi tangan Dena, mereka lalu berpisah karena Cahya dan Devan harus segera berangkat.
Setelah dibujuk sedemikian rupa tetapi tetap saja Rafa tidak mau untuk diajak ke Bandung, akhirnya dengan berat hati Cahya membiarkan anaknya untuk tinggal kembali bersama kakek dan neneknya.
"Mama, apa kabar? kenapa sekarang mama terlihat kurus sekali?" Cahya dan Devan sampai ke Bandung, mereka langsung menuju rumah mama nya Cahya.
"Bagaimana mama tidak kurus kering, mama sangat bersedih karena kamu tidak pernah menengok mama"
"Maaf ma, baru sekarang aku bisa kesini, aku janji mulai sekarang akan sering menemani mama, mulai sekarang aku dan Devan akan tinggal di Bandung"
"Mama sangat senang sekali, kalau sekiranya kamar kamu terlalu kecil untuk berdua, biar mama yang pindah ke kamar atas, kalian dikamar bawah karena lebih besar"
"Tidak ma, terimakasih,,, Devan mempunyai rumah di Bandung jadi kami akan tinggal di sana"
__ADS_1
"Kenapa tidak disini saja, biar mama ada teman, mama selalu kesepian sendiri disini, Giat juga tidak mau tinggal disini karena kasian sama kakek kalau ditinggal sendirian kesini"
"Aku sudah lama tidak menelepon Giat, mama coba telpon sekarang, aku ingin melihat Giat"
Mereka melakukan video call dengan Giat dan kakek, setelah mereka cukup lama mengobrol dan melepaskan rindu mereka menyudahi panggilan telepon itu, Cahya melihat suaminya yang tertidur di sofa, sepertinya dia sangat kelelahan karena lama menyetir dari Semarang ke Bandung.
Cahya membangunkan Devan dan mengajak nya tidur dikamar, awalnya Devan menolak karena ingin segera ke rumah nya sendiri, tetapi Cahya masih kangen pada mamanya jadi Devan mengalah dan menuruti kemauan istrinya untuk menginap disini satu malam.
"Kamar ini tidak banyak berubah, sepertinya mama sering membersihkannya" Cahya melihat-lihat kondisi kamarnya dulu, dia juga mengingat ciuman pertamanya dengan Devan adalah dikamar ini saat dirinya sedang sakit.
Devan langsung melihat foto mereka saat masih muda, foto yang membuatnya yakin kalau Cahya menyukainya hingga membuatnya melakukan berbagai cara untuk memiliki Cahya sepenuhnya.
"Ayy,," Devan memanggil istrinya tetapi saat dia menoleh, terlihatlah istrinya yang sudah tidur dengan nyenyak nya,
"Kenapa kamu sudah tidur sayangku, kamu bahkan belum memberikan vitamin padaku, vitamin yang kalau aku tidak mendapatkan nya pasti aku tidak bisa tidur" Devan bergumam memandangi tubuh istrinya yang terlihat menggoda, badannya miring dan dadanya terlihat tersembul.
Cahya menggeliat dan mendesah di dalam bawah sadarnya, dia bermimpi sedang menyusui Devan, Cahya tidak sadar bahwa itu bukan mimpi tetapi kenyataan,
Devan tidak berani melakukan yang lebih karena dia tidak mau istrinya terbangun, dia tau kalau istrinya sedang kelelahan.
"Aaaakkkhhhh!" pagi itu gantian Devan yang kaget karena terbangun dengan burung nya yang sedang dimainkan oleh istrinya, Devan tersenyum sangat senang.
"Ayy,, sayangku,,, enak sayang,," Devan mencari pegangan untuk menopang rasa nikmat yang luar biasa karena permainan mulut istrinya pada burungnya, nafas Devan semakin memburu, dan tiba-tiba dia menyembur wajah istrinya.
Devan langsung duduk setelah sesaat menikmati pelepasannya, dia membantu istrinya membersihkan wajahnya menggunakan tisu, mereka lalu mandi bersama.
Setelah mandi dan sarapan mereka berpamitan untuk pulang ke rumah mereka sendiri, Cahya terus berjanji pada mamanya untuk secepatnya kembali bermain, karena mamanya sepertinya masih sangat merindukannya.
"Minggu depan aku main kesini lagi saat Mas Devan libur" janji Cahya pada mamanya.
__ADS_1
Sudah beberapa bulan mereka tinggal di Bandung, Devan sudah menyelesaikan pembukaan satu cafenya dan sedang proses pembuatan cafe kedua, pagi itu Cahya menyiapkan kopi untuk suaminya sebelum berangkat bekerja.
"Ayy, apa sangat berat?" tanya Devan melihat istrinya yang berjalan pelan membawa kopinya, perut Cahya sudah kelihatan membuncit, Devan yang sangat antusias dengan kehamilan istrinya, dia sudah berharap kalau istrinya akan meminta banyak hal yang menyulitkannya, ternyata itu tidak pernah terjadi, istrinya benar-benar wanita kuat dan tidak pernah mengeluh, Cahya juga tidak pernah meminta apapun, hanya sekali saja Devan direpotkan oleh Cahya, saat mereka masih di Semarang waktu Cahya meminta mangga muda langsung dari pohonnya, tapi setelah itu, tidak ada permintaan apapun.
"Tidak sayang, ini panas jadi aku sedikit berjalan pelan karena takut tumpah" Cahya lalu meletakkan kopi yang dia buat di meja karena Devan kembali ke kamar untuk mengambil sesuatu.
"Ayy, hari ini sepertinya aku pulangnya agak sore, apa tidak apa-apa? atau mau aku antar ke rumah mama?"
"Tidak, aku mau di rumah saja"
Cahya mengantar suaminya yang akan berangkat bekerja sampai ke depan pintu, Cahya lalu mengunci pintu setelah suaminya berangkat.
Cahya berbalas pesan dengan Dena, sepertinya Dena sudah mendekati waktu lahirannya, Dena meminta masukan dari Cahya yang pernah melahirkan.
"Kondisi setiap ibu hamil itu berbeda, yang pasti kamu harus yakin dan optimis kalau kamu pasti bisa melahirkan secara normal dan lancar" Cahya memberikan dukungan kepada sahabatnya itu.
Cahya lalu memasuki kamar yang dipersiapkan untuk bayinya ketika lahir kelak, tadi malam dia tidur lebih awal jadi tidak mengetahui kalau suaminya telah banyak mendekor kamar itu.
Cahya sangat senang melihatnya, Devan selalu saja membuatnya bahagia, dia lalu merasa sangat merindukan suaminya padahal belum lama dari keberangkatan suaminya untuk bekerja, untuk mengobati rasa rindu yang sedang dia rasakan, Cahya mengirim pesan untuk suaminya.
"Sayang, aku berhasil menemukan cahaya yang selama ini aku cari, sayangku,,, aku merindukanmu" Cahya ragu untuk mengirimkannya tetapi dia tetap mengirimkannya walau dia menjadi malu sendiri, dia sangat jarang menunjukkan sisi manjanya pada Devan jadi hal seperti ini membuat nya malu walau mereka bukan pengantin baru lagi.
Cahya lalu menyetel musik dance dan mulai bergerak dan bergoyang mengikuti irama, hingga dia dikagetkan dengan kedatangan Devan yang langsung memeluknya.
"Apa ada yang tertinggal?" tanya Cahya heran, karena sepertinya suaminya itu bahkan belum sampai ketempat tujuannya.
"Iya, ada yang tertinggal" nafas Devan parau, dia langsung membawa Cahya ke sofa ruang tamu, dia kembali meminta jatah, tadi saat membaca pesan dari istrinya, Devan langsung bergegas berbalik arah, sungguh momen manja yang jarang istrinya itu tunjukkan membuat Devan gemas dibuatnya, apalagi saat dia memasuki rumah, dia melihat istrinya sedang bergoyang mengikuti irama musik, terlihat santai tapi sexy saat sedang bergoyang sambil tersenyum ceria dan sesekali memegangi perutnya yang semakin membuncit.
Cahya masih terpejam di atas tubuh Devan, karena kehamilan nya sudah semakin besar, setiap berhubungan Devan selalu menyuruh istrinya di atas atau dengan gaya *****-*****.
"Dimana cahaya yang telah kamu temukan itu?" tanya Devan saat istrinya sudah kembali membuka matanya.
Cahya tersenyum manis lalu mengatakan kalau itu rahasia.
Devan jadinya tidak berangkat bekerja, dia mengajak istrinya untuk berjalan-jalan karena sudah lama mereka tidak jalan-jalan.
"Maafkan atas kesibukan diriku yang membuat aku tidak bisa selalu menemani mu, padahal rencana awal kita kesini agar aku selalu di sampingmu" ucap Devan sambil membelai rambut istrinya.
"Tidak apa-apa sayang, ini semua kan demi masa depan kita sendiri dan anak-anak kita tentunya"
Mereka sudah selesai bersiap dan langsung berangkat, Devan membawa Cahya ke sebuah Mall untuk berbelanja dan makan-makan.
"Ayy, kenapa keimutanmu tidak hilang walaupun kamu sedang hamil?" tanya Devan dengan terus memperhatikan istrinya yang terlihat imut dengan gaun putihnya, sangat sederhana tapi memancarkan pesona yang begitu kuat sehingga membuat Devan selalu kagum pada istrinya.
"Tidak perlu menggombal sayang, tidak malu apa sama anak didalam perut ku?" Cahya lalu menyerahkan minuman yang dia pegang pada suaminya, karena dia melihat restoran yang dia inginkan untuk makan siang, Cahya langsung mencari tempat duduk dan melihat menu makanan.
Pesanan mereka tidak lama sudah datang karena kebetulan restoran itu terlihat sepi, mungkin karena baru memasuki awal jam makan siang, saat mereka sedang makan, tiba-tiba Cahya berbicara serius pada suaminya.
__ADS_1
"Sayang, terimakasih telah menjadi cahaya dalam hidupku, ternyata cahaya yang aku cari selama ini ada didalam dirimu, kehidupan yang sangat menyedihkan dikala aku kecil sudah tidak aku ingat lagi, semua sudah tertutupi oleh cahaya yang ada pada dirimu, sifat buruk yang ada padaku juga berangsur-angsur menghilang, terimakasih karena selalu menemaniku, terimakasih karena kamu selalu sabar menghadapi ku,,, sayangku,,,, terus temani aku dengan cahaya yang ada padamu, supaya aku tidak pernah tersesat lagi karena kamulah cahaya dalam hidupku" Cahya menggenggam erat tangan suaminya, mereka berpandangan dan saling tersenyum.