
Motor Ken melaju dengan kecepatan sedang. Baru saja Ken membeli dua bungkus batagor dan es jeruk, sebelum akhirnya melajukan motornya kembali. Sebuah toko besar yang menjual alat-alat canggih dan segala macam keperluan pertanian menjadi tujuan Ken. Ada Juno di sana. Ada pula ayah Juno, dan beberapa karyawan toko.
"Juno, assalamu'alaikum!" salam sapa Ken.
Juno terkejut, tapi bahagia mengetahui kedatangan Ken.
"Wa'alaikumsalam, Mas Ken. Kok nggak ngasih kabar dulu?" Juno menjitak kepala Ken.
"Masih aja jitak-jitak kepala kau ya. Memangnya aku orang asing jadi harus ngasih kabar dulu kalau mau ke sini, ha?" Ken bersedekap.
"Ya nggak gitu, Mas. Aku kan jadi nggak bisa nyiapin makanan khusus. Hehe. Tapi sepertinya Mas Ken sudah bawa batagor, tuh!" Juno melirik kantong kresek berisi batagor.
Ken paham betul kudapan kesukaan Juno. Dia berniat mengobrol sambil menghabiskan batagor. Namun, ayah Juno lebih dulu menghampiri. Ayah Juno senang dengan kehadiran Ken yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.
"Nak Ken, kapan-kapan menginaplah di rumah Juno. Paman kadang harus bolak-balik ke luar kota karena banyak relasi di sana," terang ayah Juno.
"Insya Allah, lain kali akan menginap." Ken sopan menanggapi.
"Juno. Tolong ambil kue yang di kulkas. Sekarang ya," pinta ayah Juno.
Juno menurut, kemudian meninggalkan Ken.
"Nak Ken, Paman mau minta tolong boleh?" Ayah Juno tiba-tiba berbisik.
"Apa yang bisa saya bantu, Paman?" tanya Ken.
"Sebelum ini paman sudah pernah berusaha menyatukan Juno dan Anjani, tapi memang yang namanya cinta tidak bisa dipaksa. Paman tidak ingin melihat Juno terus-terusan terobsesi untuk memiliki Anjani. Makanya, Paman menyarankan pada Juno agar menjaga jarak untuk membuat Anjani rindu padanya. Ya, meskipun itu hanya akal-akalan paman saja agar Juno perlahan sadar. Jadi, tolong bantu Juno move on dari Anjani, ya?" pinta ayah Juno.
Ken paham maksudnya. Semua yang dikatakan ayah Juno benar adanya. Andai Ken bisa membantu maka akan dia lakukan. Namun, Ken selalu percaya bahwa kekuatan terbesar untuk bisa move on berasal dari diri sendiri.
"Insya Allah, saya akan mencoba sebisanya. Lagipula, Mario-Anjani juga sepertinya akan segera melangsungkan pernikahan." Ken menjelaskan faktanya.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu Juno akan segera punya alasan untuk bisa move on. Tolong bantu dia, ya. Paman hanya percaya padamu," pinta ayah Juno dengan serius.
"Insya Allah," sahut Ken.
Obrolan diam-diam itu harus berakhir karena Juno sudah kembali sambil membawa kue yang dimaksud sang ayah. Juno sama sekali tidak curiga dengan sikap Ken dan ayahnya.
"Bawa kue ini. Makan bersama Nak Ken. Kalian berdua mengobrolah. Ayah tinggal dulu," pamit ayah Juno.
Juno mengajak Ken di salah satu ruangan di bagian belakang toko. Ruangan itu dikhususkan untuk bersantai para karyawan. Ada sofa, televisi, dan kulkas di sana. Ken meletakkan kuenya di atas meja. Begitu pula dengan batagor dan es jeruk yang dibawa Ken.
"Gimana kabar Anjani, Mas? Makin dekat sama Mas Mario, ya?" tanya Juno. Dari sekian banyak pertanyaan, justru Anjanilah yang lebih menarik untuk dibicarakan.
"Em, seperti dugaanmu." Ken menjawab sekenanya.
"Huft. Sudah kuduga. Saran ayah sia-sia," keluh Juno.
Juno mencomot batagor dan memasukkan ke dalam mulutnya. Dikunyahnya beberapa kali, lalu berganti menikmati es jeruk dalam wadah plastik.
"Jun, apa kau tidak berniat move on dari Anjani?" tanya Ken iseng.
"Iya. Aku berniat melakukannya," jawab Juno spontan.
"What?" Ken khawatir salah dengar.
Ken mengenal Juno dengan baik. Sejak pertama kali Ken mengenal Juno, sejak saat itu pula Ken menyadari perasaan Juno pada Anjani yang begitu besar. Bahkan, saat Mario-Anjani dulu hampir saja menikah, Juno tidak terima dan malah melayangkan tinjunya pada Mario karena kesal. Sempat pula Juno mendekat pada Alenna, demi move on dari Anjani. Namun, pada akhirnya perasaan Juno kembali pada Anjani. Perkataan Juno kali ini benar-benar membuat Ken sulit mempercayainya.
__ADS_1
"Kenapa kaget gitu, Mas?" tanya Juno.
"Serius kau mau move on dari Anjani?" Ken masih sulit percaya.
"Iya. Jaga jarak dengan Anjani beberapa minggu ini membuatku sedikit sadar, dan sudah terbiasa. Hehe." Ken mengusap tengkuknya sambil tertawa kecil.
Ken tersenyum simpul. Kekhawatiran ayah Juno sepertinya sudah bisa dikatakan tidak berlaku. Ken dengan lapang akan membantu Juno move on setelah ini.
"Jadi, kau ikhlash kalau Mario-Anjani akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Ken lagi.
"Apa? Mereka mau menikah?" Juno tampak terkejut sekali.
"Ada apa dengan ekspresi itu, Jun? Katanya sudah berniat move on," cibir Ken.
"Ya emang mau move on," sahut Juno.
"Yaudah nggak perlu nanti-nanti. Semakin cepat Mario-Anjani bersatu, semakin cepat pula kamu bisa move on dari Anjani," terang Ken.
Tidak semudah itu. Baik Ken ataupun Juno sama-sama tahu bahwa move on perlu waktu. Dengan fakta yang ada, mau tidak mau, Juno harus segera move on dari perasaannya.
"Huft. Bismillaah. Semoga aku bisa," kata Juno pada akhirnya.
Ken tersenyum lalu menepuk bahu Juno. "Aku yakin kamu bisa. Yakinlah!"
Juno mengangguk. Detik itu juga Juno mulai berusaha mengikhlaskan Anjani untuk Mario.
Hati Ken ikut bersyukur. Niatan Mario untuk menikahi Anjani jadi lebih lapang terbuka. Tidak ada sosok yang membayang. Cinta Rangga telah ditolak Anjani. Juno pun sudah mulai mengikhlashkan Anjani.
"Vina," gumam Ken tiba-tiba.
"Ada apa dengan cewek rese itu, Mas?" tanya Juno.
Juno lanjut mengunyah batagornya, sebelum akhirnya dia mengungkapkan sebuah fakta tentang Vina.
"Santui," kata Juno. "Vina nggak akan berani mendekati Mas Mario lagi. Kemarin lusa aku mergoki Vina sama cowok lain. Bule, tajir melintir deh pokoknya. Sekelas sama Vina," terang Juno dengan santainya.
"Serius?" Ken seolah tak bisa mempercayainya.
"Waktu itu kan aku kepo. Aku samperin deh Vina. Eh, dia sukarela ngaku kalau si bule tajir itu tunangannya. Vina udah dijodohin sama daddynya," terang Juno lagi.
"Pantes akhir-akhir ini Vina jarang nongol. Biasanya tuh anak deketin Mario terus. Syukurlah kalau begitu. Jalan Mario-Anjani untuk bersatu jadi lebih lapang." Ken berniat mengabarkannya pada Mario.
Juno hanya angkat bahu. Dia asik menikmati batagornya.
"Jun, gimana kalau kamu balikan sama Alenna?" ide Ken.
"Malu, Mas. Alenna sudah mapan. Sudah jadi wanita karir yang sukses. Lah, aku? Ntar aja deh kalau aku udah sukses, langsung aku ajakin nikah!" jelas Juno.
Ken makin dibuat geleng-geleng kepala. Juno yang di hadapannya saat ini bukanlah Juno yang dulu dikenal Ken. Sosok Juno telah lebih dewasa. Lebih bisa memikirkan banyak hal dengan logika.
"Ntar kalau Mario-Anjani mau nikah, kabari aku ya, Mas. Aku sendiri yang akan mendekorasi ruangan untuk ijab qobulnya," pinta Juno.
"Baiklah. Aku benar-benar suka dengan Juno yang seperti ini." Ken menepuk-nepuk bahu Juno.
"Jangan sampai naksir aku loh, Mas. Aku masih lelaki normal," celetuk Juno.
Satu jitakan kembali mendarat. Tawa renyah, menyusul kemudian.
__ADS_1
***
"Besok aku jemput," kata Mario pada Anjani.
"Memangnya siapa yang akan kita temui?" tanya Anjani.
"Lihat saja besok. Sekarang istirahatlah," saran Mario. Senyum manis disuguhkan untuk Anjani.
"Jangan lupa obati lukamu." Anjani mengingatkan.
"Terima kasih atas perhatianmu Tuan Putri. Nanti malam tidurlah dengan nyenyak. Mimpikan aku," kata Mario dengan pedenya.
Anjani langsung balik kanan. Dia tak ingin terjebak dalam gombalan Mario.
"Assalamu'alaikum," salam Anjani, diikuti langkah memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario lantas kembali mengemudikan mobilnya.
Mario baru saja mengantarkan Anjani beserta motornya. Mario meninggalkan Rangga di ruko bersama Alenna yang baru pulang dari kantornya.
"Mas Rangga makan buahnya dulu, ya. Sudah aku kupas." Alenna menyodorkan semangkuk kupasan buah apel kepada Rangga. Alenna sukarela merawat Rangga, padahal Mario belum memintanya.
"Terima kasih adiknya Bos," kata Rangga.
"Panggil saja aku Alenna. Aku masih muda, kok." Alenna menyuapi Rangga.
Rangga tampak ragu-ragu. Namun, Rangga mengizinkan Alenna menyuapinya buah apel.
Alenna tersenyum. Wajah kebuleannya begitu khas. Rangga sedikit terpana karenanya.
"Em, Alenna. Setahuku di ruko ini yang sudah menikah itu Meli, sama lelaki asal Jogja. Sepertinya Mario pun akan segera menikahi Anjani. Selain mereka, siapa lagi yang sudah menikah?" tanya Rangga. Sempat Rangga merutuki dirinya karena dari sekian banyak topik pertanyaan justru yang diambil adalah topik seputar pernikahan.
"Sudah itu aja. Mereka sama-sama masih kuliah. Tapi jago mengatur waktu antara jadwal kuliah, bisnis, dan cinta." Sebenarnya pujian itu ditujukan Alenna untuk Mario, kakaknya.
"Kalau kamu apa sudah menikah?" tanya Rangga asal.
Alenna terkekeh. Dia justru teringat pada kandasnya kisah cintanya bersama Juno dulu.
"Aku belum menikah, Mas." Alenna masih tertawa ringan.
Rangga hanya manggut-manggut. Sedikit banyak, Rangga mulai bisa mengenal karakter adik bosnya.
"Alenna, aku mau istirahat. Kamu pulanglah. Aku benar-benar tidak apa-apa," saran Rangga.
"Baiklah. Besok pagi aku ke sini lagi. Jangan dibuka dulu rukonya. Biarkan semuanya pulih lebih dulu. Lusa, barulah boleh kembali membuka ruko seperti semula." Alenna bertutur kata dengan lembut.
Rangga mengangguk, lantas tersenyum. Dia sungguh ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa nyilu. Terutama nyilu di bagian wajahnya yang bonyok.
Alenna berjalan menuju mobil. Dia tidak ingin mengganggu Rangga. Dalam hati, Alenna tersenyum kecut saat mengingat masa lalunya dengan Juno.
"Mending aku mengharapkan cintanya Mas Rangga, daripada Juno yang jelas-jelas masih memiliki perasaan pada Anjani. Huft," gumam Alenna.
Alenna pulang. Perlahan mobilnya melaju menjauhi ruko. Meninggalkan Rangga yang sudah terlelap dalam mimpinya.
"Alenna," desis Rangga, mengigau menyebut nama Alenna.
Bersambung ....
__ADS_1
Semoga rindu reader pada CS1 bisa terobati. Maaf beberapa hari kemarin tidak bisa update. Semoga suka dengan ceritanya. Yuk kepoin Meli dan Azka yang saat ini ada di Jogja. Kunjungi novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami berdua, ya. See You. Barakallah 😊