Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Rafa dan Rahna


__ADS_3

Devan membelai lembut rambut istrinya yang sedang tidur dipinggiran ranjang, sepertinya Cahya menunggunya terlalu lama sampai ketiduran, Devan memang cukup lama di dalam kamar mandi, dia berusaha menahan amarah dan kesedihan nya terlebih dahulu sebelum kembali menghadapi Cahya.


Devan lalu tiduran dibawah ranjang untuk menjaga istrinya karena takut jatuh, kalau dipindahkan Cahya pasti akan terbangun, Devan terus memandangi wajah istrinya dari bawah ranjang.


"Ayy, maafkan aku yang membuatmu seperti ini, seandainya aku tidak memaksamu untuk mengandung lagi, ini semua tidak akan terjadi, kamu tidak perlu mengalami hal seperti ini, maafkan aku yang dari dulu selalu saja memaksakan kehendak ku" Devan terus berkata lirih sambil terus memandangi wajah istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya, kehamilan Cahya sudah memasuki akhir trimester ketiga itu membuatnya terkadang susah untuk tidur, jadi saat Cahya tertidur seperti ini, Devan tidak mau mengganggunya dan hanya terus menjaganya.


Cukup lama sampai Cahya terbangun dan membuka matanya, dia masih saja langsung melihat ke arah pintu kamar mandi, dia pikir Devan masih di sana.


"Sayang, kenapa sangat lama sekali, cepatlah keluar,,, maafkan aku,," ucap Cahya perlahan, Devan terus melihatnya dari bawah ranjang.


"Kalau aku melahirkan secara operasi caesar, Dede bayi tidak mempunyai antibodi sebagus yang dilahirkan secara normal, aku tidak mau kalau anak kita sakit-sakitan karena aku yang tidak sanggup melahirkannya secara normal, penyembuhan setelah operasi juga akan sangat lama, dan lebih lama dari lahiran secara normal, aku akan takut untuk kembali melakukan kegiatan yang kamu lakukan setiap hari itu,,," Cahya terus saja berbicara tanpa mengetahui kalau dari tadi Devan mendengarkan dari bawah ranjang, Devan tersenyum mendengar ungkapan hati Cahya, dia tidak menyangka kalau dia juga menjadi penyebab istrinya tidak mau melakukan lahiran secara operasi caesar.


Devan lalu duduk tepat didepan istrinya yang masih rebahan, membuat Cahya menjerit keras karena kaget dan reflek memukul kepala Devan sambil terpejam.


"Aaawwhhhh, sakit Ayy" Devan memegang kepalanya yang kena pukul Cahya.


"Kenapa mengagetkanku, bagaimana kalau aku langsung brojol!" Cahya memegangi dadanya yang masih deg-degan karena kaget.


Devan lalu naik keatas ranjang dan meminta istrinya bergeser agar tidak terjatuh, Devan mendekap Cahya lalu membelai lembut rambutnya.


"Ayy, aku tidak segila itu,, aku memang sangat kecanduan oleh sentuhan mu, ketagihan dengan tubuhmu, tetapi aku juga tidak akan memaksakan kehendak ku tanpa memikirkan kondisi mu, aku berjanji akan menunggumu sampai kapanpun kamu siap untuk kembali melakukan hal itu setelah nanti kamu melahirkan, tapi saat ini kamu harus mau dulu untuk melakukan operasi caesar"


"Kalau dulu kita melakukan lagi setelah Rafa berumur 3 tahun lebih karena baru saat itu kita bertemu kembali, berarti kurang lebih 4 tahun, jadi kalau nanti juga kamu puasa selama itu untuk menunggu, memang kamu sanggup?" tanya Cahya sambil tersenyum geli, wajahnya masih berada dalam dekapan Devan.


"Ap,, Aappa?!!" Devan berteriak lalu melepaskan pelukan nya dan memandangi wajah istrinya, Cahya tersenyum lucu melihatnya.


"Makanya jangan sok kuat, segitu pernah kegoda cewek montok" Cahya meledek suaminya.


Devan langsung diam dan kelihatan sedih karena Cahya kembali mengungkit kesalahan yang pernah dia lakukan, melihat ekspresi wajah suaminya membuat Cahya merasa bersalah dan langsung meminta maaf, lalu kembali masuk dalam dekapan Devan.


"Kamu belum bisa melupakan hal itu ya?" ucap Devan lalu membelai rambut istrinya karena Cahya tidak mau melepaskan dekapannya, sepertinya dia malu dan merasa sangat bersalah karena mengungkit hal itu.


"Maaf sayang, maafkan aku,," Cahya memegang erat punggung Devan dan tidak mau melepaskan pelukannya.


"Tidak apa-apa, aku paham Ayy, pasti tidak mudah melupakan nya, tetapi aku berjanji tidak akan mengulangi lagi,, terimakasih terus bertahan denganku" Devan tidak lagi berusaha untuk melepaskan pelukan Cahya hanya karena ingin melihat wajah istrinya, Devan hanya terus membelai lembut rambut istrinya.


Devan sadar, dia saja tidak suka saat melihat Habib memegang tangan Cahya, apalagi Cahya yang melihatnya begitu dekat dan sempat di cumbu oleh Ratu, untung saja dia bisa melawan, karena kalau tidak,, pasti sekarang ini dia tidak akan bisa memeluk dan hidup bahagia bersama Cahya.


"Ayy, sudah jangan dipikirkan, aku tidak marah sayang,, dan kalau memang aku harus menunggumu selama itu aku pasti juga,,," Devan menelan ludah tidak bisa melanjutkan ucapannya, membuat Cahya tersenyum dan menciumi dada Devan.


"Aku yang tidak akan kuat kalau harus menunggu terlalu lama, karena aku selalu merindukan sentuhan mu" bisik Cahya membuat Devan tersenyum bahagia.


__ADS_1


"Aaaauuuuwwww,, sayang ayo kita ke rumah sakit sekarang, sepertinya aku akan segera melahirkan" Cahya menahan sakit dan membangunkan suaminya.


Devan langsung bangun dan mempersiapkan semua yang harus dibawa ke rumah sakit, ibu Retno dan seluruh keluarga yang memang sengaja ada di rumah Devan untuk menemani Cahya,, mereka langsung bersiap, ibu Retno mendekati Cahya dan mengelus pinggang nya supaya lebih tenang.


"Sayang, sudah berapa lama kamu kontraksi?" tanya ibu Retno yang sudah sangat paham tentang kehamilan dan kelahiran.


"Dari tadi malam ma" jawab Cahya sambil menahan sakit dan memegang erat kedua tangan Devan yang memapah nya dari kamar, mendengar ucapan Cahya semua menjadi kaget.


"Kenapa kamu tidak bilang Ayy!!" Devan menjadi panik, Cahya tidak menjawab dan hanya terus memegangi tangan suaminya, ibu Retno menenangkan Devan.


"Devan, sudah diam,, sekarang kita harus cepat" ibu Retno mengambil alih untuk memapah Cahya dan meminta Devan untuk segera menyiapkan mobil.



"Apa sudah sangat sering kontraksi nya?" tanya ibu Retno lagi, Cahya memegangi pintu saat rasa sakit itu kembali datang dan tidak langsung menjawab pertanyaan ibu mertua nya, Devan kembali setelah mobil siap, supaya cepat Devan langsung menggendong Cahya.


"Kenapa Ayy,, kenapa kamu seperti ini, bukankah kata dokter masih satu minggu lagi" Devan terus saja menunjukkan kepanikannya.


"Ini kelahiran bayi kedua nya, jadi memang bisa lebih cepat, sudah kamu tenang saja dan focus menyetir" ibu Retno yang menjawab dan terus mengusap pinggang Cahya yang duduk di kursi belakang supaya ibu Retno bisa terus menemani.



Cahya langsung di dudukkan di sebuah kursi roda supaya cepat sampai ke dalam ruangan melahirkan setelah mereka sampai di depan rumah sakit, Cahya meminta berhenti dan memegangi tangan suaminya.




"Kenapa kamu seperti ini!!" Devan lalu menangis, tetapi ibu Retno terus menenangkan nya supaya Devan mengalah dan menuruti kemauan istrinya.



"Tapi ma,,," Devan mencoba mencari bantuan dari ibunya.


"Ibunya yang lebih berhak menentukan, mama yakin kalau Ayya kuat, cepat masuk ruang persalinan dan temani dia"



Dua jam yang penuh dengan pemandangan kesakitan dari istrinya, cakaran dan tarikan istrinya pada tubuh dan tangannya tidak dia pedulikan rasa sakitnya karena dia tau kalau istrinya lebih kesakitan.



"Ooooeeeekkk oooeeekkk"

__ADS_1



Akhirnya bayi cantik itu terlahir, Cahya langsung tersenyum langsung melupakan rasa sakitnya, saat bayi itu langsung di letakkan di atas dadanya, Cahya dan Devan terus memperhatikan bayi cantik itu, sesekali Cahya menggigit bibirnya merasakan sakit karena dijahit, tapi sakit itu tidak berarti untuk nya karena bayinya telah lahir dengan selamat.


Devan masih terus menggenggam tangan Cahya dan tak henti menciumi kepala istrinya sambil terus memandangi bayi cantik itu.



Semua proses tidak dilewatkan Devan, bahkan saat Cahya diminta untuk mandi membersihkan diri, Devan juga ikut karena takut Cahya kenapa-napa atau pingsan di kamar mandi.



"Tidak apa-apa dokter, aku sudah sering memandikannya, bahkan hampir setiap hari" ucap Devan melihat dokter yang terus merasa heran, mendengar ucapan Devan membuat Cahya mencubit suaminya pelan karena masih lemah, sementara dokternya hanya tersenyum malu.



Devan tidak merasa jijik atau apapun, karena baginya Cahya adalah segalanya dalam hidupnya, apalagi sekarang setelah dia melihat perjuangan istrinya saat melahirkan membuatnya semakin menyayangi istrinya.



"Kamu membuatku takut" Devan meletakkan kepalanya pada bahu Cahya yang sudah kembali tiduran setelah mandi, Cahya tersenyum, dia masih belum leluasa bergerak.



"Apakah masih sakit? maaf ya aku tadi menyakitimu" ucap Cahya melihat kearah suaminya.



"Tidak Ayy, itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang kamu rasakan"



Setelah dua hari dirumah sakit, Cahya sudah dibolehkan pulang, mama dan ibu mertua nya bergantian menjaga dan mengurusnya serta mengurus bayi yang masih belum diberi nama.


"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan namanya?" saat Cahya selesai disuapi oleh Devan, sebenarnya Cahya bisa makan sendiri, tetapi Devan terus memaksa dan tidak membiarkan istrinya melakukan aktivitas apapun.


"Rahna,, tetapi aku belum memikirkan nama belakang nya, kamu istirahat dulu ya, aku akan melihat Rahna"


"Sayang, jangan semua kamu lakukan sendiri, aku juga bisa melakukan sesuatu, kalau terus seperti ini nanti aku menjadi manja"


"Tidak apa-apa Ayy, aku memang mau kamu manja padaku,,, Ayy,,,, kamu adalah segalanya bagiku, kamulah penyempurna hidupku, mulai sekarang kita akan hidup bahagia bersama Rafa dan Rahna" Devan menggenggam tangan Cahya.


"Terimakasih cahaya hidupku" jawab Cahya lalu membalas genggaman tangan suaminya, mereka saling tersenyum bahagia.

__ADS_1


💙 SELESAI 💙



__ADS_2