CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Tutor Terakhir Bersama Mario


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah. Nuansa taman kota saat itu dapat dinikmati oleh setiap pasang mata. Muda-mudi tampak riang lantaran disuguhkan keindahan tatanan aneka macam tanaman. Keriangan yang tergambar hanyalah sebagian besar. Ada pula potret kesedihan sepasang kekasih yang terjebak salah paham, hingga keduanya tak lagi sungkan dilihat orang sekitar. Namun, sekali saja terlontar permintaan maaf, keduanya langsung berbaikan dan begitu cepat larut dalam rasa kasmaran. Ya, cinta tidak buta. Cinta hanya melihat dengan caranya.


Gazebo taman kota menjadi pilihan tempat tutor, dan itu atas permintaan Mario. Sebenarnya masih ada dua gazebo lainnya di tempat itu. Akan tetapi, gazebo-gazebo itu terlihat kosong karena pengunjung taman kota lebih suka duduk santai di bangku-bangku panjang yang menghadap langsung ke arah deretan tanaman.


Anjani hadir dalam tutor terakhirnya setelah beberapa kali melewatkan. Kehadiran Anjani bukan atas bujukan Meli, tapi semua itu murni karena keinginan hatinya. Lagipula, semangat Anjani kembali membara begitu mengingat tantangan yang telah disepakati dengan Berlian. Ujian akhir semester tinggal hitungan hari, dan Anjani siap beraksi.


"Anjani, bisa kau sebutkan warna lipstik di bibirmu?" tanya Mario begitu dia hendak memulai tutor.


"Plum. Benar begitu kan, Mel?" tanya Anjani memastikan pada Meli bahwa warna lipstik yang disebutkan benar.


"Tepat sekali. Plum memberi kesan anggun dan sedikit sexy!" tegas Meli dengan percaya diri, bahkan dia sempat mengedipkan matanya.


Tangan Mario bersedekap, matanya terpejam, kemudian terdengar hembusan nafas panjang. Untuk beberapa detik Mario tetap bertahan dengan sikap yang demikian.


Tingkah tidak biasa yang baru ditemui pada diri Mario itu sukses membuat Anjani dan Meli bertanya-tanya.


"Ada apa, Mario?" tanya Anjani setelah Meli menyuruhnya untuk bertanya.


"Bisa sedikit kau redupkan warnanya? Itu sedikit mengganggu konsentrasiku," ujar Mario pada akhirnya. Dia sempat menahan diri untuk tidak mengatakan, tapi tidak bisa.


Hanya Meli yang tertawa atas permintaan Mario. Meli tertawa hingga keluar air mata. Tidak demikian yang terjadi pada Anjani. Dia tidak tertawa seperti Meli, justru dia memandang heran ke arah Mario.


"Emang gini warnanya, Mario. Nggak bisa diredupkan lagi." Anjani menegaskan.


"Hapus atau tidak kumulai tutornya!" suruh Mario.


"Tidak mau!" tolak Anjani.


"Hapus sekarang!" pinta Mario.


"Aku tambahin polesannya, nih!" tantang Anjani sambil bergerak cepat mengeluarkan lipstik pemberian Meli dari tasnya.


"Hapus!" paksa Mario untuk kesekian kali.


"Satu polesan. Mau dua lagi?" Anjani tidak main-main dengan kata-katanya. Dia menebalkan lipstik di bibirnya.


"Baik, lupakan! Kita mulai tutornya sekarang!" ujar Mario.


Mario mengalah dan membiarkan Anjani merasa bangga pada dirinya. Dan ... kegiatan tutor pagi itu pun dimulai.


***


Dua jam kemudian tutor berakhir. Meli bersorak senang. Bukan karena itu adalah tutor terakhir, Meli senang karena dia berhasil menjadi pengumpul mawar putih terbanyak selama tutor dengan Mario. Wajar saja Meli menjadi pemenangnya, karena Anjani memang tidak mengikuti tutor beberapa kali.


"Kak Mario nggak lupa sama janji di awal tutor kan?" tanya Meli dengan wajah ceria.


"Tentu saja aku ingat," kata Mario.


"Yei ... kalau begitu hadiahku adalah satu pertanyaan tentang kehidupan pribadi Kak Mario. Benar begitu?" tanya Meli sekali lagi ingin memastikan.

__ADS_1


"Sebutkan saja pertanyaanmu. Akan aku jawab," ujar Mario mempersilakan.


Anjani terus memerhatikan Meli yang semakin kegirangan. Dia bahkan berinisiatif untuk merekam tingkah Meli yang bersiap memberi pertanyaan pada Mario. Smartphone Anjani siap dalam mode rekaman video, dan Meli telah siap dengan satu pertanyaannya tentang kehidupan pribadi Mario.


"Kak Mario, jawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya. Apa Kak Mario nggak punya niatan buat cari pacar?" tanya Meli tanpa sungkan.


Smartphone Anjani sedikit goyah karena kaget mendengar pertanyaan Meli untuk Mario. Tidak disangka, dari sekian banyak pertanyaan justru itulah pertanyaan yang dipilih Meli. Sebenarnya mendengar itu membuat Anjani memasang sikap memerhatikan dengan seksama, karena sejujurnya dia juga penasaran dengan jawaban Mario.


"Kak Mario, ayo jawab! Kok diem aja, sih!" desak Meli.


"Aku sudah dijodohkan," kata Mario singkat.


Deg!


Smartphone Anjani tak lagi goyah. Smartphone itu terlepas dari genggaman Anjani dan meluncur bebas ke lantai keramik gazebo.


Klotak!


Anjani kaget melihat smartphone miliknya terjatuh. Mario seketika melihat ke arah Anjani yang sedikit panik. Meli lebih heboh lagi, dia berteriak dan langsung mengambil smartphone milik Anjani. Lega, smartphone itu baik-baik saja.


"Ah, Anjani ngagetin aja, sih!" protes Meli.


"Anjani, kau baik-baik saja?" tanya Mario ingin tahu karena dia mencium gelagat tak biasa.


"Baik-baik saja, kok. Smartphone-ku baik-baik saja," jawab Anjani.


U**h, rasa apa'an sih ini? Batin Anjani. Dia seolah menolak merasakan gejolak yang terasa saat mendengar penuturan Mario tadi.


"Eh, Kak Mario lanjutin, dong! Wanita mana yang beruntung bisa dijodohkan dengan lelaki setampan Kak Mario?" tanya Meli blak-blakan.


"Itu terhitung lebih dari satu pertanyaan," protes Mario. Dia mengingatkan kembali tentang kesepakatan sebelumnya. Hanya ada satu pertanyaan saja.


"Yah, nggak seru, deh! Ini malah bikin tambah kepo." Meli sedikit kecewa karena tidak berhasil mengetahui fakta lainnya.


"Mario, maaf. Aku lupa kalau sebentar lagi ada tempat yang harus dikunjungi bareng Meli. Jadi, kita pamit duluan. Terima kasih atas segala ilmu yang telah kau bagi. Dan ... terima kasih juga kau telah menggratiskan tutor ini. Tapi tetap saja, kue ini harus kamu terima. Sesuai kesepakatan." Anjani mengungkapkan rasa terima kasihnya.


"Baik. Sukses untuk ujian kalian. Aku permisi dulu. Da!" pamit Mario.


Langkah Mario semakin menjauh. Entah kenapa Anjani merasa masih terngiang dengan pernyataan Mario.


*Aku sudah dijodohkan.


Aku sudah dijodohkan, Anjani.


Anjani .... Aku sudah dijodohkan*.


"Nggak!" kata Anjani tiba-tiba. Pikirannya seolah dihantui dengan dengung pernyataan Mario.


"Woi, Anjani. Ada apa?" tanya Meli penasaran dengan perubahan ekspresi Anjani.

__ADS_1


"Em, nggak apa-apa. Ayo, pulang!" ajak Anjani sambil mengemas buku-bukunya.


Begitu selesai mengemas semua barang-barangnya, terjadilah suatu hal yang tak pernah diduga baik oleh Anjani ataupun Meli. Sosok Berlian adalah yang dilihat pertama kali saat baru melangkah hendak meninggalkan gazebo. Seperti biasa, Berlian tampil bersedekap tanpa mengubah mode sombongnya.


"Aku sudah tau semua. Kalian sering tutor dengan Kak Mario. Usaha kalian patut dihargai. Terutama kau, Anjani!" tuding Berlian tetap dengan mode sombongnya.


"Hei, ada apa denganku?" tanya Anjani sambil mengangkat bahu.


"Lipstik warna plum. Wow, mantap sekali untuk menggoda. Kuakui usahamu luar biasa. Tapi ... percuma saja. Tanpa didukung penampilan sepertiku, usahamu sia-sia saja untuk mendapat gebetan. Percuma!" ejek Berlian merendahkan Anjani.


Meli seketika bereaksi hendak melawan Berlian, tapi gagal karena Anjani lebih dulu menarik lengannya untuk menghentikan. Rupanya tawa Berlian semakin pecah melihat aksi Meli yang digagalkan Anjani.


"Kita buktikan saja nanti siapa pemenangnya. Bye, duo cupu yang nggak modis. Tuan putri pamit dulu, ya. Da ...."


Anjani dan Meli masih memerhatikan kepergian Berlian hingga benar-benar menghilang dari pandangan. Setelah Berlian benar-benar pergi, Meli mengajukan protesnya karena telah dilarang untuk melawan Berlian.


"Jangan terlalu diambil hati, Mel. Aku yakin ada yang mendasari sikap Berlian hingga seperti itu. Kita hanya belum beruntung saja untuk mengetahui alasan itu dengan segera." Anjani berusaha berpikir logis.


"Kau benar. Ah, tapi tetep aja bikin dongkol!" ujar Meli kesal.


"Sudah, Mel. Kita makan bakso aja dulu, yuk! Aku yang traktir, deh!" ajak Anjani.


"Nah, itu baru Anjani sahabatku."


***


Teropong binocular tak lagi digunakan. Aksi mata-mata berlanjut menjadi aksi menguping perdebatan. Di balik gerobak es cendol, Juno dan Ken bersembunyi sambil mendengarkan obrolan. Dia menandai obrolan Anjani dengan Berlian.


"Jun, ayo pulang! Kita kan cuma mau mata-matain Mario. Kenapa sekarang malah jadi tukang nguping!" bisik Ken pada Juno.


Juno tidak langsung menjawab. Dia mencari celah untuk bergerak menghindar ke tempat lebih aman.


"Nah, mereka udah pergi. Mas Ken denger juga, kan?" tanya Juno memastikan.


"Bagian mana? Rencana perjodohan Mario? Ah, kalau itu sumpah aku baru denger barusan pas kita nguping." Ken menjelaskan. Dia memang tidak tahu fakta tentang perjodohan Mario.


"Bukan itu, Mas Ken. Yang itu bisa kita kepoin ke Mas Mario ntar. Itu tuh, yang kata Berlian soal gebetan. Denger nggak tadi?" tanya Juno sekali lagi untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


Ken sebenarnya ingat, tapi dia enggan untuk membahasnya. Jadi, hanya sebuah anggukan saja yang Ken lakukan demi menjawab pertanyaan Juno. Namun, Ken merasa tidak puas. Akhirnya, dia bertanya juga kepada Juno.


"Kenapa? Mau jadi gebetannya Berlian, ya. Ngaku!" goda Ken.


"Ah, Mas Ken nggak peka-peka. Maksudku itu aku mau bantuin Anjani. Aku bersedia jadi pacar pura-pura agar Anjani bisa menang."


"What?"


"Sst, nggak perlu dikomentari sekarang, Mas Ken. Ayo, kita pulang aja dulu!" ajak Juno sambil menarik lengan Ken untuk segera mengikuti langkahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2