
"Ayy,,,,,Ayy,,,,,,, Ayyyaaa!!"
Devan panik karena Istrinya tidak bergerak, Devan memakai kembali pakaiannya dan juga memakaikan baju dan celana serta rok Istrinya, Devan langsung membawa nya kerumah sakit terdekat.
"Dia shock, ketakutan dan juga kelelahan"
Devan kaget mendengar penjelasan dokter, Devan mendekati Istrinya yang masih belum sadar, dia lalu menggenggam tangan istrinya
"Maafkan aku Ayy,," Devan tidak bisa menahan air matanya, terbayang wajah istrinya yang tadi terus merintih dan memohon padanya
"Maaf,,,, maaf" Devan terus menggenggam tangan istrinya, Devan sangat takut kehilangan istrinya, takut istrinya akan meninggalkannya lagi hingga dia menjadi gelap mata, dirinya yang dikuasai kecemburuan tidak sadar telah sangat menyiksa Istrinya.
Devan keluar ruangan untuk mengambil sesuatu di mobilnya,
Bbuuuuuggghhh
"Apa yang kamu lakukan padanya?!" teriak Reza marah
Devan memegangi ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan dari Reza, tetapi dia tidak membalas, Devan sadar dia pantas mendapatkan nya
"Pukul lagi, cepat lakukan kalau ini bisa menebus kesalahanku padanya" ucap Devan
"Kamu memang dari awal tidak pantas untuknya, sekarang aku akan membawanya" ucap Reza lalu berbalik badan dan akan pergi, melihat itu Devan kembali marah
"Apa yang kamu katakan? Ayya adalah istriku!" teriak Devan
"Kamu bilang istri?" Reza sudah kembali melihat ke arah Devan.
"Istri apa yang harus hidup sendirian di kala kehamilan nya? dia berjuang untuk hidup, mencari makan dalam kondisi hamil!" teriak Reza pada Devan
"Aku terus mencarinya, aku bukannya tidak melakukan apapun, aku terus berusaha" jawab Devan
"Ciiihhh, usaha apa? 4 tahun baru kamu menemukan nya, itu juga karena ketidaksengajaan, aku yang baru keluar dari penjara bisa langsung menemukan nya disini, yang bahkan di negeri orang" ucap Reza menggebu-gebu
"Apa kamu tau begitu beratnya hidup yang dia jalani? dia menjadi hinaan orang lain, harus bekerja keras setiap hari untuk bertahan hidup, dimana kamu saat itu?!" Reza terus mengatakan kejadian masa lalu Cahya saat pergi darinya, hingga membuat Devan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Dimana kamu saat dia dalam bahaya, saat dia hampir dilecehkan? dimana kamu saat itu?!" teriak Reza berapi-api, Devan kaget mendengarnya
"Dia dengan ketakutan, melawan penjahat itu dengan tangan mungilnya, untung aku datang disaat yang tepat, dari saat itu aku selalu melindunginya"
Devan masih kaget, dia tidak menyangka begitu berat hari yang dilalui Istrinya saat itu
"Malam itu, malam dimana dia tertidur lelap, orang jahat itu kembali akan mengganggu nya dalam tidurnya, untung aku bisa kembali menyelamatkan nya walau aku harus mengorbankan masa depan ku sendiri" Reza menatap tajam kearah Devan yang tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
"Sudah cukup bagimu bersamanya, cukup sampai disini penderitaan nya, aku akan membawa dan membuatnya hidup nyaman dan bahagia" Reza langsung pergi tetapi Devan walau kaget mendengar apa yang sudah dilakukan Reza untuk Cahya, tetapi dia tidak akan pernah melepaskan Cahya, Devan menarik Reza
"Jangan pernah berani mencoba merebut nya dariku!" teriak Devan
Dan perkelahian pun tidak terhindarkan, mereka sama-sama terluka hingga dipisahkan oleh security.
Dua pria dewasa itu sudah duduk tenang disebuah kursi, mereka sekarang berbicara dengan baik tanpa menggunakan otot,
"Kita serahkan pada Cahya, siapa yang nanti akan dia pilih, suaminya yang terus menyakitinya atau aku yang selalu menjaganya, sekedar informasi untukmu, malam saat penjahat itu datang kerumah Cahya dan akan kembali mencelakai nya, aku datang dan membunuh orang itu, saat ini aku juga bisa melakukan hal yang sama pada orang yang bahkan sudah melukainya, yang hanya berniat jahat padanya saja bisa aku lenyap kan, apalagi kamu yang benar-benar sudah menyakiti nya" ucap Reza menatap tajam kearah Devan lalu pergi.
Cahya sudah sadar, dia bingung kenapa ada disana, dia juga kembali takut karena dia berada ditempat asing sendirian, dia bangun untuk mencari keberadaan suaminya, Cahya melepaskan selang infusnya, saat keluar dari ruangannya dia melihat Reza berjalan kearah nya.
"Kak Reza, kenapa ada disini? ini dimana? apa kakak melihat suamiku?" aku terbangun dan aku tidak melihatnya dari tadi"
"Kamu jangan banyak bergerak, istirahat dulu" ujar Reza
"Tidak kak, aku mau mencari suamiku dulu, dia tidak pernah meninggalkan ku sebelumnya, pasti terjadi sesuatu pada nya" ujar Cahya khawatir
Devan muncul dan kaget karena melihat istrinya sudah bangun dan ada Reza disampingnya, tadi dia tidak langsung ke ruangan Cahya karena dia kembali ke parkiran untuk mengambil sesuatu di mobilnya yang tadi belum sempat dia ambil karena perkelahian nya dengan Reza
"Sayang, kamu dari mana?!" Cahya mendekati suaminya dan langsung memeluknya
"Kenapa kamu disini? ayo kembali kedalam, kamu harus banyak beristirahat"
Cahya hanya ingat kalau Devan terlihat sangat marah padanya, Cahya juga ingat kemarin dia ketakutan kalau Devan akan meninggalkan nya, Cahya shock karena ucapan dari Reza tentang rumah impian, Cahya takut Devan tidak mempercayainya dan akan meninggalkan nya.
"Jangan tinggalkan aku sendirian lagi" Cahya mempererat pelukannya, Devan sangat lega karena Istrinya tidak marah padanya, Devan melihat kepergian Reza, ada rasa bersalah di hati Devan melihat Reza, tetapi dia juga tidak akan mungkin melepaskan istrinya.
Devan membawa Cahya kembali ke ruangan dimana Cahya dirawat, setelah istrinya itu duduk di atas ranjang, Devan memberikan buah apel untuknya
"Sayang, ayo pergi dari sini, untuk apa kita disini, aku sungguh tidak menyukai rumah sakit.
"Ayy, maafkan aku yang selalu menyakitimu" Devan tiba-tiba menggenggam tangan istrinya, Cahya heran maksud dari suaminya
"Menyakiti apa? kamu tidak pernah menyakiti ku" ucap Cahya lalu memakan apel yang dia pegang, Devan lebih heran karena Cahya berbicara seperti itu, bukankah dia kesakitan sampai pingsan, lalu kenapa Cahya tidak ingat.
"Kamu tidak amnesia kan? dokter tidak mengatakan hal itu tadi" ucap Devan sembari terus melihat ke arah istrinya
"Amnesia apanya? aku mengingat dirimu" ucap Cahya yang masih asyik memakan apelnya.
"Kamu pingsan karena ketakutan padaku dan menahan kesakitan juga karena ulah diriku" ujar Devan merasa bersalah
"Tidak, aku tidak selemah itu, lagipula memang kamu selalu seperti itu kalau marah dan cemburu, jadi aku sudah biasa, aku juga menikmati nya walau harus menahan sakit, mungkin iya aku kelelahan, dan benar aku takut, aku takut kamu meninggalkan aku karena tidak percaya padaku, Sayang sungguh, aku tidak mengerti maksud kak Reza dengan rumah impian" Cahya menjelaskan dan memandangi wajah suaminya .
__ADS_1
Devan tidak menyangka dengan penjelasan Cahya, dia pikir Cahya takut padanya karena dia kembali menyakitinya.
Devan duduk di sebelah istrinya lalu memeluk nya, dia sangat lega, walau dia tetap kepikiran dengan Reza, karena pasti Reza akan terus berusaha merebut Cahya darinya.
"Ayy, apa yang kamu rasakan tentang Reza?" Devan bertanya pelan
"Rasakan apa maksudnya? kami hanya teman lama, memang aku harus merasa apa?"
Devan mengingat pengorbanan Reza untuk Cahya, kalau Cahya tau, mungkinkah Cahya akan meninggalkan nya, Devan takut dan terus memeluk erat istrinya.
"Ayy,,,," panggil Devan
Cahya sudah memandangi suaminya tetapi Devan tidak melanjutkan ucapan nya
"Ada apa?" tanya Cahya yang melihat suaminya seperti sedang ada yang dia pikirkan, Devan menggeleng, Cahya lalu tersenyum dan mencium suaminya.
Devan menguatkan hatinya untuk berbicara tentang Reza, dia tidak mau menyimpan masalah yang malah akan menjadi lebih besar dikemudian hari.
"Ayy, apa kamu mau tau kenapa Reza tidak ada saat kamu melahirkan? biasanya dia selalu menjaga dirimu kan?" ucap Devan sambil terus memeluk istrinya, Cahya melepaskan pelukan itu dan melihat ke arah wajah suaminya
"Sayang tau dari mana? kak Reza memang selalu menjaga dan membantuku, aku sangat berhutang budi yang sangat besar padanya, karena tanpa dia aku mungkin sudah tidak ada di dunia ini dan bisa bertemu kembali dengan mu" ucap Cahya
"Maksud kamu apa, tidak ada di dunia ini?" tanya Devan
Cahya mengingat saat dirinya hendak dilecehkan oleh penjahat itu, dia memegang pisau, karena kalau sampai penjahat itu berhasil mendekati nya, Cahya berniat menggunakan pisau itu untuk membunuh dirinya sendiri
"Aku tidak akan sanggup menahan penderitaan karena menjadi korban pelecehan, jadi lebih baik aku mati, tetapi saat itu kak Reza datang menyelamatkan ku disaat yang tepat sebelum aku membunuh diriku karena penjahat itu sudah semakin mendekat" Cahya menjelaskan sambil memegang erat baju Devan, dia mengingat betapa takutnya dia saat itu.
Devan memeluk istrinya erat, dia menjadi terus mengingat Reza, begitu besar hutang budinya pada Reza, apalagi dengan pengorbanan Reza yang harus masuk penjara karena kembali menyelamatkan Cahya.
Devan sangat takut kehilangan istrinya, tetapi dia juga tidak bisa menutup mata dengan apa yang sudah Reza lakukan.
"Ayy, selama ini Reza ditangkap polisi dan dipenjara" dengan berat hati dia menceritakan hal itu karena dia tidak mau merasa bersalah
"Apa maksudnya dan kenapa? dia sangat baik jadi tidak mungkin melakukan hal yang sampai di penjara" ujar Cahya tidak percaya
"Dia menyelamatkan kamu lagi, dia selalu menjaga mu, penjahat itu akan kembali mencoba untuk menyakitimu tetapi Reza kembali menyelamatkan mu, dia membunuh penjahat itu dan menyerahkan diri ke polisi"
Cahya diam masih mencerna apa yang dikatakan Devan, karena yang dikatakan oleh orang-orang disana waktu itu adalah Reza pergi karena ada masalah keluarga.
Cahya lalu turun dari ranjang tempat dia dirawat tanpa mengatakan apapun pada Devan, Cahya keluar dari ruangan itu karena tadi dia bertemu Reza ditempat ini jadi dia berharap Reza masih ada untuk meminta penjelasan.
Devan menatap punggung Cahya dengan tatapan kesedihan, dia tidak bisa menahan Cahya, karena untuk masalah ini, Cahya berhak tau kebenarannya.
__ADS_1
"Apakah ini waktu terakhirnya bersama Cahya? mungkinkah Cahya akan meninggalkannya" pikiran-pikiran buruk terus menghantui Devan hingga tak terasa air matanya mengalir saat pintu itu tertutup dan bayangan Cahya sudah tidak terlihat.