
Devan mencari istrinya, yang diikuti Sinta, dis melihat istrinya yang sedang mengobrol membuat Devan marah dan langsung mendekatinya tapi saat hampir mendekati Cahya tiba-tiba Sinta jatuh dan memegangi tangan Devan.
"Aawwwww!"teriak Sinta yang memakai sepatu hak tinggi itu,
Reflek Cahya menoleh ke sumber suara, melihat itu Cahya makin cemburu tapi dia langsung membuang muka dan tidak memperdulikan, dan langsung pergi yang disusul pemuda tadi yang mengobrol bersamanya.
"Ayy tunggu!"teriak Devan
Devan langsung melepas pegangan tangan Sinta, kali ini dia melihat keseriusan masalah ini yang awalnya dia hanya ingin mengerjai istrinya.
Devan meminta tolong pada karyawan disana untuk membantu Sinta, tentu Sinta kesal melihatnya
"Sama adik saja sangat protektif, sepertinya harus adiknya yang aku dekati dulu"gumam Sinta
Devan mengejar Cahya, tapi kehilangan jejak, dia mencari ke tempat live musik tapi tidak ada, bahkan ponselnya juga tidak aktif, dia terus mencari hingga dia melihat pemuda yang tadi bersama Cahya sedang bercanda bersama teman nya yang lain.
"Dimana Cahya?" tanya Devan
"Tidak tau, dia tadi langsung pergi saat melihatmu dan melarang ku mengantarkan nya"jawab pemuda itu.
Devan bingung harus mencari kemana lagi, dia lalu menuju kamarnya, dia sangat lega karena ternyata Cahya sudah ada dikamar dan sudah berganti baju, sepertinya dari tadi dia ada dikamar.
Devan langsung tiduran disebelah istrinya, ternyata Cahya sudah tidur, atau entah pura-pura, Devan lalu memeluk istrinya.
Malam yang diharapkan panas melebihi panasnya malam kemarin ternyata berbanding terbalik, malam ini sangat dingin, Devan tidak bisa tidur dia lalu berusaha membangunkan istrinya, tapi Cahya tidak kunjung bangun, Devan mulai sadar sepertinya istrinya itu cuma pura-pura tidur karena biasanya dia sensitif terhadap gerakan dan sentuhan nya.
Devan langsung menindih istrinya tapi kali ini Cahya mendorongnya kuat, dan dia langsung berbalik tidur tengkurap, melindungi tubuhnya dalam selimut.
"Ayy!" teriak Devan kesal mendapat penolakan dari istrinya.
Cahya tidak menjawab, dia mencoba tidur, tapi Devan masih berusaha mendapatkan jatah malam nya, dia menarik selimut yang dipegang erat istrinya itu.
"Ayya, buka selimutnya cepat!" teriak Devan yang masih terus berusaha menarik selimut itu, tidak lama selimut itu langsung terbuka, kekuatan Cahya tidak ada apa-apa nya dibanding kekuatan nya.
Devan langsung menuju leher istrinya.
"Lepaskan, disini sempit tidak bisa berdua, kamu ke kasur sebelah!" teriak Cahya berusaha menghindar
"Tentu saja aku tidak akan melepaskan mu, tidak akan pernah, kamu sendiri yang memilih kamar ini, sepertinya kamu ingin menempel padaku kan, jadi memilih ranjang kecil" jawab Devan, dia lalu berhasil membalik tubuh Cahya dan langsung menyerangnya.
"Aaahhhhh" Cahya merintih dan terus mendesah, tidak ada istilah libur bagi Devan, dia akan memaksa istrinya itu untuk terus menerima sentuhan dan kejantanan nya selama Cahya tidak sedang sakit.
Malam dingin itu kembali panas seperti biasanya, setelah larut malam Cahya kelelahan dan tertidur, Devan lalu memeluknya, mereka melupakan rasa cemburu yang tadi mereka rasakan dan tidak membicarakan nya.
Hampir siang Cahya baru bangun karena tidak menyalakan alarm, Devan terlihat masih tidur nyenyak disebelahnya, dia memandangi suaminya itu sejenak.
__ADS_1
"Ternyata suami ku memang sangat tampan"batinnya
Cahya berusaha bangun tapi ditarik oleh suaminya dan menutup tubuh mereka dengan selimut, Devan kembali menindih istrinya itu, merapikan rambut Cahya sambil terus memandangi nya
"Kenapa kamu sangat manis?" ujar Devan
"Tidak usah menggombal, ini masih pagi, ayo bangun aku lapar" jawab Cahya yang berusaha mendorong suaminya agar dia bisa bangun.
Devan mencium kening istrinya lalu memeluknya erat, dia ingat kecemburuan nya saat tadi malam melihat Cahya mengobrol bersama pria lain tapi dia masih tidak membicarakan hal itu.
Mereka mandi bersama lalu memakai baju couple santai, sweater Hoodie dipadukan celana jeans, mereka lalu keluar kamar untuk sarapan.
"Kenapa kalian sangat terlambat untuk sarapan?" tanya Sinta yang sepertinya menunggu mereka, Sinta terlihat sangat cantik dan sexy.
Cahya hanya tersenyum lalu mencari tempat duduk, saat Devan ingin duduk disebelahnya, tiba-tiba sinta sudah duduk disebelah Cahya.
"Kalian lucu kayak pasangan, pake baju couple segala" ujar Sinta
Saat Devan ingin menjawab tiba-tiba pemuda yang semalam mengobrol bersama Cahya datang juga dan ikut bergabung.
"Aku tidak semuda itu untuk dikatakan anak SMA, aku kuliah semester terakhir" jawab Cahya
"Kamu itu sangat manis dan imut, mau aku ajarin biar terlihat dewasa?" ujar Sinta
"Tidak perlu terimakasih, aku nyaman dengan seperti ini"jawab Cahya
"Memang nya kamu, dempul nya satu meter" ujar teman nya yang entah siapa namanya
Sinta tidak menjawab dia lalu menceritakan siapa dirinya pada Cahya dan menceritakan kisahnya dengan Devan saat SMA.
"Caca, dulu kakak kamu sangat sombong, aku nembak dia tapi ditolak mentah-mentah, dia dan teman-temannya bahkan memberi julukan ratu makeup padaku, tapi dia malah naksir guru Matematika, kan aneh ya?" Sinta mulai bercerita
"Apa?"Cahya lalu tertawa mendengarnya
"Iya benar, dia ketahuan mojok sama guru Matematika, coba bayangin" lanjut Sinta
"Bukan seperti itu, yang kalian lihat waktu itu aku dihukum karena tidak mengerjakan tugas"bantah Devan
"Jangan percaya Ca, selama SMA dia tidak punya pacar pasti karena dia suka sama guru itu" ujar Sinta
__ADS_1
Cahya masih tertawa mendengarnya sambil menutupi mulut dan hidung nya dengan sebelah punggung tangan nya, membuat Devan terpana karena dia belum pernah melihat Cahya tertawa sampai seperti itu, terlihat semakin manis baginya.
"Caca, kamu jangan tertawa, kamu semakin imut" ujar pemuda yang tadi malam yang belum diketahui siapa namanya, Devan tentu saja langsung memberikan tatapan tidak suka.
"Malah ngegombal ni bocah, langkahi dulu ni calon kakak iparnya" ujar Sinta menunjuk dirinya sendiri yang langsung membuat Cahya berhenti tertawa.
Cahya dan Devan kaget dan saling pandang, Devan langsung bangun dan ingin mengatakan yang sebenarnya tapi tiba-tiba terdengar musik yang sangat keras, ternyata ada yang memberi kejutan pada istrinya.
Mereka melihatnya lalu bertepuk tangan, saat acara belum selesai, Cahya mendapat telepon dari Rafa, dia lalu mengangkat nya.
"Hallo ganteng, ada apa sayang?"tanya Cahya
"Mama, hari ini Afa mau main sama nenek ke Mall,, boleh Afa makan es cream?" tanya Rafa
"Iya sayang boleh, sudah dulu ya sayang, disini sangat ramai" ujar Cahya lalu telepon terputus
"Siapa Ca? pacar kamu pasti ya, panggilannya saja sayang" tanya Sinta
"Anak aku" jawab Cahya yang membuat mereka kaget karena tidak mengira kalau Cahya sudah punya anak.
"Kamu bilang masih kuliah, tapi sudah punya anak, pasti anak angkat ya?" tanya Sinta lagi
"Anak kandung" jawab Cahya singkat, dia mulai tidak nyaman, karena merasa seperti sedang di interogasi.
Cahya menyimpan kembali ponselnya, dia masih tidak menyadari pandangan orang padanya yang masih merasa tidak percaya, saat dia merasa sangat sepi lalu melihat ke arah Devan yang tersenyum padanya, Devan senang karena istrinya itu tidak malu mengakui kalau dia sudah punya anak.
Suasana terlihat canggung, lalu Sinta bertanya dimana suami Cahya karena dari semalam cuma melihat dia bersama Devan saja.
"Apa kamu janda? memang ya jaman sekarang, janda semakin didepan?" ujar Sinta
__ADS_1