
Rintik hujan yang sebelumnya masih berwujud gerimis, kini telah tiada satu tetas pun yang jatuh dari langit. Hujan telah reda. Bangunan, pepohonan, dan jalanan beraspal terlihat basah. Beberapa bagian jalanan pun masih terlihat air yang menggenang.
Orang-orang mulai keluar dari tempat berteduhnya. Toko-toko pinggir jalan mulai banyak yang buka. Beberapa pedagang terlihat mendorong gerobaknya dan mulai menjajakan dagangannya.
Anjani dan Mbak Bida baru saja sampai di rumah Meli. Motor Anjani dan Mbak Bida parkir bersebelahan di halaman rumah Meli. Anjani sempat membantu Mbak Bida memarkir motornya, karena Mbak Bida saat itu terlihat letih dan kedinginan.
“Assalamu’alaikum, Mbak.” Meli yang sudah sejak tadi berdiri di teras rumahnya memberi salam kepada Mbak Bida.
“Wa’alaikumsalam, Meli. Maaf, saya merepotkan.” Mbak Bida menyalami tangan Meli.
“Ah, nggak sama sekali kok, Mbak. Meli malah seneng banget bisa kedatangan seorang penulis keren,” kata Meli.
“Kamu bisa aja,” kata Mbak Bida sambil tersenyum ramah.
“Oh, tenang aja, Mbak. Meli ini memang bisa aja bikin orang lain merasa terhibur. Tuh, kalau Anjani lebih bisa lagi. Malah sekarang dia udah mirip seorang ustaza yang pinter ceramah. Tiap hari Meli imut ini diceramahin, hihi.” Meli basa-basi kemana-mana.
“Meli. Ajak Mbak Bida masuk dulu, dong!” Anjani mengingatkan.
"Ups. Yuk, silakan masuk!" ajak Meli.
Mbak Bida lekas mengikuti Meli, dan berganti pakaian kering yang diberikan Meli padanya. Meli juga memberikan kepada Mbak Bida hijab instan lebar untuk dikenakan.
Sembari menunggu Mbak Bida selesai berganti pakaian, Anjani mengekori Meli menuju dapur. Meli membuat tiga cangkir cokelat panas. Sementara Anjani meletakkan martabak manis yang tadi dibelinya di piring. Tak lupa pula Anjani menyiapkan nampan agar mudah membawa makanan dan minuman itu ke ruang tamu rumah Meli.
Martabak manis pun telah terhidang di piring. Anjani membawanya ke dekat Meli yang sedang mengaduk-aduk minuman cokelat panas yang sedang dibuatnya.
"Orangtuamu mana, Mel?" tanya Anjani.
"Ke rumah saudara. Ada acara aqiqah anaknya sepupu," jawab Meli sambil tetap mengaduk minuman di cangkir.
"Oh. Terus tadi nelpon aku pagi-pagi ada apa?" tanya Anjani.
Meli meletakkan sendok yang baru saja dibuat mengaduk-aduk minuman. Setelahnya Meli langsung menghadap ke arah Anjani dan tiba-tiba memegangi pundak Anjani. Sikap itu membuat Anjani kaget.
"Ada apa, Mel?" tanya Anjani semakin heran dengan sahabatnya itu.
"Tadi pagi itu aku pengen banget pesan cokelatnya Dika. Terus aku mau ajak kamu beli langsung di kosan Dika. Eh, aku lupa smartphone-ku belum aku isi daya. Mati, deh!" jelas Meli antusias.
Anjani mendengarkan penjelasan Meli dengan penuh perhatian. Anjani tahu bahwa Meli sedang curhat, dan sikap terbaik yang pertama kali harus dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik.
Meli melepaskan pegangan tangannya dari pundak Anjani. Setelahnya Meli kembali mencurahkan isi hati sambil meletakkan tiga cangkir cokelat panas di atas nampan.
"Duh, entah kenapa rasanya jadi pengen banget makan cokelatnya Dika." Curhat Meli sekali lagi.
"Mel, sebenarnya kamu pengen makan cokelatnya atau pengen ketemu orangnya?" tanya Anjani.
Meli seketika menoleh saat Anjani berkata demikian. Mata Meli berkedip cepat beberapa kali. Tetiba saja bibirnya manyun, dan mimik wajahnya berubah gundah.
"Heeem, Anjani. Gini amat ya rasanya jatuh hati. Kenapa juga aku harus suka sama Dika. Hu-hu-hu!" Meli mewek.
"Eits. Cup-cup-cup. Apa benar yang sekarang berdiri di depanku adalah Meli? Biasanya Meli yang kukenal tegar banget hatinya, lho. Nggak mudah baper dan selalu terlihat ceria di mana-mana," kata Anjani.
"Hu-hu-hu!" Meli semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Mel, istighfar!" saran Anjani.
Meli meletakkan nampan yang dibawa olehnya. Seketika Meli memeluk Anjani dan kembali mewek sambil terus mencurahkan isi hatinya.
"Astaghfirullah. Sabar ya, Mel. Kalau Dika memang jodohmu, insyaAllah hatinya akan terjaga untukmu." Anjani mencoba menenangkan hati Meli.
Meli mulai tenang. Pelukan Meli pada Anjani pun dilepaskan. Meli lekas mengusap air matanya. Tak hanya itu, Meli pun berusaha tersenyum agar keceriaan yang biasa melekat pada dirinya segera kembali.
"Anjani, perasaanmu ke Kak Mario bisa bikin nyesek ke hati juga nggak? Kayak aku barusan, malah baper sampai nangis bombai." Meli mendadak ingin tahu.
"Ah, jangan ngebahas Mario. Kita ke depan aja, yuk! Bentar lagi Mbak Bida pasti selesai ganti baju." Anjani menolak untuk menjawab pertanyaan Meli tentang Mario.
"Ih. Kamu, nih. Yaudah, ayo!" Meli pun menurut.
Anjani dan Meli membawa nampan berisi cokelat panas dan piring berisi martabak manis menuju ruang tamu. Anjani menata cangkir dan piring itu di atas meja.
"Ngomong-ngomong soal jodoh, nih. Beberapa hari ini aku mimpi ada cowok ganteng senyum ke aku sambil bilang 'kamu jodohku'." Meli memulai topik baru seputar mimpi yang beberapa hari belakangan dia alami.
"Terus?" tanya Anjani ingin mendengar lebih.
"Terus-terus, dia juga nyebutin nama." Meli antusias.
"Terus siapa namanya?" Anjani bertanya lagi.
"Namanya Az- .... Em, namanya Az- .... Duh, kok lupa, ya?" Meli jadi bingung sendiri.
"Hehe, yaudah. Tengokin Mbak Bida, gih. Siapa tahu udah selesai," saran Anjani.
"Em. Oke. Eh, nanti kalau udah ingat namanya aku kasih tahu deh. Pokoknya yang ini jauh lebih tampan dari pada Dika," kata Meli sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ah, kamu nih. Aku ke Mbak Bida dulu, deh." Meli tidak menjawab pertanyaan Anjani justru malah pamit menengok Mbak Bida.
"Iya-iya, hehe." Anjani terkekeh melihat tingkah sabahatnya itu.
Anjani duduk santai sambil melihat ke arah luar dari jendela ruang tamu rumah Meli. Tampak di luar suasana tenang nan basah selepas hujan. Tetiba saja Anjani tersenyum mengingat betapa bodoh dirinya saat salah sangka kepada Mbak Bida.
Alhamdulillah atas kabar baik yang kudengar hari ini. Pak Nizar dan Mbak Bida akan segera menikah, begitu pula dengan Paman Sam dan janda pujaan hatinya, batin Anjani berseru.
Senyum masih terlukis di wajah Anjani. Kedua bola matanya masih asik menatap ke luar dari jendela ruang tamu rumah Meli. Hingga tanpa Anjani sadari, dengan senyum yang masih tampak jelas menghias wajahnya, Mbak Bida dan Meli sudah kembali ke ruang tamu.
"Cie. Senyum-senyum sendiri pasti lagi mikirin Kak Mario," celetuk Meli.
Anjani kaget dan segera memperbaiki posisi duduknya. Anjani kini sadar ada Mbak Bida dan Meli yang baru saja kembali.
"Mario?" kata Mbak Bida sedikit kaget mendengar Meli berkata demikian. "Oh, saya tahu sekarang. Anjani, pantas saja kamu bersikap seperti itu tadi. Hehe, maaf ya. Saya tidak tahu kalau kamu dekat dengan Mario," imbuh Mbak Bida.
"Em, hehe." Anjani hanya nyengir dan tertawa pelan.
"Loh, memangnya Mbak Bida kenal juga sama Mario? Em, waktu itu sih di gedung Dedaun Permata memang ada Kak Mario di acara talk show-nya Mbak Bida." Meli ingin tahu lebih jelas.
"Sst, Meli. Duduk dulu. Mbak Bida, silakan duduk. Ini ada cokelat panas biar nggak kedinginan. Silakan, Mbak!" Anjani begitu peka, dan mempersilakan Mbak Bida.
Mbak Bida tersenyum dan berterima kasih atas kebaikan Anjani dan Meli. Mbak Bida saat itu memang kedinginan, sehingga cokelat panas di depannya saat itu menjadi sebuah nikmat yang lekas disyukuri olehnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap Mbak Bida setelah menyeruput cokelat panas bagiannya.
Anjani dan Meli melakukan hal yang sama. Mereka berdua juga menyeruput cokelat panas bagiannya masing-masing. Martabak manis yang telah terhidang di meja pun tak luput dari perhatian.
"Mbak, lanjutin dong yang tadi. Mbak Bida kenal dekat dengan Kak Mario?" tanya Meli setelah melahap sepotong martabak manis.
"Saya baru beberapa kali bertemu Mario dan saya senang bisa bertemu dengannya," kata Mbak Bida.
Mbak Bida mengambil jeda untuk mengambil tisu dan mengelap cokelat yang belepotan di tangannya. Setelahnya, Mbak Bida melihat ke arah Anjani dan tersenyum padanya.
"Saya senang bisa bertemu Mario, karena beberapa kali Mario membawakan buket untuk saya. Tapi, buket itu pemberian dari Nizar. Makanya, saya senang." Mbak Bida menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Oh, jadi begitu. Ups!" Anjani refleks ber-oh ria. "Hehe," kekeh Anjani kemudian.
Mbak Bida hanya tertawa kecil melihat tingkah Anjani. Dari sikap yang ditunjukkan oleh Anjani, Mbak Bida langsung bisa menebak bahwa Anjani menyimpan suatu rasa untuk Mario. Sehingga, Mbak Bida iseng bertanya.
"Anjani, maaf, kamu dan Mario apa sedang menjalin hubungan khusus?" tanya Mbak Bida.
Anjani baru saja mau menanggapi, tapi lebih dulu Meli yang menyampaikan celetukannya.
"Lagi ta'arufan, Mbak!" celetuk Meli.
"MasyaAllah. Benarkah?" Mbak Bida senang mendengar celetukan Meli.
"Bener, Mbak!" Lagi-lagi Meli mendahului Anjani.
Anjani jadi kikuk sendiri. Akhirnya, Anjani cengar-cengir sambil memberikan kode pada Meli agar berhenti bercanda.
"Mbak, silakan diminum lagi!" Anjani mengalihkan perhatian dan rupanya disambut baik oleh Mbak Bida.
Mbak Bida meminum cokelat panas yang kini sudah hangat. Tubuh Mbak Bida sudah tidak terasa kedinginan lagi.
"Eh, yang tadi belum dilanjut. Mbak Bida kenal sama Pak Nizar?" tanya Meli.
Mbak Bida mengangguk sambil tersenyum.
"Sebentar lagi ada kabar baik yang bakal nyebar di kampus," kata Anjani pada Meli.
"Kabar apa?" tanya Meli.
"Tunggu saja. Iya kan, Mbak?" Anjani mencari dukungan, dan Mbak Bida lekas mengiyakan.
Anjani dan Mbak Bida sama-sama tidak menyampaikan kabar baiknya. Mbak Bida asyik dengan cokelat hangatnya. Sementara Anjani tidak mau menjelaskan karena sudah bisa menebak reaksi yang akan ditunjukkan Meli. Anjani tahu meskipun Meli memiliki perasaan pada Dika, tapi Meli masih saja sering mengagumi Mario ataupun Pak Nizar.
Anjani, Meli, dan Mbak Bida kembali menikmati minuman cokelatnya masing-masing. Begitu pula dengan martabak manis yang kini sisa beberapa potong saja. Di tengah keasyikan itu, tiba-tiba saja ada yang datang dan memberi salam.
"Assalamua'alaikum." Terdengar salam dari seseorang yang begitu dikenal oleh Anjani.
Segera Anjani melihat ke arah pintu, dan ternyata dia adalah ....
"Mario?"
***
__ADS_1
Bersambung ....
Terima kasih sudah setia membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. See You. 😊