Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Hampir Gila


__ADS_3

Cahya memejamkan matanya saat Devan terus berusaha memaksa memasukinya, Cahya juga terus memukuli punggung Devan, dia berusaha melepaskan diri, tapi apa daya dia tidak mungkin sanggup melawan tenaga Devan.


Cahya mendorong tubuh Devan, setelah Devan selesai dengan urusan nya, Cahya lalu memunggungi Devan, dia menangis karena harus seperti ini, dia sungguh tidak mau berbagi suami apalagi membayangkan harus berbagi tubuh suaminya itu.


Cahya masih terus menangis terisak, Devan berusaha memeluk nya tapi terus ditepis Cahya, Devan tidak menyerah, dia malah kembali membalikkan tubuh istrinya hingga kembali terlentang dan langsung menindihnya.


"Sayang, jangan menangis" ucap Devan sambil menghapus air mata Cahya dan terus menciumi istrinya itu.


"Devan sudah, lepaskan!!" teriak Cahya sambil mendorong Devan.


Devan menatapnya tajam, seharusnya dia yang marah karena kelakuan wanita yang sekarang ada dibawah kungkungan nya itu, dia lalu kembali menggagahi cahya yang masih sah sebagai istrinya itu.


Devan menyudahi kegiatan yang sangat dia rindukan itu, dia lalu turun dari tubuh istrinya, Cahya kembali membelakangi Devan, dia menangis dalam diam dan tidak bereaksi saat Devan memeluknya karena takut kalau dia melawan lagi malah Devan akan kembali menyerangnya.


Tidak lama Cahya ketiduran, dia capek menangis, dan badan nya juga terasa lemas, Devan membetulkan selimut istrinya, lalu mencium kening Cahya.


Devan kemudian memakai baju dan celananya karena akan keluar kamar, dia bergerak secara perlahan serta tidak lupa mengunci pintu dari luar, takut Cahya kabur.


Devan meminta karyawannya untuk membawakan makanan, takut Cahya kelaparan saat bangun nanti, dia lalu masuk kembali dan terlihat Cahya masih tidur, Devan tiduran disebelah istrinya dan terus memandangi wajah istrinya, Devan bergumam, kenapa istrinya terlihat sama dan malah semakin cantik sementara Devan merasa dirinya sudah semakin tua.


Cahya menggeliat, dan tidak lama membuka matanya karena kaget dengan suara ponsel, dia mencoba duduk dan mencari ponselnya, dia menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai baju.


Devan sama sekali tidak berniat membantu dan hanya memperhatikan yang dilakukan istrinya, tidak lama Cahya mengangkat telepon nya setelah menemukan ponselnya,

__ADS_1


"Iya ibu, iya baik, saya akan segera pulang menyusul, rombongan boleh duluan, maaf ya ibu atas hari ini" ucap Cahya pada sang penelepon yang tidak lain adalah kepala sekolah tempat dia mengajar.


Cahya lalu mematikan telepon dan mengumpulkan baju serta rok nya yang berserakan, tapi saat dia mau masuk kamar mandi, Devan menghalangi jalan nya.


"Minggir!" teriak Cahya


"Galak amat neng" goda Devan lalu kembali menangkap Cahya dan mendorongnya ke ranjang, Cahya melawan dan menendang Devan hingga Devan terjengkang, melihat Devan jatuh, Cahya malah panik dan langsung bangun untuk memeriksa nya.


Cahya tidak sadar kalau dia sedang menunjukkan rasa sayang dan pedulinya pada Devan padahal dia ingin menghindari Devan, tetapi hati kecilnya tidak bisa karena dia masih sangat mencintai Devan.


Devan langsung memeluk Cahya, saat Cahya mendekati nya, Cahya kaget dan reflek mendorong Devan, tapi Devan makin mempererat pelukannya.


"Jangan pernah lari lagi dariku, aku sungguh sangat lelah, aku mohon Ayy, kita bisa melalui masalah apapun bersama, kita bisa saling menguatkan, tapi kalau kamu lari aku bisa apa lagi"ujar Devan sambil terus memeluk Cahya, dia sungguh tidak mengerti kenapa istrinya ini selalu lari dari masalah yang sebenarnya masalah itu bisa dilalui bersama, tapi Cahya selalu saja berfikiran sempit dengan terus lari dari masalah.


Cahya diam dan tidak menjawab, hatinya masih bimbang dan bingung dengan perlakuan Devan padanya karena dia pikir Devan sudah menikah lagi dan sudah memiliki anak lagi, tapi kenapa melakukan ini padanya, walau mereka masih sah suami istri tetap saja Cahya merasa ini tidak benar.


"Ini makanan nya tuan, saya sudah menunggu dari tadi, maaf kalau sudah dingin" ucap karyawan itu, dia mengetuk pintu dari tadi tapi tidak ada jawaban.


"Maaf, kami baru selesai mandi jadi tidak mendengar ada yang mengetuk pintu" jawab Devan dengan entengnya tanpa rasa malu.


"Baiklah tuan, saya paham, selamat menikmati makanan yang dingin ini, karena yang hangat sudah ada didalam kamar" jawab karyawan itu yang sudah dianggap teman oleh Devan sejak kejadian dia membantu mengatasi masalah waktu itu.


Devan Menendang dengan bercanda pada karyawan nya itu,

__ADS_1


"Jomblo minggir sana jauh-jauh" ujar Devan lalu menutup pintu.


"Ini makan dulu Ayy, malam ini kita menginap disini" ujar Devan memberikan makanan pada Cahya, tapi karena Cahya menolak, makanan itu dia simpan di meja.


"Aku tidak mau, cepat kembalikan Rafa, kami mau pulang" jawab Cahya


"Rafa sudah pulang dan kembali kerumah" ucap Devan


"Jangan bercanda, segera kembalikan Rafa padaku atau setidaknya biarkan aku pergi dari sini, aku akan menjemputnya sendiri"


"Apa kamu segitu bencinya padaku hingga kamu seperti ini? apa kamu sudah tidak mempunyai perasaan apapun padaku? kita sudah terpisah lama, apa tidak ada rasa rindu sedikitpun di hatimu untukku?"tanya Devan sambil terus memandangi wajah istrinya.


"Apa kamu tidak memikirkan perasaan istrimu, kamu jangan seenaknya, dia pasti sedang menunggumu, aku tidak mau Rafa tidak nyaman disana!" teriak Cahya, dia merasa seolah dia dianggap selingkuhan atau apa yang disembunyikan ditempat itu.


"Maksud kamu apa Ayy?" Devan bingung dengan perkataan istrinya, dia tidak paham maksud istrinya itu, tapi saat dia mau bertanya, tiba-tiba


Kring kring kring


Ponsel Cahya kembali berbunyi, membuat Cahya tidak menjawab pertanyaan Devan, Cahya dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu, yang ternyata dari rekan kerjanya yang mengingatkan nya kalau akan ada acara lagi minggu depan jadi Cahya dan Rafa harus segera kembali.


"Devan aku mau mengambil Rafa sekarang, karena kami masih ada acara lagi minggu depan"


"Tidak akan pernah, besok kita akan pulang, kebetulan adik ku tinggal diluar negeri, nanti kita pergi bersamanya untuk memeriksa kondisi kamu, tapi aku yakin kalau kamu sudah sembuh" ucap Devan.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sudah cukup tinggal bersama Rafa, cepat kembalikan Rafa padaku" jawab Cahya


"Kamu dari dulu selalu egois, kamu bilang cukup bersama Rafa, lalu kamu anggap aku apa? apa kamu tidak pernah menganggap ku selama ini!? aku hampir gila,,, seandainya aku tidak punya banyak pekerjaan, pasti aku sudah gila, bayangkan saja anak dan istriku lari dariku, apa kamu pikir aku bisa waras kalau terus seperti itu??!!" Devan berteriak mengungkapkan perasaan nya.


__ADS_2