CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Lebih Baik Putus


__ADS_3

Mendekati istirahat makan siang, Kak Lisa menghampiri Anjani dan Meli. Dua bungkus es jeruk dalam wadah plastik disodorkan oleh Kak Lisa. Anjani dan Meli menerimanya dengan bahagia. Tak lupa pula disertai ucapan terima kasih atas kebaikan Kak Lisa.


Berlian yang baru saja selesai melayani salah satu pelanggan pun ikut bergabung. Kali ini Kak Lisa memberikan sebungkus es jeruk dalam wadah plastik pada adik yang disayanginya itu. Berlian sempat menggoda kakaknya, memasang bibir manyun dan berkata bahwa sebungkus es jeruk tak cukup untuknya.


Kak Lisa yang tahu dengan karakter adiknya pun sudah menebak hal itu. Segera Kak Lisa menyodorkan sebungkus es jeruk lagi untuk adiknya itu. Tawa Berlian pun pecah setelahnya, membuat suasana di toko bunga Kak Lisa semakin ceria saja.


"Mau lagi? Nih, aku nggak habis!" canda Meli pada Berlian.


"Habisin, Mel. Sayang banget!" Berlian menanggapi dengan serius.


"Mubazir, Mel." Anjani bereaksi sama dengan Berlian.


"Santai, dong. Bercanda doang tadi. Nih, aku habisin, nih." Meli pun menghabiskan es jeruk bagiannya.


"Hehe, senang sekali lihat kalian rukun seperti ini. Jadi berasa ikut lebih muda. Oh ya, Anjani, Meli, sebelum azan dhuhur kalian boleh pulang. Hari ini toko tutup lebih awal. Kakak mau anterin adik kakak yang satu ini pergi ke suatu tempat," jelas Kak Lisa.


"Oke, Kak. Siap," respon Anjani.


Setelahnya obrolan pun berakhir. Anjani dan Meli merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang. Anjani sempat membantu Kak Lisa menyapu dan membersihkan potongan kecil pita yang digunakan untuk menghias buket bunga tadi.


"Sst, mau pergi kemana?" tanya Meli sambil berdiri di dekat Berlian yang sedang memperbaiki riasan wajahnya.


"Ehem, rahasia dong. Yang jelas aku ingin semakin cantik," terang Berlian sembari meletakkan kedua tangannya di depan dada.


"Mau ke salon? Ganti gaya rambut? Atau mau ada pertemuan dengan Kak Ken? Hihi," tebak Meli.


"Ah, nanti juga pasti tahu!" seru Berlian, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Ohya, tadi Kak Mario ngasih apa ke Anjani? Kelihatan seneng banget dia. Tuh-tuh, lihat. Sekarang senyum-senyum sendiri. Hihi, bakal ada kelanjutan kisah Mario-Anjani sepertinya." Berlian bersemangat mengajak Meli memperhatikan Anjani yang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan paper bag pemberian Mario.


Berlian menarik lengan Meli dan menuju ke tempat Anjani yang sudah selesai membantu Kak Lisa. Berlian dan Meli kompak mengagetkan Anjani dengan seruan kata 'dor'. Berhasil, Anjani kaget hingga berulang kali beristighfar.


"Astagfirullah, aku beneran kaget nih!" seru Anjani sambil mengelus-elus dadanya.


"Ehem, senyum-senyum mikirin siapa nih ye?" goda Berlian.


"Cuit-cuit. Cie!" seru Meli ikut-ikutan.


Anjani dibuat terkekeh akibat godaan itu. Inginnya Anjani bersikap biasa saja. Nyatanya Anjani tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Berlian memberi kode pada Meli untuk membujuk Anjani agar membuka paper bag dari Mario yang katanya isinya adalah jilbab. Meli menangkap kode dari Berlian. Setelah dua kali bujukan, Anjani pun mau membuka paper bag dari Mario.


"Bismillaah. Aku buka," kata Anjani, tapi hanya sebatas kata.


"Iya, kamu buka." Berlian antusias.


"Aku bersiap melihat isinya," kata Meli yang juga antusias.


"Aku buka, nih!" Lagi-lagi Anjani hanya berkata tanpa segera membuka paper bag itu.


Meli dan Berlian gemas pada Anjani. Tak lagi sabar menunggu Anjani, Meli dan Berlian saling lirik dan kompak menyerbu paper bag itu. Dikeluarkanlah isinya, dan ternyata memang jilbab.


Anjani pasrah saja melihat tingkah dua sahabatnya itu. Anjani memilih duduk manis sembari memperhatikan dua sahabatnya yang sibuk mengamati sekaligus mengagumi jilbab pemberian Mario.


Jilbab yang diberikan Mario kepada Anjani berwarna pink soft, berbentuk segi empat lebar dan memiliki renda dengan warna senada di dua sisi jilbab itu.


"Anjani, ada brosnya juga!" seru Meli.


Meli menunjukkan bros itu pada Anjani. Anjani menerimanya dengan senyum yang berhias di wajahnya. Anjani sudah tak sungkan lagi menunjukkan ekspresi bahagianya di depan sahabat-sahabatnya itu.


"Tunggu. Bukankah bros ini terlihat tidak asing?" Anjani tiba-tiba terheran karena merasa tidak asing dengan bros semacam itu.


Meli mendekat, dan memperhatikan bros itu sekali lagi. Berlian bahkan ikut mendekat ke arah Anjani dan Meli karena ingin tahu juga.


Tiba-tiba saja Anjani, Meli, dan Berlian teringat. Mereka pun kompak menyerukan sebuah nama.


"Juno!" seru Anjani, Meli, dan Berlian berbarengan dengan mimik wajah penuh keterkejutan.


"Iya, bros ini persis banget sama bros yang diberi Juno tempo hari, kan?" tanya Meli lagi, memastikan.


"Yakin, deh. Mereka berdua ini pasti janjian bakal ngasih bros yang sama," duga Berlian.


Anjani tampak berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian bahunya terangkat, dan senyumnya kembali dihiaskan di wajahnya.


"Mana aku tahu. Mungkin saja memang kebetulan. Hehe." Anjani mencoba berpikir positif saja.


Bros pemberian Mario sama persis dengan bros pemberian Juno. Bros itu berornamen mawar. Ukurannya sama. Bentuk hingga warnanya pun sama persis.


"Kalau ada dua yang sama persis gini kamu mau pakai pemberian siapa?" tanya Meli.


"Bisa aku pakai bergantian," jawab Anjani dengan ringan.


"Lalu, kalau ada dua hati yang memiliki perasaan yang sama, mana yang akan kamu terima?" tanya Berlian. "Em, Kak Mario dan Juno sepertinya memiliki perasaan yang sama padamu," imbuh Berlian.


Lagi-lagi Anjani dibuat berpikir sejenak. Bukan pertama kalinya Anjani terjebak dalam dilema cinta seperti yang saat ini terjadi. Sebelumnya juga sama, dengan sosok lelaki yang sama pula, yakni Mario dan Juno. Kini, dengan jalan baru yang telah dipilih Anjani, tidak ada lagi kemauan untuk berpacaran. Tidak ada yang namanya pacaran sebelum halal. Itulah yang saat ini diyakini oleh Anjani.


Namun, kalau ada lelaki solih yang meminangku saat ini juga, maka akan aku terima. Batin Anjani.


"Entahlah. Aku tidak tahu. Kuserahkan saja pada-Nya," kata Anjani kemudian.

__ADS_1


"Tapi kenapa Juno masih pacaran sama Alenna kalau sikapnya sama Anjani seperti itu, ya? Kasihan Alenna dong." Meli kembali melontarkan pemikirannya.


Anjani mengangguk. "Hm, akan lebih baik jika mereka putus saja. Daripada gini," pikir Anjani. "Tapi, kita doakan saja yang terbaik ya. Ada Sang Pemilik Takdir Yang Maha Tahu. Pasti Dia akan memberi yang terbaik," imbuh Anjani dengan kembali mengembangkan senyumnya.


"Hehe, iya ustaza Anjani. Masuk deh kata-katanya," kata Meli.


"Yaudah, deh. Yuk, kita pulang!" ajak Berlian.


Anjani, Meli, Berlian, dan Kak Lisa pun keluar dari toko. Mereka berpisah dengan senyum, lambaian tangan, juga salam. Kak Lisa dan Berlian langsung menuju mobil. Sementara Anjani dan Meli menuju mushollah dekat toko bunga Kak Lisa sembari menunggu azan dhuhur berkumandang.


"Ma datang minggu ini atau masih minggu depan?" tanya Meli saat sudah sampai di depan mushollah.


"Masih minggu depan, kok. Tapi nggak tahu lagi kalau berubah. Ma sering suka datang ke kota tanpa ngasih ngabar. Tahu-tahu chat bilang Ma dalam perjalanan ke kota," jelas Anjani.


"Oke. Eh, setelah ini mampir ke depan cafe Bro-Sis, yuk!" ajak Meli.


"Hehe, aku tahu nih. Kangen nge-bakso, ya?" tebak Anjani.


Meli mengangguk bersemangat. Dirinya memang lama sekali tidak makan bakso di tempat langganannya itu.


"Oke, sip. Yuk, ambil wudhu dulu!" Anjani beranjak mengambil air wudhu.


"Yuk!" Meli pun mengekor di belakang Anjani.


***


Sementara itu di tempat lain.


Celana jeans navy, kaos putih, dan jam tangan melingkar di pergelangan tangan kiri. Juno telah siap bertemu Alenna. Segera diraihnya buket bunga mawar, sekotak cokelat, dan kado untuk Alenna. Semua itu diletakkan dalam satu box, sehingga memudahkan Juno untuk membawanya.


Juno membuat janji temu dengan Alenna saat istirahat jam makan siang. Awalnya Juno ingin bertemu di taman alun-alun kota. Namun, Alenna menginginkan tempat lain sebagai lokasi pertemuan mereka siang itu. Jadilah, Juno dan Alenna mengatur janji temu di depan cafe Bro-Sis.


Juno terlambat sepuluh menit dari waktu yang disepakati. Bukan tanpa sebab ataupun disengaja. Tadi ada Dika yang meneleponnya, dan telepon itu membahas tentang acara penyambutan mahasiswa baru. Tentu saja Juno tidak bisa mengabaikannya.


Juno memarkir motornya, lalu memperbaiki tatanan rambutnya di kaca spion motor.


"Oke, tampan. Bismillaah," kata Juno.


Box berisi hadiah dibawa Juno menuju Alenna yang sudah melambaikan tangan sambil berdiri di dekat pintu mobilnya. Senyum Alenna mengembang, dan segera dibalas dengan senyum yang sama oleh Juno.


"Terimalah," kata Juno sambil menyodorkan box berisi hadiah-hadiah untuk Alenna.


Alenna tak segera menerima box dari Juno itu. Dia mengernyitkan dahi, lalu memperbaiki anak rambutnya. Untuk sesaat, Alenna membuang muka dari Juno.


"Nggak sweet banget, sih. Cuma kata 'terimalah', nggak ada ucapan, nggak ada kata sayang," protes Alenna dengan mimik wajah ngambek.


Alenna luluh, dan tidak dapat berlama-lama mengabaikan Juno.


"Mau, dong. Thanks, ya." Alenna menerima hadiah dari Juno dengan wajah bahagia.


"Yuk, masuk!" ajak Juno sambil melangkahkan kaki menuju cafe Bro-Sis.


"Eh-eh. Mau kemana?" tanya Alenna.


"Masuk ke cafe," jawab Juno.


"Siapa yang mau ke dalam sana. Tuh, aku pengen makan siang di dalam sana." Alenna menunjuk warung bakso.


"Bakso? Sejak kapan kamu suka bakso?" Juno terheran.


"Ah, udah. Yuk, ke sana!" Alenna mendahului langkah Juno dan berjalan riang masuk ke dalam warung bakso depan cafe Bro-Sis.


Juno menyempatkan diri mengecek smartphone miliknya, lalu mengirim pesan untuk seseorang. Ada seseorang yang disuruhnya untuk datang ke warung bakso.


Setelahnya Juno melangkah masuk ke dalam warung bakso yang ternyata ramai pengunjungnya. Namun, karena tempatnya luas, sehingga masih banyak bangku yang bisa diduduki. Setelah memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk, Juno menghampiri Alenna yang memilih tempat duduk paling ujung.


Juno dan Alenna asik mengobrol sembari menunggu pesanan datang. Junolah yang lebih banyak mendengar curhatan Alenna seputar kantornya. Juno menjadi pendengar setia siang itu.


Dari arah pintu masuk, Anjani dan Meli riang menuju abang penjual bakso. Anjani segera memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh. Setelahnya Anjani dan Meli mencari bangku kosong yang bisa diduduki.


Anjani melihat Juno dan Alenna di bangku paling ujung. Namun, Anjani memberi kode pada Meli untuk diam saja tidak mengganggu mereka berdua. Meski demikian, bangku yang tersisa tetap saja di deretan sekitar bangku yang dipilih Alenna dan Juno. Alhasil, Anjani dan Meli menempati salah satu bangku di dekat sana.


Banyaknya pengunjung membuat Juno dan Alenna tidak sadar bahwa di dekat mereka ada Anjani dan Meli. Juno dan Alenna asik dengan obrolan mereka, sementara Anjani dan Meli juga membuat obrolan mereka sendiri.


"Juno sama Alenna masih belum sadar ya kalau di sini ada kita. Uh, mana obrolan mereka kedengeran jelas lagi dari sini," kata Meli.


"Biarin aja. Kita makan baksonya aja. Tuh, sudah datang!" saran Anjani.


Anjani dan Meli pun menikmati bakso mereka sembari membuat obrolan ringan. Sementara di bangku tempat Juno dan Alenna duduk, keduanya juga sama-sama asik menikmati bakso mereka.


"Eh, nambah sambal lagi? Nggak kepedesan, tuh!" seru Juno saat melihat Alenna menuangkan dua sendok sambal ke dalam baksonya.


"Hah! Pedesnya bikin nagih. Cobain, deh!" suruh Alenna.


"Nggak-nggak, deh!" tolak Juno.


Keduanya pun kembali menikmati baksonya. Saat isi mangkuk bakso mulai habis, saat itu pula Juno mulai gelisah.

__ADS_1


Juno mengunyah pelan potongan baksonya sambil memperhatikan Alenna yang kebingungan mengatasi rasa pedas baksonya. Beberapa kali Juno terlihat berpikir sambil tetap mengunyah baksonya. Sikap itu ditunjukkan berulang-ulang, hingga isi mangkuknya pun tandas.


"Wah, ternyata bakso di sini beneran enak. Meli benar," tutur Alenna, lalu meminum es jeruknya.


"Alenna, aku mau bicara sesuatu. Boleh?" tanya Juno berhati-hati.


"Ngomong aja. Tumben banget pakai izin segala," kata Alenna terheran.


Juno menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Seketika raut wajah Juno serius, hingga membuat Alenna semakin terheran.


"Ada apa?" tanya Alenna yang kini juga menampilkan wajah serius.


"Alenna, kita putus!" Juno berkata serius.


"What?" tanya Alenna meyakinkan dirinya bahwa tidak sedang salah dengar.


"Kita putus. Aku ingin kita berdua berteman, hanya sebatas teman." Juno memperjelas.


Alenna kaget. Tak pernah disangka bahwa hubungannya dengan Juno akan berakhir tepat di hari ulang tahunnya.


"Maaf," kata Juno melanjutkan.


Anjani dan Meli mendengarnya, tapi pilihan terbaik saat itu adalah tidak mencampuri urusan mereka.


Juno masih belum mendengar tanggapan dari Alenna. Kata maaf kedua pun dilontarkan. Tetap masih belum ada tanggapan dari Alenna. Kata maaf ketiga, keempat, dan kelima pun kembali dillontarkan. Barulah, setelah kata maaf kelima itu Alenna menampilkan reaksi yang berbeda.


Alenna tersenyum kecut. Diraihnya es jeruk miliknya, dan seketika dihabiskan. Isinya pun tandas. Alenna pun kembali tersenyum, tapi dengan senyuman yang lebih baik dari sebelumnya.


Alenna mengangguk disertai senyum manis yang setengah dipaksakan.


Aku tahu hari ini akan tiba, Juno. Batin Alenna.


"Aku mengerti. Oke. Terima kasih atas kenangan manisnya," kata Alenna. "Kita berteman," imbuh Alenna sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Juno.


"Terima kasih, Alenna." Juno menjabat tangan Alenna.


Beberapa detik terlihat suasana canggung menyelimuti Juno dan Alenna. Tidak tahan dengan atmosfir yang terasa berbeda, Alenna pun pamit pulang lebih dulu.


"Kalau gitu aku pamit pulang dulu. Box hadiahku kamu berikan pada yang lain saja. Aku permisi," pamit Alenna dan segera melangkah cepat keluar dari warung bakso.


Hembusan nafas panjang kembali terdengar. Juno memperhatikan box hadiah yang ditinggal oleh Alenna.


"Juno, apa benar? Aku barusan berpapasan dengan Alenna di depan," kata Mario yang baru saja tiba.


"Iya, Mas. Makanya aku minta Mas Mario ke sini. Aku khawatir Alenna terlalu sedih. Bantu beri pengertian, ya Mas." Juno terlihat pasrah.


Mario menepuk-nepuk bahu Juno, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Juno tersenyum sekaligus lega karena Mario mendukungnya.


"Keputusan yang terbaik, Jun. Memang lebih baik putus daripada banyak hal kurang baik yang terjadi. Tenang saja, aku akan memberi pengertian pada Alenna." Mario menenangkan hati Juno.


Mario sadar dengan perkataannya. Lebih baik Juno putus dengan adiknya, daripada terus menjalin hubungan tapi hati Juno terbagi untuk Anjani.


Aku tahu, setelah ini pun kamu pasti akan kembali bersaing denganku untuk mendapatkan hati Anjani, batin Mario.


"Aku keluar dulu," kata Mario pamit pada Juno. "Anjani, Meli, aku pulang dulu ya." Mario menoleh ke arah Anjani dan Meli lalu pamit.


Saat Mario menyebut nama Anjani dan Meli, barulah Juno berbalik badan. Juno kaget karena baru menyadari bahwa sedari tadi ada Anjani dan Meli.


Mario pergi meninggalkan warung bakso untuk menyusul Alenna. Sementara Juno masih tetap berdiri memasang ekspresi terkejut melihat Anjani dan Meli yang saat ini juga ikut berdiri.


"Ka-kalian mendengarnya?" tanya Juno terbata.


Anjani mengangguk, sedangkan Meli nyengir.


"Maaf, Juno. Kami mendengarnya karena posisi kami dekat dengan bangkumu." Anjani menjelaskan.


Juno terdiam sambil berusaha mengendalikan dirinya. Sosok cantik berjilbab yang menjadi bagian dari salah satu alasannya untuk putus dengan Alenna adalah Anjani. Juno tak dapat mendustai perasaannya. Bahkan, Juno pun sering menyebut nama Anjani dalam doanya.


Maafkan aku yang masih mencintaimu, Anjani. Batin Juno menggema.


"Juno, box itu buat aku saja ya?" Meli menunjuk box hadiah yang seharusnya untuk Alenna.


"Iya, ambil saja!" perintah Juno.


"Em, kalau begitu kami pamit pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum," salam Anjani.


"Wa'alaikumsalam," jawab Juno dengan nada pelan.


Anjani segera menarik lengan Meli yang masih asik mengamati box hadiah. Anjani dan Meli pun lekas melangkah menuju abang pemilik warung bakso, membayar pesanannya, lalu melangkah keluar dari warung bakso itu.


Juno melihat Anjani dan Meli pergi hingga tak terlihat lagi di warung bakso itu. Setelahnya Juno tertunduk. Hanya beberapa detik tertunduk, kemudian Juno kembali mendongakkan kepalanya dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah tampannya.


"Ini yang terbaik," gumam Juno lalu beranjak pergi.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya. Krisan buat author ditunggu, ya. Vote juga boleh, lho. See You. 😊


__ADS_2