
"Ayy, kenapa sangat lama?" Devan mengetuk pintu kamar mandi karena Cahya tidak juga kunjung keluar dari kamar mandi sejak tadi.
"Sebentar, aku mau sekalian mandi" ujar Cahya mencoba berbicara dengan nada biasa, supaya Devan tidak tau kalau dia sedang menahan sakitnya.
"Ya sudah, aku buatkan susu coklat dulu ya, tunggu aku, jangan paksakan berjalan sendiri"
"Iya" jawab Cahya singkat.
Devan keluar kamar menuju dapur, terlihatlah dapur yang acak-acakan ulah Siti, sementara Renal duduk di sofa bersama anaknya, Devan tidak mungkin marah pada Istri adiknya, hanya saja dia meminta untuk dibereskan seperti semula.
"Mbak Ayya belum bangun juga?" tanya Siti pada Devan
"Sudah, sedang mandi, kamu mau masak apa sampai berantakan seperti ini?" tanya Devan, dia keheranan melihat semua alat masak acak-acakan dan bahan masakan yang dipotong berserakan.
"Aku mau membuat sayur asem, tapi kata mas Renal potongan sayurnya salah terus, jadi banyak yang tidak terpakai" jawab Siti enteng, dia seperti tidak menyadari kalau itu bukan rumahnya.
"Bikin saja sebisa kamu, dan kasih ke suamimu itu, bilangin jangan banyak ngomel, kayak cewek saja" ucap Devan, sementara yang sedang dibicarakan tentu saja bisa mendengar.
Renal tersenyum lebar melihat kearah Devan, dia sadar akan segera diomeli oleh kakaknya.
"Bantu istri kamu, kalau tidak bisa membantu setidaknya tutup mulutmu" ujar Devan pada Renal
"Iya tuan Devan terhormat, suami yang sangat menyayangi istrinya sampai membuat istrinya teriak kesakitan" ujar Renal sarkasme pada Devan
"Awas ya kamu, gaji bulan depan aku potong" ujar Devan lalu kembali masuk ke kamarnya dengan membawa susu coklat hangat untuk istrinya.
Renal tidak memperdulikan ucapan kakaknya karena dia tau kakaknya pasti cuma bercanda, dia lalu ke dapur dan berteriak kaget karena melihat dapur yang seperti kapal pecah.
"Kenapa kamu menghancurkan dapur orang lain?!" teriak Renal pada istrinya
"Kamu bilang mau makan pakai sayur asem, ini sudah aku buatkan, aku tinggal menggoreng ikan, tolong nanti bantu membereskan semua ini" jawab Siti dengan santainya sambil mengaduk sayur yang dia buat.
"Kalau mbak Ayya keluar, dia pasti pingsan melihat semua ini, cepat bereskan seperti semula, lebih baik aku memandikan baby" ujar Renal lalu berlalu dari dapur.
__ADS_1
"Ayy, kenapa sangat lama? buka pintunya" ujar Devan sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya sebentar, ini sudah mau selesai" Cahya memakai baju mandinya lalu berjalan pelan keluar kamar mandi, bagian bawah nya masih terasa sakit, dia baru berendam dengan air hangat, Devan langsung menggendong Cahya dan mendudukkan nya dimeja rias.
"Apa sangat sakit? maafkan aku" ucap Devan lalu mencium kepala Cahya dan memberikan susu coklat hangat buatan nya.
Sebelum menyisir rambutnya, Cahya meminum dulu susu itu agar merasa hangat, dia juga sebenarnya merasa sangat lapar karena tadi malam tidak sempat makan malam.
Setelah menghabiskan susunya, dia memakan buah yang ada dimeja rias sambil menyisir rambutnya, Devan terus memperhatikan istrinya tapi Cahya tidak menyadarinya karena dia sibuk memakan buah-buahan yang tadi malam disiapkan Devan, Cahya tidak sengaja melihat suaminya dari pantulan kaca.
"Ada apa? kenapa tidak bersiap, memangnya kamu tidak akan bekerja?"
Devan menggeleng, dia tidak tau bagaimana kelanjutan dari cafe yang akan dia buka, karena terjadi masalah seperti ini, sehingga membuat semua menjadi berantakan.
Tok tok tok
Devan langsung membukanya, terlihatlah Siti dengan membawa mangkok berisi sayur asem yang dia buat, Siti berniat memberikan nya pada Cahya.
"Jangan!" teriak Devan, membuat Renal juga mendekat mendengar suara kakaknya, Cahya juga menoleh ke pintu dan heran dengan sikap Devan pada Siti.
"Kenapa mas? mbak Ayya harus makan, dia belum makan dari kemarin siang karena menunggu mas pulang dan tadi malam malahan,,," Siti tidak bisa melanjutkan ucapan nya karena kakinya diinjak Renal.
"Aku akan membuatkan sarapan untuk istriku sendiri, bawa kembali sayur buatan kamu, berikan saja pada suamimu, aku tidak mau istri aku keracunan" jawab Devan tanpa memikirkan perasaan Siti, Devan lalu mendekati Cahya dan menanyakan pada istrinya itu akan sarapan apa, supaya dia bisa segera membuatkan.
"Tidak boleh menolak niat baik orang, biarkan aku memakan sayur buatan Siti" jawab Cahya
__ADS_1
"Siti, boleh aku mencicipi masakan kamu?" ujar Cahya melihat kearah Siti yang masih didepan pintu, mendengar apa yang diucapkan Cahya, Siti lalu bersemangat lagi dan langsung masuk kamar dan memberikan sayur buatannya pada Cahya.
"Makan yang banyak ya mbak, biar cepat pulih"
"Terimakasih" ucap Cahya
Cahya lalu mencoba kuah dari sayur itu, dia tidak berekspresi apapun, Devan menjadi khawatir lalu mendekatinya.
"Ayy, muntah kan saja, nanti kamu sakit perut" ujar Devan, terlihat Cahya yang susah payah menelan padahal dia baru mencoba sedikit kuahnya saja.
"Siti, boleh aku makan dulu? nanti biar aku bawa sendiri mangkok nya kalau sudah selesai" ucap Cahya yang sebenarnya mengusir Siti secara halus, dia tidak bisa melanjutkan makannya karena rasanya sangat aneh, tapi dia juga tidak mau membuat Siti kecewa.
"Baiklah mbak, habiskan ya, nanti kalau mau lagi masih ada di dapur" ucap Siti lalu keluar kamar, setelah Siti keluar, Cahya memberi kode pada Devan untuk menutup pintu.
Setelah pintu tertutup, Cahya langsung minum dengan cepat hingga membuat Devan heran.
"Ada apa Ayy, apa sangat pedas?" tanya Devan yang dijawab gelengan kepala oleh Cahya.
"Mbak, mbak, mbak!" teriak Renal dari luar, Devan langsung membukakan pintu, Renal langsung masuk kedalam kamar dan mengambil mangkok sayur yang tadi Siti berikan pada Cahya.
"Mbak belum mencobanya kan?" tanya Renal,
Cahya geli melihatnya dan tidak bisa menahan senyumnya, Cahya lalu tertawa bersama Renal karena mereka berdua sudah merasakan rasa sayur itu.
"Ada apa ini?, kamu tidak sopan masuk kamar orang bahkan mengajak istri orang lain tertawa, cepat keluar!" teriak Devan lalu menarik tangan Renal dan mendorong nya keluar.
Setelah Renal keluar lalu Devan mendekati Cahya, dia tidak suka melihat istrinya tertawa bersama pria lain dan terlihat riang gembira.
"Apa yang kalian tertawa kan? kenapa tertawa dengan pria lain didepan suamimu sendiri!" ucap Devan sedikit berteriak.
"Dia itu adikmu" jawab Cahya heran dengan perkataan Devan
"Tapi dia pria" balas Devan
Cahya lalu menarik kerah baju Devan membuat Devan sedikit membungkuk kearah wajah istrinya, mereka berpandangan.
__ADS_1
Cuuppp
Cahya mencium suaminya, dia lalu berbisik menceritakan kenapa tadi dia dan Renal tertawa, mendengar hal itu Devan juga tidak bisa menahan tawanya.