
Rasa gelisah awalnya melanda, lalu teredam lantaran kata-kata pelipur lara. Keyakinan diri bahwa semua akan baik-baik saja, begitu ajaib hingga menjadi penenang hati seketika. Namun, keajaiban penenang hati itu pun seketika sirna, karena sebuah janji temu yang akan segera tiba.
Was-was, gelisah, gundah, kata itulah yang menggambarkan suasana hati Anjani sore itu. Baru saja Anjani mendapat pesan singkat dari Mario, menjelaskan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan bersama sekretaris ayahnya menuju rumah Paman Sam. Seketika pikiran dan hati Anjani diliputi banyak tanya, menerka-nerka apa yang sebenarnya telah terjadi.
Lagi-lagi Ma menangkap rasa gelisah yang melanda hati putrinya. Kali ini tak hanya Ma, Paman Sam pun juga menangkap raut wajah gundah keponakannya itu. Ma kembali menenangkan hati putrinya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sementara Paman Sam hanya duduk diam di sofa, juga sesekali ikut mengangguk saat ada pernyataan dari Ma yang menurutnya benar.
"Tenanglah kau! Mau kubuatkan kopi tak?" tanya Paman Sam.
"Tadi sudah minum kopi gitu, Paman. Minum segelas lagi nanti Anjani tambah manis gimana?" kata Anjani sembari mencoba menanggapi Paman Sam dengan baik.
"Lah, kenapa pula kopi bikin tambah manis? Baru tahu pula aku," seru Paman Sam.
"Buat minumannya kan pakai gula, Paman. Ya bikin tambah manis," sahut Anjani kemudian terkekeh pelan.
"Haha. Haaah, rupanya sedang bercanda kau, ya!" seru Paman Sam.
"Nah, lanjutkan sudah. Ceria seperti ini lebih baik daripada gelisah macam tadi," kata Ma.
Sejenak, raut gelisah itu terganti. Orang terdekat seperti halnya keluarga, kehadirannya memang memberi arti yang berbeda. Hanya diam, larut dalam pikiran, senyatanya memang mampu menggerogoti hati, membuatnya mudah rapuh. Namun, dengan kehadiran orang-orang yang begitu berarti, niscaya membuat penawar tersendiri.
Tiga puluh menit berlalu, terlihatlah sebuah mobil mewah bercat hitam berhenti di halaman rumah Paman Sam. Sudah bisa ditebak siapa yang ada di dalam mobil hitam mewah itu, pastilah Mario dan sekretaris ayahnya, yakni Paman Li.
Mendadak hati Anjani berdebar. Bukan debaran cinta seperti yang biasanya dirasakan saat sosok Mario muncul dengan parasnya yang tampan memesona. Debaran yang dirasakan Anjani saat itu lebih tepat mengarah pada dengung gelisah, hingga paras tampan nan memesona wajah Mario tak mampu memberi penawar bagi hatinya.
"Mohon maaf sebelumnya, kedatangan kami ke sini mungkin membawa kabar kurang baik. Kedatangan kami ...." Kata-kata Paman Li disela oleh Mario.
"Maaf, Paman. Biar aku yang berbicara," kata Mario bernada serius.
Paman Sam dan Ma yang menangkap keseriusan di wajah Mario dan sekretaris itu pun sedikit terusik, hingga akhirnya pun bertanya-tanya seperti yang sebelumnya dilakukan Anjani.
"Nak Mario, silakan jelaskan saja maksud Nak Mario. Kami di sini pasti akan berusaha memahami," jelas Ma.
Mario mengangguk, lalu menatap bola mata Anjani yang sedari tadi menyorotkan kekhawatiran. Ya, dapat terlihat jelas di matanya. Anjani memang khawatir, gelisah, gundah, dan entah kata apalagi yang bisa mendefinisikan kondisinya saat itu.
Meski samar, Anjani terlihat mengangguk. Tanda bahwa dia pun ingin Mario segera menjelaskan maksudnya.
"Paman Sam, Ma, dan ... Anjani, mohon maaf, pernikahan tidak bisa dilangsungkan Sabtu ini," kata Mario.
"Apa?" seru Paman Sam dan langsung berdiri dari tempatnya duduknya.
Anjani dan Ma terkejut dengan reaksi Paman Sam. Terlihat pula keterkejutan pada wajah Mario dan Paman Li.
"Maksud kau pernikahannya dibatalkan, ha? Mana bisa begitu! Seenaknya sendiri saja! Banyak teman yang sudah tahu, termasuk tetangga. Apa yang harus dikatakan kalau tiba-tiba saja pernikahannya dibatalkan?" seru Paman Sam melanjutkan.
Ma segera berinisiatif menenangkan adiknya itu. "Sam, duduk dulu kau! Tenang! Dengarkan dulu alasan dari Nak Mario!" pinta Ma pada Paman Sam.
Anjani meremat ujung bajunya. Dadanya sesak mendapati kondisi saat itu. Anjani kembali melihat ke arah Mario. Tatapan itu pun bersambut. Mario pun melihat ke arah Anjani. Akan tetapi, dua pasang bola mata yang saat itu bertemu tatap, sama-sama terlihat khawatir.
Paman Sam bisa meredam emosinya setelah berhasil dibujuk oleh Ma. Kini, Paman Li yang mengambil alih penjelasan.
Dengan penuh kebijaksanaan dan tutur kata yang tidak diragukan lagi, Paman Li menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Tentang pemberitaan media yang tengah menyorot John, dan bahkan mulai merembet ke pemberitaan rencana pernikahan putranya, yaitu Mario. Paman Li juga tak sungkan menyebutkan alasan utama hingga pernikahan itu sebaiknya tidak dilaksanakan Sabtu ini.
Setelah penjelasan yang didengarkan, Paman Sam pun manggut-manggut. Paman Sam mulai bisa menerima alasan tersebut. Ma juga terlihat demikian, memahami kondisi yang sedang terjadi saat itu.
"Benar pula, akan sangat tak nyaman pesta pernikahannya jika banyak awak media yang meliput gosip," ujar Paman Sam.
"Benar sekali. Jadi, pernikahannya bukan dibatalkan, melainkan ditunda." Paman Li kembali menegaskan.
"Baiklah. Urusan teman dan tetangga yang sudah terlanjur tahu, biar aku nanti yang menghadapi. Eh, itu sih pendapatku, ya. Kakak, bagaimana menurut kau?" tanya Paman Sam pada Ma.
Ma lebih dulu melihat ke arah Anjani sebelum bertutur kata. Ma bisa merasakan kekecewaan di hati putrinya itu.
"Maaf, kira-kira sampai berapa lama hingga pernikahannya bisa dilangsungkan?" tanya Ma.
"Tergantung kondisi. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, atau mungkin terhitung tahun." Paman Li menyebutkan kemungkinannya.
__ADS_1
"Hah? Lama kali!" seru Paman Sam.
"Ya, itu terdengar lama sekali. Begini saja, Ma serahkan semuanya pada Anjani. Sam, begitu ya?" Ma meminta pendapat adiknya.
"Ya-ya, aku apa kata Anjani saja." Paman Sam sependapat dengan kakaknya.
Mario memperhatikan Anjani yang kini melihat ke arah lantai, tidak lagi melihat sosok tampan Mario. Anjani terdiam, belum mengeluarkan kata-katanya.
"Anjani, bagaimana menurutmu?" tanya Mario.
Tatapan mata Anjani masih saja tertuju pada lantai ruang tamu itu. Kedip matanya jarang, menyiratkan ada tatapan mata tanpa kedip di tengah batin dan pikirannya yang sedang bergejolak.
Satu menit berlalu, Anjani masih saja belum menjawab pertanyaan Mario. Pemandangan lantai ruang tamu masih saja ditatapnya.
Ma dan Paman Sam masih sabar menunggu Anjani berpendapat. Begitu pula dengan Paman Li yang masih sabar menanti. Beda lagi dengan Mario, yang kembali melontarkan kalimat tanya pada Anjani.
"Anjani, katakanlah. Bagimana menurutmu?" tanya Mario, sedikit tak sabaran.
Anjani menghembuskan nafas dalam. Setelahnya Anjani melihat ke arah Mario. Beberapa detik Anjani melihat Mario tanpa berkata-kata. Sesaat kemudian, Anjani pun membuat keputusan.
"Menunggu itu sesuatu yang melelahkan, apalagi menunggu ketidakpastian. Mario, maaf. Hubungan kita berakhir sampai di sini!" jelas Anjani dengan tegas.
"Ha?" kata Ma, Paman Sam, dan Paman Li berbarengan, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Anjani, tidak bisakah kau pikirkan ulang?" tanya Mario dengan raut penuh harap.
Anjani tersenyum pada Mario. Senyuman yang sedikit dipaksakan. Sesaat kemudian, Anjani menggeleng tegas. Kode cukup jelas, menegaskan bahwa keputusannya tak lagi bisa ditawar.
Kini giliran Mario yang menghembuskan nafas dalam. Ketegasan Anjani saat itu dapat dipahami dengan baik, meski sangat sulit diterima. Mario pun akhirnya manggut-manggut.
"Baiklah, kalau memang itu keputusanmu." Mario pun menerima keputusan Anjani. Mencoba tersenyum pula, mengimbangi senyum Anjani yang dipaksakan.
"Tuan Mario ...." Paman Li hendak mencoba berpendapat, tapi lekas dicegah oleh Mario dengan isyarat tangan.
Ma terlihat mengelus-elus pundak Anjani, sambil menanyakan lagi tentang kebenaran keputusan yang telah dibuatnya. Namun, Anjani tetap kukuh dengan keputusan itu. Ma tidak bisa memaksakan kehendak putrinya.
"Jodoh itu misteri. Andai kita memang berjodoh, yakinlah suatu saat nanti akan ada jalan yang bisa menyatukan hubungan kita lagi," jelas Anjani dengan senyum yang lebih tulus.
Mario menangkap penuturan tulus Anjani. Hatinya tersentuh, membuatnya ikut tersenyum dengan senyuman yang lebih baik dari sebelumnya.
"Baiklah. Jadi ... mulai sekarang kita ...." Kata-kata Mario terhenti.
"Berteman. Mulai sekarang kita adalah teman. Senior dan junior," terang Anjani sambil berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak Mario bersalaman.
Mario tersenyum lalu ikut berdiri. Segera pula Mario menyambut uluran tangan Anjani yang mengajaknya bersalaman.
"Kita berteman," kata Mario.
***
Mobil mewah bercat hitam sudah tak ada lagi di halaman rumah Paman Sam. Mario dan Paman Li telah pulang. Mereka dengan lapang menerima keputusan yang dibuat Anjani.
Ma memeluk putrinya yang saat itu terlihat tegar setelah mengambil sebuah keputusan besar. Paman Sam hanya melihat itu, lalu berpesan agar Anjani tetap sabar.
"Jangan pernah kau sesali sebuah keputusan yang sudah diambil. Kau tatap saja jalan di depan. Tengok ke belakang sesekali untuk pengingat. Sabar, Nak." Ma memberi nasihat.
"Iya, Ma. Terima kasih sudah mendukung keputusanku," kata Anjani.
"Hm. Melow-nya sudahan, ya. Paman kau ini tak bisa diajak baper-baperan macam anak muda," ujar Paman Sam berniat mencairkan suasana.
"Hahaa, sejak kapan bahasa kau macam itu pula, Sam?" tanya Ma seraya tertawa.
"Ah, kakak tak asik!" protes Paman Sam.
Rupanya dengan canda kecil semacam itu sudah mampu membuat Anjani terhibur. Anjani terkekeh pelan.
__ADS_1
"Terima kasih semuanya. Eit, Ada yang mau nasi goreng petai? Mau kumasakin, nih!" ujar Anjani menawarkan.
"Ya pasti maulah. Apalagi paman kau itu. Sudah, buatkan saja untuk tiga porsi!" pinta Ma.
"Siap, laksanakan!" seru Anjani seraya berlarian kecil menuju dapur.
Ma dan Paman Sam memperhatikan sikap Anjani. Ma tahu betul apa yang saat itu dirasakan oleh putrinya. Pastilah ada rasa kecewa melanda hatinya. Hanya saja putrinya seolah enggan menunjukkannya.
"Anjani akan baik-baik saja, Sam." Ma berkata pada Paman Sam yang pada akhirnya terharu juga.
"Iya, Kak. Aku percaya itu," kata Paman Sam membenarkan.
***
Di dapur.
Anjani menyiapkan semua bahan-bahan dan bumbu untuk membuat nasi goreng petai. Anjani mengupas dan memotong kecil-kecil petai yang sempat dibawa Ma dari desa. Anjani pun mengupas bawang yang hendak dijadikan bumbu nasi goreng. Sembari bersiap memasak, pikiran Anjani pun melambung jauh. Mengingat semua kenangan indah bersama Mario.
Batin Anjani menggemakan cerita.
Pintu masuk toko bunga Kak Lisa menjadi saksi pertemuan awal kita. Mawar putih permintaan maaf yang kamu berikan padaku sesaat setelah aku kejedot pintu, begitu saja kuterima tanpa alasan.
Waktu terus berjalan, hingga kita bertemu lagi di pasar. Kembali, setangkai mawar putih kamu berikan padaku. Mawar putih permintaan maaf atas kesalahan temanmu. Dari situ aku sempat bertanya, apa memang kamu sebaik itu?
Detik demi detik berlalu. Hari-hari baru pun tersuguh. Kembali kulihat kebaikan hatimu. Menolong gadis kecil yang hidupnya hanya bersama sang ibu. Lagi-lagi mawar putih menjadi saksi. Aku yang saat itu freelance di toko bunga, mengantarkan seratus satu mawar putih pesananmu. Saat itulah aku yakin, kau memang sosok yang berbeda.
Tiba saatnya masa awal kuliah. Saat OSPEK kamu membantuku tanpa kuminta. Tahukah kamu, pesonamu saat itu begitu terpancar. Sedikit mengusik hatiku. Tapi ... pancaran pesonamu begitu kuat, hingga teman-teman seangkatanku begitu mengidolakan dirimu. Aku pun yang berparas dan berpenampilan biasa ini jelas tak berarti apa-apa bagimu.
Waktu demi waktu pun berlalu. Tanpa pernah kutandai, entah mulai kapan kita berdua bisa saling mengenal dan begitu dekat. Saat itu aku masih menganggapmu sebagai seorang sales sepatu.
Kedekatan itu tanpa sadar telah melewati batasku. Batas pertemanan. Aku yang saat itu tahu jati dirimu, bahwa kamu bukanlah seorang sales sepatu, lantas kecewa dengan kebohongan statusmu selama ini. Jika disadari, harusnya aku tak pantas marah, karena aku bukanlah siapa-siapamu.
Saat kecewaku teredam, kita kembali dekat dan semakin dekat. Aku tak lagi canggung terhadapmu. Justru rasa nyamanlah yang menelisik hatiku saat itu.
Entah sejak kapan pertama kali rasa itu muncul. Mendobrak pintu hatiku, menerobos masuk, dan memenuhi celah-celah yang ada dengan benih merah jambu. Aku jatuh hati padamu, hingga cemburu sempat bertahta di hatiku.
Kecemburuan di hatiku lekas kamu beri penawar dengan ungkapan cintamu. Air mancur menari di taman alun-alun kota menjadi saksi perasaan cinta kita berdua.
Keseriusanmu terbukti. Kamu mengajakku menikah dan aku bersedia. Hari-hari manis selama masa persiapan pernikahan begitu kunikmati, membekas di hati hingga saat ini.
Kini, semua itu akan kukenang. Pasti akan menjadi bagian masa lalu yang begitu menghangatkan. Tak ada isak tangis yang mengiringi keputusan besar yang telah kukatakan di hadapanmu dan keluargaku. Aku percaya, jika berjodoh ... kita akan kembali bersatu. Mario Dana Putra, terima kasih untuk semua kenangan indah. Meski singkat, tapi begitu bermakna.
Anjani selesai menggemakan cerita cinta di hatinya. Beriringan dengan bumbu nasi goreng petai yang selesai dibuat. Kemudian, tiba-tiba saja smartphone Anjani bergetar. Sebuah panggilan suara dari Meli. Anjani pun cepat-cepat menerima panggilan suara itu.
"Halo ...." Sapa Anjani via telepon.
"Hei, Anjani. Kamu sibuk nggak? Aku mau ketemu. Penting!" seru Meli di seberang.
"Nggak juga, sih. Apa yang penting, Mel?" tanya Anjani.
"Nanti malam kita ketemu, ya? Barusan aku didatangi Kak Leon. Kak Leon yang itu, tuh!" ujar Meli menjelaskan.
"Leon? Ada apa memangnya?" tanya Anjani.
Begitu nama Leon disebut, seketika Anjani terkejut. Bukan tanpa sebab, karena belakangan ini Leon memang sering tiba-tiba menemuinya, seolah sedang berusaha mendekati.
"Ah, panjang kalau diceritain di telepon. Nanti saja kuceritain kalau ketemu. Sekalian aku mau cerita-cerita juga tentang Pak Nizar, ya." Meli kembali menjelaskan.
"Oke-oke. Kalau gitu aku saja yang nanti malam ke rumahmu, ya?" pinta Anjani.
"Oke, aku tunggu!" sahut Meli.
Telepon pun terputus. Anjani terdiam untuk sesaat. Anjani enggan menerka-nerka. Nasi goreng petai pun kembali dimasaknya.
***
__ADS_1
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author juga boleh, lho 😉✨