CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Tunggu Aku Malam Ini


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 tengah malam. Namun, rasa kantuk tak kunjung datang. Anjani sedari tadi hanya memejamkan mata tanpa bisa terlelap. Anjani memeluk guling, sambil mengingat-ingat momen romantis beberapa jam lalu saat dirinya di alun-alun kota. Pesona wajah Mario saat melamar dirinya terus terbayang, membuat Anjani senyum-senyum sendiri tanpa henti.


Beberapa menit berlalu, Anjani masih tetap terjaga dengan senyum yang tanpa henti menghias wajahnya. Tiba-tiba kedua bola mata Anjani dibuka, memutuskan untuk duduk di kasurnya, lalu menepuk-nepuk pelan pipi kanannya, terakhir mencubitnya.


"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aw! Ini nyata," gumam Anjani sambil kembali senyum-senyum sendiri dengan guling yang masih tetap dipeluknya.


Seketika Anjani menghempaskan kembali tubuhnya di atas tempat tidur. Anjani mulai berguling-guling lagi ke sana-sini hingga semua bagian kasur dijelajahi. Sejenak Anjani berhenti, melihat langit-langit kamarnya. Ada wajah Mario sedang tersenyum pada Anjani tergambar di langit-langit sana, membuat Anjani kembali tersenyum dibuatnya.


Anjani berguling-guling lagi. Sayangnya, kali ini Anjani kurang beruntung. Anjani terjatuh dari tempat tidur. Sesaat sebelum jatuh, tangan Anjani sempat meraih taplak meja di sisi kiri tempat tidurnya. Namun, taplak meja ikut terseret dan menjatuhkan barang-barang di atasnya.


Klontang!


"Ups .... Aduh!" seru Anjani dengan nada tertahan, takut membangunkan Paman Sam.


Rupanya Paman Sam mendengar suara gaduh dari kamar Anjani. Segera Paman Sam menghampiri dan menggedor pelan kamar Anjani. Paman Sam ingin memastikan bahwa Anjani baik-baik saja.


Tok-tok-tok!


Terdengar suara pintu kamar Anjani diketuk pelan. Setelahnya suara khas Paman Sam menyusul dan menyuruh Anjani agar segera membuka pintu kamarnya.


"Anjani, kau baik-baik saja?" tanya Paman Sam saat Anjani tak segera membuka pintu kamarnya.


Anjani berjalan tertatih. Rupanya kaki kanannya tadi sempat membentur salah satu bagian kaki tempat tidurnya. Anjani berjalan perlahan menuju pintu kamarnya, lalu membukanya sambil memasang ekspresi wajah tak berdosa. Anjani nyengir kuda di depan Paman Sam.


"Hah? Kenapa pula ekspresi wajah kau itu? Tuh, kaki kau kenapa?" tanya Paman Sam.


"Jatuh dari kasur, nendang kaki tempat tidur, dan begini, deh! Hihi," jelas Anjani kemudian tertawa kecil.


"Ada-ada saja kau ini. Paman kira ada maling masuk kamar kau," duga Paman Sam.


"Eit. Nggak bakalan ada yang berani maling di rumah ini, Paman. Siapa yang nggak kenal Paman Sam? Mantan preman yang punya banyak anak buah. Pasti takut malingnya," terang Anjani.


"Halah, bisa saja kau ini. Tapi sepertinya memang sudah ada maling di rumah ini," imbuh Paman Sam.


"He? Maling apa?" tanya Anjani tidak paham.


"Maling hati kau. Masa iya sepulang dari alun-alun kota, kau senyum-senyum sendiri. Bisa lihat jelas paman kau ini kalau hati kau lagi berbunga-bunga. Hehehe." Paman Sam terkekeh.


"Paman apa'an, sih?" Anjani berusaha mengelak. Namun, akhirnya kalah juga dan malah ikut tertawa.


"Coba cerita sama paman kau. Pangeran dari negeri mana?" tanya Paman Sam antusias.


"Negeri Sepatu! Sudah ah, Paman. Aku tidur lagi, ya. Selamat malam, Paman!" seru Anjani kemudian menutup pintu kamarnya.


"Hei, Anjani. Paman kepo, nih! Besok kau harus bagi-bagi cerita, ya!" seru Paman Sam.


Anjani kembali ke tempat tidurnya. Selimut hangat ditarik, memejamkan mata, lalu Anjani pun terlelap beberapa menit kemudian.


***


Hari telah berganti. Pagi yang cerah telah menyambut Anjani. Kokok merdu Miko, ayam peliharaan Anjani memberi warna tersendiri suasana pagi itu. Anjani bergegas menuju dapur setelah bebersih diri.


Anjani membantu Paman Sam memasak. Sayur kangkung, tempe, ikan pindang, dan bumbu dapur telah disiapkan. Anjani kebagian memasak tumis kangkung. Cabai rawit yang telah dipotong kecil-kecil tak lupa ditambahkan, karena Anjani dan Paman Sam memang suka rasa masakan yang pedas.


Paman Sam menggoreng tempe dan ikan pindang. Selesai menggoreng, Paman Sam mengambil beberapa cakup kerupuk dan menggorengnya untuk dilahap bersama nasi, lauk, dan sayuran.


Anjani dan Paman Sam makan bersama. Lauk yang terhidang memang sederhana, tapi cukup membuat lahap. Sayur kangkung masakan Anjani laris manis. Bukan karena masaknya terlalu sedikit, tapi karena pagi itu baik Anjani maupun Paman Sam begitu menikmati sarapan pagi, hingga tambah lagi beberapa kali.


"Ehem," dehem Anjani setelah selesai makan.

__ADS_1


"Hem, ini pasti ada yang mau disampaikan," kata Paman Sam lalu menyeruput teh hangat.


"Paman, tadi malam katanya kepo. Apa sekarang masih kepo?" tanya Anjani.


"Ceritakan saja pada paman kau ini. Tak perlu kau malu-malu macam putri malu," pinta Paman Sam.


Anjani mengangguk, tersenyum, kemudian menyempatkan menyeruput teh hangat bagiannya sebelum bercerita. Setelah meletakkan cangkir berisi teh yang masih tersisa setengah, Anjani pun memantapkan hati untuk bercerita pada Paman Sam.


"Paman, ada yang memintaku semalam. Apakah ...." Kata-kata Anjani terhenti karena disela Paman Sam.


"Siapa yang berani-beraninya meminta keponakan kesayangan paman kau ini, ha? Kalau dia laki-laki, suruh segera menemui paman kau ini!" seru Paman Sam dengan nada serius.


Melihat ekspresi tak terduga dari Paman Sam, membuat Anjani jadi ciut nyali. Anjani jadi tidak berani membahasnya lagi. Anjani hanya mengangguk pelan setelah Paman Sam berkata demikian.


"Kalau begitu aku tinggal jaga warung dulu. Kalau kau mau berangkat kuliah, sekalian bawa puding cokelat di kulkas untuk makan siang. Ingat, sampaikan pada laki-laki itu, paman kau ini menunggu kedatangannya," imbuh Paman Sam kemudian berlalu pergi menuju warung di depan rumahnya.


Lagi-lagi Anjani mengangguk pelan, disusul tarikan dan hembusan nafas panjang. Anjani mendadak ragu, khawatir lamaran Mario tidak akan diterima oleh Paman Sam. Tiba-tiba Anjani teringat pada Ma di desa. Anjani pun segera mengirim pesan untuk meminta pendapat Ma.


***


Di kampus


Meli bersorak senang setelah mata kuliah Pak Koko selesai. Bukan senang karena sesi kelas sudah berakhir, tapi senang karena nilai post test Meli masuk urutan sepuluh besar tertinggi di kelas. Anjani, Berlian, Juno, dan Dika juga masuk dalam urutan nilai tertinggi, tapi sorakan bahagia mereka tidak sekencang Meli.


"Yuhuuu!" seru Meli.


"Biasa saja, Mel!" protes Dika. Sementara Meli hanya membuang muka sebagai tanggapannya.


"Juno, bisa antar aku ke ruangannya Pak Koko? Mau ngumpulin tugasnya teman-teman yang tertinggal kemarin. Bisa, ya?" tanya Berlian penuh harap.


Juno garuk-garuk kepala. "Gimana, ya? Sebenarnya ada yang mau aku obrolin sama Anjani," terang Juno sekaligus sebagai penolakan secara halus.


"Nanti kita obrolin di grup chat saja bareng-bareng, ya. Berlian juga sudah masuk grup, kan? Sekarang antar saja Berlian," jelas Anjani.


"Iyee," kata Berlian bersorak senang.


"Kalau gitu aku pamit pulang dulu, ya? Sudah nggak ada kelas lagi setelah ini. Bye semua," pamit Dika.


Juno, Berlian, dan Dika telah pergi dengan urusannya masing-masing, menyisakan Anjani dan Meli. Anjani mengajak Meli menuju salah satu gazebo yang terlihat kosong. Anjani ingin menghabiskan puding cokelat yang tadi dibawanya dari rumah.


"Uenak!" puji Meli.


"Paman Sam yang bikin, lho!" sahut Anjani.


"Paman Sam memang the best, deh. Eh, ngomong-ngomong nih, aku perhatiin dari tadi pagi kamu happy banget. Kadang malah senyum-senyum sendiri. Aku kepo, nih. Baru dapat arisan?" tebak Meli.


"Hahaha. Kalau dapat arisan kamu langsung kutraktir bakso, Mel. Bukan karena itu," sangkal Anjani.


"Trus?" tanya Meli ingin segera tahu.


Anjani menimbang-nimbang lebih dulu, akan bercerita atau tidak. Namun, Meli adalah sahabat baik Anjani. Bercerita pada Meli akan membuat Anjani jadi memiliki tempat untuk meminta pendapat sekaligus berbagi sesuatu yang sedang dirasakan.


Anjani meletakkan sendok plastik di wadah puding. Anjani berdehem sebentar, tersenyum, kemudian sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Meli. Sambil setengah berbisik, Anjani mulai berkata-kata dan sukses membuat Meli melotot tak percaya.


"Mario memintaku untuk jadi istrinya," kata Anjani.


"What? Serius? Baru beberapa hari lalu kamu cerita. Kemarin juga masih galau-galauan. Eh, sekarang tiba-tiba bawa kabar begini. Nggak lagi halu, kan?" tanya Meli yang masih tak percaya.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" tanya Anjani serius.

__ADS_1


"Em, enggak juga, sih. Jadi serius?" tanya Meli mencoba meyakinkan diri.


Anjani mengangguk mantap. Setelah anggukan itulah Meli percaya. Meli semakin percaya lagi setelah Anjani menceritakan momen romantis di alun-alun kota, saat Mario melamar.


"Hmm, so sweet banget sih Kak Mario. Aku jadi iri, deh. Selamat, ya Anjani. Aku senang, kok." Meli mencubit gemas hidung Anjani sambil mengucapkan selamat padanya. "Eh, aku saranin diem-diem dulu sampai mendekati hari H. Cie hari H. Hihi. Gini-gini, biar nggak kena damprat penggemarnya Kak Mario," saran Meli.


"Kamu bener juga, Mel. Oke-oke. Tapi, tadi pagi reaksi Paman Sam seperti itu. Aku jadi ragu bisa dapat restu apa nggak," terang Anjani.


"Seperti itu maksudnya?" tanya Meli belum paham.


Anjani menceritakan tentang reaksi Paman Sam tadi pagi. Anjani pun berbagi rasa khawatirnya pada Meli. Benar, berbagi memang memberi arti tersendiri. Buktinya Anjani mendapat banyak saran dan masukan dari Meli.


"Segera omongin sama Kak Mario. Paman Sam ada benarnya. Laki-laki yang benar-benar serius memintamu pasti akan datang menemui orangtuamu. Em, maksudku menemui Paman Sam dan Ma," terang Meli.


Meli meralat kata-katanya. Takut mengingatkan Anjani pada ayahnya. Yang dimaksud orangtua bagi Anjani saat ini adalah Ma dan Paman Sam. Meski Meli sudah meralat kata-katanya, tetap saja Meli melihat perubahan ekspresi pada diri Anjani.


Mario sudah jujur tentang kisah keluarganya. Aku pun harus jujur juga tentang ayahku agar nanti tidak membuat Mario bertanya-tanya, batin Anjani.


"Anjani. Hei-hei!" seru Meli sambil mengibaskan tangan di depan wajah Anjani.


"Hm, iya. Makasih sarannya, Mel. Setelah ini aku mau ketemu Mario bentar. Kamu mau nunggu atau langsung pulang?" tanya Anjani.


"Aku tunggu aja, deh. Kamu ketemunya pasti bentar, kan?" kata Meli.


Anjani mengangguk lalu tersenyum. Sembari menunggu Mario, Anjani menikmati puding cokelat, begitu juga dengan Meli.


Beberapa menit kemudian, yang ditunggu pun datang. Saat itu Mario memang ada jadwal kuliah. Namun, atas permintaan Anjani, Mario menyempatkan diri menuju gazebo untuk mengobrol sebentar.


"Hai Kak Mario," sapa Meli saat Mario baru melangkah ke gazebo, dan dibalas sebuah senyuman pula oleh Mario.


"Hai," sapa Anjani sambil tersenyum.


"Sudah makan siang?" tanya Mario sambil menatap bola mata Anjani.


"Sudah. Em, sudah baca pesanku?" tanya Anjani.


Mario mengangguk pelan sambil tetap mempertahankan senyumnya dan masih dengan menatap bola mata Anjani.


"Lalu, bagaimana?" tanya Anjani sambil mengubah ekspresi wajahnya dengan kekhawatiran.


"Hilangkan rasa khawatirmu, Anjani. Aku akan menemui pamanmu malam ini," terang Mario dengan nada menenangkan.


Anjani tersenyum mendengarnya. Anggukan pelan segera disampaikan sebagai jawaban. Dua bola mata Anjani terus membalas tatapan mata Mario saat itu. Untuk beberapa detik lamanya, Anjani dan Mario masih saling tatap dengan senyum yang menghias di masing-masing wajah mereka. Hingga kemudian Meli berdehem, dan membuyarkan semua.


"Ehem! Aku hanya nyamuk. Abaikan saja aku!" seru Meli sambil berlagak melihat-lihat pesan di smartphone-nya.


Anjani tertawa kecil, kemudian menyendok puding dan menyuapkannya pada Meli. Mario hanya tersenyum menyaksikan itu.


"Aku ikut kelas dulu, ya. Tunggu aku malam ini," pamit Mario.


"Iya," jawab Anjani yang masih tersenyum hingga Mario melangkah pergi.


"Ciee," goda Meli sesaat kemudian.


"Apa'an sih cie-cie. Yuk, pulang!" ajak Anjani.


"Oke, deh."


Langkah kaki Anjani dan Meli membawa mereka ke rumah masing-masing. Saat sampai di rumah, Anjani bergegas menyampaikan rencana kedatangan seseorang yang akan memintanya. Saat bercerita, Anjani tidak menyebutkan nama Mario. Begitu pula dengan Paman Sam yang tidak bertanya tentang nama. Namun, Paman Sam menantikan kehadirannya malam ini.

__ADS_1


Bersambung ....


Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Salam hangat dariku 😊💕 Like dan komentarnya untuk cerita ini, ya ❤


__ADS_2