
Cahya sedang memasak tapi yang membuat Devan kaget karena Cahya memakai baju haram berwarna hitam, Devan mendekati istrinya itu, memandangi nya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
"Apa? seperti tidak pernah lihat aku saja"ujar Cahya
"Kamu jangan main-main?" ucap Devan
"Main-main apa maksudnya? aku lagi masak bukan lagi main" Cahya menahan senyumnya melihat reaksi suaminya, selama ini dia tidak pernah memakai baju seperti itu, memang dia sengaja memakai saat ini, ingin memberi kejutan buat suaminya.
"Kamu pasti sering melihat orang berpakaian seperti ini, tidak usah munafik" ucap Cahya
Devan tidak bisa lagi menahan nya, dia tidak menjawab perkataan istrinya, dia sudah tidak kuat dengan godaan istrinya, apalagi dia sudah puasa selama Cahya terluka.
Devan langsung mencium istrinya dan mengangkatnya ke meja dapur, menciumnya penuh nafsu membara, Cahya menerima setiap sentuhan suaminya, karena dia juga sangat menyukai sentuhan suaminya, dia merindukan sentuhan itu.
"Sayang, matikan kompornya dulu nanti gosong sayurnya" pinta Cahya
Devan yang matanya sudah berkabut tidak memperdulikan nya, dia terus menyusuri leher istrinya, dan sudah pasti ke buah kembar itu, buah yang sangat dia sukai.
"Sayang, matikan dulu kompornya" ucap Cahya lagi.
Devan kali ini menuruti istrinya untuk mematikan kompor, tapi setelahnya langsung menggendong istrinya menuju kamar, pertempuran panjang baru dimulai, mereka melupakan rasa lapar perut mereka, yang mereka lakukan sekarang adalah memuaskan hasrat mereka yang selama ini harus tertahan karena Cahya yang terluka.
Entah sudah berapa kali Devan menyembur istrinya, mereka melenguh bersama, Cahya minta untuk istirahat dan makan dulu, mereka lalu mandi sebelum makan, mereka harus mengisi tenaga untuk pertempuran nanti malam.
Mereka seperti pengantin baru, paginya sebelum bangun untuk mandi bareng mereka bertempur lagi, seperti tidak ada puasnya bahkan setelah mereka melakukan semalaman, kebetulan hari itu weekend jadi Cahya tidak kuliah.
Setelah mandi, mereka sarapan dan Devan berencana mengajak istrinya menginap di sebuah hotel.
"Aku tidak mau sayang, sudah dirumah saja, tidak ada bedanya" ujar Cahya
"Kita belum pernah menginap di hotel setelah menikah, aku pengen seperti orang lain" Devan masih mencoba membujuk istrinya
Karena tidak bisa menolak lagi, Cahya hanya bisa mengikuti kemauan suaminya, siang itu mereka berangkat, sengaja mendekati waktu makan siang, karena mereka berencana makan siang disana.
Mereka makan siang dulu setelah sampai, baru setelahnya berencana reserve, saat makan ada yang mengenali Devan dan menyapanya.
"Devan, kamu Devan kan?" ucapnya langsung duduk di sebelah Devan, karena saat itu Cahya sedang mengambil minum.
"Siapa ya?"tanya Devan
"Aku Sinta, teman SMA kamu waktu di Lampung, waktu itu aku pernah nembak kamu, tapi kamu tolak"ujar wanita itu tanpa rasa malu mengucapkan nya.
"Oh iya aku ingat, ratu makeup apa kabar?" sepertinya Devan mulai ingat.
__ADS_1
Cahya kembali lagi dan langsung duduk, yang membuat Sinta kaget dan heran, tapi dia langsung menyapa Cahya, walau muka Cahya terlihat tidak bersahabat.
"Hay cantik, kamu pasti adiknya Devan ya, kenalin aku Sinta" ucapnya sambil menyalami Cahya.
Cahya hanya membalas uluran tangan itu tapi tidak menjelaskan secara langsung kalau dia istri Devan, dia kembali memakan makanan nya, melihatnya Devan tersenyum dan ingin mengerjai istrinya itu.
"Adik kamu sangat manis, imut lagi, tidak heran karena kakaknya juga sangat tampan" ujar Sinta sok akrab.
"Tentu saja, dia memang sangat manis" jawab Devan lalu memandangi istrinya.
Cahya melihat ke arah Devan, dan yang dilihat malah tertawa karena berhasil menggoda istrinya, Devan tidak sadar kalau kelakuan nya sekarang bisa saja membuatnya puasa nanti malam.
"Namanya siapa?" tanya Sinta pada Cahya
"Cahya"jawab Cahya singkat
"Namanya lucu, bisa ketuker sama Cahaya kalau belum terbiasa, aku panggil kamu Caca saja ya, biar kedepan nya makin akrab" ujar Sinta
"Kedepan nya?" tanya Cahya bergantian melihat Sinta dan Devan
"Bye Caca, nanti malam ketemu lagi ya, nanti bakal rame disini, ada acara live musik, jangan lupa nonton" pamitnya pada Cahya.
Cahya sudah selesai dengan makan nya, dia dari dulu selalu gengsian dan pintar menyembunyikan perasaannya, dia tidak menanyakan siapa wanita barusan pada Devan.
Cahya berlalu dari sana dan ingin memesan kamar, Devan melihatnya tidak sanggup menahan senyumnya, dia yakin istrinya itu sedang terbakar cemburu.
Saat masuk ke kamar mereka, betapa kaget Devan Karena yang Cahya pilih adalah kamar twin bed.
"Ayy ini maksudnya apa, sepertinya kamu salah pilih"ucap Devan
"Tidak ada yang salah, ini sudah paling benar" jawab Cahya dingin lalu langsung masuk kamar mandi.
"Harusnya aku tidak main-main dengan nya" gumam Devan
Cahya selesai mandi, yang Devan pikirkan tadi adalah istrinya itu akan memakai baju haramnya lagi, ternyata Cahya berpakaian rapi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Ayy?" tanya Devan
"Aku mau menonton live musik"
"Bukankah kamu tidak suka keramaian?"
"Mulai sekarang aku suka"
"Tunggu, aku mau mandi dulu" ujar Devan yang kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
Cahya memakai make up tipis seperti biasa, hal itu yang membuatnya selalu dikira anak muda bahkan sering dikira adik Devan.
Cahya tidak menunggu suaminya, dia masih ngambek pada suaminya itu,
"Salah sendiri tidak mengakui aku sebagai istrinya"batin Cahya
Cahya langsung mencari tempat duduk yang ternyata tempat itu sudah mulai rame, dia memesan minum, untung disana ada minuman kesukaannya, Cahya lalu duduk sambil minum.
"Hay adik manis" sapa Sinta yang ternyata ada disana juga.
"Mana kakak kamu?" tanya Sinta
"Masih mandi"Jawab Cahya sedikit malas
Sinta lalu duduk di dekat Cahya bersama teman-temannya, Sinta sok akrab pada Cahya dan mengenalkan nya pada teman-temannya.
Devan datang dan langsung bergabung, melihat istrinya yang seperti tidak nyaman, Devan tau betul istrinya itu tidak suka keramaian, dia mencoba mendekati Cahya tapi dihalangi Sinta.
"Devan, kenapa baru datang, kamu tau tidak adik kamu sangat manis, lihatlah banyak yang memperhatikan nya" ujar Sinta,
Devan melihat kearah para pemuda yang terlihat memandangi istrinya, tentu saja dia tidak suka, dia jadi tidak memperhatikan Cahya yang pergi karena melihat kearah para pemuda itu.
Cahya ingin mencari air mineral, ditempat keramaian itu dia merasa sesak, setelahnya dia duduk agak jauh dari sana, salah satu pemuda yang dari tadi memperhatikan nya lalu mendekatinya.
"Hay,, sendirian saja? kenapa tidak kembali kesana?" ucapnya mencoba menyapa Cahya.
"Disini dulu, disana sangat ramai" jawab Cahya
Pemuda itu lalu duduk di dekat Cahya, mereka kemudian mengobrol.
"Kamu tidak suka keramaian ya?" tanya pemuda itu
Cahya hanya mengangguk sambil minum.
__ADS_1