
Cahya tidak mengejarnya karna masih ada Wawan dan Wati
"Ayy, sebenernya ada apa?" tanya Wati
"Tidak ada apa-apa, seperti yang kamu lihat"
"Kalau bukan dia, siapa pacar kamu?"
"Kenapa kalian sangat penasaran sama pacar aku? dengan tau atau engga, kan ngga ada untungnya buat kalian"
"Kita hanya ingin tau, kalau memang kamu sudah punya pacar, Wawan tidak akan mengganggu mu lagi" jawab Wati
"Ya sudah ayya, aku pulang dulu ya, sudah hampir gelap" kata Wati
"Iya" jawab Cahya singkat.
"Maaf Wan, tolong jangan ganggu aku lagi ya, maksud ku tolong jangan berharap lagi padaku, kita tetep bisa jadi teman tapi tidak untuk lebih dari itu, aku masuk dulu ya, sudah mau gelap"
"Cahya" panggil Wawan tiba-tiba sambil memegang tangan Cahya yang langsung ditepis kembali
"Aku tidak akan pernah menyerah, iya aku pulang dulu, tapi aku akan datang lagi"
Cahya tidak tau harus berkata apa lagi, dia tidak tau harus bagaimana, dia tidak mau kalau Wawan akan mencelakai Devan,kalau tau Devan dekat dengan nya, Cahya tau bagaimana sifat Wawan
sepertinya Cahya masih takut padanya.
Cahya masuk rumah, dan langsung membuka ponselnya, tapi tidak ada pesan dari Devan,tidak seperti biasanya dia selalu mengirim pesan setiap ada waktu istirahat dari kerjanya, tapi sekarang tidak ada satu pun, sepertinya Devan sangat kecewa dengan Cahya.
Cahya tidak tau harus menjelaskan bagaimana, dia bingung, dia benar-benar tidak mau Devan celaka.
__ADS_1
Untuk saat ini Cahya hanya bisa membiarkan nya seperti ini.
Pagi harinya Cahya bahkan tidak ikut mama nya dan Giat jalan-jalan, karna dia dalam suasana hati yang tidak enak, dia tidak mood untuk bepergian.
"Ayya, mama mu dan Giat sudah berangkat, apa kamu tidak apa kalau kakek tinggal? kakek mau ke kebun"
"Iya kek tidak apa-apa"
"Apa kamu mau ikut?"
"Kebun mana gitu kek?"
"Kebun pisang yang di kulon"
"Jauh kek, aku dirumah saja"
Cahya mengecek ponselnya dan masih tidak ada pesan dari Devan, dia bingung harus bagaimana, dia tidak bisa menjelaskan tapi seperti ini terus juga terasa tidak nyaman.
Cahya keluar ke teras untuk sekedar cari angin, dia merasa sesak, dia masih bingung, antara mau menjelaskan ke Devan apa tidak.
"Assalamualaikum Ayy" pesan dari bibi nya yang di desa W
"Iya bi, waalaikum salam"
"Kamu jadi mudik tidak ayy?
"Iya bi, aku sudah ada di desa K, sampai kemarin pagi, naik kereta malam"
"Jangan lupa main kesini ya sebelum ke Bandung lagi'
__ADS_1
"Kayaknya besok aku sama Giat kesana"
"Mama mu ajak"
" Tidak akan mau bi"
"Kenapa? kita kan tetap saudara, walau mama mu dan papamu sudah pisah"
"Iya bi, besok aku ajak tapi kalau tidak mau, aku sama Giat saja ya"
"Ayy"
"aiya bi?"
"Kamu sudah dengar kabar?, Devan kecelakaan tadi malam"
"Kecelakaan dimana bi?"
"Tadi malam dari arah desa ke kota, orang tuanya juga merasa aneh, dia ada di Jakarta kan lagi kerja, kenapa bisa ada disini"
"Sekarang dia dimana bi?"
"Di rumah sakit kota X"
Cahya sangat kaget, dia merasa semua ini salahnya, Cahya langsung bersiap untuk pergi melihat Devan.
Dia memesan mobil online agar lebih cepat, tapi karna itu di pedesaan tetap saja butuh waktu lama untuk mobilnya datang, setelah menunggu cukup lama akhirnya datang juga mobilnya
Saat itu kakek nya belum pulang, juga Giat dan mama nya, baru di perjalanan dia menelfon mama nya untuk memberi kabar.
__ADS_1