CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Mengobati Luka Masa Lalu


__ADS_3

Minggu pagi, Anjani telah bersiap dengan gamis navy dan jilbab senada. Suasana hati Anjani begitu cerah. Sedari tadi senyumnya merekah. Sudah tidak sabar dirinya bertemu sosok yang dimaksud Mario.


"Sebenarnya Mario mau ngajak aku ketemu siapa, sih?" Anjani kembali bertanya-tanya.


"Anjani, ada Nak Mario di depan!" seru Paman Sam.


"Iya, Paman!" sahut Anjani yang langsung meraih sling bag dan keluar kamar.


Usai sedikit mengobrol dengan Paman Sam, Mario izin pergi bersama Anjani. Dengan mudahnya Paman Sam mengizinkan Mario. Lama pun tak apa katanya.


Di dalam mobil, Mario bisa merasakan kegembiraan hati Anjani. Mario ikut tersenyum karenanya.


"Sebegitu senangnyakah kamu bertemu denganku, Anjani?" canda Mario.


"Iya," jawab Anjani spontan dengan senyum manis yang disuguhkan.


Sengaja Anjani mengiyakan. Sejujurnya Anjani sudah hafal dengan kepedean Mario. Anjani sadar bahwa Mario akan terus menggodanya, meluncurkan gombalannya, bahkan membuatnya bungkam dengan kata-kata manisnya.


"Meli masih di Jogja, ya?" tanya Mario.


"Iya, ketemu Mas Azka. Eyang Probo juga masih sakit. Semoga eyang segera membaik. Meli sungguh ingin mengenal eyangnya Azka dengan lebih dekat," terang Anjani.


Mario mengangguk, lantas mendoakan kesembuhan Eyang Probo.


"Kamu tidak ingin liburan ke Jogja?" tanya Mario.


"Ingin, sih. Mungkin baru bisa pas liburan semester. Hihi. Sekalian refreshing." Anjani masih ingat betul suasana Jogja saat liburan semester lalu bersama Meli.


"Baiklah, kita bulan madu di Jogja saja," celetuk Mario.


"Eeeeh?" Anjani spontan menoleh.


Anjani terheran. Beberapa hari terakhir ini kata-kata Mario sering mengejutkan. Sering romantis, bahkan kali ini sudah berani membahas rencana bulan madu ke Jogja.


Tak ingin berlarut dan terjebak dalam buaian kata-kata Mario, Anjani memilih diam. Dia menikmati pemandangan di luar kaca jendela mobil.


"Anjani, sampai detik ini kamu masih bersedia menikah denganku, kan?" tanya Mario tiba-tiba. Dia khawatir setelah bertemu sang ayah Anjani justru menghindari Mario.


Anjani menoleh, dan menatap Mario dengan heran.


"Kapan aku bilang bersedia menikah denganmu?" kata Anjani.


"Hm? Jadi ciuman dan kata-kata cintamu waktu itu apa artinya?" Mario sengaja mengungkit.


Muka Anjani bersemu. Dia masih sangat malu ketika diingatkan dengan sikap gilanya saat menghentikan pukulan Mario yang membabi buta pada Rangga.


"Jangan diungkit lagi. Iya, aku bersedia," kata Anjani sambil membuang muka.


Mario sungguh gemas dengan tingkah Anjani. Dia terus menyetir mobil sambil tersenyum.


"Anjani, aku sungguh berharap kita bisa melangsungkan pernikahan setelah kamu bertemu beliau," terang Mario.


"Beliau? Sebenarnya siapa sih yang akan kita temui?" Rasa penasaran Anjani kembali.


Mario tidak menjawabnya. Dia tersenyum sambil memperhatikan ke arah seberang jalan. Mobilnya perlahan dihentikan tepat di seberang warung nasi lauk bakaran.


"Coba lihat!" perintah Mario, menunjuk ke arah warung.


Anjani memperhatikan dengan seksama. Awalnya sosok yang ditunjuk Mario tidak terlihat jelas karena tertutup oleh segerombolan pembeli.


"Ma!" seru Anjani.


Anjani girang begitu melihat sang ibu di warung itu. Akan tetapi, detik berikutnya mimik wajah Anjani berubah. Tak lagi ada senyum yang menghiasi wajahnya. Mendadak saja raut wajah Anjani dipenuhi kebencian begitu melihat sosok sang ayah.


"Ayah," desis Anjani, tak suka dengan apa yang dilihatnya.


Mario menyaksikan setiap perubahan mimik wajah Anjani. Mario bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Anjani.


"Mario, coba jelaskan apa maksudmu?" pinta Anjani.


"Ma sudah bisa memaafkan kesalahan ayahmu. Mereka berdua kembali saling menjaga dan menyayangi. Anjani, ayahmu sangat ingin meminta maaf padamu." Mario menjelaskan dengan hati-hati.


Anjani menatap Mario dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Kebencian masih bertahta di wajah ayunya.


"Ayo pergi dari sini!" Anjani serius.


"Anjani, kumohon kamu ..."


"Sekarang, Mario! Atau turunkan aku di sini. Biar aku pulang naik ojek saja," ancam Anjani.


Mario mengalah. Dia melajukan mobilnya menjauh dari warung. Sepanjang jalan tidak ada obrolan. Anjani terus menatap ke arah luar. Hingga kemudian mobil Mario dihentikan di sebuah jalanan kompleks yang begitu sepi.


"Kenapa berhenti di sini, Mario! Aku ingin pulang!" seru Anjani dengan serius.


Mario sempurna menghentikan mobilnya. Dia duduk bersandar di kursinya. Dia membiarkan Anjani berceloteh sendiri, tanpa berniat menghiraukan.


"Oke. Aku turun di sini!" seru Anjani.

__ADS_1


Niatan untuk turun dari mobil seketika pupus. Pintu mobil terkunci. Mario sama sekali tidak berniat untuk membukanya.


"Mario. Apa sih maumu?" Nada bicara Anjani masih sama seperti sebelumnya.


Ditanya seperti itu membuat Mario seketika menoleh.


"Aku mau kamu tenang, Anjani." Mario bertutur lembut.


Anjani membuang muka. Sedari melihat wajah sang ayah hatinya sudah dipenuhi emosi. Kembali Anjani berusaha membuka pintu mobil yang masih saja tak mau terbuka.


"Buka pintunya, Mario!" pinta Anjani sambil terus menghentak-hentakkan gagang pintu mobil.


Tak terdengar respon dari Mario. Anjani terus-terusan berusaha membuka pintu mobil yang terkunci rapat dengan tangan kosongnya.


"Buka!" seru Anjani. "Kumohon buka pintu ini, Mario!" teriak Anjani.


Mario tidak mengindahkan teriakan Anjani. Sementara Anjani terus mencoba membuka pintu mobil hingga terlihat begitu pasrah. Tiba-tiba saja air mata Anjani mengalir. Isak tangis terdengar kemudian.


"Anjani, kamu menangis?" Mario panik.


"Buka pintunya," lirih Anjani di sela tangisnya.


"Anjani tenangkan dirimu." Mario mencoba menenangkan Anjani.


Isak tangis Anjani semakin kentara. Tangan Anjani juga tak lagi mencoba membuka pintu mobil. Kedua tangan Anjani sibuk menutupi wajahnya. Menyembunyikan kekacauan batin yang tercurah dalam air mata.


Ingin sekali Mario menyandarkan Anjani di bahunya. Membiarkan Anjani meluapkan kesedihannya, meluapkan rasa marah dan kebenciannya. Namun, itu semua hanya sekedar rasa ingin. Mario tidak bisa melakukannya.


Lima belas menit berlalu. Mario masih setia menunggu Anjani hingga dia benar-benar tenang. Usai mencurahkan semua sesak dalam isak tangisnya, Anjani mulai bisa mengontrol dirinya.


"Tisu?" Mario menyodorkan sekotak tisu pada Anjani.


Tanpa berani menatap wajah Mario, Anjani mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap bekas air matanya.


"Minumlah." Sebotol air mineral dihadapkan di depan wajah Anjani.


Masih tidak berani melihat wajah Mario, Anjani mengambil botol minuman itu dan langsung meminumnya hingga tandas setengah bagiannya.


Sepuluh menit lagi berlalu. Tidak ada obrolan. Anjani terus-terusan melihat ke arah luar jendela. Mario masih saja setia menunggu Anjani lebih tenang.


"Bolehkah aku mendapat kesempatan untuk menjadi tempatmu berbagi?" tanya Mario hati-hati.


Tak ada jawaban dari Anjani. Mario pun tidak memaksanya. Hingga kemudian, Anjani mulai terbuka.


"Aku benci ayah," kata Anjani.


"Ayah mencampakkan Ma. Membuat Ma menangis. Ayah bahkan terang-terangan memilih wanita lain dibanding Ma. Aku saksinya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat itu, Mario." Anjani spontan menatap Mario dan mencurahkan semua rasa sakit hatinya.


"Lalu, apa yang kamu dapat setelah berhasil membencinya?" tanya Mario.


Anjani membuang muka, kembali melihat keluar jendela. Dia paham betul, konsekuensi dari rasa bencinya hanyalah rasa sakit hati.


"Anjani, aku juga memiliki masa lalu yang hampir serupa denganmu. Aku yakin kamu tahu betul kisahku. Bahkan pernikahan kita gagal karena kasus perselingkuhan ayahku saat itu." Mario memulai kata-katanya.


Anjani tertunduk. Jika dipikir lagi, kisahnya memang hampir serupa dengan Mario. Hanya saja, Mario memilih untuk memaafkan sang ayah.


"Kenapa kamu memaafkan ayahmu?" tanya Anjani dengan masih tertunduk.


Senyum Mario mengembang. Anjani sudah mulai mendengarkan dirinya.


"Karena dia ayahku. Yang statusnya masih akan tetap sama sampai kapanpun. Dia tetaplah ayahku entah seberapa besar kesalahan yang dia lakukan," terang Mario.


Anjani mencerna kata-kata Mario dengan kepala dingin.


"Ditambah lagi, aku membutuhkan sosoknya. Kasih sayangnya," imbuh Mario.


Mendengar kata-kata Mario, membuat Anjani kembali terisak. Sejujurnya Anjani juga membutuhkan sosok sang ayah. Ingin kembali merasakan kasih sayangnya. Ingin kembali merasakan keutuhan sebuah keluarga.


"Obati luka masa lalumu. Maafkan. Ikhlashkan," tutur lembut Mario.


Kata-kata Mario berputar di otaknya. Memaksa untuk menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Anjani tahu betul apa yang diinginkannya. Dia butuh sosok ayah di dalam kehidupannya.


"Maafkan aku ayah," lirih Anjani di sela isak tangisnya.


Titik terang. Mario bisa merasakannya. Anjani sudah bisa menerima kehadiran sang ayah.


"Ingin kembali ke tempat tadi?" tanya Mario.


Anjani mengangguk mantap. Anggukan itu disambut baik oleh Mario.


"Hapus dulu air matamu," saran Mario dengan lembut.


Malu-malu Anjani meraih kotak tisu di depan Mario. Diusapnya perlahan, menghapus jejak air mata yang tadi sempat menggenang.


Mobil kembali dilajukan. Perasaan Mario kini lebih ringan. Tak sampai sepuluh menit, mobilnya sudah terparkir rapi di dekat warung nasi lauk bakaran.


Anjani seketika menghampiri Ma yang ada di sana. Memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Anjani, Sayang. Kau pasti kaget ya?" tanya Ma sambil tetap memeluk Anjani.


Anjani melepas pelukannya. Dia tersenyum manis pada Ma. Lantas pandangan matanya beralih melihat sang ayah. Perlahan Anjani mendekat. Senyum disuguhkan dengan tulus.


"Maafkan Anjani," tutur Anjani lembut sambil mencium punggung tangan sang ayah.


Air mata Joko sudah tak terbendung. Hari yang dinantikan tiba. Putrinya sudah memaafkannya. Keluarganya sudah kembali utuh seperti sedia kala.


"Anjani, maafkan ayah ya, Nak." Joko mengucap maafnya.


"Anjani juga minta maaf. Tidak seharusnya Anjani membenci ayah," tutur lembut Anjani.


"Alhamdulillaah. Sungguh senang hati Ma. Sini-sini kalian Ma peluk!" Ma memeluk Anjani dan suaminya.


Pelanggan warung banyak yang terharu menyaksikannya. Begitu pula dengan Mario. Misinya sudah terlaksana. Keluarga Anjani sudah kembali bersatu. Yang terpenting dari semua itu, Anjani sudah mengobati luka masa lalunya. Memaafkan. Mengikhlashkan.


"Nak Mario, sini!" panggil Joko usai adegan berpelukan dengan keluarganya.


Mario mendekat. Dia langsung mendapat satu pelukan dari Joko. Berulang kali Joko mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga untuk Mario.


"Ayah mertua, setelah ini bolehkah saya menikahi Anjani?" tanya Mario tiba-tiba.


"Tentu saja boleh. Anjani, apa kamu bersedia menikah dengan Nak Mario?" tanya Joko.


"Sudah pasti maulah," celetuk Ma.


"Sayang. Kita dengarkan dulu jawaban Anjani," saran Joko.


Sebenarnya Anjani malu. Mario sungguh tidak tahu lokasi. Bisa-bisanya dia meminta persetujuan pada ayahnya di warung, saat banyak pelanggan menonton mereka.


Tidak romantis, batin Anjani.


"Anjani?" panggil Joko yang mendapati Anjani dalam diamnya.


"Em. Insya Allah," jawab Anjani disusul anggukan.


Joko dan Ma tentu saja bahagia mendengar kesediaan Anjani. Namun, Mario seolah tidak puas dengan jawaban Anjani.


Anjani izin pada orangtuanya untuk menengok kondisi Rangga di ruko. Anjani kembali satu mobil dengan Mario.


"Anjani, kenapa diam saja?" tanya Mario setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan.


"Kamu nggak romantis," protes Anjani.


"Oh. Jadi karena itu jawabanmu tadi setengah hati? Kamu ingin mendapat perlakuan romantis dariku?"


Mario tiba-tiba menepikan mobilnya. Badannya sedikit dicondongkan, mendekat ke wajah Anjani. Mario menatap lekat bola mata Anjani.


Deg-deg-deg!


Ditatap intens seperti itu membuat jantung Anjani berdebar-debar. Mendadak hawa dalam mobil begitu panas. Anjani mengibas-ngibaskan tangannya.


Sadar bahwa Anjani salah tingkah, Mario berhenti menatap Anjani. Tawa kecil menyusul kemudian. Mario sengaja menggoda Anjani. Mario pun sudah bisa menebak reaksi yang akan ditunjukkan Anjani.


"Huft." Anjani bisa kembali bernafas lega setelah Mario berhenti menatapnya.


"Anjani," panggil Mario.


"Em, iya?" Anjani menoleh.


"Sabtu ini orangtuaku akan datang melamarmu. Jangan menolakku, ya!" Senyum menghias di wajah tampan Mario.


"Kalau aku menolak?" tanya Anjani. Sengaja.


"Kamu mungkin bisa menolak cinta Rangga. Tapi, tidak dengan cintaku. Aku sangat yakin kamu tidak akan pernah bisa menolakku," kata Mario dengan pedenya.


Anjani tertawa kecil. Dia sudah tidak ingin meladeni kata-kata Mario yang pasti akan berujung pada gombalan.


"Terserah Tuan Muda saja, deh. Yuk segera ke tempat Mas Rangga. Ohya, mampir beli bubur dulu di depan. Mas Rangga suka sekali bubur ayam," terang Anjani antusias.


"Anjani, bisa tidak kamu mengalihkan semua perhatian untuk Rangga itu padaku?" pinta Mario.


"Tidak bisa. Karena ulahmu Mas Rangga jadi bonyok seperti itu. Sebentar lagi suapi dia!" suruh Anjani.


"A-aku menyuapi Rangga, bubur?" Mario sulit mempercayai permintaan Anjani.


"Kalau tidak mau, biar aku yang menyuapi Mas Rangga," ancam Anjani.


"Jangan! Biar aku yang menyuapinya." Mario mengalah.


Dalam hati Anjani tertawa penuh kemenangan. Sengaja Anjani menjahili Mario. Walau bagaimanapun, Anjani ingin melihat Mario dan Rangga dekat.


***


Adakah yang sudah tidak sabar Mario-Anjani menikah? 😁 Sembari menunggu lanjutan ceritanya, yuk ikuti kisah Meli yang saat ini sedang bersama Azka, sang suami tercinta di Jogja. Kunjungi novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya 😊 Barakallah.


__ADS_1


__ADS_2