
Malam di saat Meli dan Azka melangsungkan lamaran, Juno bercerita pada Ken apa yang dia ketahui. Juno memberi tahu Ken bahwa Meli sedang melangsungkan lamaran dengan seorang pemuda tampan asal Jogja.
“Ah yang bener? Masa tidak ada angin tidak ada hujan si Meli tiba-tiba dilamar orang, sih.” Ken tidak percaya dengan cerita Juno.
“Beneran, Mas. Kemarin aku tanya langsung sama Renal. Itu tuh anak Paman Sam dan Bibi Sarah.” Juno meyakinkan Ken.
Juno melengkapi ceritanya. Dia bercerita pada Ken bahwa dirinya kemarin malam bertamu ke rumah Anjani untuk memberikan oleh-oleh dari Ma. Saat itu Anjani memang tidak bercerita apa-apa soal Meli. Namun, Ken baru tahu saat kembali ke rumah Anjani untuk memberikan bungkusan oleh-oleh lainnya yang tertinggal.
[Flashback ON]
“Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa sama bungkusan yang ini?” Juno yang sudah setengah jalan pulang teringat dengan bungkusan lainnya.
Di bagian depan motor Juno ada beberapa bungkusan dalam wadah kresek hitam yang ukurannya hampir serupa. Beberapa di antaranya adalah makan malam untuk Juno dan Ken. Tadi Juno hanya memberikan pada Anjani bungkusan kresek yang berisi bahan makanan saja, sementara bungkusan lainnya yang berisi gamis dari Ma terlupa tidak diberikan karena penempatannya dipisah.
Motor Juno berbalik arah. Dia kembali menuju rumah Anjani. Sepanjang perjalanan Juno berdoa semoga Anjani belum pergi ke rumah Meli. Namun, harapan Juno untuk kembali bisa menemui Anjani sia-sia. Anjani sudah berangkat ke rumah Meli. Di rumah itu Juno hanya menjumpai Renal yang sedang duduk-duduk di teras depan rumah.
“Mas Juno, ya?” tanya Renal yang memang sudah mengenal Juno.
“Iya, Dek. Mbak Anjani sudah berangkat, ya?” tanya Juno sambil melangkah menuju teras.
“Iya, Mas. Sudah berangkat,” jawab Renal.
Juno meminta izin untuk duduk di teras menemani Renal. Renal mengangguk setuju dan mengizinkan Juno untuk duduk di kursi teras satunya.
“Ini, Mas Juno tadi lupa ngasihkan kresek yang ini ke Mbakmu. Tolong berikan, ya. Ini gamis dari Ma di desa. Tadi Mas Juno bener-bener lupa. Hehe.” Juno cengar-cengir saat mengaku dirinya terlupa.
“Mas Juno lupa karena sibuk liatin Mbak Anjani, kan? Hayo ngaku aja sama Renal,” desak Renal agar Juno mengakuinya.
“Hehe, kok tahu, sih.” Juno sama sekali tidak menyangkal.
“Ya tahulah, Mas. Tapi mending Mas Juno nyerah aja, deh. Ayah sama ibu lebih suka sama Om Ganteng yang waktu itu ke sini bawa mobil,” terang Renal dengan polosnya.
“Om Ganteng?” lirih Juno.
Juno segera menerka bahwa yang dimaksud Renal adalah Mario. Namun, saat itu Juno segera bijak mengambil sikap dengan tidak menyikapinya berlebihan di depan Renal yang sejatinya masih anak SD.
“Em, kalau boleh tahu Mbak Anjani ngapain ya di rumah Bibi Meli. Tadi Paman Sam sama ibumu juga ikut kan?” Juno mengambil topik lain.
“Bibi Meli mau dilamar orang, Mas.” Renal berterus terang.
“Ha? Masa sih? Dari mana kamu tahu?” Juno terus bertanya.
__ADS_1
“Mbak Anjani sendiri yang cerita ke Renal. Masih besok kok acaranya. Sekarang Mbak Anjani, ayah dan ibu bantuin aja di sana.” Kembali Renal menjelaskan dengan nada polos anak SD.
Juno tidak meragukan penjelasan Renal. Pasalnya, Juno yakin anak seumuran Renal kecil sekali kemungkinannya untuk berbohong. Juno mengangguk-angguk sembari mencerna penjelasan Renal. Pikirannya saat itu lekas tertuju pada Dika.
“Dek, makasih ya infonya. Mas Juno pulang dulu. Jangan lupa kasihkan ini sama Mbak Anjani. Bilang aja dari Ma.” Juno berpesan, lalu mengacak-acak pelan rambut Renal.
“Insya Allah nanti Renal berikan,” jawab Renal sambil menerima bungkusan dari Juno.
Juno pamit pulang. Dia memacu motornya sampai di rumah. Ada Ken yang masih terlihat sibuk mengurusi orderan sepatu dari olshop milik Mario. Meski malam minggu, Ken tetap rajin mengurusi orderan sepatu karena upah yang diberikan Mario lumayan besar.
Melihat Ken yang begitu serius mengurusi orderan sepatu, Juno memutuskan untuk tidak bercerita. Ken meletakkan bungkusan makanan milik Ken, lalu pamit menuju kamarnya.
Juno mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia berpikir sekaligus menimbang apakah akan menghubungi Dika atau tidak. Setelah sekian menit berlalu, pada akhirnya Juno memutuskan untuk menelepon Dika. Juno mengetahui sebuah fakta tentang Dika, meski Dika seringkali ribut dengan Meli, tapi Dika menyimpan sebuah perasaan cinta pada Meli.
“Aku punya satu kabar. Berjanjilah untuk bijak bersikap saat kukatakan kabar ini,” kata Juno pada Dika via telepon.
“Katakan saja, apa.” Dika ingin Juno tidak berbelit-belit.
“Meli akan segera menikah. Besok lamarannya,” jelas Juno.
Tidak ada jawaban dari seberang. Juno menduga Dika pasti terkejut mendengar kabar darinya.
“Hem. Apa?” Dika akhirnya bersuara setelah beberapa detik bungkam.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Juno basa-basi. Juno yakin sekali hati Dika pasti kenapa-kenapa setelah mendapat kabar tentang Meli yang akan segera menikah.
“Insya Allah,” jawab Dika singkat.
“Baiklah. Em, main saja ke rumah Mas Ken kalau kau ingin.” Juno menawari.
“Baik. Terima kasih, Jun.” Suara Dika terdengar lirih di seberang sana.
Juno mengakhiri panggilan teleponnya pada Dika. Juno masih tetap tidak bercerita apa-apa pada Ken. Dia berencana akan memberi tahunya besok.
Tanpa sepengetahuan Juno, Dika galau di kosnya. Ada perih yang dia rasakan meski tiada air mata yang menyertainya. Dika patah hati. Sebisa mungkin Dika menerima fakta tentang Meli yang akan segera menikah, tapi masih gagal. Dika butuh waktu untuk itu.
Berniat menghibur diri, Dika pergi keluar sembari mencari makan malam. Namun, bukan mencari makan malam, motor Dika malah diarahkan menuju rumah Meli. Tanpa mematikan mesin motor dan masih tetap duduk di atas motornya, Dika menoleh ke arah rumah Meli. Senyumnya kecut. Tangannya pun mengepal.
“Mel, rupanya kamu akan menikah,” gumam Dika.
Dika sama sekali tidak punya nyali. Dika sadar bahwa dirinya sama sekali tidak berarti apa-apa di kehidupan Meli. Perlahan kepalan tangan Dika merenggang. Dika mengatur nafas sembari berucap istighfar.
__ADS_1
“Aku harus ikhlash,” ucap Dika lirih.
Motor pun kembali dilajukan meninggalkan rumah Meli.
[Flashback OFF]
Ken menjitak kepala Juno saat dia selesai bercerita. Ken tidak habis pikir bisa-bisanya Juno memberitahukan kabar sepenting itu pada Dika via telepon.
“Aw! Mas Ken kebiasaan banget sih jitak kepalaku!” Juno mengelus-elus kepalanya.
“Lagian nggak mikir dulu apa efek samping yang dirasakan Dika saat tahu hal sepenting ini.” Ken protes atas sikap Juno yang gegabah.
“Ya paling cuma patah hati, Mas. Kemarin itu aku langsung kepikiran Dika, makanya aku telepon dia.” Juno membela diri.
“Kalau Dika berbuat nekat gimana? Atau mungkin melukai dirinya.” Ken malah berpikiran yang tidak-tidak.
Giliran Juno yang menjitak kepala Ken karena negative thinking tentang sikap yang akan diambil Dika.
“Dika itu rasional, Mas. Aku yakin patah hati sedikit tidak akan berpengaruh apa-apa pada kuliahnya. Tahu sendiri kan Dika itu gila belajar.” Juno menjelaskan fakta yang ada pada diri Dika.
“Segila-gilanya seseorang dengan belajar, tetap saja akan merasa patah hati saat cintanya bertepuk sebelah tangan, Jun.” Ken punya pandangannya sendiri.
“Positive thinking aja, Mas. Kita bantu Dika untuk move on. Setuju?” Ide Juno.
Ken mengangguk setuju. Dia masih khawatir dengan Dika. Namun, di sisi lain Ken percaya bahwa Dika akan bijak dalam menyikapi perasaannya yang tidak terbalas.
“Acara lamarannya malam ini?” tanya Ken lagi.
“Iya. Malam ini Meli lamaran.” Juno membenarkan.
“Semoga saja Meli dan calon suaminya segera SAH. Biar Dika punya alasan kuat untuk segera move on dari Meli,” jelas Ken.
Juno meng-aamiin-i. Dia juga berharap Meli dan calon suami segera SAH.
Sementara Ken dan Juno asik membahas tentang Dika, Meli-Azka sedang melangsungkan acara lamaran. Lebih dari itu, pernikahan Meli-Azka akan segera berlangsung dalam jangka waktu singkat, yakni selang waktu seminggu dari acara lamaran.
Bersambung ....
Meli-Azka akan segera menikah. Cari tahu seperti apa sosok Azka, calon suami Meli di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti, ya. Dukung kolaborasi kami. Terima kasih kakak-kakak semua yang sudah vote, like, dan meninggalkan jejak di novel kami. Barakallah 😊
__ADS_1