
Setiba di rumah, Anjani disambut hangat oleh pelukan Mommy Monika. Begitu lama Mommy Monika memeluk menantu kesayangannya itu. Bulir bening Mommy Monika sampai-sampai menetes membasahi pipinya.
"Mommy khawatir betul saat Mario memberi kabar kalau kamu diculik Daniel. Alhamdulillaah, kamu selamat, Sayang. Mommy bersyukur kamu pulang," ucap Mommy Monika sambil tetap memeluk Anjani.
"Alhamdulillaah, Mom." Anjani pun membalas pelukan erat itu.
"Mommy, biarkan Anjani istirahat dulu. Mario, antar istrimu ke kamar," titah John.
"Sayang, ayo!" ajak Mario.
Mommy Monika melepas pelukannya. Diusapnya pelan pipi menantu kesayangannya itu.
"Setelah ini makan yang banyak, ya. Istirahat yang cukup. Besok, Alenna akan menikah dengan Rangga," terang Mommy Monika sambil tersenyum penuh haru.
Tetiba saja Alenna datang lalu berlarian kecil menghampiri Anjani.
"Kakak ipar, aku senang melihatmu!" seru Alenna lantas memeluk Anjani dengan erat.
"Aku juga senang mendengar kabar baikmu dengan Mas Rangga. Ada yang bisa kubantu untuk besok?" tanya Anjani usai melepas pelukannya.
"No, no. Semua sudah diurus mommy sama ayah. Penghulu juga siap. Doakan saja Mas Rangga nggak gerogi waktu ijab qobulnya," pinta Alenna.
Mommy Monika dan John tidak dapat menyembunyikan tawa mereka. Mereka berdua benar-benar tidak habis pikir dengan Alenna yang benar-benar sudah ingin segera sah menjadi istri Rangga.
"Insya Allah niat baik akan selalu dimudahkan oleh-Nya. Oya, Ranti mana?" Anjani teringat sahabat Alenna dari Jakarta itu.
"Ada di kamar. Bentar lagi kuajakin makan. Udah, kakak ipar istirahat, ya. Biar kakak tampanku ini menebus kesalahannya malam ini," celetuk Alenna sambil melirik Mario dengan tajam.
Mario mengangkat sebelah alisnya. Kurang paham dengan maksud Alenna.
"Menebus kesalahan?" Mario mengoreksi.
"Iya. Kesalahan karena sudah lalai tidak bisa menjaga kakak iparku yang cantik ini. Weeek!" Alenna menjulurkan lidahnya.
Mario terkekeh. Begitu pula dengan Mommy Monika dan John yang saat itu melihat sisi kekanakan Alenna.
"Sayang, ayo ke kamar!" ajak Mario sambil merangkulkan tangan ke pundak Anjani.
Alenna membiarkan sang kakak membawa Anjani. Sementara dirinya bersama dengan Mommy Monika dan John membahas sebentar pernikahannya besok pagi.
***
Mario-Anjani terlambat makan bersama di meja makan. Mereka berdua pun menyusul setelah semua selesai makan. Sekembalinya mereka dari meja makan, Mario-Anjani berpapasan dengan Alenna yang baru saja keluar dari kamar Ranti.
Alenna tidak sengaja menyebut nama Juno, dengan Ranti yang akan mengunjungi rumah Juno setelah ini. Awalnya Alenna memberi tahu bahwa Ranti akan pergi ke rumah Juno sendirian dengan diantar sopir. Namun, Mario mengizinkan Alenna untuk menemani Ranti. Sekalian memberi kabar pernikahan Alenna dan Rangga, serta menyuruh Juno untuk datang menyaksikan momen sah.
Sontak saja Alenna mengiyakan. Apalagi Alenna memang tidak mengharapkan Ranti pergi seorang diri menemui Juno. Sekedar antisipasi setelah kekhilafan yang dilakukan Ranti dan Juno.
__ADS_1
Mario hendak menyusul langkah Anjani menuju kamar mereka, tapi Mario tanpa sengaja mendengar obrolan Ranti yang sedang menelepon Juno.
"Iya, Juno. Sebentar lagi aku berangkat. Em, aku harap kita bisa segera menikah. Sehingga tidak terus terhantui kekhilafan yang kita lakukan bersama malam itu," ujar Ranti via telepon.
Mario menangkap jelas obrolan Ranti dengan Juno via telepon.
"Kekhilafan yang dilakukan bersama malam itu? Menikah? Apa Ranti dan Juno sudah ...."
Pikiran Mario buyar karena Anjani menarik lengannya untuk segera menuju kamar.
Mereka punya privasi. Biarlah mereka mengurus urusannya sendiri. Batin Mario.
Mario mengesampingkan jauh-jauh rasa penasarannya, lantas menuruti sang istri untuk bergegas menuju kamar mereka.
Dasar Mario, begitu pintu ditutup dia segera memanjakan Anjani. Area leher dihujaninya dengan kecupan mesra. Tangannya tak pernah sungkan untuk bermain di area kesukaan. Bersama pasangan halal memang penuh kesan yang menyenangkan.
"Uhm ... Sayangku kenapa jadi nggak sabaran gini, ya?" Anjani tersenyum sambil menikmati perlakuan Mario.
Mario mengambil jeda sejenak, lantas menatap lekat manik mata Anjani.
"Aku sedang menghapus jejak Daniel, menggantinya dengan jejakku. Akan kupastikan tidurmu nyenyak tanpa teringat wajah jelek Daniel itu, Sayang," ucap Mario tanpa mengurangi senyum di wajahnya.
Anjani melebarkan senyum, lantas memperluas akses dengan menyibak pakaiannya sendiri, juga pakaian sang suami.
"Tidak sejauh ini, kan?" Mario menuju area bawah.
Anjani hanya mampu menggeleng karena sudah tidak bisa mengatasi deru nafas yang memburu. Sang suami sudah bermain terlalu jauh. Niat awal Mario hanya menghapus jejak Daniel. Nyatanya malah bermain lebih dalam hingga mencapai puncak kenikmatan.
Anjani menyeka peluh, lantas mengangguk. Tubuhnya dimiringkan hingga bisa leluasa melihat wajah Mario.
"Kurang dari satu semester, tugas akhirku selesai. Saat kamu mandi tadi, aku dan ayah sempat berbincang. Setelah wisudaku, kita semua akan tinggal di Jakarta," terang Mario.
"Kita semua? Maksudnya?" Anjani butuh penjelasan lebih.
"Ayah memintaku untuk beralih, menduduki jabatan di induk perusahaan. Rangga dan Alenna juga akan menetap di sana. Hanya induk perusahaan yang tidak diincar oleh pengkhianat selain Daniel. Kemungkinan tidak diincar karena ada pengaruh besar dari Vero, lelaki yang berinvestasi besar untuk anak perusahaan, yang juga menaruh hati pada Alenna. Ayah ingin aku dan Alenna memperkuat posisi induk perusahaan di Jakarta. Ayah dan Mommy juga akan tinggal di Jakarta. Bedanya, mereka akan sering bolak-balik ke luar negeri karena ayah berniat mengembangkan bisnis di sana."
Panjang lebar Mario menjelaskan. Anjani mendengarnya dengan baik. Dari penjelasan Mario, bisa ditangkap olehnya bahwa mereka berdua, Rangga, Alenna, Mommy dan ayah akan tinggal di Jakarta.
"Bagaimana dengan ruko dan anak perusahaan di sini?" Anjani tetiba kepikiran.
Mario tersenyum. Dikecupnya kening Anjani yang masih sedikit menyisakan peluh.
"Ruko kita berikan saja pada Dika. Aku sangat yakin dia bisa mengelolanya. Sementara anak perusahaan, posisi pimpinan sudah diambil alih Amanda. Ayah memilih tangan kanannya langsung agar kasus Leon dan Daniel tidak terulang. Juga ..." Mario menggantung kalimatnya. Membuat Anjani semakin penasaran saja.
"Ken aku minta menjadi wakil Amanda. Mulai besok akan kulatih dia. Sebenarnya aku ingin Ken mengikuti kita ke Jakarta. Tapi aku yakin sekali Ken akan berat hati untuk meninggalkan Berlian," ungkap Mario.
"Yakin mereka bersedia dengan ide ini?" Anjani masih belum lega.
__ADS_1
"Langsung kutelepon begitu selesai berbincang dengan ayah tadi. Mereka bersedia dan sukacita menerimanya,," terang Mario.
Anjani tersenyum. Dia semakin bertanya-tanya dengan gerak cepat dan kecerdasan otak Mario. Semua yang dilakukan selalu dengan ritme cepat dan penuh pemikiran. Berikutnya, Anjani menghadiahi satu kecupan kilat di bibir Mario.
"Sayangku ini gercep banget, sih!" puji Anjani, lantas kembali memberi satu kecupan kilat di bibir sang suami, lagi.
Gairah Mario kembali. Miliknya yang di bawah sana menginginkan lebih. Peluh baru saja kering, dan Mario ingin membuatnya mengalir lagi. Baru saja Mario mau memulai aksi, Anjani terburu bertanya lagi.
"Apa itu artinya aku harus pindah kuliah?"
"Tentu saja, Sayang. Masa iya kamu mau bolak-balik Jakarta-Jember?" Mario tersenyum lebar.
"Hihi. Iya juga, sih. Hem, berarti harus berpisah sama Meli, nih. Eh, tapi Meli pasti juga sudah punya niatan menetap di Jogja. Mas Azka kan sudah selesai tesisnya," pikir Anjani.
"Tidak masalah seberapa jauh jarak memisahkan. Kalau kamu rindu Meli, ataupun keluargamu di sini, suamimu ini dengan senang hati akan mengantarmu untuk mengunjungi orang-orang yang kamu sayangi."
Tutur lembut Mario membuat Anjani tersenyum. Ada perasaan lega yang menghias wajahnya.
"Kalau begitu aku mau tinggal di Jakarta. Asal bersamamu," ungkap Anjani, sembari menghadiahi kecupan kilat berulang lagi di bibir Mario.
"Eem, kamu menginginkannya lagi, ya Sayang?" Mario mengubah posisi Anjani hingga berada di atas tubuhnya.
"Iya, tapi tahan dulu sebentar ya." Anjani menangkup wajah Mario dengan gemas. "Kamu nggak mau dengar ceritaku selama disekap? Daniel dikendalikan seseorang yang dia panggil bos lho," ungkap Anjani.
"Ssuuutt. Jangan bahas itu, Sayang. Biar waktu yang mengungkap siapa bos Daniel sebenarnya. Anak buah ayah sudah dikerahkan untuk mencari mereka. Sekarang, kita coba saja mewujudkan keinginan mommy untuk menimang cucu," pinta Mario. "Jangan sampai kalah dengan Rangga dan Alenna. Besok pagi mereka menikah, lho! Mereka pasti juga akan bekerja keras memberikan cucu untuk mommy setelah ini," imbuh Mario.
Anjani senyum-senyum. Pikirannya saat ini sedang berkelana. Membayangkan dirinya, Meli, dan Alenna sama-sama mengandung, lantas melahirkan dengan waktu yang hampir bersamaan. Pastilah anak-anak mereka akan sangat menggemaskan.
"Anaknya Mas Rangga dan Alenna pastilah akan sedikit kebulean, menurun dari ibunya. Kalau anaknya Meli dan Mas Azka, mungkin akan sedikit heboh seperti Meli. Hihi. Lalu, kalau anak kita, pastilah mirip denganku," data Anjani.
Anjani cekikikan usai berkata demikian. Mario ikutan senyum-senyum dan ikut membayangkan.
Tak ingin berlama-lama dengan angannya, detik berikutnya justru Anjanilah yang memulai permainan mereka.
"Sayang, setelah semua yang terjadi, apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Mario sembari menikmati kecupan Anjani di dada bidangnya.
Anjani tidak langsung menjawab. Terus dihujaninya Mario dengan kecupan hingga sampai di kedua pelupuk mata.
"Usai memantapkan hati menjadi istrimu, aku sudah siap dengan segala macam kerikil dan bebatuan yang menghiasi perjalanan rumah tangga kita. Aku kamu saling menguatkan. Kamu aku saling menjaga kepercayaan. Sungguh tidak akan pernah ada kata menyesal," ungkap Anjani.
Kembali Anjani menghadiahi sang suami dengan kecupan, lantas ciuman di bibir dengan begitu dalam.
"Aku mencintaimu, istriku!"
"Demikian juga denganku, suamiku!"
Malam itu, Mario-Anjani saling terjerat tatapan keindahan bola mata. Terus menyatukan cinta kasih mereka dalam untaian kata mesra juga desah nafas yang mengalun indah.
__ADS_1
Berawal dari menghindari perjodohan, Anjani dipertemukan dengan takdir masa depan. Toko bunga menjadi saksi pertemuan Adinda Dewi Anjani dan Mario Dana Putra. Sejalan dengan masa kuliah yang penuh warna, cinta pun terjalin indah. Hingga ketulusan cinta akhirnya terbuktikan dalam seruan kata sah di depan penghulu. Mario-Anjani, CINTA STRATA 1.
TAMAT