
Bunyi knalpot bentor terdengar nyaring memasuki gang. Asap knalpot mengepul, keluar lebih banyak dari biasanya. Terdengar bising. Meski demikian, abang bentor tetap ramah pada penumpangnya, tidak ugal-ugalan saat mengemudi, juga mengantarkan penumpangnya hingga ke tempat tujuan.
Penumpang bentor tersebut naik dari terminal bus menuju rumah Paman Sam. Dibawa serta oleh-oleh bersamanya. Oleh-oleh yang paling jelas terlihat adalah petai-petai besar yang tampak segar. Petai itulah yang sedari tadi juga menjadi perbincangan abang bentor dan penumpangnya yang tidak lain adalah Ma yang baru saja tiba di kota.
Bentor berhenti di depan rumah Paman Sam. Satu-satunya rumah di gang tersebut yang ada warungnya. Halaman rumahnya pun cukup luas, hingga muat dijadikan parkiran mobil.
Ma turun perlahan dari bentor sambil berpegangan pada tepian bentor. Begitu turun, segera Ma membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru. Usai abang bentor membawakan barang-barang Ma ke meja teras, Ma segera membayar tarif bentor.
“Ini buat kau. Tak perlu kembalian. Ambil saja!” Ma menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Alhamdulillaah. Rezeki anak istri. Sekalian bisa dibuat service bentor. Terima kasih banyak, Bu.” Abang bentor begitu bahagia.
“Ini-ini. Ada sedikit petai biar dimasak sama istri kau di rumah nanti.” Ma kembali berbaik hati pada abang bentor.
“Masyaa Allah. Rezeki lainnya. Alhamdulillaah. Terima kasih banyak. Saya doakan ibu sekeluarga lancar rezekinya,” kata abang bentor bertambah senang.
“Aamiin. Sama-sama,” jawab Ma menanggapi doa abang bentor.
Ma melangkah perlahan menuju teras rumah Paman Sam. Ma sempat menebar senyum pada pembeli-pembeli yang sedang mengantri di warung Paman Sam. Ma tidak langsung menemui Paman Sam di dalam warungnya, tapi Ma justru memilih duduk di teras sembari kipas-kipas menggunakan selembar kertas brosur yang tadi didapatkan di terminal.
Kaki Ma asik selonjor. Tangan kanan dan kirinya bergantian mengipas bagian wajahnya.
“Kemana anak gadisku? Apa masih kuliah?” gumam Ma.
“Kakak. Maaf membuatmu menunggu. Kubuatkan minum dulu, ya.” Paman Sam segera mengangkat oleh-oleh Ma dari desa.
“Hei, Sam. Kemana Anjani?” tanya Ma.
“Tadi kuliah. Bentar lagi juga pulang. Kakak tunggu saja,” jelas Paman Sam, lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Ma mengangguk-angguk. Kali ini punggungnya disandarkan pada kursi rotan yang baru beberapa minggu ini menghiasi teras rumah Paman Sam. Ma mencoba nyaman dengan kaki yang masih tetap diselonjorkan. Sementara tangan Ma sudah berhenti kipas-kipas.
Lima menit kemudian yang dinanti-nantikan datang. Anjani sampai di rumah dengan berboncengan motor bersama Meli. Dua paper bag besar berisi belanjaan ditenteng Anjani sambil mulai berjalan menuju halaman rumah. Meli yang semula berniat langsung pulang ke rumahnya, begitu melihat Ma niatnya diurungkan. Meli memarkir motornya, lalu berlarian kecil menuju Ma.
Anjani dan Meli bergantian mencium punggung tangan Ma.
“Sehat kau, Nak?” tanya Ma.
“Alhamdulillaah, Ma.” Anjani menjawab pertanyaan Ma dengan antusias dan ceria. Hal yang sama juga dilakukan oleh Meli saat Ma bertanya hal yang sama.
Ma membagikan beberapa petai untuk dibawa pulang Meli. Petai-petai pemberian Ma disambut baik oleh Meli. Ma juga menyebutkan beberapa ide masakan yang bisa dicampurkan dengan petai. Otomatis Meli mencatat semua itu di pikirannya, untuk selanjutnya akan dipraktikkan di rumahnya.
__ADS_1
“Ma, Meli pamit pulang dulu.” Meli berpamitan setelah puas berbasa-basi dengan topik petai.
“Iya, hati-hati kau di jalan. Jangan ngebut!” nasihat Ma pada Meli.
“Siap. Anjani, aku pulang dulu. Besok aku jemput lagi,” kata Meli.
“Oke,” jawab Anjani sambil memberi kode tangan pada Meli.
“Assalamu’alaikum,” pamit Meli.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Anjani.
Ma memperhatikan putrinya itu. Paman Sam telah memberi tahukan via telepon bahwa banyak yang telah berubah pada diri Anjani. Termasuk menjadi semakin alim. Mulanya Ma kaget, berpikiran macam-macam sekaligus khawatir jiwa Anjani tergoncang akibat pernikahannya yang gagal dilaksanakan tempo lalu. Perlahan, Ma tenang sekaligus juga senang. Apa pun pilihan putrinya, selama itu baik maka akan selalu didukung.
“Ma, Anjani buatkan minum dulu, ya?” Anjani menawarkan.
“Paman kau sedang membuatkannya di dapur. Kau temani Ma saja di sini. Apa itu?” tanya Ma sambil menunjuk dua paper bag milik Anjani.
Anjani tersenyum. “Itu pakaian. Ada kerudungnya juga. Anjani mau hijrah, Ma.”
“Ma senang mendengarnya, Nak. Ma sendiri pun sudah terlalu jauh dari-Nya. Mendengar kau berubah baik seperti ini, membuat Ma malu pada diri Ma kau sendiri ini. Harusnya Ma yang sejak dulu mengajari dan mengawalmu agar selalu dekat dengan-Nya. Tapi Ma gagal, dan membiarkan semuanya. Maafkan Ma kau ini, ya?” kata Ma.
Anjani tersentuh dengan penuturan Ma. Bergegas Anjani memeluk Ma dengan perasaan bahagia. Anjani sungguh bersyukur, karena niatannya dipermudah. Keluarga pun mendukung niatannya untuk berhijrah.
Anjani, Ma, dan Paman Sam meminum teh bersama. Obrolan pun menyertainya. Banyak canda tawa mengiringi cerita Ma yang dibawa dari desa. Keakraban pun terlihat menghiasi kebersamaan keluarga itu.
Paman Sam ikut-ikutan berbagi cerita, tapi lebih banyak menceritakan harga barang-barang di pasaran, terutama bahan pokok. Namun, pembahasan itu segera berakhir saat ada pembeli datang ke warung Paman Sam.
“Ma, Anjani membelikan kerudung juga buat Ma. Dipakai, ya. Ini,” kata Anjani.
Anjani menyodorkan sehelai hijab instan berukuran Jumbo. Ma tersenyum, menyambut hangat pemberian putrinya itu. Ma bahkan langsung memakainya saat itu juga.
“Paman kau yang ganteng ini apa dapat juga?” tanya Paman Sam yang kembali bergabung setelah melayani pembeli di warungnya.
“Ini buat Paman Sam,” kata Anjani sambil menyodorkan peci warna hitam.
Paman Sam memandangi peci hitam pemberian Anjani. Membolak-balik, lalu memakainya.
“Hanya ini? Baju tak ada?” tanya Paman Sam.
“Hus. Beli sendiri sana. Masih untung dibelikan peci kau, Sam.” Ma protes, dan langsung disambut tawa oleh Paman Sam.
__ADS_1
“Mulai besok penampillan Anjani akan berubah, Ma, Paman Sam. Jangan kaget, ya.” Anjani menjelaskan.
“Eh, kenapa nunggu besok. Sekarang saja. Sana ganti penampilan kau!” saran Paman Sam.
“Setuju. Nih, Ma sudah pakai kerudungnya. Paman kau sudah pakai pecinya. Sekarang giliran kau yang tampil beda. InsyaAllah Ma dan paman kau akan selalu mendukungmu, Nak.” Ma memberi semangat dan dukungan untuk Anjani.
Anjani tersenyum. Hatinya terasa senang dan dipenuhi syukur. Sungguh rasa senang yang berbeda dari perasaan senang yang biasa Anjani rasakan. Semua terasa berbeda dan begitu membekas di dada, lantaran Anjani melakukan semua dengan menyertakan niat karena-Nya.
Sungguh Engkau Maha Baik. Terima kasih telah mempermudah langkah hambamu ini, batin Anjani.
***
Mario dan Ken masih di mall. Mereka berdua baru saja selesai mengantri untuk membayar barang belanjaan.
Ken antusias menenteng paper bag berukuran besar. Belanjaan Ken terlihat paling banyak, meski sebelumnya terlihat ogah-ogahan saat Mario menawari sarung dan peci.
“Makasih banyak, ya Bro. Ini pasti akan bermanfaat. Bakalan aku pakai buat ngaji,” jelas Ken.
“Memangnya kau bisa mengaji?” tanya Mario.
“Nggak begitu bisa, sih. Hehe. Ayo cari tempat untuk berguru. Masa iya penampilan sudah berubah tapi ibadah segitu-gitu aja,” imbuh Ken.
“Aku sudah merencanakannya. Makanya aku akan pergi dari rumah dan kos. Tempat kosku ini dekat dengan seseorang yang bisa membantuku untuk berhijrah. Kemarin aku sudah menemuinya, meminta bantuannya. Sekalian saja aku minta diajari mengaji juga pada beliau,” jelas Mario.
Ken mencerna baik-baik penuturan Mario. Ken memang tahu rencana Mario untuk pergi dari rumah beserta alasannya. Namun, Ken tidak tahu jika Mario juga telah menemukan seseorang yang bisa membantu jalannya.
“Beliau? Memangnya siapa yang kau maksud?” tanya Ken.
“Pak Nizar, dosen kita. Tempat kosku berdekatan dengan beliau. Aku ralat. Bukan tempat kos, lebih tepatnya aku mengontrak sebuah rumah.” Mario kembali menjelaskan pada Ken.
“What? Keren, bro. Bisa sekalian minta ajari materi kuliah,” ide Ken.
“Rasa-rasanya kaulah yang akan melakukan itu, Ken!” protes Mario.
“Hahaha. Nah, itu kau tahu!” seru Ken.
Niatan Mario sudah bulat. Tekadnya penuh bara semangat. Setelah ini hari-hari baru, langkah baru, bahkan penampilan baru akan mewarnai perjalanan hijrahnya.
Bismillaah, batin Mario.
Bersambung ....
__ADS_1
Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1 🌹