CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Hai Manis


__ADS_3

Usai dari kantor Mario, Anjani tidak langsung pulang. Paman Sam menyuruh Anjani untuk membeli ikan segar di kenalannya. Otomatis Anjani memacu motornya menuju tempat yang dimaksud Paman Sam. Tanpa sadar sejak di parkiran kantor Mario, Leon telah membuntutinya. Leon melajukan mobilnya pelan mengikuti motor Anjani.


Antrian pembeli ikan segar lumayan panjang. Anjani segera mengambil posisi mengantri untuk bisa mendapatkan ikan yang diinginkan, ikan gurami. Namun, rupanya persediaan ikan gurami kosong dan mobil pengantar ikan akan segera tiba tidak lama lagi. Anjani memilih menunggu, karena rupanya Paman Sam telah mengirim pesan pada pemiliknya. Buktinya pemiliknya menemui Anjani langsung dan memintanya untuk menunggu sebentar.


Anjani menunggu di bangku panjang yang memang disediakan untuk antrian pembeli ikan segar di sana. Tidak ada yang duduk selain Anjani sendiri, karena semua pembeli sedang mengantri dan sibuk memesan ikan yang jadi keinginan.


Leon yang sedari tadi memang mengikuti Anjani diam-diam, bergegas duduk di samping Anjani. Meski sempat terkejut karena tidak menduga akan bertemu Leon, Anjani tetap ramah menyapa. Anjani memang telah mengubah sikap acuhnya pada Leon semenjak ditolong saat terjatuh dari motor di area kompleks perumahan beberapa waktu lalu.


"Hai," sapa Anjani sambil tersenyum pada Leon.


"Hai, Manis. Lagi pesan ikan, ya? Aku juga," kata Leon membuka obrolan.


Anjani mengangguk sambil tetap mempertahankan senyumnya. "Kamu suka beli ikan di sini juga?" tanya Anjani menanggapi.


"Ya, begitulah. Oh ya, kok sendirian, sih? Nggak baik loh gadis manis sepertimu jalan sendirian. Nanti kalau ada yang menggodamu gimana?" kata Leon.


Anjani terkekeh pelan. "Hei, satu-satunya yang menggodaku saat ini ya kamu," sahut Anjani.


Leon tersenyum sambil menatap bola mata Anjani. "Aku suka menggodamu, dan akan selalu suka," terang Leon tanpa mengalihkan tatapan matanya pada Anjani.


Anjani sedikit terkejut dengan perkataan sekaligus tatapan mata Leon. Cepat-cepat Anjani melihat ke arah lain demi menghindari tatapan mata Leon. Anjani khawatir terjatuh dan terperangkap dalam tatapan Leon itu.


"Ehem, maaf sepertinya aku belum melihatmu memesan ikan," kata Anjani mengalihkan perhatian Leon.


"Sebentar lagi aku ke sana untuk memesan. Oh ya, aku ingin tahu tentang Mario saat di kampusnya. Apakah Mario benar-benar bersikap dingin seperti biasanya?" tanya Leon yang berniat memancing reaksi Anjani.


Saat nama Mario disebut, Anjani langsung tersenyum. Anjani benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, hingga mendengar nama Mario saja sudah membuatnya merasa bahagia.


"Tidak juga," jawab Anjani singkat sambil tetap tersenyum.


"Oh ya? Hem, sepertinya Mario bisa bersikap berbeda jika di depan wanita," kata Leon lagi.


"Maksudnya?" tanya Anjani tidak paham.


"Ya begitu, deh. Aku juga pernah lihat Mario begitu manis pada seorang gadis, anak kenalan ayahnya. Bahkan, saat itu Mario memberi bunga mawar putih untuknya," imbuh Leon.


"Benarkah? Siapa gadis itu?" tanya Anjani semakin penasaran.


"Serius kamu mau tahu?" tanya Leon.


Anjani mengangguk mantap.


"Kalau begitu akan kuberitahu malam ini. Kita ketemu di cafe dekat kantorku," pinta Leon.


"Malam ini .... Em, aku tidak bisa." Anjani menolaknya.


"Ah, sayang sekali. Baiklah begini saja. Kuberi nomor teleponku. Ini. Kamu bisa menghubungiku dan mengajakku bertemu saat senggang," jelas Leon.


Anjani memperhatikan kartu nama berisikan nomor telepon Leon. Ragu-ragu Anjani menerimanya. Mendadak rasa penasaran muncul ke permukaan.

__ADS_1


"Aku rasa lain kali saja beli ikannya. Antriannya panjang. Kalau begitu aku pamit dulu, ya. Da, Manis!" pamit Leon.


Anjani membalas lambaian tangan Leon. Saat Leon sudah tak terlihat lagi, kepala Anjani kemudian tertunduk memperhatikan sekali lagi kartu nama yang diberikan Leon, kemudian Anjani meremat kertas tersebut dan membuangnya.


Ini godaan. Aku tidak boleh begitu saja percaya, batin Anjani.


***


Sebuah motor terparkir rapi di depan garasi rumah Ken. Motor itu milik Ken yang beberapa menit lalu baru pulang dari kampus usai mengikuti kegiatan organisasi mahasiswa. Sejak Mario sibuk dengan perusahaan, Ken juga menyibukkan diri dengan aktif di organisasi terkait jurusannya, sekaligus untuk mencari pengalaman di masa kuliah. Sesekali Mario meminta Ken untuk membantu. Sebagai sahabat baik, Ken selalu bersedia membantu dan selalu mendapat upah dari perusahaan.


Ken sengaja duduk di teras depan rumahnya sembari menunggu Juno pulang. Tadi Juno pamit main ke tempat Dika, dan Ken titip dua bungkus batagor saat kembali ke rumah.


Lima menit berlalu, yang ditunggu muncul juga. Juno memarkir motornya tepat di samping motor Ken. Dua bungkus batagor kemudian ditenteng di tangan kanannya, sambil melangkah menuju tempat Ken sedang duduk.


"Mas Ken, ini!" seru Juno sambil meletakkan bungkusan batagor.


Juno segera duduk di kursi dan meraih gelas berisi es sirup rasa melon. Ken sengaja menyiapkan seteko es sirup rasa melon, karena tahu Juno sangat menyukainya. Lagipula ada yang ingin disampaikan oleh Ken pada Juno, tentang Mario. Dan ... sejujurnya Ken tidak kuasa menyampaikan, tapi walau bagaimana pun tetap harus disampaikan.


"Mas Ken, makan batagornya, yuk!" ajak Juno yang segera mengambil sebungkus batagor, menggigit ujung plastiknya, lalu memakannya tanpa menunggu Ken.


"Jun, tadi Berlian telepon aku. Tuh anak nyariin dari tadi," jelas Ken sambil ikut-ikutan memakan batagor.


"Biarin aja, deh. Dari tadi ditelponin melulu," jawab Juno tanpa berhenti mengunyah batagor.


"Ya angkat saja, Jun. Apa salahnya, sih?" tanya Ken.


"Bentar-bentar. Maksudmu Alenna adiknya Mario?" tanya Ken memastikan.


"Uhuk!" Juno tersedak karena kaget. "Alenna adiknya Mas Mario? Bukannya Mas Mario anak tunggal?" tanya Juno memburu Ken dengan tanya.


Ken keceplosan. Ken lupa kalau Juno belum mengetahui siapa Alenna sebenarnya. Ken berniat menarik ucapannya, tapi urung saat melihat ekspresi Juno yang serius menanggapi. Ken yang tidak tega mencurangi rasa penasaran Juno, memutuskan untuk memberitahukan sebuah fakta tentang keluarga Mario.


"Oh, jadi begitu ceritanya. Harusnya kasih tahu dari dulu, Mas. Ah!" protes Juno.


"Ya maaf. Itu hal sensitif, Jun. Eh, tapi nih ya, sepertinya pesonamu menarik perhatian Berlian sama Alenna. Mereka naksir sepertinya," duga Ken.


Juno seketika berlagak di depan Ken, membusungkan dada, menyisir rambut dengan jemari, dan tersenyum sambil memainkan kedua alisnya. Ken langsung menjitak kepala Juno untuk menyadarkan dari bujuk rayu kehaluan.


"Hahaha. Wajar. Aku memang tampan, tapi hatiku masih dimiliki Anjani. Anjani itu bunga manisku." Juno berkata mantap.


Nama Anjani yang disebutkan Juno membuat Ken teringat niatan awalnya. Ken hendak menyampaikan fakta yang jelas-jelas akan mematik reaksi Juno.


"Jun, sebaiknya kau lupakan perasaanmu pada Anjani," saran Ken.


"Lah, kenapa?" tanya Juno.


"Anjani telah memilih Mario. Mereka akan menikah," terang Ken.


"Ha? Jangan bercanda dong, Mas Ken. Ini nggak lucu sama sekali," kata Juno kaget.

__ADS_1


"Apa raut wajahku terlihat bercanda, Jun?" tanya Ken serius.


Juno menangkap ekspresi serius di wajah Ken. Mendadak, ada rasa yang siap membludak di hatinya. Juno merasa ada yang tidak adil. Juno pun merasa lebih berhak mendapatkan Anjani karena telah mengenalnya lebih dulu sejak di desa.


Tangan kanan Juno mengepal tanpa sadar. Raut wajahnya terlihat dipenuhi emosi sekaligus rasa kecewa. Tiba-tiba saja Juno menggebrak meja, membuat Ken kaget dibuatnya.


Brak!


"Sabar, Jun!" seru Ken sambil berdiri dan berniat menenangkan Juno.


"Aku ditikung, Mas. Jelas-jelas Mas Mario tahu perasaanku pada Anjani!" seru Juno sambil ikut berdiri dan masih emosi.


"Hei, Bro. Tenang! Bukankah kau dulu pernah bilang mau menerima persaingam?" tanya Ken sekaligus mengingatkan Juno.


"Kapan bersaingnya, ha? Mas Mario nggak pernah bilang kalau menyukai Anjani juga. Tahu-tahu ngajak Anjani nikah, he! Aku akan menemui Mas Mario malam ini," kata Juno.


"Malam ini? No! Redakan dulu emosimu, Jun. Kalau kau bertemu Mario malam ini bisa-bisa yang terjadi malah saling hajar!" nasihat Ken dengan nada serius.


"Oke, malam ini aku akan meminta penjelasan dari Anjani lebih dulu. Aku akan ke rumahnya malam ini!" tegas Juno kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Tunggu! Jun, Juno! Hei, ah!" keluh Ken karena perkataannya tidak didengarkan.


"Gawat," gumam Ken sambil memegangi kepalanya karena bingung harus berbuat apa.


***


Sebuah mobil mewah baru saja memasuki halaman rumah Mario. Mario baru saja pulang dari kantor. Seusai memberikan kunci mobilnya pada security, Mario bergegas masuk ke dalam rumah, dengan Alenna mengekor di belakangnya.


"Mario, mau kupilihkan baju untuk nanti malam?" tanya Alenna sambil menyejajari langkah Mario.


"Tidak perlu," jawab Mario singkat tanpa menghentikan langkahnya.


"Yah. Aku bisa bantu apa, dong? Aku paling tidak suka menjadi sosok yang tidak berguna. Sekali-kali anggap aku sebagai adikmu, Mario. Kau selalu saja bersikap dingin. Nanti kalau Anjani sudah tinggal di sini, awas saja. Biar kujahili dia karena kakakku sendiri cuek sama adiknya," ancam Alenna sambil kemudian memanyunkan bibirnya.


Mario tiba-tiba berhenti, berbalik badan, dan akhirnya mengalah pada Alenna.


"Oke. Tolong beri pita di tas itu. Tuh, di atas meja. Pilihkan yang manis seperti Anjani. Akan kubawa nanti," pinta Mario sambil tersenyum.


"Cie. Yang manis seperti Anjani. Baiklah. Aku pilihkan pita yang paling manis. Nah, kalau begini aku tidak jadi jahil sama Anjani. Hihi," kata Alenna sambil melangkah menuju tas yang dimaksud Mario.


Mario kemudian melangkah menuju kamarnya. Kancing kemeja bagian atas dilepas karena sedikit gerah. Mario melihat ke luar jendela kamarnya. Angin semilir dirasakan dan dibiarkan menerpa wajah tampannya.


Tiba-tiba smartphone Mario bergetar, pertanda sebuah pesan telah masuk. Mario memeriksa pesan tersebut sambil bersandar di tembok. Itu pesan dari Ken, yang memberi tahu Mario tentang reaksi dan rencana Juno yang akan menemui Anjani di rumahnya malam ini.


"Juno," gumam Mario, lalu tersenyum. "Anjani, aku akan datang ke rumahmu malam ini. Tunggu aku, Sayang."


***


Nantikan lanjutannya, ya 😊✨. Kritik dan sarannya dong buat author. Vote juga boleh 💕😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2