CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Butuh Waktu


__ADS_3

Lampu pada lampion warna-warni, menghiasi sebuah rumah makan bergaya Eropa. Rumah makan yang sering dikunjungi para pebisnis dan orang-orang kaya lainnya. Tampilan bagian luar hingga bagian dalam rumah makan pun terlihat mewah. Desain interiornya begitu khas dan terlihat elegan.


Seorang wanita cantik berbalut dress mini model bahu off shoulder berwarna hitam baru saja turun dari mobilnya. Rambut pendek sebahu dibiarkan terurai rapi dengan satu jepitan rambut simple menghias di sana. Kalung mutiara menghiasi lehernya, sekaligus mempercantik penampilannya.


Wanita cantik itu melangkah masuk ke dalam rumah makan bergaya Eropa. Seorang pelayan langsung menyambutnya, segera mengantarnya pada salah satu meja. Sudah ada seorang pria yang menunggunya di meja tersebut. Pria berbalut tuxedo dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Leon," sapa wanita itu.


Leon menoleh, lalu tersenyum.


"Hai, akhirnya kau datang juga. Silakan duduk, Vina!" ujar Leon mempersilakan.


Vina duduk. Tak lupa pula memesan minuman dan makan malam saat ada seorang pelayan datang menghampirinya. Vina juga memilihkan pesanan untuk Leon tanpa meminta persetujuan darinya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Terpesona dengan kecantikanku, ha?" tanya Vina yang memergoki Leon menatapnya sambil tersenyum penuh arti.


"Ya, kau memang cantik. Permainanmu juga cantik, Vin." Leon memuji.


"Cih. Bilang saja mau berterima kasih," kata Vina sambil bersedekap.


"Haha," tawa Leon.


Untuk sesaat obrolan mereka terhenti lantaran seorang pelayan menghampiri dan membawa hidangan pembuka untuk Leon dan Vina.


"Vin, malam ini kamu tidak terlihat seperti seorang mahasiswa," kata Leon tiba-tiba.


"Terus terlihat seperti apa?" tanya Vina santai.


"Lebih mirip wanita penggoda," kata Leon kemudian terkekeh tanpa sungkan.


"Haha, tapi kecantikanku ini tidak cukup untuk menggoda Mario tampanku. Rasain pernikahannya batal. Berani banget main di belakang Vina!" seru Vina lalu tersenyum licik.


"Sst. Pelankan suaramu, Vin. Kalau sampai orang lain tahu kalau ini semua ulah kita bisa bahaya!" Leon mengingatkan.


"Ya-ya. Aku tahu," jawab Vina.


"Kamu hebat banget bisa sampai tahu perselingkuhan ayah Mario. Benar-benar sangat membantu buat menggagalkan pernikahan itu," puji Leon sembari tetap memelankan suaranya.


"Gimana mau nggak tahu, selingkuhannya itu anak buah nyokap di kantor. Mudah banget buat cari info," jelas Vina.


"Good Job!" puji Leon untuk ke sekian kalinya.


Lagi-lagi obrolan mereka terhenti lantaran kehadiran pelayan yang kini membawakan pesanan Leon dan Vina. Makanan dan minuman telah terhidang di meja. Senyum ramah pelayan pun tersuguh pula sembari mempersilakan pelanggannya itu untuk menikmati pesanan.


"Ya, terima kasih." Vina tersenyum manis, membalas senyuman sang pelayan rumah makan.


"Eh, sst." Kode Leon setelah pelayan pergi.


"Apa?" tanya Vina.

__ADS_1


"Kapan kamu mau mendekati Mario lagi?" tanya Leon.


"Cih. Nggak sabaran banget, sih! Ngebet banget pengen bisa dapetin hati Anjani, ha?" seru Vina yang memang sudah tahu maksud terselubung dari Leon.


"Hahaha. Cuma tanya doang. Galak amat sih jawabnya!" protes Leon. "Jadinya kapan, nih? Jangan lama-lama!" imbuh Leon.


"Ya. Aku memang akan kembali mendekati Mario tampanku. Butuh waktu. Tapi ... tidak akan lama lagi. Tunggu saja!" ujar Vina sembari tersenyum.


Makan malam pun berlangsung dengan pembahasan seputar Mario. Vina yang meminta Leon untuk bercerita banyak tentang Mario. Leon menyambutnya dengan suka cita, demi kelancaran misinya.


***


Waktu telah berlalu. Sabtu yang terencana dengan sebuah pesta, harus berlalu dengan batalnya acara. Gaun indah pada manekin berakhir hanya sebagai pajangan saja. Dekorasi, menu hidangan, bahkan list undangan yang telah direncanakan harus di-cancel semua. Mulanya demi kebaikan bersama, tapi kemudian berujung demi kebaikan satu pihak saja. Ya, memang demikianlah kenyataannya.


Anjani benar-benar teguh pada pendirian dan keputusan yang telah dibuat olehnya. Anjani kembali fokus pada kesibukan di bangku kuliah, sembari menata hati dan berharap ke depannya semua akan baik-baik saja.


Mario tak jauh berbeda dengan Anjani. Meski kecewa sempat melanda. Bahkan, emosi pun sempat bertahta dalam dirinya. Namun, Mario mencoba menerima dan memahami semua. Mario pun kembali ke aktivitas kuliah. Semua tugas kantor yang semula diamanahkan padanya telah dialihkan pada Leon dan Alenna. Mario berniat fokus kuliah dan akan mencobanya.


Senin pagi, Anjani ada jadwal kuliah. Begitu pula dengan Mario, juga ada jadwal kuliah. Seperti biasa, Anjani bersama dengan Meli, Berlian, Dika, dan Juno. Sementara Mario bersama dengan Ken.


Anjani dan Mario berpapasan langkah saat pergantian jam kuliah. Heran, meski sama-sama tahu bahwa mereka berpapasan langkah, baik Anjani ataupun Mario seperti orang asing saja. Tidak saling sapa. Terus saja melangkah.


Meli, Berlian, Dika, Juno, dan Ken kompak terheran-heran melihat Mario-Anjani, pasangan yang baru saja gagal nikah itu. Saling lirik, kode bibir ke sesama teman pun dilakukan sebagai tanda keheranan mereka pada Mario-Anjani.


"Sst, lihat tuh!"


Meli memberi isyarat pada Berlian yang melangkah di sampingnya. Akan tetapi, Berlian tidak memperhatikan isyarat dari Meli, justru malah memperhatikan Ken yang menyejajari langkah Mario.


"Iya-iya," kata Berlian lalu mengekori Meli.


Sementara itu, di lain sisi, Ken terus memandang heran ke arah Mario sambil terus menyejajarkan langkahnya. Mario sedikit risih karena merasa diawasi oleh Ken. Menghentikan langkah tiba-tiba, Mario pun langsung mengambil posisi berhadap-hadapan dengan Ken.


"Apa masalahmu, Ken?" tanya Mario.


"Aku cuma heran. Sikapmu kenapa berubah gitu sama Anjani? Santai sajalah, Bro. Harusnya hubungan kalian tetap baik-baik saja meskipun pernikahan itu batal," terang Ken.


"Hm. Terserah apa katamu saja," kata Mario lalu kembali melangkah.


"Bro! Dengerin dululah. Oke, aku memang tidak merasakan apa yang saat ini kalian rasakan, ya. Tapi setidaknya ya jangan bersikap kekanakan ginilah," jelas Ken lagi sambil tetap menyejajari langkah Mario.


"Hm," kata Mario singkat, terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Inikah Mario yang kukenal? Biasanya seorang Mario itu mampu bijaksana mengatasi berbagai macam kondisi. Kok sekarang gini, sih?" Ken sengaja memancing reaksi Mario.


Berhasil. Mario menghentikan langkahnya dan segera berhadap-hadapan lagi dengan Ken. Sontak, Ken tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memancing reaksi Mario.


Mario menghembuskan nafas dalam. "Butuh waktu, Ken. Kau bantu aku saja agar sikapku tidak berlebihan menghadapi ini," kata Mario.


"Nah, kata-katamu yang ini lebih enak didengar daripada sebelumnya. Pasti, Bro. Semua pasti akan membaik dan seperti dulu lagi. Walau bagaimana pun pertemanan kita dengan Anjani dan teman-temannya tidak boleh kandas. Tenang, aku bantu!" tegas Ken sambil menepuk-nepuk pundak Mario.

__ADS_1


Mario tersenyum dan sedikit ada perasaan lega di hatinya.


"Ayo ke kelas, Ken. Bukankah ini jadwal mata kuliahnya Pak Nizar?" tanya Mario yang kembali melangkah.


Ken mengikuti langkah Mario.


"Benar. Yeah, sepertinya aku pun ikutan mengidolakan Pak Nizar seperti teman-teman lain. Cara mengajarnya mantap betul. Sebelas dua belas sama Pak Koko. Eh, tapi kenapa aku sering lihat Pak Nizar pakai headset, ya? Sering senyum-senyum sendiri pula kalau lagi asyik pakai headset di ruangannya," terang Ken.


"Kau ingin tahu alasannya?" tanya Mario tanpa menghentikan langkahnya.


"Hei, Bro! Jangan-jangan kau tahu alasannya, ya? Cepat beri tahu aku!" pinta Ken.


Mario mengangkat bahu, lalu menjawab seadanya. "Tanyakan langsung pada Pak Nizar. Setelah itu rasa penasaranmu akan hilang," jelas Mario, tersenyum, lalu mempercepat langkahnya menuju kelas.


"Yaelah, Bro!"


***


Dika dan Juno menyejajari langkah Anjani. Sementara Meli dan Berlian di belakangnya. Sesekali Dika memberi kode pada Juno untuk membuka obrolan terkait sikap Anjani yang aneh.


"Sst, Juno!" kode Dika, sembari memberi isyarat mata.


"Ehem. Anjani, nanti kita jalan-jalan ke taman kota berdua, yuk!" ajak Juno.


"Hm?" Anjani terkejut dengan ajakan itu dan otomatis berhenti melangkah.


Dika tepuk jidat. Berlian tertawa. Sementara Meli langsung menimpuk jidat Juno dengan bukunya.


"Aw, Meli!" protes Juno karena ditimpuk buku.


"Modus banget, sih! Ingat ada Alenna, Jun. Ingat!" seru Meli.


Juno peka, dan memang terlalu peka. Sayangnya Juno tidak peka apakah obrolan yang dibuatnya akan baik-baik saja atau malah mendapat protes dari teman-temannya.


Meskipun demikian, tidak ada yang sia-sia atas usaha obrolan yang dibuka oleh Juno pada Anjani. Buktinya Anjani terkekeh melihat adegan perselisihan antara Meli dan Juno.


"Tuh, tuh! Anjani ketawa, tuh!" Dika heboh sendiri saat melihat Anjani tertawa.


"Haha. Nah, gitu dong. Manisnya balik, deh!" seru Berlian.


"Maaf, ya teman-teman. Sempat membuat kalian khawatir. Butuh waktu agar aku bisa bersikap biasa saja. Maklumin dulu, ya."


"Siap!" ujar Juno, disusul kata-kata penyemangat dari teman-teman yang lain.


Dua puluh empat jam waktu berputar. Tidak ada pengulangan. Hanya ada perbaikan pada langkah di depan saat tersuguh kesalahan ataupun penyesalan. Butuh waktu untuk mengemas semua kenangan menjadi masa lalu yang diikhlaskan. (Indri Hapsari)


Bersambung ....


***

__ADS_1


Catatan Cinta dari Author Cinta Strata 1 💕🎓


Hai, Readers 😊 Terima kasih sudah setia membaca novel karyaku. Author tahu, banyak yang kecewa karena episode pernikahan tokoh utama dibatalkan. Akan tetapi, kecewanya jangan lama-lama, ya. Selalu nantikan kejutan manis novel Cinta Strata 1. Dukung Mario-Anjani, dan dukung author-nya juga agar lebih semangat up. Like-Komentari-Vote Seikhlashnya 😉 Terima kasih. Luv kalian semua ❤✨.


__ADS_2