
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ternyata Devan membawa Cahya untuk mencari rumah, dia ingin Cahya yang memilih
"Bukan sekarang Van, aku tidak bisa, aku tidak tau, ayo cepat pergi dari sini"
"Baiklah aku yang akan memilih, kamu hanya perlu mengikuti ku"
Cahya tidak tau harus berkata apa lagi, mereka memasuki rumah siap huni, terlihat asri dan nyaman, ada 3 kamar utama dan satu kamar tamu
"Satu kamar buat kita berdua, yang dua buat anak-anak kita, yang satu nya kamar tamu, di belakang ada halaman, kamu bisa menanam bunga-bunga kesukaan kamu disana"
"Van, bukan seperti ini, maksud aku bukan sekarang, kita masih banyak waktu untuk ini, kita pacaran saja dulu, kamu juga baru datang lagi dari Jawa, bertahap dulu saja, jangan seperti ini"
"Kita bisa pacaran setiap hari walau kita sudah menikah, dan itu malah lebih enak"
Cahya semakin takut menghadapi Devan, dia tidak tau kalau Devan akan seserius ini dan secepat ini membeli rumah, padahal baru kemarin dia bilang, dan itupun tidak serius.
Cahya mendekat ke jendela dan melihat keluar, lalu Devan ke belakangnya dan langsung memeluknya
"Ini bukti keseriusan aku, selama ini juga aku tidak ada niatan untuk main-main sama kamu, maaf kalau aku membebani mu, kalau kamu memang belum mau menikah tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai kamu siap"
Cahya berbalik menghadap Devan, menatapnya lalu memeluknya
"Maaf" hanya itu yang diucapkan Cahya
"Kenapa kamu minta maaf? kamu tidak bersalah, aku yang harus minta maaf karena aku terus mendesak mu untuk cepat menikah, sekarang lakukan apa yang kamu mau, kamu mau kuliah atau kerja terserah kamu, aku juga akan bekerja seperti mau kamu, sambil menunggu kamu lulus kuliah"
Cahya semakin mempererat pelukannya, Devan tersenyum, karena ini kali pertama Cahya inisiatif memeluknya lebih dulu.
Mereka lalu pulang, Devan mengantar Cahya pulang ke rumah nya setelah itu langsung kembali tanpa mampir karena sudah malam.
__ADS_1
"Dari mana kok baru pulang, mama telepon ngga aktif"
"Ponsel aku habis daya ma, tadi pergi main sama Devan, maaf ma tadi lupa kasih kabar"
Cahya tidak menjelaskan karena takut mama nya malah menyuruhnya untuk menikah
POV Devan
Devan mengikuti kemauan Cahya, dia tidak akan memaksanya untuk menikah, Devan berusaha mencari kerja lagi, selama ini dia tidak pernah susah mendapat pekerjaan, semoga kali ini juga dia secepatnya mendapat kerja.
Pagi itu dia mengantar Cahya berangkat bekerja, dia langsung mencari pekerjaan setelahnya.
Hari terus berganti, Devan sudah bekerja dan Cahya masih seperti biasa, bekerja sambil menunggu awal semester untuk mulai kuliah.
Cahya masih terus memikirkan nya, tapi Cahya yang memang gengsinya tinggi, tidak mau kalau harus menanyakan langsung, tapi dia terus kepikiran sampai tidak konsentrasi melakukan apapun dan tidak nafsu makan.
Cahya bahkan terus melakukan kesalahan di tempat kerjanya besok paginya, karena dia masih terus kepikiran masalah itu, dan hari itupun Devan kembali tidak bisa menjemputnya bahkan tadi pagi juga tidak menjemputnya untuk mengantar ke tempat kerja.
Cahya semakin tidak focus bekerja, dia lalu minta izin pulang lebih dulu karena merasa pusing dan hatinya dalam keadaan tidak baik.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa? bahkan dia tidak mengirim pesan" batin Cahya
Cahya meminta izin lagi keesokan harinya, dia merasa jenuh, lalu dia menghubungi Dena untuk mengajaknya bermain untuk refreshing.
Mereka pergi ke sebuah taman bunga, disana Cahya sangat menikmatinya karena dia memang sangat menyukai bunga, dia merasa sedikit lebih tenang, dia lalu curhat ke Dena tentang masalahnya.
"Mungkin dia mencari yang lain karena kamu tidak mau diajak menikah"
"Apa maksudmu?"
"Ayy, dia itu pria dewasa, bisa saja kan seperti itu, dia sudah tidak kuat lagi"
"Aku belum siap menikah, kamu tau sendiri bagaimana pernikahan itu,, bagi aku itu sangat menyeramkan, apalagi aku melihat bagaimana mama ditinggal ayah aku"
"Kalau dia memilih wanita lain bagaimana?"
"Biarkan saja, berarti dia bukan jodoh aku, kenapa harus aku yang memahami dia, kalau dia saja tidak memahami ku"
Cahya sangat sakit hatinya mengucapkan itu tapi mau bagaimana lagi, kalau memang itu keputusan Devan dia hanya bisa menerima.
Mereka lalu pulang karena hari sudah sore, Cahya masih belum paham apa yang terjadi tapi kalau memang Devan tidak bisa menunggunya siap untuk menikah, bagi dia itu tidak apa-apa, dia akan berusaha melepaskan Devan.
__ADS_1