
"Mana Ayya?" tanya mama Cahya pada Devan.
"Dia lari ke kamarnya tante, mungkin takut padaku, tante kenapa lama sekali membeli boba nya?"
"Kamu jangan khawatir ya, tante akan membujuknya nanti, iya tadi lama soalnya ngobrol dulu sama tetangga"
"Tante, boleh aku yang memberikan boba nya ke Ayya?"
"Apa dia mau?"
"Aku akan berusaha dulu tante, semoga dia tidak marah padaku"
"Baiklah, ini boba nya, tapi jangan memaksanya"
Devan lalu naik ke lantai atas dimana Cahya berada, lalu dia mengetuk pintu,
"Ayy, kamu mau keluar atau aku yang masuk kedalam?"
Lama tidak ada jawaban
"Ayy, jangan main-main lagi"
Terdengar pintu terbuka, tapi bukan pintu kamar Cahya yang terbuka, melain kan pintu kamar mandi di sebelah kamar Cahya lah yang terbuka,
"Ngapain kamu di situ!!" teriak Cahya langsung menutup pintu kamar mandi kembali.
"Maaf Ayy, ini boba nya sudah ada" Devan yang juga kaget langsung meletakkan boba itu di depan pintu kamar Cahya
"Kenapa lari-lari Van?, apa Ayya marah?"
"Iya tante, dia marah" jawab Devan berbohong, sebenernya tidak sepenuhnya bohong karena memang Cahya pasti akan marah padanya nanti.
"Pelan-pelan saja ya, dia masih kaget bertemu kamu kembali"
"Iya tante"
"Kamu kayaknya belum makan dari siang, makan dulu sana"
"Nanti saja tan"
"Tidak usah menunggu Ayya, waktu makan nya tidak teratur, semau dia saja jadi tidak pasti kapan dia mau makan nya"
__ADS_1
"Oh begitu, aku izin ke kamar ya tan mau simpan tas"
"Yang nyaman ya, tante sudah laporan kok tadi ke RT, kalau ada tamu dirumah, tante mau ke kamar Ayya dulu"
Mama Cahya langsung ke atas untuk menemui anaknya, sementara Devan masuk ke kamar tamu, dia sudah dua kali kesana, jadi mulai terbiasa dan tau tata letak ruangan di rumah itu.
"Ayya" panggil mama nya sambil membuka pintu kamar
"Iya ma" jawab Cahya yang sudah memakai piyama nya
"Kamu bisa tidak jangan terlalu marah ke Devan lagi, kasian dia, dari pas kamu menghilang dia yang paling panik dan sibuk nyariin kamu"
"Iya ma, bosen aku dengernya, mama terus ngomong begitu"
"Mama juga bosen terus ngasih tau kamu, sekarang turun, ajak dia makan, jangan kayak anak kecil gitu"
"Nanti ma, aku masih capek"
"Cuma disuruh makan, memang capek apa?"
"Iya ma sebentar"
"Mama turun dulu, awas kalau kamu tidak turun dan langsung tidur, kan tadi sudah tidur di pesawat sama di bis"
"Karena aku mama mu"
Cahya tidak menjawab lagi dan hanya manyun.
Cahya sudah semakin dewasa, dia sudah bisa menguasai hatinya, dia hanya tidak tau harus berkata apa nanti pada Devan, tapi dia tetap turun sambil menghabiskan boba nya.
Devan masih ada di kamar, mungkin dia mandi dulu, Cahya langsung tiduran di sofa, menyetel TV yang tidak akan ditonton nya itu karena dia malah asyik main ponsel nya sambil sesekali tersenyum melihat keseruan nya bersama teman-teman pas study tour.
Cahya mengantuk dan tertidur di sofa, sepertinya dia kecapean, tak lama Devan keluar kamar, dia melihat Cahya yang tertidur dengan nyaman nya, dia mendekatinya dan mengambil ponselnya, dia tersenyum bahagia saat melihat foto layar ponsel itu ada fotonya.
Dia mencoba membuka ponsel itu dan ternyata polanya masih sama, dia menelfon ke nomornya dengan ponsel itu agar nomer baru Cahya tersimpan di ponselnya, Devan lalu meletakkan ponsel itu kembali ke dekat Cahya dimana tadi dia mengambilnya.
Devan duduk di bawah sofa dimana Cahya tertidur, lalu mama Cahya keluar dari dapur selesai memasak
"Kapan itu anak turun, kenapa sekarang tidur bukan nya makan dulu, Devan ayo makan dulu, sepertinya Ayya kecapean"
"Iya tante" jawab Devan sambil bangun dari duduknya untuk makan.
__ADS_1
Saat mereka selesai makan, Cahya masih tertidur, lalu Devan ke kamarnya mengambil selimut untuk Cahya.
"Van, kamu tidur saja, Cahya sudah biasa tidur disitu palingan nanti dia ke atas sendiri kalau terbangun atau kadang sampai pagi dia tidur disitu, asal jangan dimatikan lampunya, dia takut gelap, tante masuk kamar dulu ya"
"Iya tan" Devan tidak habis pikir, kenapa mama Cahya tidak khawatir dia ada disana didekat Cahya, apa karena cara berpikirnya sangat modern, entah lah Devan tidak terlalu memperdulikan nya.
"Tante percaya kok sama kamu" ucap mama Cahya tiba-tiba sebelum masuk ke kamarnya sambil tersenyum pada Devan.
"Hehe" Devan tertawa canggung karena terbaca apa yang dia pikirkan.
"Ayy, aku akan selalu menjagamu, tolong percaya padaku" bisik Devan ke Cahya yang tertidur sambil merapikan rambut yang menutupi pipi nya, Devan tertidur di bawah sofa tempat Cahya tertidur.
Benar saja karena saking capeknya Cahya tertidur di sofa sampai pagi hari nya, dia bangun dan duduk, lalu kaget karena ada Devan tertidur dibawah sofa, dia diam sejenak sambil memandangi wajah pria itu.
"Sudah puas belum Ayy melihat nya?" tiba-tiba Devan bersuara tapi masih terpejam
Cahya kaget dan langsung pura-pura jaim,
"Siapa juga yang lihatin, dasar cabul ke GR an"
"Apa kamu bilang?"
"Cabul"
"Maksud kamu apa?" tanya Devan bingung,
"Aku tidak ngapa-ngapain kamu kok" ujar Devan masih tidak mengerti maksud Cahya
"Sudahlah permisi, aku mau lewat" Cahya melipat selimut dan langsung ke dapur membuat susu coklat hangat.
Saat dia meminum susunya, Devan juga ke dapur
"Kamu tidak buatin buat aku?"tanya Devan
"Mau?" ujar Cahya menyodorkan gelasnya
"Mau" jawab Devan mendekat, tapi gelas itu ditarik lagi oleh Cahya, Cahya meminumnya dan memberikan ekspresi mengejek ke Devan karena berhasil mengerjainya
Tapi Devan tetap semakin mendekat dan langsung meminum habis susu itu saat masih di pegangan Cahya
"Kamu ya!" Cahya teriak kesal,
__ADS_1
Gantian Devan yang memberikan ekspresi mengejek ke Cahya.