Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Kuat Karena Rafa


__ADS_3

Cahya kaget, dia tidak sempat menutup wajahnya, dia hanya diam sebentar hingga Rafa mendekatinya.


"Kita mau apa ma? beli mobil kayak punya Deri ya?"


ucap Rafa, Cahya lalu menggendong Rafa.


Devan bangun lalu mendekatinya dan ingin memeluk Cahya, tapi Cahya menghindar.


"Ada perlu apa" tanya Cahya


"Apa kamu melupakanku, dia anak ku kan?"


""Bukan, dia hanya anak ku seorang" jawab Cahya


Devan menyuruh ayah Deri pergi dari sana, tidak lupa dia mengucapkan terimakasih.


Devan berusaha mendekati Cahya dan anaknya


"Devan stop!" teriak Cahya


Devan tersenyum, itu berarti Cahya masih mengingatnya, Rafa memeluk mama nya erat, dia ketakutan karena memang dia tidak mengenal Devan, tidak lama Rafa lalu menangis, Cahya berusaha menenangkan nya.


Devan memandangi mereka, orang-orang yang selama ini dia cari, dia tidak menyangka akan bertemu mereka disini, selama ini dia mencari di seluruh Bandung, semarang dan Jogja, dia tidak habis pikir kenapa Cahya bisa pergi sejauh ini.


Tidak lama Rafa tertidur, mungkin dia kecapean karena tadi ikut mama nya bekerja, Cahya meminta Devan untuk diam menunggu diluar, dia akan menidurkan Rafa dulu.


Saat Cahya keluar kamar terlihat Devan yang duduk diruang tamu, saat dia ingin keluar rumah, Devan memegang tangan nya


"Berbicaralah disini" ucap Devan


Cahya menurut dan duduk di sofa yang jauh dari Devan.


"Kenapa kamu pergi sejauh ini, dari dulu keahlian mu terus berlari dariku, apa kamu sangat suka menjauh dariku!" tanya Devan keras


"Diam, pelan kan suaramu, Rafa sedang tidur" begitulah seorang ibu, dia akan menjadi galak kalau menyangkut anaknya.


Devan mengangguk dan menutup mulutnya, Cahya lalu menjelaskan alasannya pergi karena tidak mau ditemukan Habib.


"Kenapa harus selama ini? apa kamu tidak tau, aku hampir gila mencari mu"


"Tidak usah sok gila, kamu saja bisa bercanda dengan perempuan lain"


"Aku? kapan?" tanya Devan bingung


Cahya tidak menjelaskan apapun lagi, dia meminta Devan pergi, dia ingin istirahat, baginya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, mereka sudah dewasa semua, tidak perlu melankolis dengan keadaan ini, semua sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Cahya sadar, dia yang meninggalkan Devan jadi apapun yang terjadi pada Devan dia tidak terlalu memperdulikan, yang penting Devan selamat dari tragedi penusukan itu, Cahya lalu berjalan ingin pergi.


Devan tentu tidak terima diusir Cahya, dia menarik Cahya kepangkuan nya dan memeluknya erat.


"Diam lah, aku mencari mu sekian lama, lalu kamu seenaknya mengusirku, sungguh kamu wanita yang sangat jahat"

__ADS_1


"Devan sudahlah kita sudah dewasa, kita sudah berpisah,,,,ekhmmm"


Devan mencium Cahya, dia sungguh sangat merindukan wanita ini, wanita jahat yang terus membuatnya gila karena tidak hentinya melarikan diri darinya.


Cahya menolak, tapi dia tidak akan sanggup melawan tenaga Devan, hingga ada tangan mungil yang memukuli Devan.


"Jangan ganggu mama ku!" teriak Rafa sambil terus memukuli Devan.


Mereka kaget, Cahya lalu turun dari pangkuan Devan lalu menggendong anaknya itu, Devan juga ingin menggendong Rafa tapi Rafa tidak mau.


"Mama, om ini siapa sih?"


"Aku ayahmu" ucap Devan


Cahya memandang tajam ke arah Devan, dia tidak suka cara Devan, harusnya pelan-pelan memberi tau pada Rafa.


"Memang iya, aku ayahmu, lihat saja wajah mu sangat tampan, itu pasti karena ayah mu tampan"


"Kata mama, ayah ku sangat jelek, aku tampan karena mama ku cantik"


Devan kaget mendengarnya, dia harus memberi pelajaran secepatnya pada Cahya Karena berani menjelekkannya, terlihat Cahya yang hanya menahan senyum.


Cahya lalu duduk, dan Rafa ada dipangkuan nya, Cahya menjelaskan kalau Devan memang adalah ayahnya.


Devan duduk mendekati mereka, mencoba ingin memangku Rafa, awalnya Rafa tidak mau, tapi melihat mamanya mengangguk dia lalu mau.


"Ayah kenapa sangat lama datang nya, aku sudah menunggu lama, mama bilang kalau ayah datang pasti akan membelikan ku mobil mainan kayak punya Deri"


Rafa langsung memeluk Devan, dia sangat senang akhirnya ayahnya datang juga, Cahya bangun dari duduknya dan ingin bangun, tapi ditarik Devan untuk terus duduk disampingnya.


Devan lalu membawa Rafa membeli mainan yang dia ingin kan, dan banyak mainan lain nya juga, Cahya tidak ikut dia menunggu dirumah sambil melakukan pekerjaan rumah, pagi sampai siang dia bekerja di perkebunan karet untuk menyadap getah karet, jadi mengerjakan tugas rumah saat sore dan malam hari.


Devan dan Rafa pulang saat sudah petang, dan saat Cahya selesai memasak, terlihat Rafa yang sangat bahagia.


"Mama lihat, aku punya banyak mainan" ucap Rafa dengan riangnya, Cahya tersenyum melihatnya


"Baiklah, simpan dulu mainan nya, sekarang harus makan dulu, boleh main kalau sudah makan, kalau belum berarti?"


"Ok mama, apa ayah tidak makan ma?"


"Tidak, ayah akan segera pergi bekerja lagi, Rafa dirumah sama mama ya"


"Apa maksudmu Ayy, kenapa kamu begitu tega?" ujar Devan


"Maaf ya, aku hanya masak untuk aku dan Rafa, kamu pergi saja tuan Devan Edhi Suseno, tidak mungkin kamu makan di gubuk seperti ini kan?" ujar Cahya yang lalu berusaha mendorong Devan keluar.


"Ayah, makan berdua sama Afa mau?" tawar Rafa,


Cahya kaget mendengarnya, kenapa mereka cepat akrab, selama ini Rafa sangat susah didekati orang lain yang belum di kenal.


"Rafa memang sangat baik, anak ayah yang paling

__ADS_1


pintar" ujar Devan lalu duduk didekat Rafa.


Cahya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, lama-lama tanpa sadar dia tersenyum melihat interaksi Devan dan Rafa, tentu saja mereka cepat akrab, mereka kan ayah dan anaknya.


Devan tiba-tiba melihat ke arah Cahya, membuat Cahya kaget dan menutup wajahnya dengan tangan dan berusaha menghilangkan senyuman nya.


"Senyuman mu selalu menawan dari dulu" ujar Devan.


Cahya hanya menggaruk lehernya canggung, dan menutupinya dengan bertanya ke Rafa apakah sudah kenyang atau belum, Rafa mengangguk lalu setelah cuci tangan dia langsung mendekati mainan nya.


Sebelum Cahya membersihkan meja, dia meminta Devan untuk pergi, dia tidak enak pada tetangga kalau ada lelaki dirumahnya sampai malam hari.


"Kenapa memangnya, aku kan suamimu?"


"Tapi mereka tidak tau, cepat pergi dari sini"


"Tidak mau" jawab Devan yang lalu berjalan mendekati anaknya.


Cahya membersihkan meja dan mencuci piring, dia lalu menjemur baju yang tadi sudah di cuci tapi belum dijemur, setelah beres dia mendekati anaknya.


"Rafa bobok ya, besok harus bangun pagi-pagi lagi, mau ikut mama lagi kan?"


"Tidak ma, aku mau dirumah bersama ayah"


"Rafa sayang, dia,, maksud mama, ayah mu tidak disini besok, nanti juga harus pergi lagi, kan disini tidak ada kamar lagi"


"Deri juga tidurnya sama mama sama ayahnya, jadi ayah bisa tidur bersama kita ma"


"Rafa benar-benar anak pintar, lagian kamu mau kemana pagi-pagi?" ucap Devan lalu tersenyum mengejek ke Cahya


"Aku harus bekerja, kamu pikir gampang mengurus anak" Cahya kesal lalu pergi ke dapur lagi, dia mempersiapkan untuk sarapan besok takut besok pagi kesiangan, karena sepertinya Rafa akan tidur larut malam karena mempunyai banyak mainan baru.


Devan meminta Rafa untuk memainkan mainan nya sendiri dulu sebentar, Devan lalu mendekati Cahya.


"Maaf Ayy, pasti hidupmu sangat berat selama ini, maaf karena aku tidak mencari sampai kesini"


"Tidak perlu minta maaf, inikan pilihan ku, sekarang pergilah dari sini, kalau memang kamu tidak mau menambah berat nya hidup ku, aku tidak mau tambah terbebani dengan omongan orang lain lagi dengan adanya kamu disini"


"sampai kapan kamu akan disini, kalau kamu tidak merindukan ku, setidaknya apa kamu tidak merindukan mama mu?"


"Jangan bertanya tentang rindu, aku kuat karena ada Rafa"


"Kamu kuat karena Rafa, lalu aku? kamu tidak pernah memikirkan ku, bahkan dari dulu, kamu hanya sibuk terus berlari dariku"


"Kamu pikir aku senang dengan pelarian ku?? aku,, "


Cahya tidak bisa melanjutkan ucapan nya, terasa sesak untuk diceritakan, dia tidak ingin menangis di depan Devan jadi dia berbalik dari Devan.


"Cepatlah pergi, kamu tidak mau menakuti Rafa dengan teriakan atau tangisan ku kan?!"


Devan tidak lagi memaksa Cahya, dia lalu keluar dan pamit pada Rafa.

__ADS_1


__ADS_2