CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Masih Menanti Restu Ayah


__ADS_3

“Meli, ayo cepat bangun!” seru Fatimah di depan pintu kamar Meli.


“Hem,” lirih Meli. Matanya terpejam.


Gedoran pintu kamar Meli terdengar kencang. Sayup-sayup Meli mendengar seruan sang ibu memanggil namanya beriringan dengan suara gedoran pintu kamar. Meski kantuk masih melanda, Meli memaksa diri untuk lekas terjaga dari tidurnya.


“Meli! Ayo bangun!” seru Fatimah untuk ke sekian kalinya.


“Hoaam!” Mata Meli terbuka.


Kali ini Meli dapat mendengar suara sang ibu dengan jelas. Dia sudah terjaga penuh. Dengan langkah gontai Meli berjalan mendekati pintu kamar, lalu membukanya perlahan.


“Selamat pagi ibuku tersayang,” sapa Meli dengan wajah bangun paginya.


“Eh. Anak gadiiiis. Santai betul, ya. Tahu nggak sekarang jam berapa? Seperti ini mau jadi istri orang?” tanya Fatimah dengan gemas.


Meli mengusap tengkuknya. Matanya mengerjap cepat dengan ekspresi wajah polos khas Meli.


Fatimah menyentil kening putrinya.


“Cepetan mandi, lalu sholat. Azan subuh sudah dua puluh menit lalu!” tegas Fatimah.


Bola mata Meli membulat. Mendadak Meli heboh sendiri.


“Aaaaa! Aku kesiangan!” seru Meli panik.


Cepat-cepat Meli meninggalkan sang ibu, menuju kamar mandi untuk lekas bebersih diri lantas menunaikan sholat subuh. Namun, saat langkah Meli sudah sampai di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba Meli putar balik. Meli kembali ke tempat sang ibu berdiri. Meli lekas meraih tangan sang ibu, lalu memeganginya.


“Meli janji nggak akan kesiangan lagi. Jangan tarik restu ibu untuk Mas Azka, ya.” Meli memohon.


“Ah, kamu ada-ada saja. Yasudah. Cepat mandi, terus sholat!” perintah sang ibu dengan nada ramah, tidak gemas seperti tadi.


Meli girang. Lampu hijau dari sang ibu tetap menyala terang. Selanjutnya langkah Meli membawanya untuk bebersih diri, dilanjut menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Gamis pemberian Via, lengkap dengan jilbab yang senada menjadi pilihan Meli. Tak ketinggalan, bros pemberian Azka juga dipakai. Meli senyum-senyum sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


“Bismillaah, semoga ayah memberikan restunya untuk Mas Azka,” doa Meli sembari mengusap pelan bros pemberian Azka.


Meli lekas ke dapur. Sudah jadi kebiasaan rutin baginya untuk membantu sang ibu memasak. Bukan memasak makanan berat, Meli kurang begitu bisa memasak variasi makanan untuk makan sehari-hari. Meli biasa di dapur untuk membantu sang ibu membuat kue pesanan. Meski seringkali ceroboh, tapi rasa kue buatan Meli tidak bisa diragukan.


“Ada pesanan kue lagi, ya?” tanya Meli begitu melihat sang ibu sibuk membuat adonan kue.


“Iya, nih. Donat. Bantu buatin adonan satu lagi, ya. Biar cepat selesai,” pinta Fatimah.


Meli mengangguk. Dia sudah terbiasa membuat adonan kue. Rasanya pun enak, tak jauh beda dengan adonan buatan sang ibu.


“Ayah sudah berangkat ya, Bu?” tanya Meli sambil memasukkan telur-telur dalam wadah tepung.


“Sudah sejak tadi. Eh, ayah sudah mempekerjakan satu orang di kiosnya. Lumayan, ada yang bantu ayah,” terang Fatimah.


Meli senang sekali mendengar kabar itu. Itu artinya kios kacang-kacangan sang ayah sudah berkembang, hingga mampu mempekerjakan orang.


“Em, Bu. Tadi ibu sempat nyinggung soal Mas Azka nggak di depan ayah?” tanya Meli.


“Rasa-rasanya anak ibu ini sudah kebelet nikah. Ehem,” goda Fatimah. Dia terkekeh mendengar pertanyaan putrinya.


Digoda seperti itu membuat bibir Meli manyun. Namun, Meli tidak mengingkari pernyataan sang ibu. Dirinya memang ingin segera mendapat restu dari sang ayah, agar Azka segera datang melamar ke Jember.


“Ibu belum ngomong apa-apa pada ayahmu. Insya Allah nanti setelah ayahmu pulang dari pasar, ibu baru akan bilang. Sa-bar,” pinta sang ibu agar putrinya itu bersabar.


“Iya, deh. Kalau gitu bentar lagi Meli mau keluar sama Anjani nganter oleh-oleh dari Jogja buat teman-teman. Kalau di rumah aja nanti kepikiran terus,” terang Meli.


“Sekalian tanya-tanya cara masak sayur lodeh ke Anjani. Anjani kan jago kalau masak seperti itu. Ibu kadang pengen belajar sama Anjani juga,” saran Fatimah.


“Buat apa tanya Anjani?” Meli tidak mengerti.


“Kamu harus belajar mulai sekarang, siapa tahu Mas Azka-mu doyan sayur lodeh juga seperti ayahmu,” kata Fatimah.


“Hehe. Iya juga, ya. Ngomong-ngomong, apa ya masakan kesukaan Mas Azka?” Meli bertanya-tanya sambil senyum-senyum sendirian.


Fatimah mendekati Meli yang masih saja senyum-senyum sendiri. Putrinya benar-benar sedang dimabuk cinta. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali nama Azka disebut pagi itu olehnya.


“Sst. Fokus. Jangan sampai waktunya masukin gula ke adonan malah keliru garam, lho.” Fatimah mengingatkan putrinya.


“Siap ibu ratu!” Meli berlagak seperti seorang prajurit.


Bukan Meli jika tidak bertingkah. Meli terus saja cengar-cengir sambil joget ringan. Nama Azka bahkan disenandungkan dalam lagu yang diciptakan dadakan oleh Meli.


Fatimah sudah hafal dengan sikap putrinya. Fatimah tersenyum dan membiarkan Meli asik sendiri. Menit-menit berikutnya pun dilalui dengan acara goreng-menggoreng donat, sekaligus memberi toping untuk donat-donat yang sudah jadi.


***

__ADS_1


Bibi Sarah, istri Paman Sam itu sibuk melayani pembeli yang berbelanja di warungnya. Sekitar tiga ibu-ibu antri menunggu giliran dilayani. Paman Sam ada di sana, tapi tidak membantu istrinya. Paman Sam sedang menata kardus-kardus berisi bahan makanan yang baru saja tiba.


“Anjani,” panggil Paman Sam.


“Iya, Paman. Anjani tahu kok ada Meli datang, hehe.” Anjani tersenyum melihat kehadiran Meli.


Meli lekas memberi salam, lalu menyapa Paman Sam dan Bibi Sarah secara bergantian.


“Wajahmu cerah sekali, Mel. Lampu hijaunya sudah menyala, ya?” tanya Anjani.


“Masih satu,” jawab Meli santai.


Lekas dia membantu Anjani membawa bungkusan gamis oleh-oleh dari toko Via di Jogja untuk teman-temannya.


“Meli, kau dapat apa dari Jogja?” tanya Paman Sam pada Meli.


“Dapat jodoh, Paman.” Meli serius mengatakannya.


Paman Sam yang melihat keseriusan di wajah Meli, seketika melirik Anjani. Seolah tahu dengan apa yang dimaksud pamannya, Anjani pun lekas mengangguk membenarkan kata-kata Meli.


“Wah. Roni pasti girang kalau tahu,” celetuk Paman Sam.


Meli lekas menoleh dan menghampiri Paman Sam. Ada keceriaan tambahan yang terlihat jelas di wajah Meli.


“Beneran ayah akan senang mendengarnya?” tanya Meli dengan antusias.


“Setiap orang tua jelas akan senanglah kalau anaknya laku dan dilamar orang. Hehe.” Paman Sam terkekeh.


“Oh.” Meli hanya ber-oh saja. “Kirain Paman Sam tahu sesuatu tentang ayah,” lirih Meli, lalu kembali mendekati Anjani.


“Sst. Yakin saja. InsyaAllah niat baiknya akan dipermudah oleh Allah.” Anjani menepuk pelan bahu Meli.


Meli mengangguk dengan lemas. Sungguh hati Meli harap-harap cemas menanti restu sang ayah.


Motor dilajukan. Anjani dan Meli mulai mengunjungi satu per satu rumah teman-temannya untuk mengantar oleh-oleh dari Jogja. Anjani yang menyetir, karena Meli benar-benar kurang bersemangat.


Oleh-oleh pertama mendarat di toko bunga Kak Lisa, mumpung ada Berlian di sana. Perjalanan dilanjutkan menuju rumah Ken. Untung saja tidak ada Juno di sana, sehingga Anjani dan Meli tidak berlama-lama. Oleh-oleh milik Dika dititipkan pada Ken, karena Meli enggan untuk bertemu Dika.


“Punya Vina gimana, nih?” Anjani bingung.


“Gini deh kalau alamat rumah disembunyikan. Huuh.” Meli gemas.


“Titipin ke Alenna aja, ya.” Anjani tak punya ide lain.


Dag-dig-dug. Jantung Anjani berdebar-debar semenjak memasuki area kompleks perumahan. Kalimat yang dibisikkan Mario masih diingat dengan jelas. Anjani memenuhi permintaan Mario. Anjani ke rumahnya untuk mengantar oleh-oleh sekaligus bertemu Mommy Monika.


“Ayooo!” Meli menarik-narik lengan Anjani.


“Oke-oke. Huft.” Anjani mengekori Meli.


Debaran jantung tak lagi dapat dikondisikan. Anjani terus-menerus menghela nafas untuk menciptakan rasa tenang. Namun, gagal.


“Anjani, Meli, silakan masuk!” Mario ramah menyambut tamunya.


“Yuhuuuu. Kak Mario hari ini keliatan ganteng,” celetuk Meli.


“Huus. Ingat Mas Azka!” protes Anjani.


“Hehe. Bercanda doang. Lagian kamu sih pakek acara gugup segala. Cieee, pasti berdebar-debar nih sekarang, bakal ketemu calon mertua.” Meli terus menggoda.


“Yuk-yuk. Masuk!” ajak Anjani.


Giliran Anjani yang menarik lengan Meli untuk segera masuk ke dalam rumah Mario.


Meli lincah mendahului Anjani duduk di sofa. Meli bahkan mengambil satu kotak sepatu dan mengamati kertas-kertas pembungkus yang tergeletak tak jauh dari sofa.


“Itu orderan pelanggan,” terang Mario.


“Kak Mario punya olshop?” Meli kepo.


“Iya. Jual produk sepatu dari perusahaan ayah.” Mario menunjukkan akun olshopnya.


Meli melirik Anjani penuh makna. Yang dilirik justru masih terdiam karena masih berusaha mengontrol debaran jantungnya.


“Kak Mario, Anjani bisa bantu lho,” kata Meli tiba-tiba.


“Benarkah?” Mario tertarik.


Anjani lekas memelototi Meli. Sementara Meli malah cekikikan menikmati ekspresi Anjani.


“Kamu kan udah belajar banyak dari Via dan Ratna. Sekarang saatnya tunjukkan kemampuan Anjani yang sesungguhnya. Iya kan, Kak Mario?” Meli mencari dukungan.

__ADS_1


“Tentu saja. Aku juga sedang mencari beberapa orang untuk membantu bisnis olshop ini. Anjani, apa kamu bersedia?” tanya Mario.


“Bersedia untuk menikah denganmu?” tanya Anjani spontan.


“Eh?" Mario terkejut mendengarnya.


Meli lekas menginjak kaki Anjani agar sahabatnya itu tersadar. Anjani justru bingung dan merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan.


“Ada yang salah?” tanya Anjani pada Meli.


“Secara tidak langsung kamu barusan minta dilamar sama Kak Mario,” bisik Meli.


“Eh, benarkah?” Anjani makin bingung.


“Anjani, apakah kamu ingin menikah denganku?” tanya Mario, menyela.


Meli terkekeh. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan tawanya. Menurutnya, Mario-Anjani saat itu benar-benar bertingkah lucu.


Anjani tidak menjawab pertanyaan Mario. Jelas sekali dia salah tingkah karena bingung. Mario yang peka pun seketika mengalihkan perhatian dengan kembali meminta kesediaan Anjani dan Meli untuk membantu bisnis olshopnya. Mereka pun bersedia.


“Mario. Mommy mana?” tanya Anjani yang sedari tadi belum melihat Mommy Monika.


“Ohya, maaf. Aku lupa bilang. Mommy mendadak harus ke kantor ayah. Salam dari Mommy untukmu,” kata Mario seraya tersenyum.


“Eh, salam apa nih, Kak?” Justru Meli yang bertanya pada Mario.


“Terserah Anjani saja maunya salam apa,” jawab Mario.


“Anjani, ada salam tuh dari calon ibu mertua,” celetuk Meli.


Anjani mencubit gemas hidung Meli. Bukan kesakitan, Meli justru terkekeh.


“Kamu jahil banget sih hari ini?” bisik Anjani.


“Biarin. Siapa tahu kamu bakal nyusul aku menikah.” Meli balas berbisik.


“Lampu ijomu kan masih satu,” balas Anjani.


“Aku yakin sebentar lagi bakal jadi dua. Sst … memangnya kamu nggak mau nikah sama Kak Mario?” tanya Meli dengan tetap berbisik.


“Ya maulah,” jawab Anjani dengan cepat.


“Tuh, Kak. Anjani bilang mau nikah sama Kak Mario,” seru Meli dengan lantang.


Anjani lekas membekap mulut Meli. Dalam dekapan tangan Anjani, Meli tertawa tak tertahankan. Meli merasa puas menjahili Anjani. Namun, Meli yakin akan ada suatu keajaiban untuk kisah cinta Mario-Anjani setelah kejahilannya itu.


Pipi Anjani merona. Ada rasa senang bercampur rasa malu. Anjani sama sekali tidak menyalahkan Meli karena telah menjahilinya. Semua yang dikatakan Meli pada Mario telah mewakili pertanyaan yang tidak pernah berani diungkapkan olehnya.


Mario tersenyum sejak Meli mulai menjahili Anjani. Mario minim kata-kata, tapi dirinya tiada henti mengamati sikap dan perubahan ekspresi pada diri Anjani.


Apakah ini sinyal bahwa kamu sudah bisa melupakan masa lalu itu, Anjani? Jika aku melamarmu lagi, apakah kamu bersedia? Batin Mario. Dia belum punya nyali untuk mengatakan itu pada Anjani.


“Oh ya, masih bersedia mengajari Mommy mengaji?” tanya Mario yang tiba-tiba saja teringat.


“Tentu. Mulai kapan?” tanya Anjani.


“Kutanyakan dulu, ya. InsyaAllah Alenna yang akan menghubungimu lagi," jelas Mario.


Anjani mengangguk setuju.


Acara mengantar oleh-oleh di rumah Mario berlanjut dengan pembahasan seputar olshop. Anjani dan Meli berbagi ilmu yang sudah mereka dapatkan dari Via dan Ratna selama di Jogja. Mario sudah memiliki ilmu tentang bisnis itu, tapi semakin mantap setelah mendengar penjelasan dari Anjani dan Meli.


Saat Meli tengah asyik membahas olshop bersama Mario-Anjani, di pasar sana sang ibu sedang membahas tentang Azka. Fatimah sengaja menemui suaminya di kios.


Fatimah menceritakan apa yang sudah dia dengar dari putrinya. Semuanya, tentang sosok Azka beserta kebaikan keluarganya. Fatimah juga menyampaikan niat baik keluarga Azka yang akan segera melamar Meli begitu restu orangtua didapatkan.


“Bagaimana dengan kuliah Meli?” tanya Roni dengan serius.


“Meli tetap bisa melanjutkan kuliah meski sudah menikah, Ayah. LDR-an bentar apa salahnya, sih. Atau kalau mau Meli bisa pindah kuliah. Sekarang ini mereka berdua sudah sama-sama suka. Bahkan keluarga Nak Azka langsung punya niatan baik untuk melamar Meli, lho.” Fatimah berusaha meyakinkan suaminya.


Roni terdiam. Dia mencoba mencerna penjelasan istrinya. Di sebelahnya, Fatimah sabar menunggu tanggapan sang suami. Dia tampak berhati-hati.


“Kalau ibu sih merestui saja. Toh mereka sama-sama saling cinta. Sekarang,


bagaimana dengan ayah, nih?” tanya Fatimah setelah beberapa menit tak ada tanggapan dari suaminya.


“Kita pulang sekarang. Telpon Meli juga agar segera pulang. Ayah ingin berbicara dengannya,” perintah Roni pada istrinya.


Fatimah menurut. Dia lekas menghubungi Meli, memintanya untuk segera pulang.


Bersambung ….

__ADS_1


Apakah restu sang ayah akan berhasil didapatkan? Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Yuk, kenal sosok Azka dan keluarganya di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami. Vote, Like, dan Tinggalkan jejak komentar kalian. See You. 😉



__ADS_2