CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Pertanyaan Yang Telah Lama Terpendam


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Paman Sam. Semua mata tertuju pada mobil mewah yang terlihat kinclong itu. Sosok yang turun setelahnya lebih membuat Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah terpesona lantaran wajah tampan dan senyuman manisnya.


“Assalamu’alaikum,” salam Mario begitu turun dari mobilnya, sambil membawa kue bolu dan benda-benda lain yang dibawakan Mommy Monika.


"Wa'alaikumsalam," jawab Paman Sam lebih dulu, baru diikuti Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah.


"Nak Mario, silakan masuk!" Paman Sam ramah mempersilakan.


Mario melangkah menuju teras rumah. Kue bolu buatan Mommy Monika lekas diberikan pada Paman Sam. Tidak hanya kue bolu. Ada buah mangga yang diambil langsung dari pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Mario. Mario juga membawa paper bag berisi oleh-oleh dari Jerman. Semua itu Mommy Monika yang menyiapkan untuk keluarga Anjani. Sebenarnya sebelum berangkat tadi Mario juga disuruh membawa buket bunga, tapi Mario sengaja meninggalkannya di mobil. Mario benar-benar tidak habis pikir dengan ide Mommynya itu.


"Nak Mario, perkenalkan ini Roni dan itu Fatimah. Mereka berdua orangtua Meli, dan sudah Paman anggap sebagai saudara sendiri. Kalau yang ini sudah kenal pastinya kau, istriku tercinta. Hehe," terang Paman Sam.


Mario menyalami Roni, lalu mengatupkan tangannya di depan dada seraya tersenyum pada Bibi Sarah dan Fatimah.


"Nak Mario, terima kasih banyak buat oleh-olehnya. Sampaikan salam kami untuk keluargamu," kata Bibi Sarah.


Mario mengangguk sambil tersenyum.


Paman Sam memberi kode mata kepada istrinya. Bibi Sarah yang peka pun lekas berdiri mengajak Fatimah ke dapur, membuatkan minuman dan hidangan untuk tamu tampan mereka.


"Maaf, Nak Mario. Anjani sedang liburan di Jogja," jelas Paman Sam.


"Sama Meli anak saya." Roni menimpali, dan langsung mendapat lirikan mata dari Paman Sam.


"Iya, saya sudah tahu, Paman. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan titipan Mommy saya, sekaligus silaturrahmi." Mario begitu sopan.


Roni menepuk-nepuk bahu Mario, berusaha akrab. Akan tetapi, lekas mendapat lirikan mata dari Paman Sam. Kode keras agar Roni tidak sok akrab dengan calon mantunya.


"Tapi tenang saja, Nak Mario. Meli sama Anjani pasti nanti bawa oleh-oleh dari Jogja. Nanti Nak Mario pasti kecipratan," kata Roni.


"Kecipratan macam mana pula? Memang mereka bawa oleh-oleh air mineral?" celetuk Paman Sam.


Mario hanya senyam-senyum, sambil sesekali ikut terkekeh mendengar candaan mereka.


Canda tawa terjeda sejenak, lantaran Bibi Sarah dan Fatimah datang membawa minuman dan makanan ringan untuk Mario.


"Ayo-ayo diminum dulu tehnya mumpung masih hangat!" Bibi Fatimah mempersilakan.


"Ini kue donatnya juga dimakan," suruh Fatimah.


"Jangan sungkan-sungkan!" Roni ikut mempersilakan.


Mario jadi tidak enak hati dengan perlakuan baik keluarga Anjani. Segelas teh hangat lekas diambil, lalu diseruput. Benar-benar hangat, sehangat sambutan keluarga Anjani padanya.


"Nah. Renal sudah pulang dari ngaji. Sini kau, Nak. Ayo salim dulu sama Om Mario!" perintah Paman Sam pada Renal.


Renal berjalan mendekat lalu mencium punggung tangan Mario.


"Saya Renal, Om."


Renal memperkenalkan dirinya. Mario pun menyambut hangat dan berusaha akrab dengan Renal dengan bertanya kelas, bahkan hafalan surat Alquran.


"Renal, Om Mario ini calon suaminya mbakmu, Anjani." Paman Sam tiba-tiba saja berkata seperti itu.


Mario sedikit terperanjat. Sama sekali tak diduga bahwa Paman Sam masih menganggap dirinya sebagai calon menantu yang akan menikahi Anjani. Di balik keterkejutannya itu, Mario justru senang. Bahkan dadanya sempat berdebar-debar.


"Oh, calon mantu. Aku rasa sih, cocok banget sama Anjani. Nak Mario tampan, Anjani cantik. Sama-sama sopan lagi," puji Roni.

__ADS_1


"Setuju-setuju," seru Bibi Sarah dan Fatimah dengan nada riang gembira.


Mario mendadak kikuk di depan keluarga Anjani. Mario yang terkenal jago bertutur kata baik di kampus ataupun perusahaan ayahnya, mendadak kehilangan kosa katanya. Ada kebingungan bercampur rasa senang yang saat itu Mario rasakan. Pada akhirnya yang tampak di wajahnya hanya sebuah senyum merekah.


"Nak Mario kapan mau melamar Anjani lagi?" tanya Paman Sam tanpa banyak basa-basi.


Wajah Paman Sam terlihat cerah. Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah bahkan menatap Mario dengan aura keceriaan yang sama. Beda lagi dengan Mario. Dirinya kembali dibuat kaget dengan pertanyaan Paman Sam.


"Em, itu ...." Mario terlihat menghela nafas untuk mengatasi kegugupan dirinya. "Apa Anjani masih bersedia setelah sempat gagal menikah sebelumnya?" tanya Mario.


Ya, selama ini itulah pertanyaan yang menghantui Mario. Apakah Anjani masih bersedia setelah rencana pernikahan itu sebelumnya gagal hanya karena kasus perselingkuhan John yang mencuat ke publik. Mario yakin Anjani memiliki perasaan padanya. Namun, andai Mario melamarnya lagi, apakah Anjani akan langsung menerima? Atau justru Anjani malah menjadi trauma? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berani diungkapkan oleh Mario pada Anjani. Kini saat ada kesempatan, Mario memberanikan diri untuk bertanya pada Paman Sam.


Bibi Sarah tersenyum pada Paman Sam. Dia bahkan memberi kode mata pada suaminya itu. Seolah sedang berbicara via telepati, Paman Sam manggut-manggut, tanda mengerti.


"Kalau Nak Mario sendiri apakah punya niatan untuk melamar Anjani lagi?" tanya Bibi Sarah.


"InsyaAllah iya, karena dari dulu sampai sekarang perasaan Mario pada Anjani masih sama," terang Mario.


"Cie," celetuk Roni, dan kali ini Fatimah yang memelototi.


Paman Sam dan Bibi Sarah saling tatap dengan senyuman. Tak lama kemudian, keduanya mantap mengangguk.


"Kalau begitu biar kami sarankan pada Anjani untuk sholat istikhoroh, agar lekas diberi petunjuk yang terbaik. Nak Mario berdoa saja. InsyaAllah niatan baik akan selalu dipermudah." Nasihat Paman Sam.


Mario tersenyum mendengar penuturan Paman Sam. Ada celah cahaya yang menyinari harapannya. Beberapa hari ini Mario memang terus ditanya soal Anjani oleh keluarganya. Hal itu membuatnya berpikir untuk kembali melamar Anjani. Akan tetapi, jika Anjani tidak bersedia, Mario akan siap menerima keputusannya. Mario tahu diri, karena besar kemungkinan bahwa Anjani masih tidak bisa melupakan gagalnya pernikahan waktu itu.


"Renal nggak ngerti kalian ngomong apa. Renal masuk aja, deh!" seru Renal sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Paman Sam tepuk jidat. Dia sampai melupakan Renal yang masih ada didekatnya. Renal pasti sudah mendengar banyak obrolan mereka, meski mengaku tidak paham. Itu semua karena Paman Sam terlalu bersemangat bertanya tentang lamaran.


"Ron, kudoakan Meli juga bakal dilamar sama lelaki yang modelnya macam Nak Mario gini, ganteng, sopan." Paman Sam mendoakan Ron.


"Ku-aamiin-kan dulu, Mas. Tapi mana ada yang mau sama Meli. Dia suka ceroboh kayak aku," celetuk Roni, ayah Meli.


"Ayah, buktinya aku mau jadi istrimu meskipun kamu banyak cerobohnya!" sahut Fatimah, ibu Meli.


"Hehe, iya juga ya, Sayang. Yang namanya jodoh emang nggak bisa ditebak!" Roni menanggapi istrinya.


"Siapa tahu di Jogja sana Meli nemu jodoh, Ron!" celetuk Paman Sam sembari menggigit donat.


"Nemu? Hehe. Bisa aja kau, Mas. Moga aja Meli itu beruntung, meski suka ceroboh. Pasrah deh, siapa aja yang mau sama dia!" seru Roni.


"Huuuu. Sok-sokan bilang pasrah. Waktu itu ada saudara tetangga sempat nanyain Meli aja kamu bingung cari asal-usulnya," kata Fatimah.


Roni pura-pura tidak mendengar dan langsung mencomot donat di tangannya.


Merasa sudah cukup main tamu-tamuannya, Mario pun pamit pulang. Keluarga Anjani sungguh memperlakukan Mario dengan baik. Saat pulang pun Mario dibawakan bungkusan berisi lalapan ayam geprek sambal ijo.


***


Suasana hati Mario cerah. Dia melangkah turun dari mobil sambil bersenandung lirih 'du-du-du-du'. Sinyal hijau telah didapatkan dari keluarga Anjani. Kini, Mario tinggal berdoa agar Anjani tidak terhantui dengan masa lalunya yang sempat gagal menikah dengannya.


Sampai di dalam rumah, rupanya Alenna dan John sudah pulang dari kantor. Mommy Monika bahkan duduk santai bersama Alenna dan John.


"Wow, ada apakah gerangan?" tanya John yang baru melihat putranya datang.


Mario lekas mendekat dan mencium punggung tangan ayahnya.

__ADS_1


"Habis dari rumah Anjani cerah banget auranya?" tanya Mommy Monika berniat menggoda Mario.


Mommy Monika melirik ke arah Alenna dan John bergantian. John dan Alenna bahkan senyum-senyum melihat sikap Mario yang terlihat senang.


"Em, Mario ke kamar dulu sebentar, ya. Sst, Alenna. Ikut bentar," kode Mario pada Alenna.


Alenna menurut. Dia mengekor di belakang kakaknya. Sampai di dekat tangga, Mario pun bertanya.


"Alenna, apa kamu sudah menghubungi Anjani?" tanya Mario pada adiknya itu.


Kening Alenna berkerut. Dia tidak paham.


"Permintaan Mommy di meja makan," kata Mario mengingatkan.


"Ouh, tanya Anjani apakah dia bersedia jadi istrimu atau tidak?" Alenna santai menjawab.


Mario menyentil hidung mancung adiknya. Dia gemas.


"Aw. Apa'an sih?" protes Alenna.


"Bukan itu. Maksudku, Anjani bersedia atau tidak mengajari Mommy ngaji?" Mario pun memperjelas.


Alenna ber-oh ria, lalu terkekeh.


"Beres. Anjani mau!" seru Alenna.


"Belajar ngajinya di sini, kan? Mulai kapan? Apa perlu aku antar-jemput?" tanya Mario terlihat tak sabaran.


Giliran Alenna yang menyentil kening kakaknya itu. Alenna bahkan tak kuasa menahan tawanya.


"Udah kebelet nikah sama Anjani, ya? Ngaku, deh?" goda Alenna.


"Maksudku biar Mommy segera mengenal Anjani." Mario menegaskan.


"Heeem. Kakakku yang beraura dingin mendadak jadi bucin!" ledek Alenna.


Mario mengabaikan yang satu itu. Dia ingin segera mendapat jawaban atas pertanyaan sebelumnya.


"Jadi, mulai kapan?" tanya Mario.


"Setelah Anjani pulang dari Jogja. Eh-eh, tadi aku lihat statusnya Meli. Uwu, ada foto Anjani, Meli, dan banyak lagi lainnya. Ada cowok juga di fotonya, lho. Tuh cowok gantengnya saingan sama kamu, Mario. Jangan-jangan itu ...." Alenna berniat menggoda Mario, mengatakan bisa saja Anjani berpaling, tapi Mario lebih dulu menyahuti.


"Palingan itu Azka, hero-nya Meli." Mario santai menyahuti. Dia yakin betul itu adalah Azka.


"Yeee. Nggak kuatir apa kalau Anjani berpaling darimu!" seru Alenna.


"Tidak akan!" Mario menjawab dengan yakin. "Daaa!" Lambaian tangan dilayangkan pada Alenna.


Alenna puas menggoda Mario, meski di saat terakhir dia tidak berhasil membuat kakaknya itu cemburu dengan dugaan yang dia buat. Alenna percaya dengan kekuatan cinta Mario-Anjani. Alenna juga percaya bahwa Mario-Anjani akan bersatu lagi.


Bersambung ....


Bagaimana lanjutan kisah Mario-Anjani? Apakah rencana Mario untuk kembali melamar Anjani akan berjalan lancar? Atau justru Vina dan Leon akan kembali menggagalkan?


Kenal juga sosok Azka lebih dekat di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami, ya 😉


__ADS_1


__ADS_2