CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Panik


__ADS_3

Berlarian ke sana-sini, berguling, mengibaskan ekor, dan bertingkah lucu. Itulah yang dilakukan si Boy sejak Ken datang ke rumah Mario untuk mengembalikan teropong binocular yang dulu sering digunakan bersama Juno untuk memata-matai Mario. Ken datang sendirian, tidak ditemani Juno. Ken juga ingin memastikan bahwa Mario tidak akan berubah pikiran setelah berhasil dibujuk dua hari lalu.


"Pastikan dirimu ikut, Mario. Aku tidak ingin sahabatku yang satu ini melewatkan waktu liburan. Ingat, ya. Ikut!" tegas Ken sambil menggendong si Boy.


"Baik. Jadi naik kereta atau pakai mobilku saja?" tanya Mario.


"Kereta saja. Udah kupesankan tiket untuk semua. Terima beres, deh!" ujar Ken.


Si Boy tiba-tiba menggigit-gigit pelan lengan Ken. Berulang kali pula menatap Ken dengan bola matanya yang bulat. Si Boy seolah ingin mengatakan sesuatu pada Ken. Untunglah Ken menangkap sinyal itu dengan instingnya.


"Ahaha. Mario, sepertinya Boy kecil ingin ikut liburan. Boleh ikut nggak?" tanya Ken.


"Tidak," jawab Mario singkat.


"Tuh, kamu dengerin kata tuan muda Mario. Di sini aja main sama bibi, ya. Ntar pasti digorengin ikan." Ken berbicara pada si Boy sambil mengelus kepalanya.


Boy si kucing seolah mengerti perkataan Ken. Boy kembali riang dan mulai memainkan bola mainannya lagi, berputar-putar sambil mengibaskan ekornya.


Smartphone Mario tiba-tiba bergetar. Akan tetapi, Mario tidak memedulikannya. Tentu saja sikap itu memancing rasa penasaran Ken.


"Telpon, tuh! Nggak diangkat?" tanya Ken.


"Biarkan saja," jawab Mario.


"Serius nggak bakal kena omel? Ayahmu, nih!" ujar Ken setelah menengok nama di layar smartphone Mario


Seketika ekspresi Mario berubah kaget. Dia pikir Alenna yang menelepon, karena sejak pagi buta Alenna terus-terusan mengirim pesan tidak penting. Terakhir kali Alenna mengirim pesan bahwa dia sudah tiba di bandara dan menyuruh Mario untuk segera menjemputnya. Lagi-lagi Mario malas menanggapi pesan dari Alenna dan memilih mengabaikannya.


Mario bergegas meraih smartphone yang sedari tadi dibiarkan tergeletak di dekat remote TV. Baru saja Mario mau menerima panggilan itu, tapi tidak sampai. Tertulis di layar smartphone lima panggilan tidak terjawab dari ayah Mario. Melihat itu membuat Mario cepat-cepat menelepon balik.


Tidak disangka, kata pertama yang keluar dari mulut ayahnya adalah 'bodoh'. Ayah Mario memberitahukan bahwa Alenna telah tiba di bandara sejak tiga jam lalu, dan kini smartphone milik Alenna tidak aktif. Ayah Mario menekankan untuk segera menjemput Alenna di bandara. Tidak ada kata-kata lain setelah itu. Panggilan telepon telah diputus sepihak.


Mario menarik nafas panjang. Dia mencoba menenangkan diri terlebih dahulu. Segelas air mineral dingin di atas meja segera dia raih, lalu dihabiskan seketika itu juga. Sepertinya Mario terjebak dalam suasana hati yang kurang nyaman.


"Ada apa, sih?" tanya Ken. Dia jarang sekali melihat Mario seperti itu.


"Alenna pulang," jawab Mario.

__ADS_1


"What?"


Ken terkejut saat nama Alenna disebutkan. Dia tidak menyangka Alenna kembali ke Indonesia. Pikirannya langsung melambung jauh mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saat Ken dilempar high heels oleh Alenna dan diteriaki cabul. Mengingat kesalahpahaman masa lalu membuat Ken bergidik. Kini bukan hanya hati Mario yang kurang nyaman, Ken juga merasa demikian.


"Sekarang gimana?" tanya Ken.


"Ikut aku ke bandara. Kita jemput Alenna."


"Oh no! Boy, tolong aku! Ajak aku main bola saja, Boy. Aku tidak mau bertemu Alenna!" tolak Ken.


"Ayo, Ken!" ajak Mario. Kini dia menarik lengan Ken.


Adegan itu berlangsung hingga beberapa menit. Ken berpegangan pada sofa, mempertahankan diri agar tidak ikut bersama Mario. Mario gigih mengajak Ken, bahkan tidak mau melepaskan lengan Ken sebelum dia bersedia ikut. Si Boy lagi-lagi bertingkah lucu meski dalam keadaan panik seperti saat itu. Si Boy bergelayut pada tangan Ken yang sedang bertahan memegang sofa. Si Boy seolah berada di pihak Mario, dan ingin agar Ken segera melepas pegangannya pada sofa.


Ken lelah, dan dia pun mengalah. Kini dia mengekor di belakang Mario menuju garasi mobil. Dia pasrah saja saat Mario mulai mengemudikan mobilnya.


***


Tiga puluh menit berlalu, Mario dan Ken sampai di bandara. Mereka berdua mencari-cari keberadaan sosok Alenna. Setiap tempat yang memungkinkan untuk dijadikan tempat tunggu telah didatangi oleh Mario dan Ken. Akan tetapi, nihil. Alenna belum juga ketemu. Pencarian itu terasa sulit karena Alenna sama sekali tidak bisa dihubungi.


Satu jam yang sia-sia. Mario dan Ken sama sekali tidak menemukan Alenna. Kembali ke dalam mobil adalah pilihan tepat saat itu sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya.


"Kita fokus cari dia dulu, Ken. Hal lain bisa dipikirkan nanti." Mario mencoba berpikir jernih.


"Tuh, tuh! Ayahmu telpon lagi. Cepat angkat!" tunjuk Ken ke arah smartphone Mario.


"Tidak mau. Tunggu sampai ayah mengirim pesan." Mario menolak mengikuti saran Ken agar mengangkat telepon dari ayahnya.


Dugaan Mario benar. Dua kali panggilan suara tidak terjawab, ayah Mario pun mengirim pesan singkat. Mario sengaja mendekatkan smartphone miliknya ke arah Ken agar dia bisa ikut membaca pesan singkat dari ayahnya.


Ponsel Alenna terdeteksi berada di luar kota. Tim pendeteksi mengira Alenna telah diculik atau mungkin ponselnya dicopet. Gunakan waktu berhargamu untuk mencari dia.


"Jangan diculik, deh! Mending dicopet aja!" ujar Ken setelah selesai membaca pesan dari ayah Mario.


"Kalau bisa jangan keduanya, Ken. Tidak ada yang baik dari kedua perkiraan itu."


Mario mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia mencoba tetap tenang agar tidak muncul sikap-sikap berlebihan.

__ADS_1


"Mau cari Alenna lagi, nih?" tanya Ken.


"Pulang, tidur, dan tunggu kabar," jawab Mario.


"What? Gimana kalau Alenna benar diculik?" tanya Ken sekali lagi.


"Penculiknya tidak akan tahan dengan sikap Alenna. Pasti segera dilepas kalau memang diculik." Lagi-lagi Mario bersikap tidak peduli.


Ken hendak bertanya sekali lagi, tapi Mario lebih dulu memberinya isyarat untuk tetap diam. Ken menurut saja dengan isyarat itu. Lagi pula jika ada yang harus panik itu adalah Mario. Akan tetapi, Mario mencoba untuk lebih berhati-hati, menahan diri agar tidak keluar dari karakternya.


***


Sementara itu di tempat lain ada Meli sedang membonceng Alenna menuju rumahnya. Baru beberapa menit Meli mengenal si bule cantik Alenna, dia sudah membuat kesimpulan tentang kepribadian Alenna. Meli jujur dari hati, Alenna itu berisik dan suka asal bicara. Kalau bukan karena hatinya yang tidak mudah 'baper', Meli pasti sudah berulang kali tersinggung dengan kata-kata Alenna.


"Jreng-jreng. Selamat datang di rumah Meli. Istanaku yang super nyaman. Silakan masuk!" ujar Meli.


"OMG. Ini beneran rumah? Kok kecil banget, sih. Uh, ada sarang laba-laba juga!" ujar Alenna dengan raut wajah jijik.


Ekspresi Meli datar. Dia belum berkomentar. Sesaat kemudian dia melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah Alenna. Begitu sudah dekat dia pun cepat-cepat mencubit kedua pipi Alenna.


"Nih mulut kok nggak ada manis-manisnya, sih!" ujar Meli gemas.


"Aw-aw-aw ...! I'm sorry, Meli. Oke, aku masuk, nih!" ujar Alenna kemudian.


"Anak pintar. Silakan masuk, ya!" tutur Meli berlagak keibuan.


Langkah awal yang dilakukan Meli setelah mendapat izin dari orangtuanya agar menerima Alenna adalah mengisi daya smartphone miliknya. Meli tidak menghiraukan celotehan Alenna di kamarnya. Meli memilih fokus untuk mengabari Anjani tentang kejadian sebelumnya hingga dia bertemu Alenna.


Akan kutemani nanti sore. Motor Paman Sam mumpung nganggur. Sampai ketemu di rumahmu, Mel.


Pesan balasan dari Anjani membuat hati Meli sedikit lega. Dia lega karena bisa mendapat teman untuk membantu Alenna.


"Meli, ini boleh kusentuh?" tanya Alenna.


"Jangan! Itu buku diary-ku!" tegas Meli sambil cepat-cepat mengamankan buku harian miliknya.


"Makin penasaran, deh. Sini aku sentuh!" Alenna seolah sedang mengerjai Meli.

__ADS_1


"Tidak ...!"


***


__ADS_2