
Mobil mewah bercat hitam melaju kencang menyusuri jalanan. Setir dibanting kasar ke arah kiri saat hampir bertabrakan dengan kendaraan lain dengan laju berlawanan.
Ciiitt ....
"Woy, kalau nyetir yang benar!" seru sang sopir yang mobilnya hampir saja tertabrak.
Pengemudi mobil mewah bercat hitam acuh dengan seruan itu. Mobil pun kembali dilajukan dengan kecepatan yang sama.
"Tuan Mario, tolong biarkan saya yang mengemudi!" ujar Paman Li yang mulai khawatir dengan Mario.
Mario tak bergeming, terus fokus menatap ke depan dengan laju mobil kencang dan asal-asalan. Raut wajah Mario campur aduk saat itu. Kecewa ada, emosi pun tergambar di sana.
"Tuan Mario. Tolong pikirkan keselamatan Anda! Tepikan mobilnya!" seru Paman Li lantaran Mario semkin tak terkendali.
Setir kembali dibanting kasar ke kiri. Kali ini bukan mau menabrak kendaraan lain, melainkan karena Mario kesal, dan dia pun menepikan mobilnya.
Mobil itu berhasil menepi dengan benar, tapi tidak dengan suasana hati pengemudinya. Tangan Mario mengepal, lalu menekan klakson mobilnya berulang kali dengan ritme cepat.
"Tuan Mario, tenangkan diri Anda!" ujar Paman Li.
Perlahan Mario memejamkan matanya, mengatur nafas, dan mencoba tenang. Berhasil. Masih dalam keadaan mata terpejam, Mario berulang kali menarik nafas dalam dan akhirnya tenang. Paman Li yang menangkap kondisi itu pun segera memanfaatkan keadaan, kembali membujuk Mario agar posisi kemudi bisa digantikan.
"Biarkan saya yang mengemudi, Tuan!" pinta Paman Li.
Satu hembusan nafas dalam, kemudian Mario mengangguk. Paman Li terlihat senang, dan bergegas turun dari mobil, berputar mendekat ke pintu kemudi. Mario pun melepas sabuk pengamannya, kemudian bergeser tempat duduk ke sisi kiri.
"Paman Li. Maafkan kebodohanku tadi," kata Mario sambil menoleh ke arah Paman Li.
Paman Li mengangguk. "Sekarang kita ke kantor. Biar saya yang menjelaskan pada Tuan Besar," jelas Paman Li.
Lagi-lagi Mario mengangguk lalu berpindah menatap pemandangan di luar kaca mobil. Terlihat beberapa pengguna jalan menengok ke arah mobil mewah yang dikendarai Mario. Mereka sempat terheran-heran lantaran melihat laju mobil yang kacau juga mendengar suara klakson mobil berulang-ulang.
***
Tiga puluh menit berlalu sejak Paman Li menggantikan Mario di kursi kemudi. Paman Li sengaja mengambil kecepatan sedang, sembari mengambil jeda cukup agar Mario lebih bisa bersikap tenang sebelum sampai di perusahaan.
Mobil mewah bercat hitam pun sampai di halaman parkir perusahaan. Meski sudah sore, masih saja terlihat awak media menunggu di depan pintu masuk perusahaan. Demi sebuah berita mereka bahkan rela menunggu begitu lama.
Paman Li lebih dulu menelepon Leon untuk meminta bantuan pengamanan sebelum Mario naik ke lantai ruang kerjanya. Paman Li juga menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada Alenna untuk membuatkan minuman hangat untuk kakaknya itu. Tak hanya itu, Paman Li juga mengirim pesan singkat pada John, sedikit menjelaskan dan menyuruhnya bersiap diri jika sewaktu-waktu amarah Mario meledak.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan." Paman Li meminta Mario menunggu sesaat setelah mengondisikan beberapa hal lewat pesan singkat.
Mario hanya mengangguk sekilas. Pandangan mata Mario masih saja tertuju pada segerombolan awak media di depan pintu masuk perusahaan. Samar-samar Mario bergumam, "Apa untungnya mengejar berita kehidupan pribadi orang lain? Bagaimana jika keadaan berbalik? Pasti tidak akan ada yang bersedia dirinya menjadi kejaran pemberitaan semacam ini. Ck!"
"Mohon bersabar, Tuan." Lagi-lagi Paman Li menasihati.
Beberapa menit kemudian, terlihat tiga bodyguard sewaan John menghampiri mobil mewah bercat hitam, yang di dalamnya ada Mario dan Paman Li. Bergegas Paman Li memberi isyarat pada Mario untuk segera turun dari mobil. Bersama penjagaan bodyguard, Mario dan Paman Li berjalan menuju pintu masuk perusahaan.
Awak media menangkap sebuah celah. Beberapa di antara mereka berlarian menghampiri Mario yang sedang dikawal oleh tiga bodyguard. Sembari menyejajarkan langkah, mereka pun spontan melontarkan beragam tanya.
"Kamu pasti Mario Dana Putra, anak semata wayang John!" seru salah satu awak media.
"Mario, bagaimana pendapat Anda tentang kasus perselingkuhan ayah Anda?" tanya awak media lain yang membawa dua alat perekam suara.
Mario terus berjalan di tengah pengawalan bodyguard sewaan ayahnya. Tak sedikit pun Mario menjawab pertanyaan mereka. Mario juga terlihat mempercepat langkahnya, menghindari pertanyaan lain dari awak media.
"Mario, bagaimana kabar ibu kandungmu sekarang? Desas-desus mengatakan telah terjadi perceraian akibat perselingkuhan John sebelum ini."
"Ah, benar. Benarkah telah lahir seorang putri, hasil dari perselingkuhan ayah Anda?"
Mario geram mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Ingin sekali Mario berteriak agar mereka tidak ikut campur dengan urusan pribadi keluarganya. Namun, jika Mario melakukannya maka dialah yang akan tersorot dalam pemberitaan selanjutnya. Mario pun memilih diam.
__ADS_1
"Mario, tolong beri sedikit penjelasan."
"Mario ...."
"Mario ...."
Samar-samar pertanyaan itu tak lagi terdengar, lantaran yang bertanya telah dihadang oleh security dan bodyguard di depan pintu masuk perusahaan. Mario dan Paman Li kini bisa melangkah bebas menuju ruang kerjanya.
Mario segera masuk ke ruangan kerjanya, tanpa basa-basi meski berpapasan dengan Alenna dan Leon. Di dalam ruangan kerja itu sudah ada ayahnya, John. Sementara di depan ruangan kerja itu tampak Alenna dan Leon berdiri, menghadang langkah Paman Li yang berniat masuk.
"Benarkah Anjani memutuskan hubungan dengan Mario?" tanya Alenna dengan raut wajah khawatir.
"Itu benar," jawab Paman Li singkat.
Seketika Alenna semakin terlihat gusar. Sementara Leon berseru senang dalam hatinya.
"Saya permisi ke dalam dulu, Nona Alenna. Tuan Leon." Paman Li pamit pada Alenna.
***
Di dalam ruangan kerja.
John duduk bersandar di sofa, sambil asyik menelepon selingkuhannya. John menenangkan hati selingkuhannya itu agar tetap tenang dan tidak banyak keluar rumah agar tidak diburu pencari berita.
Mario berdiri di dekat kaca jendela, bersedekap, memandang jauh ke luar sana. Kedua telinganya menangkap obrolan yang dibuat ayah dan selingkuhannya. Awalnya Mario masih bisa menahan diri. Lama-lama jemari tangannya mengepal karena geram. Sesaat kemudian, tangan yang bersedekap diturunkan, dan Mario pun berbalik badan mengarahkan pandang ke ayahnya.
John yang baru saja selesai menelepon selingkuhannya segera menyambut pandangan mata putranya itu.
"Apa kau marah pada ayahmu ini karena hubunganmu dengan Anjani harus terhenti?" tanya John dengan santai.
"Iya, aku marah pada ayah!" seru Mario.
"Luapkan saja emosimu, Nak. Ayah lapang menerima," pinta John.
John terdiam mendengarkan sekaligus mencerna kata-kata putranya. Tak lama kemudian, Paman Li masuk ke dalam ruangan itu.
"Paman Li, mulai besok aku kembali fokus ke kampus. Aku serahkan semua urusan kantor pada Leon dan Alenna. Tolong bantu aku mengurus semua peralihannya," pinta Mario.
"Baik. Em, Tuan Mario. Saya harap Tuan tidak terlalu kecewa dengan keputusan Nona Anjani. Tuan masih punya banyak kesempatan untuk memperjuangkan cinta Tuan. Seperti yang Nona Anjani bilang tadi, jika berjodoh pasti kalian berdua akan kembali bersatu," terang Paman Li.
"Iya, Paman. Terima kasih," kata Mario seraya tersenyum pada Paman Li.
John memperhatikan putranya. Sedikit ada rasa bersalah dalam hatinya. Ulahnya telah menyebabkan kebahagiaan putranya harus kandas. Namun, apa mau dikata. Semua telah terjadi dan tak lagi bisa dicegah. Diam-diam John berdoa, agar putranya itu bisa memaafkan dirinya.
***
Malam hari pun tiba. Motor Paman Sam yang saat itu dikendarai Anjani melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota. Lampu warna-warni di sepanjang jalan mengiringi perjalanan Anjani menuju rumah sahabatnya, Meli.
Meli yang sebelumnya telah mendapat pesan singkat dari Anjani telah bersiap menunggu kedatangan Anjani di depan rumahnya. Entah sudah berapa kali Meli mondar-mandir ke sana-sini memenuhi teras depan rumahnya. Hatinya was-was lantaran telah membaca pesan dari Anjani.
Aku tidak jadi menikah. Hubunganku dengan Mario telah kandas. Dukung aku, Meli. Izinkan aku meluapkan semua rasa sedih dan kecewaku.
Anjani.
Begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan Anjani untuk Meli. Membaca pesan itu membuat Meli kaget, tak karuan rasanya. Spontan, Meli pun meneruskan pesan singkat itu kepada sahabat lainnya, Berlian, Dika, dan Juno, dengan harapan mereka semua dapat menghibur hati Anjani yang sedang gundah.
"Anjani tersayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Meli sembari memeluk Anjani erat begitu Anjani sampai di rumahnya.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja, tapi tidak demikian dengan hatiku," terang Anjani sambil berusaha tersenyum.
Meli melepas pelukannya dan mencoba tersenyum pada sahabatnya itu. Beberapa detik mereka saling tersenyum. Hingga akhirnya hujan di pelupuk mata Anjani tumpah juga.
__ADS_1
"Hiks .... Hu ... hu ... hu. Meli ... hatiku sakit," kata Anjani dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Meli segera menarik lengan Anjani dan menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu rumahnya.
"Luapkan semua sedihmu, Anjani. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu," kata Meli sambil menyodorkan segelas air putih.
Anjani meminum air putih itu beberapa teguk, lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Bukannya berhenti, Anjani justru makin histeris.
"Hu ... hu ... hiks. Aku masih mencintai Mario. Tapi aku tak akan sanggup menunggu dalam ketidakpastian, Mel. Aku sedih, aku kecewa." Anjani kembali meluapkan semua.
"Iya, luapkan semuanya, Anjani. Jangan sungkan padaku. Biarkan hatimu lega dengan bercerita," tutur Meli.
"Hu ... hu. Hiks! Aku tahu aku tidak boleh menyesali keputusanku, tapi .... hiks!" Kembali Anjani berkeluh kesah.
Malam itu pun Anjani menceritakan semuanya pada Meli di sela tangisnya. Meli menjadi pendengar yang baik malam itu. Sesekali juga menanggapi dan berusaha menenangkan hati sahabatnya itu.
"Segelas air lagi boleh?" pinta Anjani tiba-tiba.
"Boleh banget. Tunggu," jawab Meli seraya berlarian kecil menuju dapur.
Sambil menunggu Meli mengambil segelas air, Anjani mengambil tissue dan mengelap air matanya. Smartphone yang sedari tadi diacuhkannya pun ditengok sebentar. Banyak pesan masuk yang belum dibaca oleh Anjani. Anjani pun membuka satu per satu pesan tersebut yang rata-rata isinya sama, memberi semangat dan dukungan untuk Anjani. Ada pesan dari Berlian, Dika, bahkan Juno juga ikut-ikutan memberinya semangat. Pesan yang berbeda hanya dari Alenna, yang masih berharap agar Anjani bisa mengubah keputusannya. Namun, Anjani tidak membalas satu pun pesan-pesan yang masuk itu. Anjani hanya membacanya, lalu meletakkan smartphone-nya lagi.
"Ini minumlah! Maaf agak lama," kata Meli sambil menyodorkan segelas air putih.
Glek-glek-glek!
Segelas air putih pun tandas. Disusul seutas senyum di wajah Anjani.
"Sudah lebih baik?" tanya Meli.
"Iya. Aku sudah lega karena bisa menangis. Sejak tadi aku menahannya. Malu banget kalau harus nangis di depan Paman Sam dan Ma," terang Anjani.
Meli terkekeh pelan. "Betul. Mending kamu mewek di depanku. Biar sekalian aku godain. Tuh, manisnya hilang, deh!" goda Meli dan langsung mendapat tawa ringan dari Anjani.
"Em, kamu ngasih tahu teman yang lain ya?" tanya Anjani.
"Hehe, iya. Biar makin banyak yang ngehibur. Nggak masalah, kan?" tanya Meli.
Anjani menggeleng pelan sambil tetap tersenyum. "Ohya. Gimana Leon? Untuk apa dia menemuimu?" tanya Anjani yang tiba-tiba teringat.
"Ehem. Kamu jangan kaget, ya? Kak Leon memintaku untuk membantunya agar dekat denganmu," jelas Meli.
"Ha? Kok gitu, sih? Terang-terangan banget dia!" seru Anjani.
"Nih, aku juga dikasih sogokan. Cokelat dari Paris!" Meli memamerkan sekotak cokelat mahal pemberian Leon.
"Loh, kok kamu terima sih cokelatnya? Berarti kamu setuju dong bantuin Leon?" Anjani terheran.
"Sst. Dengerin dulu. Awalnya aku nolaklah. Kan aku tahu persis kamu sukanya sama siapa. Kak Leon ninggalin cokelatnya di jalanan. Kan sayang kalau dibuang. Aku pungut, deh. Hehe," terang Meli.
"Hmm. Aneh juga, sih. Buat apa coba Leon bersikap seperti ini. Seolah tahu saja kalau hubunganku sama Mario akan berakhir. Atau jangan-jangan Leon sudah menebak ini semua?" duga Anjani.
"Hus. Sudah jangan mikir macam-macam dulu. Tambah kurus nanti kebanyakan mikir. Yang penting aku sudah nolak untuk membantunya. Titik. Dan ... sekarang giliran kamu yang harus dengerin ceritaku tentang Pak Nizar!" seru Meli dengan ceria.
"Ah, Pak dosen idola. Oke, silakan saja! Lagipula setelah ini pun aku akan kembali fokus kuliah," kata Anjani.
Cerita pun berganti. Giliran Meli yang bercerita pada Anjani. Lumayan, cerita itu cukup menghibur hati Anjani.
Sesak di dada telah tercurah. Terbagikan dalam bentuk luapan cerita. Satu kata sesudahnya. Lega.
***
__ADS_1
Bersambung ....
Nantikan lanjutannya, ya. Kritik saran buat author, dong. 😊✨