CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Ada Apa dengan Anjani?


__ADS_3

Anjani ambruk. Rangga dengan sigap membopong tubuh Anjani seorang diri. Lagi-lagi, Mario menyaksikan semua itu. Matanya membulat. Hatinya pekat. Api cemburu kembali membuncah hebat.


“Anjani!” seru Mario dari lantai dua ruko.


Langkah Mario begitu cepat menuruni anak tangga. Mario masih menyaksikan tubuh Anjani dalam gendongan Rangga. Sesak rasanya dada Mario menyaksikan itu. Namun, Mario harus mengesampingkan rasa cemburunya terlebih dahulu.


“Biar kubawa ke bed atas,” kata Mario sambil bersiap menerima tubuh Anjani.


“Biar aku saja.” Rangga melewati Mario begitu saja.


Untuk sesaat, Mario mematung di tempatnya berdiri. Kedua tangannya tak bersambut. Semakin kesal Mario pada sikap Rangga. Api cemburunya yang sempat diredam justru kembali membara. Mario berdecak kesal.


“Kak Mario, kotak obat di mana?” tanya Meli dengan tergesa.


“D-Di atas. Dekat almari dua susun,” tunjuk Mario. “Akan kuhubungi dokter,” imbuhnya.


Meli mengangguk singkat lalu menuju almari dua susun untuk mengambil kotak obat. Mario kembali berusaha harus melupakan rasa kesalnya pada Rangga. Jemarinya lincah menghubungi salah satu dokter pribadi keluarganya.


Rangga membaringkan tubuh Anjani perlahan di atas bed. Diperhatikannya sosok cantik Anjani yang wajahnya begitu pucat. Beberapa detik Rangga mengurung sosok cantik Anjani dalam pandangan matanya.


“Cantik,” pikir Rangga.


Rangga masih betah memandangi Anjani. Hingga kemudian, Meli datang membuyarkan kelakuan Rangga.


“Kak Rangga minggir-minggir-minggir! Aku mau ngasih minyak kayu putih buat Anjani!” Meli datang membawa kotak obat.


“Em, silakan.” Rangga mempersilakan, tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri.


“Agak jauhan sana, Kak. Tutup mata. Aku mau ngelonggarin jilbabnya Anjani, nih.” Meli menyuruh Rangga sedikit menjauh agar aurat Anjani tidak terlihat saat Meli mengolesi minyak kayu putih di area leher Anjani.


Rangga mengangguk singkat. Dia paham. Langkahnya menjauh untuk duduk di sofa sambil menunggu Meli selesai.


Meli melonggarkan jilbab yang dipakai Anjani dan segera mengolesi minyak kayu putih. Aroma minyak kayu putih juga didekatkan di hidung Anjani. Teknik sederhana, tapi rupanya berfungsi. Perlahan, Anjani tersadar.


“Alhamdulillaah sadar,” seru Meli kegirangan. Padahal mata Anjani belum terbuka sempurna.


Mario yang mendengar seruan Meli lekas menghampiri. Begitu pula dengan Rangga. Mario dan Rangga berada di sisi bed yang berbeda. Namun, keduanya menunjukkan ekspresi yang sama. Sama-sama khawatir dengan Anjani.


Suara teman-teman Anjani terdengar samar. Anjani masih berusaha membuka kedua matanya. Perlahan, kepala Anjani menoleh ke sisi tempat di mana Mario berada. Anjani membuka kedua matanya, kemudian mengerjab-ngerjab lambat.


“Anjani,” lirih Mario.


Senyum manis Mario sudah menghiasi wajah tampannya. Bersiap menyambut Anjani yang baru sadarkan diri. Ekspektasi Mario terlalu tinggi, mengharapkan Anjani juga akan tersenyum saat melihatnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.


“Pergi kamu!” seru Anjani pada Mario.


Anjani menunjukkan wajah tidak suka. Ada ekspresi takut di wajahnya. Anjani menepi pelan-pelan menjauhi Mario dengan masih memasang wajah ketakutan. Sama sekali tak ada yang menduga, detik berikutnya Anjani justru memalingkan wajahnya dari Mario dan spontan memeluk Rangga.


“Anjani!” seru Meli tertahan. Kedua tangan Meli refleks menutupi mulutnya.


Rangga kaget dengan sikap Anjani yang begitu tiba-tiba. Karena tidak enak dengan Mario dan Meli, Rangga berusaha melepas pelukan Anjani dengan perlahan. Namun, pelukan Anjani justru semakin erat.


“Ke-kenapa aku malah berdebar-debar gini dipeluk Anjani?” pikir Rangga.


Ekspresi wajah Mario sudah tidak dapat diartikan lagi. Rasa dalam dadanya berkecamuk, campur aduk. Tidak mengerti dengan situasi, iya. Cemburu, juga. Ingin marah pada Rangga, apalagi. Namun, Mario menahan diri untuk tidak meluapkan kebutaan hatinya pada Rangga. Akan sangat konyol sekali bila Mario melakukannya.


Meli bingung harus bagaimana. Bergantian, Meli memandangi Mario dan Rangga. Mario terlihat putus asa, sedangkan Rangga terlihat pasrah saja tubuhnya dipeluk Anjani.


“Sini-sini. Anjani peluk aku saja sini,” ide Meli.


Meli menarik lengan Anjani perlahan. Tubuh Anjani lekas berpindah ke pelukan Meli. Meli mengelus pelan punggung sahabatnya itu. Dengan jelas Meli bisa merasakan betapa panasnya suhu tubuh Anjani.


“Deman,” ucap Meli sambil menoleh pada Mario.


Mario mengangguk singkat. Lekas ditelponnya kembali dokter keluarganya untuk memastikan posisinya. Alhamdulillaah, dokter hampir sampai di ruko.


Anjani masih memeluk Meli dengan erat. Suara sesenggukan mulai terdengar jelas. Anjani terisak dalam pelukan Meli. Meski tidak tahu apa penyebabnya, tapi Meli tetap mencoba menenangkan Anjani.


“Tenanglah Anjani, Sayang. Dokter akan segera datang. Cup-cup-cup,” hibur Meli.


Anjani tidak merespon. Isak tangisnya juga tidak lagi terdengar. Meli yang merasa aneh pun lekas mengecek kembali keadaan Anjani.

__ADS_1


“Loh, pingsan lagi?” Meli terkejut.


Mario panik. Dia tidak pernah melihat Anjani sakit hingga seperti itu. Berulang kali dia menelepon dokter keluarga, dan jawabannya tetap sama. Hampir tiba.


“Mario. Tenangkan dirimu. Duduklah,” saran Rangga.


Awalnya Mario panas mendapat saran itu dari Rangga. Namun, dia tidak punya alasan apa pun untuk menolak saran darinya. Setelah menghela nafas kasar, Mario duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Anjani. Mario sungguh-sungguh khawatir.


Ada apa denganmu, Anjani? Batin Mario


Anjani terbaring lemah di atas bed. Masih pingsan dan demam. Meli dan Rangga berdiri di samping kiri bed, sedangkan Mario masih duduk di sisi kanan bed sambil tetap memandangi wajah pucat Anjani.


"Rangga, tolong tunggu dokter Ema di depan ruko. Sebentar lagi dia sampai," perintah Mario.


Mario ramah menyuruh Rangga. Hati dan pikirannya mulai bisa dikendalikan. Melihat fakta bahwa Anjani sedang demam, kemungkinan besar tadi Anjani memeluk Rangga tanpa sadar.


"Meli, tenanglah. Anjani akan baik-baik saja," kata Mario tanpa memalingkan wajahnya dari Anjani.


Meli terheran. Kalimat barusan lebih cocok ditujukan untuk Mario sendiri. Meli menjadi saksi betapa tidak tenangnya Mario melihat kondisi Anjani.


"Kak Mario khawatir banget ya sama Anjani?" tanya Meli. Basa-basi demi memecah lengang.


Senyum manis Mario mengembang, sambil tetap memandangi Anjani. Anggukan menyusul kemudian. Mario memang khawatir pada Anjani, sosok yang sangat dia cintai.


"Em. Maaf nih aku kepo. Kak Mario benar-benar masih mencintai Anjani, ya?" tanya Meli lagi. Mumpung ada kesempatan bertanya, batinnya.


Lagi-lagi Mario tersenyum. Bola mata Mario masih tidak dapat terlepas dari sosok Anjani yang tengah terbaring di bed. Sosok Anjani tetap menarik perhatiannya meski dalam kondisi pucat.


Meli tidak mendapat jawaban iya atas pertanyaannya. Meli juga tidak mendengar kata penolakan. Meski demikian Meli tetap mengambil kesimpulan bahwa Mario benar-benar mencintai Anjani. Senyum di wajah Mario salah satu buktinya.


Dokter Ema, dokter pribadi keluarga Mario telah sampai. Sementara Dokter Ema melakukan penanganan pada kondisi Anjani, Mario diminta menunggu di tempat lain. Hanya Meli yang menemani Dokter Ema.


Jadilah, Mario turun ke lantai bawah. Ada Rangga di sana. Di dekat meja kasir. Rangga melihat-lihat pembukuan yang tadi dibuatkan Anjani.


"Rangga," panggil Mario.


"Eh, iya." Rangga menutup bukunya. "Anjani masih diperiksa, ya?" tanyanya kemudian.


Mario mengangguk singkat.


"Silakan." Mario mempersilakan.


"Apakah Anjani punya pacar?" tanya Rangga.


Mario terdiam. Mendengar pertanyaan Rangga justru malah membuatnya bertanya-tanya. Untuk apa sebenarnya Rangga bertanya demikian.


"Tidak punya. Sejak hijrah, Anjani tidak mau yang namanya berpacaran. Bahkan beberapa teman dan senior yang pernah menyatakan cinta padanya, saat itu juga ditolak baik-baik." Mario menjelaskan berdasar fakta.


"Masyaa Allah. Sungguh gadis yang langka." Rangga tersenyum dan memuji Anjani.


Mario sedikit kurang suka dengan ekspresi yang ditunjukkan Rangga.


"Tanya lagi. Apakah Anjani saat ini sedang menyukai seseorang?" Rangga kembali bertanya.


"Entahlah. Aku sama sekali tidak tahu dalamnya hati Anjani," terang Mario.


"Satu pertanyaan lagi. Apakah kamu menyukai Anjani?" tanya Rangga.


Deg!


Mario terdiam. Dia tidak bisa menebak jalan pikiran Rangga. Baru kali ini dirinya menemui sosok seperti Rangga, yang berani langsung bertanya padahal baru saling kenal beberapa hari saja.


"Iya. Aku menyukai Anjani," tegas Mario. Wajahnya serius. Mario sengaja, agar Rangga tidak coba-coba untuk bersaing dengannya.


Senyum Rangga melebar mendengar jawaban Mario.


"Pantas kamu khawatir sekali pada Anjani. Maaf ya, tadi aku malah menggendong Anjani di hadapanmu. Dan ... tadi saat Anjani memelukku." Kata-kata Rangga dijeda Mario.


"Jangan dipikirkan. Anjani dalam kondisi demam. Dia tidak sadar." Mario menepuk pelan bahu Rangga sambil tersenyum.


Rangga lega karena bosnya itu tidak cemburu atau memecatnya. Saat itu juga Rangga bertekad untuk menjaga jarak dengan Anjani dan menepis jauh-jauh angan-angannya tentang Anjani.

__ADS_1


Dokter Ema selesai memeriksa dan mengobati Anjani. Dokter Ema lekas turun menemui Mario.


"Rangga, aku mau ngobrol sebentar dengan Dokter Ema." Mario mengisyaratkan.


"Oke. Aku ke atas dulu." Rangga segera naik ke lantai atas.


Saat Rangga sudah naik ke lantai dua, barulah dokter Ema mulai melaporkan kondisi Anjani pada Mario.


"Obatnya akan bereaksi. Insya Allah demamnya akan turun beberapa jam kemudian. Anjani sempat sadar lagi barusan sebelum akhirnya kembali pingsan. Kondisi Anjani tidak mengkhawatirkan. Dia hanya kelelahan, dan sepertinya memang ada beban yang sedang dipikirkan," terang Dokter Ema.


"Beban pikiran?" Mario memastikan apa yang didengar.


"Semacam itu. Kita semua pasti pernah mengalami. Saat ada suatu hal yang mengganggu pikiran, pola makan jadi tidak teratur. Insomnia melanda. Imun menurun," imbuh Dokter Ema.


Mario mengangguk. Seminggu terakhir Anjani memang sibuk membantu persiapan pernikahan Meli. Sesekali bahkan membantunya memberi ide tentang ruko. Mario membenarkan bahwa Anjani kelelahan. Namun, yang Mario tidak tahu adalah beban pikiran Anjani.


"Biarkan Anjani istirahat. Saya balik ke rumah sakit lagi. Ohya, tadi Anjani sempat menyebut 'ayah'. Bisa jadi itu yang mengganggu pikirannya," duga Dokter Ema.


Mario kembali berterima kasih pada Dokter Ema. Sesaat setelah Dokter Ema pergi, barulah Mario sigap menyikapi dugaan Dokter Ema.


"Ayah?" lirih Mario. Dia tengah berpikir.


Mario hanya tahu bahwa keluarga Anjani tidak lagi utuh. Anjani hanya tinggal bersama Ma di desa. Selebihnya, Mario tidak pernah bertanya lebih tentang ayah Anjani.


Jemari Mario lincah mencari kontak di smartphone-nya. Satu panggilan suara lekas ditujukan untuk Paman Li, anak buah sekaligus tangan kanan ayahnya.


"Paman Li. Aku butuh bantuan. Tolong cari tahu tentang ayah Anjani. Aku butuh informasinya segera." Wajah Mario serius.


Mario menyerahkan perburuan informasi tentang ayah Anjani kepada anak buah ayahnya. Beres dengan itu, Mario kembali ke lantai atas.


Dijumpainya Meli dan Rangga tengah duduk di sofa. Dua botol minuman dingin tersuguh di meja. Baik Meli ataupun Rangga sama-sama sibuk menatap layar smartphone masing-masing. Mario tidak bergabung dengan Meli dan Rangga. Mario justru berdiri di samping bed, kembali memandangi wajah pucat Anjani.


Baru beberapa detik Mario di sana, Anjani sudah menunjukkan tanda-tanda siuman. Mario lekas memanggil Meli dan Rangga untuk mendekat.


"Eeem," desis Anjani sambil memegangi keningnya.


Kedua mata Anjani terbuka perlahan. Sosok yang pertama kali dilihatnya adalah Mario. Anjani langsung terduduk di bed. Tidak seperti sebelumnya, kini Anjani tersenyum sambil melihat sosok Mario yang berdiri di samping bed.


"Alhamdulillaah. Kamu sudah siuman," kata Mario penuh syukur. Senyum Mario mengembang, membalas senyuman Anjani yang ditujukan padanya.


Meli dan Rangga ikut tersenyum melihatnya. Namun, rasa senang mereka lekas berubah menjadi rasa heran. Aneh. Anjani kembali bersikap aneh.


Anjani turun dari bed. Mario menyarankan agar Anjani tetap berbaring, tapi Anjani abai. Anjani justru tetap melangkah menghampiri Mario sambil tetap tersenyum.


"Mario," lirih Anjani menyebut nama Mario.


Hati kecil Mario tidak dapat berdusta. Mario senang Anjani memanggil namanya. Detik berikutnya, hal yang tidak terduga justru terjadi.


Anjani memeluk erat tubuh Mario. Bola mata Mario membulat. Dia kaget dengan sikap Anjani yang tidak terduga. Namun, ada perasaan bahagia yang Mario rasakan saat Anjani memeluknya. Jantung Mario bahkan berdebar-debar.


Mario membalas pelukan Anjani. Dipererat pula pelukannya pada tubuh Anjani. Saat itulah Mario bisa merasakan betapa panasnya suhu tubuh Anjani.


Masih demam. Andai kamu melakukan ini tanpa sadar. Sungguh aku tidak akan pernah menyesal, Anjani. Batin Mario.


Rangga dan Meli kompak menutup mulutnya yang melongo. Pastilah mereka terkejut melihat Anjani dan Mario berpelukan.


"Aduh, Anjani. Tadi meluk Kak Rangga. Sekarang Kak Mario yang dipeluk. Duh, Kak Mario malah ambil kesempatan dalam kesempitan lagi. Dipisahin nggak ya?" Meli heboh sendiri. "Bodoh, ah. Biarin. Toh mereka berdua saling cinta." Meli memilih acuh.


Mario-Anjani masih berpelukan. Keduanya bahkan saling memperdalam pelukannya. Anjani kemudian melepas pelukannya perlahan. Wajah pucatnya yang masih berhias senyum menatap lekat bola mata Mario. Perlahan Anjani mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Mario. Semakin lama bibir mereka semakin dekat. Mario sama sekali tidak menghindar. Hingga kemudian ....


"Tidak boleeeh!" teriak Meli.


Mario yang terkejut dengan teriakan Meli lekas menoleh. Sementara Anjani kembali pingsan di bahu Mario. Mario-Anjani gagal berciuman karena teriakan Meli.


Bersambung ....


Kepoin lanjutan ceritanya, ya 😉


Nggak bosen-bosen nih ngajak reader sekalian nengokin suaminya Meli di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Terima kasih bagi kakak-kakak semua yang telah mendukung kami. Barakallah.


__ADS_1


Mohon maaf kemarin CS1 tidak up, karena jadwal author di dunia nyata sedang padat merayap. And now, happy reading all. Mohon dukungannya, ya. See You 😉


__ADS_2