
Masih Flashback ☺️☺️☺️
💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹
Devan berusaha mendorong tubuh Ratu, tapi tubuhnya masih sangat lemah ditambah nafsunya semakin memburu, Ratu terus menggerayangi tubuh Devan.
"Kakak Devan sayang" terngiang lagi suara manis Cahya ketika selesai pertandingan basket disaat Cahya masih SMK dulu, terlihat senyum sumringah Cahya yang selalu menyilaukan bagai cahaya terang yang selalu menyinari Devan.
"Aaayyy!!" teriak Devan lalu mendorong kuat tubuh Ratu hingga wanita itu terjengkang dan terhempas ke papan kayu di sampingnya.
Prraangg
Terdengar bunyi sebuah pisau jatuh dari atas papan kayu yang tersenggol oleh tubuh Ratu, Devan langsung mengambil pisau besar itu dan menyayat kedua pahanya, darah bercucuran dari paha Devan, Ratu menjerit penuh ketakutan melihatnya lalu berlari keluar, Devan hampir pingsan saat bantuan datang.
Devan banyak kehilangan darah, tapi untung nyawanya masih bisa diselamatkan, Ratu dan komplotannya sudah ditangkap polisi.
Sejak kejadian itulah yang membuat Devan selalu menjaga jarak dengan wanita, karena dia sadar kalau kebanyakan dari wanita itu tidak hanya menyukainya karena ketampanan nya tetapi juga karena kekayaan dan kesuksesan nya.
"Aku tidak mau menikah sama kamu kalau begitu"
"Kenapa Ayy?"
"Kamu anak orang kaya ternyata? nanti mama kamu mendatangiku lalu meminta kita pisah"
Devan tersenyum mengingat kenangan indahnya bersama Cahya, hanya Cahya yang tidak memandang nya karena harta, Cahya bahkan awal nya tidak tau kalau dia anak orang kaya.
Devan terus bertahan dalam kesendirian dengan terus mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Cahya, hingga akhirnya dia bisa menemukan istrinya.
Flashback End
💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙🌹💙
"Renal, kamu sekarang dipandang sukses karena kamu mempunyai cafe sendiri, akan ada banyak godaan tanpa kamu sadari awalnya, apalagi saat nanti kamu makin sukses dengan banyaknya usahamu yang lain, ujian dan godaannya akan semakin besar, jadi pastikan kamu kuat dan bertahanlah, ingat selalu istri dan anakmu, merekalah yang menemani mu dari awal" Devan menasehati adiknya dengan berkaca dari pengalaman nya.
Kring kring kring kring
"Iya sayang?" tanya Devan pada istrinya yang tumben-tumbenan menelepon nya bahkan saat ini mereka ditempat yang sama, tetapi tidak ada jawaban dari Cahya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" terdengar suara Cahya, Devan memperbesar volume suara ponselnya karena suara Cahya tidak terdengar jelas.
"Aku sudah bilang kemarin, Renal sangat baik padaku, kami bahkan selalu makan bersama dikantornya saat istirahat makan siang, tinggal menunggu sedikit waktu untuk kami semakin dekat, jadi aku hanya memberitahu padamu untuk segera menjauh agar kamu tidak terluka nantinya" terdengar suara Rere
Devan dan Renal kaget mendengarnya, mereka langsung berdiri dan berjalan cepat mencari istri mereka masing-masing.
"Apa kamu juga yang menggantikan wallpaper ponsel Renal dengan fotomu?" tanya Cahya penuh selidik
"Tentu saja, Renal yang menyuruhku mengganti nya, lagipula aku lebih cantik, jadi aku yang lebih pantas, bukan wanita udik seperti kamu" ujar Rere menunjuk Siti
"Kurang ajar!!" teriak Siti dan Cahya berbarengan, saat mereka akan menampar Rere, Renal dan Devan sampai disana, Cahya dan Siti urung menampar Rere karena menoleh kaget melihat kedatangan suami mereka,
__ADS_1
"Aaadduuuhhhh,, sebenarnya apa salah saya, saya mohon ampuni saya" ujar Rere tersungkur padahal sepertinya tadi tangan Cahya dan Siti belum sampai padanya.
"Siti"
"Ayy"
Devan dan Renal memanggil istri mereka masing-masing, yang dipanggil merasa kesal karena pasti akan ada drama lagi, sebelum mereka saling mendekat pada pasangan masing-masing, Cahya mendorong Siti mendekat ke arah Rere
"Habisi dia!!" teriak Cahya pada Siti
Plllaakkkk pllaakkk plllaakkkk pllaakkk
Siti memukuli Rere dengan sepuas hati,
"Aku tau kamu tidak akan membalas diriku, kamu akan mengiba pada suami ku dan mengatakan aku menyiksamu tanpa alasan, ciiiihhhh,, murahan!" teriak Siti lalu kembali menampar Rere, setelah puas menumpahkan semua amarahnya, Siti berjalan kearah suaminya yang terpaku melihat kemarahannya,
"Datang padanya dan hibur lah dia, gadis polos nan lugu seperti ucapan mu!" teriak Siti pada Renal lalu langsung pergi dari sana.
"Renal, adikku tersayang dan yang paling ganteng, silahkan nikmati makanan penutup yang gadis manis nan polos itu suguhkan!" teriak Cahya pada Renal, lalu tangannya menarik tangan Devan,
"Jangan dekat-dekat pelakor lagi, aku merasa sangat alergi dengan wanita macam mereka" ujar Cahya menarik tangan suaminya, Renal langsung mengekor pada mereka, tidak ada satupun yang perduli pada Rere.
"Ayy, kenapa kamu bilang Renal adikmu tersayang dan yang paling ganteng, yang paling ganteng itu aku Ayy!" teriak Devan tidak suka, tapi kemarahannya tidak nyambung dengan masalah yang sedang terjadi.
Cahya tidak membalas ucapan Suaminya dan terus berjalan cepat mengikuti Siti menuju meja makan mereka, Cahya dan Siti lalu makan dengan sangat lahapnya, mereka seperti baru kembali dari melawan banyak penjahat hingga kelaparan.
"Istri kita sangat menakutkan" ujar Renal
"Istriku sangat cantik dan imut saat makan dengan lahap seperti itu, pipinya terlihat lucu" ucap Devan sambil tersenyum memandangi wajah istrinya.
"Mas, bagaimana ini? tolong aku" bisik Renal, karena dia sudah seperti terdakwa hukuman mati yang tinggal menunggu eksekusi.
"Tidak tau, urus saja sendiri, itu kan karena ulah dirimu sendiri, kenapa juga kamu harus memberi harapan pada gadis polos itu, bahkan sering mengajak keruangan mu" kali ini Devan yang menjahili adiknya
"Mas, jangan bercanda lagi" ucap Renal ketakutan.
"Ayy, kamu masih lapar sayang? mau aku pesankan lagi" tanya Devan pada istrinya dan tidak menjawab lagi ucapan Renal
"Saat ini aku ingin makan orang!!" teriak Cahya lalu melihat ke arah Siti yang sedang menggigit ayam goreng nya dengan tatapan sadis pada Renal, Siti lalu melihat juga kearah Cahya, mereka mengangguk bersama.
"Waaawww, ini masih ditempat ramai sayangku, tapi baiklah kalau itu mau mu cintaku, ayo kita kembali sekarang, kamu bisa memakan diriku sepuas hatimu" jawab Devan lalu bangun dari duduknya, membawakan tas Cahya dan menarik tangan istrinya itu agar bangun dari duduknya,
"Renal, bayar semua tagihan makan malam ini, dan selamat berjuang, kami akan pulang lebih dulu dan mendoakan dirimu dari jauh" ujar Devan
"Siti, lakukan apapun yang kamu mau, kasih dia paham biar paham sepaham-pahamnya" ujar Cahya pada Siti.
Cahya dan Devan meninggalkan pasangan suami istri itu, dengan diiringi tatapan memelas dari Renal yang seperti tidak mau ditinggalkan.
"Ayy" panggil Devan pelan pada istrinya yang sedang berjalan sambil memeriksa ponselnya
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Cahya lalu berhenti dan melihat kearah suaminya
"Terimakasih untuk segalanya" ucap Devan lalu memeluk Cahya
"Devan lepaskan, ini tempat ramai" Cahya berusaha melepaskan pelukan Devan, tetapi Devan tidak mendengarkan dan langsung ******* bibir Cahya.
"Deevvaann, lepas" Cahya terus berusaha melepaskan ciuman Devan
"Apa kamu pernah mencintai orang lain selain aku saat kita terpisah?" Devan tiba-tiba menjadi sedih dan merasa bersalah pada Cahya karena dulu sempat tergoda wanita lain walau tidak sampai berujung fatal.
Cahya terdiam mendengar pertanyaan Devan yang tidak pernah dia sangka, karena selama ini Devan tidak pernah mengungkitnya, saat bertemu kembali juga Devan tidak canggung sama sekali dan langsung meminta haknya sebagai seorang suami.
"Aku tau kalau berhubungan badan dengan orang lain kamu tidak pernah melakukannya, aku bisa merasakannya, tubuhmu murni dengan harum khas dirimu dari dulu, kalau tubuh yang sudah sering berganti pasangan, akan terasa bedanya" ujar Devan
"Kamu tau darimana? apa kamu pernah melakukan hubungan badan dengan orang lain selain aku?" tanya Cahya penuh selidik dengan terus memandangi wajah suaminya.
"Tidak pernah sampai melakukan hubungan badan, tetapi tergoda aku pernah, maafkan aku" jawab Devan tidak mau berbohong, Cahya tersenyum mendengarnya lalu membelai pipi suaminya
"Sayang, terimakasih sudah selalu menungguku di setiap kepergian diriku, dan selalu menerima diriku kembali, apapun yang terjadi di masa lalu, sudah lupakan saja, yang penting sekarang kita bersama dan semoga akan terus bersama selamanya" ujar Cahya sambil tersenyum
"Aku mau itu!" Cahya melihat kearah penjual pinggir jalan yang menjual es cream potong, Devan lalu segera membelikannya.
Mereka duduk di sebuah taman, banyak pasangan yang sedang memadu kasih di tempat itu, mereka melihat bintang yang bersinar di malam hari.
"Ayy, kenapa bintang yang bersinar malam ini tidak terlalu terang ya?" ujar Devan dan mencoba semakin mendekati istrinya yang sedang serius makan es cream nya.
"Karena ada aku yang bersinar lebih terang" jawab Cahya cuek dan tidak melihat kearah Devan, jawaban Cahya membuat Devan kaget karena itu seharusnya kata yang akan Devan katakan selanjutnya.
"Aaayyy!" pekik Devan kesal, sementara Cahya lalu menoleh ke arah Devan lalu tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya pada Devan.
Eekkhhmmm
Mulut Cahya masih penuh es cream saat Devan tiba-tiba menciumnya, mereka berbagi es cream yang ada di mulut Cahya
"Lepas Devan,," ujar Cahya mendorong tubuh Devan, tetapi yang didorong semakin brutal menciumi Cahya dan baru menghentikan nya setelah sekian lama.
Cahya tidak menyadari dan lupa akan perkataan Devan yang akan memberinya hukuman kalau Cahya hanya memanggil namanya saja, Cahya lalu menghabiskan es cream nya dengan cepat.
"Kita seperti sedang berkencan" Cahya melihat ke sekeliling mereka dengan antusias, Devan terus memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia walau hanya dengan hal sederhana seperti ini.
"Ayy" panggil Devan lembut
Cahya langsung menoleh, mereka berpandangan lalu saling tersenyum, Cahya menaikkan alisnya seolah bertanya kenapa Devan memanggilnya.
"Jangan pernah berubah sampai kita tua nanti" ucap Devan lalu membelai rambut Cahya
Di balik pohon tidak jauh dari tempat mereka duduk, ada sepasang mata yang memandangi mereka dari tadi didalam kegelapan,
"Cahya, tunggulah sebentar lagi, aku akan segera membawa mu" gumamnya, dia lalu memandangi foto di ponselnya, foto rumah mungil di sebuah pedesaan.
__ADS_1