CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Misi Selesai


__ADS_3

Sore telah bertemu senja. Tak begitu lama panorama indah sang senja pun telah tergantikan dengan sambutan malam. Bintang-bintang mulai terlihat bermunculan. Rembulan juga ikut bersinar.


Anjani sudah pamit pulang sejak satu jam lalu. Sementara itu Meli masih setia menanggapi sikap-sikap Alenna, dan dengan kesabaran penuh menahan diri agar tidak mudah emosi saat Alenna membuat ulah.


"Meli, aku kedinginan, nih! Rumahmu tidak ada penghangat ruangannya, ya?" tanya Alenna sambil melahap kentang goreng yang baru saja dibuat oleh Meli.


"Tidak ada," jawab Meli singkat.


"Meli, kulihat-lihat di rumahmu tidak ada garasi. Kamu tidak punya mobil, ya?" tanya Alenna.


"Tidak punya," jawab Meli lagi.


"Meli, adakah jawaban yang kamu punya selain kata 'tidak'?" tanya Alenna. Kini dia beralih dari kentang goreng menuju sebuah pigora.


Pyar


Pigoranya terjatuh. Kacanya pecah dan berserakan kemana-mana.


"No ...!" teriak Meli.


"Hehe, pecah deh! Tapi aku sudah dengar, ternyata kamu punya kata lain selain 'tidak', Meli."


"Apa?" jawab Meli sedikit kesal.


"No," jawab Alenna dengan wajah ceria.


"Oh .... Juno! Cepat kabari kami kalau kau sudah menemukan rumah Alenna. Uh ....!"


Meli gemas, tapi lagi-lagi mencoba menahan diri untuk tidak terlalu larut dalam emosi. Berbeda dengan Alenna. Dia selalu saja membuat pertanyaan tanpa dipikirkan. Lebih-lebih sikap Alenna seolah acuh meski jelas-jelas telah membuat kesalahan.


"Meli, mau kemana?" tanya Alenna saat melihat Meli beranjak pergi selesai membereskan serpihan kaca pigora.


"Nonton drama biar nggak emosi," jawab Meli.


"Ikuuut! Yang tanpa subtitle ya. Ingat, aku nggak suka ada yang nangis saat nonton drama!"


"Ah, mulai lagi, deh!"


***


Suasana malam alun-alun kota sungguh memesona. Banyak cahaya lampu warna-warni, juga ada air mancur yang bisa menari. Pemandangan itu memanjakan mata bagi siapa pun yang berkunjung ke alun-alun kota. Termasuk Anjani yang saat itu duduk sendiri di salah satu bangku kayu berornamen bunga mawar.


Setelah pulang dari rumah Meli, Anjani keluar lagi untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk Ma di desa. Selesai mendapatkan semua yang diinginkan, Anjani mampir sebentar ke alun-alun kota. Meski hanya duduk diam sambil menikmati air mancur menari, hati Anjani sudah cukup terhibur.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Anjani puas dan mulai beranjak untuk pulang. Akan tetapi, langkah kakinya tiba-tiba dihadang oleh seseorang.


"Mario?" Anjani kaget. Dia tidak menyangka akan bertemu Mario di tempat itu.


"Sudah mau pulang?" tanya Mario.


"Rencananya sih gitu," jawab Anjani terus terang.


"Kalau begitu ubah rencanamu. Temani aku sebentar duduk di sini," tutur Mario sambil mulai duduk di salah satu bangku kayu.


Anjani tidak protes, itu artinya dia setuju. Dia mengikuti langkah Mario dan duduk di bangku yang sama dengan Mario. Namun, baik Anjani maupun Mario sama-sama memilih duduk di bagian ujung bangku. Jadilah ada jarak duduk yang lumayan di antara mereka.


Lima menit sudah berlalu, tapi tidak ada satu pun yang berkata-kata. Anjani dan Mario sama-sama melihat ke arah air mancur menari. Duduk diam di sana, sambil sesekali senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Tidakkah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, Anjani?" tanya Mario tanpa mengalihkan pandangannya dari air mancur menari.


"Maksudmu air mancurnya? Ah, itu terlihat indah!" ujar Anjani. Kini dia mengalihkan pandang dan melihat wajah Mario.


Deg!


Anjani menangkap raut wajah Mario yang sedikit berbeda dari biasanya. Memang terlihat samar, tapi Anjani bisa merasakannya. Mario yang Anjani kenal adalah sosok yang tenang, kadang dingin, tapi seringkali bijak dalam hal apa pun. Itu artinya ada yang sedang mengganggu pikiran Mario. Anjani yakin itu, meski Mario tidak mengatakannya. Tetap memperhatikan, Anjani mencoba bersikap tenang dan tidak gegabah untuk bertanya pada Mario.


"Ada apa, Anjani. Aku tahu kau sedang memperhatikan wajahku yang tampan ini," tutur Mario tiba-tiba. Dia tersenyum dan mulai melihat ke arah Anjani.


Anjani tersentak kaget. Dia tidak menyangka Mario akan berkata seperti itu. Demi mengusir rasa canggungnya dan agar tidak salah tingkah, Anjani pun memutuskan untuk bertanya.


"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Anjani tanpa basa-basi lagi.


Mario tidak menjawab, justru dia tersenyum sambil menatap Anjani. Beberapa detik sikap itu bertahan. Hingga Anjani mulai terlihat salah tingkah, barulah Mario berhenti menatapnya.


"Tidak perlu salah tingkah begitu Anjani. Aku hanya bercanda. Tidak perlu dimasukkan dalam hati." Mario menjelaskan dengan santai. Dia kembali melihat air mancur menari.


"Ahaha ... bercandanya nggak lucu, Mario. Sudah, nggak perlu gengsi sama teman sendiri. Kalau lagi galau mending cerita aja. Sini, aku dengerin!" tantang Anjani seolah ingin membalas Mario.


Mario menggelengkan kepalanya pelan, tanda bahwa dia tidak ingin membagikan cerita apa pun. Sejujurnya Mario hanya sedikit lelah hatinya, karena kejadian sepanjang hari. Mulai dari tekanan dari ayahnya, hingga berita hilangnya Alenna. Mario tidak terlalu memikirkan tentang Alenna, yang dia pikirkan hanya sikap ayahnya yang sedikit memaksa agar Mario bersikap baik pada Alenna dan mau menerima dia.


"Baiklah. Tidak apa-apa kalau tidak mau cerita. Yang penting jangan sampai lupa makan. Oke, aku pulang dulu, ya. Ingat, apa pun yang terjadi jangan sampai bunuh diri. Da, Mario!" pamit Anjani.


Mario memperhatikan Anjani yang melangkah semakin jauh. Dia tersenyum, kemudian beranjak, dan memutuskan untuk segera pulang.


***


Ken sudah cukup lama menunggu di rumah Mario. Demi mengatasi rasa bosan, dia pun mengajak Boy si kucing untuk bermain. Hingga beberapa saat kemudian Ken mendengar suara mobil dari depan. Ken yakin yang datang adalah Mario. Cepat-cepat dia menuju pintu depan demi segera bertemu Mario.


"Iya," jawab Mario singkat.


"What? Serius? Ah, mana mungkin!" ujar Ken tidak percaya.


Mario tidak menjawab. Dia melangkah masuk dan menyuruh Ken mengikutinya. Kini Mario dan Ken duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa mencariku, Ken? Mau protes karena nilai semesterku lebih tinggi lagi?" tanya Mario.


"Eh, nilai kuliahnya sudah keluar semua ya? Tunggu, tunggu! Bukan itu yang mau kubahas!" protes Ken karena sempat terpancing dengan ucapan Mario yang menyinggung nilai kuliah. "Alenna. Dia ada di rumah Meli sekarang. Dia juga sudah bertemu Anjani. Baru tadi sore aku dapat informasi dari Juno," jelas Ken kemudian.


Mendengar itu membuat Mario terdiam. Dia mengalihkan pandangan. Kini guci hiasan di sudut ruang tamu menjadi perhatiannya. Itu hanya sebuah tatapan kosong. Hati dan pikirannya entah ada di mana sekarang.


"Tenang, Mario. Aku tidak mengatakan apa pun pada mereka tentang siapa sebenarnya Alenna. Kau bisa berterima kasih padaku sekarang. Ayahmu akan senang Alenna sudah ditemukan," ujar Ken.


"Terima kasih, Ken. Aku berhutang padamu," sahut Mario.


"Tidak perlu sungkan, Mario. Hehe ... by the way, Alenna mau dijemput sekarang?" tanya Ken.


"Tidak," jawab Mario singkat sambil tersenyum puas.


Ken heran. Dia benar-benar heran dengan jawaban dan ekspresi Mario. Demi memperjelas lagi, dia sampai pindah tempat duduk di dekat Mario dan sekali lagi bertanya pertanyaan yang sama. Lagi-lagi jawaban Mario masih saja sama.


"Tidak," jawab Mario lagi.


"What? Terus Alenna mau dibiarkan di rumah Meli? Jujur, aku lebih kasihan melihat Meli yang harus bersusah payah menghadapi Alenna. Gimana? Sudah berubah pikiran? Mau dijemput sekarang?" tanya Ken sekali lagi.


"Biar tangan kanan ayahku yang menjemputnya di rumah Meli. Dia hanya akan melaksanakan misi penjemputan tanpa memberitahukan sesuatu apa pun. Juga, Aku sudah bernego dengan ayahku. Alenna akan tinggal di apartemen sampai kita selesai liburan. Walau bagaimanapun, aku tidak ingin kalian kecewa hanya karena aku tidak bergabung. Bukankah itu yang kalian takutkan?" tanya Mario sambil menampakkan senyumnya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Ken ikut lega mendengarnya.


***


Rumah Meli, pukul 21.00 WIB


Meli dan Alenna saat itu sedang menonton drama lewat smartphone. Meli larut dalam ceritanya. Dia sudah berulang kali menitihkan air mata. Celotehan Alenna yang melarang untuk menangis sama sekali tidak dia hiraukan.


Tiba-tiba saja dari arah depan rumah terdengar suara mobil berhenti. Itu sangat jarang ditemui, sehingga Meli cepat-cepat melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.


"Siapa, ya?" tanya Meli saat seorang pria berkumis berdiri di depan rumahnya.


"Paman Li, ya?" Alenna lebih dulu mengenali sosok itu.


"Selamat malam nona Alenna. Saya datang untuk menjemput nona," jelas Paman Li.


Alenna seketika melonjak kegirangan. Dia bahkan langsung berlari untuk memeluk Paman Li. Melepaskan pelukannya, kini Alenna berganti memeluk Meli. Sungguh pelukan yang erat sampai Meli sesak.


"Meli, aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk semuanya. Oya, aku akan membalas kebaikanmu, kok. Tenang saja, ya. Ingat, tidak perlu sedih karena harus berpisah denganku, ya!" ujar Alenna sambil tetap memeluk Meli.


"Sudah! Lebih baik kamu cepat pulang Alenna," kata Meli sambil berusaha melepas pelukan Alenna.


"Oke, bye-bye!" Alenna pamit dan melangkah riang menuju mobilnya.


"Terima kasih nona Meli. Saya pamit dulu," kata Paman Li.


Meli melihat mobil itu berlalu pergi. Hatinya lega karena Alenna sudah aman dengan orang yang dikenal. Meski berisik dan suka asal bicara, tapi Alenna adalah pribadi yang ceria. Meli mengakui itu. Dia berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya.


***


Meli bergegas mengambil smartphone di kamarnya. Drama yang sempat ditonton bersama Alenna dimatikan untuk sementara. Jemarinya lincah mengetikkan kata-kata. Meli girang, dan ingin segera bercerita pada temannya via grup chat.


💌 GC Geng Betulan 🎓


Meli : Misi selesai. Alenna pulang 💕


Anjani : Yee 😘


Dika : Siapa yang menjemput? Di mana rumahnya? Kamu sempat tanya?


Meli : Tidak 😁


Anjani : Yang penting Alenna kenal, bukan masalah!


Dika : Oke


Juno : Lupakan saja Alenna. Kita fokus persiapan liburan. Yang setuju denganku acungkan tangan?


Dika : 👍 sip


Anjani : 🙋 aku sudah rindu Ma 😊


Juno : 😍😍😍


Meli : ☝oke, tapi aku akan mengingat si bule cantik Alenna 😁


***

__ADS_1


__ADS_2