Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Semakin Tua Semakin Menjadi


__ADS_3

"Mmmppphhhhhh"


Cahya baru menutup pintu setelah mereka baru kembali makan sore yang kemalaman itu, mereka bahkan tidak makan siang karena tadi siang Devan terus menggempurnya, dan sekarang Devan sudah kembali sangat bernafsu, nafasnya terdengar berat, begitu Cahya menutup pintu, dengan cepat Devan mendorong tubuh istrinya di tembok.


"Sayang, aku belum membersihkan diri dan belum berganti baju, biarkan aku bersiap terlebih dahulu,, aaaauuuuwwww" Cahya memegangi kepala suaminya yang sudah bersarang di bagian bawahnya, Devan telah menekuk lutut nya dan langsung masuk kedalam gaun Cahya, gaun hitam bunga-bunga kecil yang dipakai istrinya membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


"Kamu terlihat sangat imut hari ini, kenapa kamu bisa terus berubah-ubah? kadang begitu imut, kadang begitu cantik,, sudah sayang, tidak perlu mengganti baju, lagi pula pada akhirnya aku akan membukanya" Devan dengan buasnya langsung membuka gaun istrinya dan langsung menggendong nya ke atas ranjang.


Malam panas telah terlewati seperti biasanya, Devan terus melakukan keinginannya walau dia sangat pelan dan lembut, dia tidak mau istri dan anaknya yang masih didalam kandungan merasa tidak nyaman.


"Ayy, terimakasih" Devan menciumi wajah istrinya yang sudah sangat kelelahan dan terpejam walau dia belum terlelap, setelah mendengar ucapan suaminya membuat Cahya kembali membuka matanya.


"Ada apa?" tanya Cahya pelan


"Karena kamu kali ini tidak berlari lagi"


"Memangnya kalau aku kali ini pergi alasannya karena apa? aku tidak punya alasan untuk pergi, apa kamu masih berpikir bahwa aku hanya pergi begitu saja setiap ada masalah?"


"Masalah sebesar apapun bisa kita lewati bersama, jadi jangan pernah berfikir untuk pergi lagi, walau apapun yang terjadi, aku mohon" Devan mendekap erat Cahya.


"Iya sayang aku janji" Cahya menjawab pertanyaan suaminya lalu mulai memejamkan matanya, Devan terus memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur, dia tidak menyangka dan masih tidak percaya kalau istrinya sudah banyak perubahan.



"Ayy, mau sarapan di restoran atau dikamar saja?"


"Aku mau di sarapan di warung soto tidak jauh dari sini, tadi malam saat pulang aku melihat spanduk nya"


"Ok, cepat bersiap karena kita akan segera kembali ke rumah" Devan mencium kening istrinya saat membangunkannya.



![](contribute/fiction/5605619/markdown/10009663/1669623460573.jpg)



"Aku sudah siap, ayo cepat berangkat" Cahya melakukan swafoto didepan cermin setelah dia selesai mandi dan berdandan.



"Rok kamu terlalu pendek Ayy, cepat ganti atau pakai celana panjang" Devan kembali protes


"Aku seperti ini diomelin, tapi melihat orang lain yang dadanya diumbar matanya melotot" Cahya kesal dan bergumam


"Aku bisa mendengarnya Ayy"


"Baguslah, lagipula ini tidak pendek, lengannya saja panjang seperti ini, sudah ayo aku lapar sekali" Cahya lalu mendekati Devan dan langsung menarik kerah kemeja nya



Cuupppp



"Ayo berangkat, Dede bayi mau makan soto" setelah hanya sekilas mencium pipi Devan, Cahya langsung menarik tangan suaminya untuk segera pergi mencari sarapan.



"Ayy, nanti makan yang banyak,, selama ini aku sering dibilang sebagai kakak kamu, sementara sekarang aku semakin tua, kalau kamu terus seperti ini lama-kelamaan orang akan mengira kalau aku adalah ayahmu"


Cahya tertawa mendengar ucapan Devan, menurutnya itu hal yang mustahil karena Devan tidak setua itu.



"Bagaimana kalau ada yang mengira kalau aku adalah sugar daddy mu?" Devan masih saja membicarakan tentang penampilan nya.


"Sayang, apa kamu tidak suka dengan gayaku yang seperti ini? maaf kalau karena gaya berpakaian ku yang seperti anak kecil membuatmu malu"


"Bukan seperti itu, kamu bebas mau gaya apapun yang pasti tidak boleh terbuka, aku hanya membicarakan tentang diriku sendiri yang terlihat semakin menua"


"Semakin tua semakin menjadi, bukankah itu lebih menggoda?" bisik Cahya membuat Devan menangkap nya dan menggendong istrinya itu.


"Sayang turunkan, kita menjadi pusat perhatian" Cahya malu karena Devan yang tiba-tiba menggendong nya tetapi Devan tidak peduli dan menggendong istrinya sampai di dekat mobil nya.


__ADS_1


"Sayang, aku ingin ke pantai, sudah sangat lama kita tidak bermain ke pantai, bagaimana kalau nanti sore kita ke pantai dulu sebelum pulang"


"Ayy, kita kan rencananya mau pulang siang ini, supaya nanti sore kita bisa bersiap dan besok bisa langsung berangkat ke Bandung"


"Iya, baiklah" Cahya menurut tetapi kesedihan sangat terlihat diwajahnya yang tentu saja Devan tidak mungkin membiarkan istrinya bersedih.



Setelah selesai sarapan mereka langsung kembali ke hotel untuk segera berkemas, Cahya masih sedih karena tidak bisa ke pantai seperti yang dia inginkan tetapi dia tidak memperlihatkan nya pada Devan tapi walaupun begitu tetap saja Devan tau kalau istrinya sedang sedih.



"Ayy, kamu mau mandi dulu sebelum pulang atau nanti saja di rumah?"


"Aku mau mandi dulu, tunggu sebentar" Cahya membuka ponselnya dan mendapatkan kiriman video Devan dan Ratu versi lengkapnya, Cahya hanya seorang perempuan biasa, dia tetap saja kecewa dan cemburu karena suaminya tergoda bahkan sudah bersentuhan walau tidak terjadi yang lebih jauh, tetapi Cahya berusaha menguatkan hatinya kalau itu juga adalah kesalahan yang dia lakukan, dia terus mengulang dan terus mengingatkan hatinya kalau itu bukan hanya salah Devan tetapi juga salahnya.



Cahya menghapus video itu, dia mencoba untuk tidak kembali melihatnya walau untuk melupakannya sudah pasti tidak mungkin,


"Seharusnya kamu bersyukur Ayya, disaat seperti itu suamimu masih sanggup bertahan, kenapa kamu hanya focus pada saat dia tergoda dan sempat bersentuhan, ingatlah bagaimana suamimu berjuang melawan wanita itu dan yang lebih penting lagi yang harus kamu ingat adalah perjuangan suamimu yang melawan hasratnya disaat itu, tidak banyak pria dewasa yang akan lolos dalam situasi itu" Cahya terus menguatkan hatinya untuk mengubur masalah video Devan dan Ratu.



Cahya melihat kearah suaminya yang sedang sibuk berkemas dan memasukkan baju-baju mereka kedalam koper, Cahya mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.



"Ada apa? kamu mau merayuku supaya aku membawamu ke pantai?" Devan memegang kedua tangan istrinya untuk lebih mempererat pelukannya.


"Tidak sayang, aku akan selalu mengikuti apa yang kamu mau dan apa yang kamu katakan" Cahya lalu menciumi punggung Devan karena dia masih terus memeluk erat tubuh Devan dari belakang.



Devan melepaskan pelukan itu dan dia berbalik untuk memandangi wajah istrinya, dia tersenyum karena lagi-lagi istrinya membuatnya bangga karena semakin dewasa pola pikirnya.



"Cepatlah mandi, ini sudah semakin siang" Devan lalu mencium kening Cahya sebelum melepaskannya supaya istrinya itu bisa mandi.




"Ayy, kenapa kamu harus begitu imut? bahkan dengan berpakaian tertutup seperti ini tetap saja tidak menutupi kecantikan dan keimutanmu"



"Tidak perlu berlebihan, bukankah ini seperti yang kamu mau, tertutup rapat"



"Ayy, aku ingin,, sebentar saja sayangku,, tolonglah aku" Devan sudah membuka kembali jaket yang dipakai istrinya, dan dengan cepat juga melepaskan rok panjang istrinya, Cahya masih terpojok ditembok saat Devan memainkan miliknya, Cahya terus memegangi kepala Devan dan meremas lembut rambutnya.



"Ssaayyyaaang, aahhhhhh,, teruskan sayanggg,, ooowwhhhh enak sekali,, aaaauuuuwwww,,, aku tidak kuat lagi,, aaagggghhhh!!" Cahya mengejang dengan permainan jari dan lidah suaminya pada bagian bawahnya.



Devan berdiri dan memandangi wajah istrinya yang sedang mengatur nafasnya setelah memasuki nirwana kenikmatan yang dia berikan, setelah istrinya terlihat bisa menguasai nafasnya, Devan langsung mengangkat sebelah kaki istrinya dan



Bblleessssss



"Aaaakkkhhhh,,, Aaauuuccchhhh,,, Sayaaannngg,,!!" burung itu menembus pelan tapi pasti memasuki sarangnya, Cahya terus merintih karena kenikmatan yang selalu disuguhkan suaminya, Cahya mencari pegangan untuk menopang rasa nikmat yang luar biasa yang selalu dia rasakan saat suaminya memasukinya.



Devan memegang tangan Cahya dan mengalungkan kedua tangan istrinya kebelakang lehernya, dia sendiri langsung mengangkat tubuh istrinya dalam gendongannya dengan kedua aset berharga mereka masih menyatu.


__ADS_1


Devan melakukan gaya yang berbeda di setiap kegiatannya memberikan kepuasan kepada istrinya, kali ini dia terus bergoyang dengan Cahya di gendongannya.



"Ssaayyyaaang, aahhhhhh,, ini eeennakk,," Cahya terus memeluk tubuh Devan dengan erat dan kakinya menyilang di pinggang Devan, dia terus mendesah dan merintih saat Devan terus memaju mundurkan pinggulnya.



Mereka lalu mengerang secara bersamaan disaat mencapai puncak kenikmatan, Cahya mengendurkan pelukannya hingga membuat Devan bisa memandangi wajah istrinya yang masih bersemu merah karena masih ada sisa-sisa kenikmatan yang dirasakannya.



"Sayangku, apa kamu bosan karena setiap saat dan setiap waktu aku melakukan ini?" tanya Devan yang masih belum menurunkan istrinya dari gendongan nya, burungnya yang sudah muntah dan tertidur, sekarang kembali terbangun karena kembali terjadi gesekan dengan milik istrinya.



"Aku tidak pernah bosan sayang, aku selalu menikmatinya, aku sepertinya sudah kecanduan oleh sentuhan mu" Cahya berbisik ditelinga Devan dan minta diturunkan.


"Sayang, ini bangun lagi, sekali lagi ya" pinta Devan, Cahya mengangguk tetapi minta diturunkan terlebih dahulu.



"Sekarang gantian aku yang akan mengambil kendali" ucap Cahya dengan kedipan matanya dan langsung melahap burung suaminya setelah dia bersihkan dari sisa cairan yang tadi telah menyemburnya.



"Ayyy,,, aaagggghhhh!!"



Tidak mau kalah dari Devan, kali ini Cahya lah yang ingin memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.



Karena pertempuran panjang mereka membuat mereka terlambat untuk makan siang, mereka membeli makanan dan memakannya di mobil, Cahya menyuapi suaminya yang sedang menyetir.


"Kita mau kemana sayang? ini bukan arah menuju rumah, apa kamu salah jalan?" Cahya melihat ke jalanan sekitar lewat kaca jendela mobil.


"Bukankah kamu ingin ke pantai?"


"Aaaaaaa, aku pikir kamu tidak mau membawaku ke sana"


"Apapun akan aku lakukan untukmu sayangku" ucapan Devan membuat Cahya tersenyum tersipu.


"Ayy,,," Devan memanggil istrinya tetapi saat Cahya menoleh Devan tidak mengatakan apapun, hingga membuat Cahya keheranan.


"Ada apa?" tanya Cahya lalu membuka sabuk pengaman nya, mereka sudah sampai tetapi terasa sepi karena bukan hari libur.


"Aku ingin mencobanya di mobil" Devan menatap istrinya dengan intens, dia ingin tau reaksi Cahya, karena kalau istrinya itu tidak mau dia tidak akan memaksa.


"Kenapa, bukankah sempit?" tanya Cahya dengan polosnya


"Maafkan aku yang mempunyai fantasi yang aneh, kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa" jawab Devan, tetapi Cahya mendekati suaminya dan langsung membuka celananya, Cahya langsung melahap burung suaminya yang sudah terbangun dengan gagahnya.


"Eeeeehhmmmm,, eeemmmmmm,,"


Cahya semakin lihai dalam hal ini, cukup lama Cahya bermain dengan burung kesayangannya yang entah kenapa akhir-akhir ini menjadi lebih sering terbangun,, Devan mengerang dan terus membelai lembut rambut istrinya, tiba-tiba Devan menjauhkan wajah istrinya dari burungnya karena Devan sudah hampir menyembur, Devan tidak mau istrinya terkena semburannya, karena mereka akan bermain di pantai, Devan dengan cepat mengambil tissue dan menarik Cahya untuk mencium nya saat burungnya menyembur.


"Ayy, terimakasih sayang, suatu saat aku juga ingin mencobanya memasuki dirimu di jok belakang"


"Ayo sekarang" ucap Cahya lalu dia pindah ke kursi belakang dan langsung menyandarkan tubuhnya di kursi jok mobil dan membuka semua yang harus dibuka, lalu tersenyum seolah menantang Devan.


"Awas ya, aku akan menghabisi dirimu" Devan langsung menuju istrinya


Mereka melakukan nya sampai menjelang sore, mereka lalu keluar dari mobil untuk melihat matahari terbenam.



Mereka lalu berjalan-jalan di pinggir pantai, Devan mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya, mirip posisi bercinta mereka tadi di hotel, Devan menciumi leher istrinya.


"Maafkan aku sayang" bisik Devan, Cahya mengerti apa yang dimaksud suaminya dia lalu menjawab,


"Kalau tidak menyalahi aturan dan tidak menyakiti kita berdua atau salah satu pihak, aku akan terus berusaha memenuhi apapun keinginanmu sayang, itu kewajiban ku, aku malah sangat senang karena kamu mau terbuka dan mengatakan keinginanmu padaku, bagaimana kalau kamu tidak bilang dan malah mencari yang lain untuk memuaskan fantasi mu"


"Ayy, jangan sembarangan kalau berbicara, aku tidak pernah melakukan dengan yang lain walaupun aku sering mendapatkan kesempatan, aku juga mampu untuk melakukan hal itu, tapi aku hanya mau kamu sayangku, tolong terima hati dan tubuhku selama nya"

__ADS_1


Tidak terkira kebahagiaan yang ada di hati Cahya mendengarnya, mereka lalu makan malam di restoran pinggir pantai dan setelah selesai mereka langsung beranjak untuk segera pulang.


"Kalian bisa hidup bahagia dan enak-enakan, lihat saja apa yang aku lakukan" batin Ratu melihat kearah Devan dan Cahya, dia masih terus membuntuti kemanapun Devan pergi.


__ADS_2