
Tiga sosok lelaki melangkah masuk melewati pintu rumah Mario. Anjani dan Meli mengenali mereka. Itu adalah teman-temannya. Ada Ken, Juno, dan Dika. Mario menyambut ketiganya.
“Meli,” lirih Dika sambil melihat ke arah Meli.
Meli melihat sekilas ke arah Dika, lantas membuang muka darinya.
Ada perih bercampur sesak di dada Dika saat melihat Meli membuang muka. Dika tertunduk lesu. Menunduk, berharap ubin indah ruang tamu rumah Mario dapat menghibur hatinya. Sayangnya, ubin-ubin indah itu tiada mampu sama sekali menjadi obat luka hatinya.
“Dik, ayo!” Ken menarik lengan Dika agar mengikuti langkahnya.
Dika menurut, mengekor di belakang Ken. Juno, Ken, dan Dika mengikuti arahan Mario untuk pergi ke lantai dua rumahnya. Saat menaiki tangga, sulit sekali bagi Dika untuk berpijak dengan benar di setiap anak-anak tangga. Beberapa kali Dika menoleh ke belakang, ke arah Meli. Sayang, Meli sama sekali acuh atas kehadirannya. Dika malah melihat Meli memegangi undangan pernikahan dengan wajah bahagia.
Mustahil rasanya untuk bisa menjangkau hatimu, Mel. Mungkin, kita memang tidak berjodoh. Batin Dika
Sementara Mario, Ken, Juno, dan Dika berada di lantai dua, Anjani tetap berada di ruang tamu sambil menemani Meli menulis list nama tamu undangan. Sesekali Anjani memperhatikan mimik wajah Meli sejak kehadiran Dika di rumah Mario.
“Mel, kamu oke?” tanya Anjani hati-hati.
“Ya oke bangetlah. Memangnya aku kenapa?” Meli mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan pertanyaan Anjani.
“Itu tadi …. Dika.” Anjani setengah berbisik.
Meli tidak langsung menjawab. Dia menghela nafas dalam. Tangan Meli lekas mengambil salah satu undangan pernikahannya. Dengan nada ceria, Meli menuding nama Azka yang tertulis di undangan itu.
“Dika itu masa lalu. Mas Azka masa depanku,” jelas Meli dengan senyum mengembang.
“Aku mengerti. Semoga Dika bisa menerima itu,” gumam Anjani begitu lirih, tapi rupanya Meli mendengarnya.
“Ha? Dika bisa menerima apa?” tanya Meli, kepo.
Anjani lekas menggeleng tegas. Dia tersenyum dan meyakinkan Meli bahwa ucapannya barusan bukan apa-apa. Meli yang tidak mau ambil pusing pun hanya mengangkat bahu, lalu mengajak Anjani menyebutkan satu per satu nama teman kuliah yang akan diundang ke acara selamatan pernikahannya dengan Azka.
“Berlian, Vina.” Anjani menyebut sambil mengingat-ingat.
“Vina nggak usah, deh. Dia lagi liburan ke luar negeri, kok.” Meli memberi tahu.
“Tetap diberi undangan aja. Mau datang atau tidak terserah dia. Nggak enak, Mel. Itu teman ngaji kita, lho. Gimana?” tanya Anjani meminta persetujuan Meli.
“Heem. Bener juga, sih. Oke, deh.” Meli setuju.
“Alenna juga ya. Terus Juno, Kak Ken, Dika.” Anjani berhenti saat nama Dika selesai disebut. Anjani melirik Meli, tapi rupanya ekspresi Meli biasa-biasa saja.
“Lalu siapa lagi?” tanya Meli. Dia menunggu Anjani menyebutkan nama lainnya.
“Aku rasa itu aja cukup, Mel. Aku sama Mario nggak perlu ditulis di undangan. Otomatis langsung datang, kok.” Anjani mengingatkan.
“Hihi. Iya-iya. Kalian berdua sudah masuk dalam list tamu VVIP.” Meli menyenggol bahu Anjani.
Meli sudah selesai menulis list tamu undangan di selembar kertas. Lagi-lagi dia mengajak Anjani untuk mengoreksi, khawatir kerabat terdekat malah ada yang terlupa tidak diundang.
“Sudah. Ohya, jangan lupa lapor Pak RT, ya.” Anjani mengingatkan.
“Lapor? Buat apa? Aku kan nggak sedang kemalingan. Paling hatiku doang yang dicuri Mas Azka,” terang Meli dengan polosnya.
Anjani mencubit gemas pipi Meli karena kegirangan menyebut Azka mencuri hatinya. Meli justru terkekeh sambil menghalangi Anjani mencubitnya lagi.
“Lapor ke Pak RT kalau kamu mau nikah. Ah, biar deh. Pasti Paman Roni sudah lapor.” Anjani teringat kalau ayah Meli kenal dekat dengan Pak RT.
“Eh-eh. Ini nama tamu undangannya ditulis tangan atau gimana yang bagus?” tanya Meli.
“Biar aku bantu tuliskan!” sahut Dika yang baru turun dari lantai dua.
Meli terperanjat. Terkejut mendengar Dika tiba-tiba berkata demikian. Anjani tak kalah terkejutnya dengan Meli. Anjani terus memperhatikan Dika melangkah menuju sofa lalu mengambil salah satu undangan pernikahan Meli-Azka.
Dika memandang lekat undangan pernikahan Meli. Tangannya menyentuh initial MA yang tercetak timbul. Dika tersenyum. Wajahnya sama sekali tak menampakkan kesedihan. Padahal, jauh di dalam hati Dika terasa perih, efek samping patah hati.
“Em, bentar. Aku tanyakan Kak Mario dulu. Ditulis tangan atau mau dicetak.” Meli ragu-ragu menanggapi Dika.
“Ditulis tangan saja. Tulisannya Dika bagus juga, kok.” Mario segera menjawabnya sambil tersenyum.
Meli beralih melihat Anjani. Satu anggukan pelan langsung diberikan Anjani untuk meyakinkan. Setelahnya, Meli pun mengangguk setuju.
Senyum Dika melebar. Dia meminta kertas berisi nama-nama tamu undangan yang masih dipegang Meli. Tak lagi ragu, Meli pun menyerahkan kertas itu pada Dika.
“Huruf kapital semua, ya.” Dika minta persetujuan.
“Terserah kamu aja gimana bagusnya.” Meli menyerahkan semua undangan pada Dika.
“Baiklah. Bismillaah,” ucap Dika, dan jemarinya pun mulai menulis.
Juno dan Ken saling bisik-bisik. Apalagi kalau bukan membahas Dika yang terlihat begitu tegar di depan Meli.
__ADS_1
“Mas Ken kasih nasihat apa ke Dika? Kok mendadak sok tegar gitu?” Juno berbisik pada Ken.
“Aku cuma bilang gini, ‘Dik, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Coba deh jalan-jalan ke Jogja, siapa tahu nemu jodoh kayak Meli-Azka’.” Ken mengulang kalimat yang diucapkan pada Dika tadi pagi sebelum berangkat ke rumah Mario.
“Serius, Mas Ken cuma ngomong gitu?” Juno meragukan penuturan Ken.
“Ya kusuruh cepat move on juga, sama belajar menerima takdir yang ada saat ini.” Ken menepuk-nepuk bahu Juno. Kode bahwa nasihat itu juga berlaku untuk Juno.
Juno mengangguk-angguk mengerti. Namun, Juno sama sekali tidak sadar bahwa pesan itu juga ditujukan Ken untuknya.
Kedatangan Ken, Juno, dan Dika ke rumah Mario tak lain adalah untuk membahas olshop sepatu yang tengah dikembangkan Mario. Selain Ken, Juno, dan Dika yang akan menjadi tim utama Mario, nantinya juga ada Anjani dan Meli yang sudah mendapat banyak ilmu olshop dari Via dan Ratna. Hanya saja, khusus Anjani dan Meli diminta Mario untuk membantu pengembangan olshop setelah pernikahan Meli-Azka selesai dilaksanakan.
“Oya, masing-masing dari kalian aku pegangi smartphone khusus orderan,” terang Mario sambil melangkah mendekati Ken dan Juno.
“Paket data gratis juga?” tanya Ken.
“Gratis. Ayo ikut aku ke ruangan belakang, sekalian ambilkan milik Dika. Biarkan Dika membantu Anjani dan Meli di sini,” terang Mario.
Ken bersorak senang lantaran mendapat smartphone dan data internet gratis dari Mario. Ken segera menarik Juno, lalu mengekor di belakang Mario.
“Loh, Kak Mario dan lainnya mau kemana, tuh?” Meli menunjuk trio tampan, Mario, Ken, Juno.
“Paling ngurusin olshopnya Mario. Mereka kan lagi semangat-semangatnya mumpung libur kuliah.” Anjani menduga-duga, padahal tidak tahu.
Meli hanya mengangguk-angguk. Meli mulai khawatir suasana ruang tamu akan kikuk jika tidak ada mereka. Dan, benar saja. Anjani dan Meli hanya berdiam diri sambil mengamati jari Dika yang lincah menari di atas undangan pernikahan Meli.
“Dik, Sabtu nanti datang ya?” Itulah kalimat yang dipilih Meli untuk memulai obrolan.
“InsyaAllah aku datang. Calon suamimu asli Jogja, ya?” tanya Dika.
Meli mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Mas Azka asli Jogja,” jawab Meli.
“Baik nggak orangnya?” tanya Dika lagi.
“Ya baik, dong. Baik banget malah.” Meli antusias saat ditanya tentang Azka.
“Tampan?” tanya Dika lagi dengan ekpresi wajah yang masih sama datarnya.
Meli mulai merasa bahwa Dika sedang menginterogasi dirinya. Namun, Meli berbaik hati untuk tetap menjawab pertanyaan Dika dengan ramah.
“Tampan banget. Mas Azka kan artis Jogja.” Meli melebih-lebihkan jawabannya.
“Oh. Lebih tampan calon suamimu atau Kak Mario?” tanya Dika lagi.
“Karena kamu nanyain aku, ya jelas aku pilih lebih tampan Mas Azka. Kalau kamu tanya ke Anjani, ya sudah jelas Anjani jawab lebih tampan Kak Mario. Hihi.” Meli terkekeh untuk memulihkan suasana hatinya.
“Me-li,” desis Anjani, karena Meli membawa-bawa namanya sebagai jawaban atas pertanyaan Dika.
Beberapa detik berlalu tanpa obrolan lagi. Dika melanjutkan menulis nama-nama tamu undangan. Meli yang tak punya ide obrolan pun lekas melihat Anjani. Namun, Anjani justru sama tidak tahunya. Anjani takut salah bicara, jadi memilih diam saja.
Tinggal tiga nama lagi, mendadak Dika terdiam. Tangannya berhenti menulis. Sementara matanya terus saja melihat initial MA pada kartu undangan pernikahan.
Anjani dan Meli dapat melihat jelas perubahan ekspresi wajah Dika itu. Anjani dan Meli kompak saling lirik, tapi tidak ada yang berani bertanya pada Dika. Hingga tiba-tiba saja Dika mengucapkan satu kalimat yang kembali memecah hening di ruangan itu.
“Meli,” panggil Dika setelah meletakkan bolpoin.
“Iya, apa?” jawab Meli, menoleh ke arah Dika.
Dika tak kunjung berbicara. Meli mulai kesal menunggu apa yang ingin dikatakan Dika. Lima detik berlalu, Dika pun buka suara.
“Aku menyukaimu.” Dika mengakui perasaannya pada Meli dengan tiba-tiba.
Deg!
Meli terkejut mendengar pengakuan cinta dari Dika. Anjani yang duduk di sebelah Dika sama terkejutnya. Kedua tangan Anjani bahkan refleks menutupi mulutnya.
“Dik, apa kamu sedang bercanda? Nggak lucu loh ini.” Meli mencoba meyakini bahwa pengakuan itu hanya lelucon Dika.
“Apa wajahku seperti seorang yang sedang bercanda?” tanya Dika sambil menatap Meli. Dika serius.
Meli menelan salivanya. Mendadak jantungnya berdebar lantaran rasa khawatir. Meli khawatir karena menyadari tidak ada unsur-unsur candaan di wajah Dika.
“Ja-jadi kau benar-benar menyukaiku? A-apa ini sebuah pengakuan cinta?” Meli terbata. Dia kaget sekaligus bingung.
“Iya. Aku menyukaimu. Sebuah perasaan suka yang melewati batas pertemanan. Ini sebuah perasaan cinta. Aku menyukaimu sejak dulu. Sejak awal masa kuliah. Ya, sudah selama itu, tapi kamu tidak pernah menyadarinya.” Dika terus-terusan mengakui perasaannya pada Meli.
Meli semakin bingung. Jantungnya masih berdebar lantaran rasa khawatir berlebihan. Meli menoleh pada Anjani, berharap Anjani akan membantunya.
“Hadapi. Kamu bisa, Meli.” Anjani berbisik di telinga Meli.
Meli masih saja bungkam. Sungguh dirinya tidak pernah membayangkan akan mendapat pengakuan cinta dari Dika.
__ADS_1
“Dik, apa yang kau inginkan?” tanya Meli dengan mimik wajah serius, tapi menunduk.
“Aku ingin cintaku tidak bertepuk sebelah tangan,” jawab Dika terang-terangan.
Atmosfir ruangan semakin memanas saja saat Dika berterus terang. Anjani yang sedari tadi menjadi pihak ketiga di ruangan itu hanya mampu diam. Tidak ingin pula ikut campur. Anjani juga tidak ingin meninggalkan Meli sendirian bersama Dika di ruangan itu.
“Dik. Kau tahu kan itu mustahil. Aku sudah memilih Mas Azka. Mas Azka sudah melamarku dan Sabtu ini kami akan menikah,” tegas Meli. Dia bahkan sudah berani melihat wajah Dika untuk menegaskan.
Dika terdiam. Perlahan pandangannya beralih, kembali melihat undangan pernikahan Meli-Azka.
“Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Tanpa berharap balasan cinta darimu. Aku sadar, diriku sangat jauh jika dibandingkan dengan Mas Azka-mu.” Dika mengambil jeda. Dia kembali melihat Meli.
“Maaf, telah membuatmu tahu tentang perasaan ini. Semoga kamu bahagia bersama Azka,” ucap Dika tulus seraya tersenyum.
Meli mencoba membalas senyuman Dika. Ada rasa tak tega jika melihat raut wajah Dika. Namun, Meli mencoba untuk tidak peduli.
“Maaf, Dik. Dan … terima kasih atas perasaanmu. Aku ingin kita berteman baik, seperti halnya dengan Juno, Anjani, Kak Ken, dan lainnya.” Meli tersenyum dengan lebih baik.
Dika mengangguk. Ada perasaan lega karena telah berani mengakui perasaannya pada Meli. Meskipun pada akhirnya Meli tetap memilih Azka, tapi Dika ikhlash menerima keputusannya.
Mas Azka, hari ini ada yang nembak Meli. Tapi Meli tolak, kok. Cinta Meli untuk Mas Azka. Apakah di Jogja sana ada gadis yang juga menyukaimu, Mas? Apakah gadis itu juga terluka sama seperti Dika saat ini? Batin Meli.
Tiba-tiba saja terbersit pertanyaan seperti itu. Mengingat bahwa Azka adalah sosok yang tampan dan ideal, pasti banyak gadis di Jogja sana yang menaruh hati padanya.
“Semoga lancar hingga hari H,” doa Meli kemudian. Sengaja dituturkan jelas agar di-aamiini oleh Anjani dan Dika.
“Aamiin.” Anjani menjadi yang pertama meng-aamiini, disusul Dika dengan sangat lirih.
***
Dini hari
"Hoaaam!" Meli menguap.
Meli baru saja dari kamar mandi setelah terbangun ingin buang air. Meli melangkah menuju kasur, berbaring dan hendak menarik selimutnya. Matanya sudah hampir terpejam hingga kemudian terdengar ketukan dari arah pintu. Meli bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
"Mas Azka?" Meli terkejut melihat Azka ada di depan pintu kamarnya.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Azka sambil tersenyum.
"Mas Azka kok bisa ada di sini. Lewat mana tadi?" Meli celingak-celinguk melihat pintu dan jendela rumah yang masih tertutup.
Azka menunjuk langit-langit kamar.
"Pesawat? Ah, pantes Mas Azka sampek sini cepet banget." Meli terlihat senang dengan kehadiran Azka.
Azka menggenggam tangan Meli erat. Azka terus tersenyum melihat wajah cantik Meli. Sambil tetap berpegangan tangan, Azka-Meli pun masuk ke dalam kamar.
"Mas Azka mau Meli buatkan donat?" Meli menawari.
Azka menggeleng. Dua bola mata Azka menatap lekat manik mata Meli. Senyum Azka terus-terusan mengembang. Perlahan tubuh Meli ditariknya hingga menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Tangan Azka bergerak cepat meraih dagu Meli.
"Sayang, bolehkah aku menciummu?" izin Azka.
Meli tersenyum. Hatinya sudah berdebar-debar. Akan tetapi, Meli malah mendorong pelan tubuh Azka menjauh darinya.
"Tunggu di sini bentar, ya Mas. Meli mau gosok gigi dulu. Setelah itu Mas Azka boleh cium Meli sepuasnya." Meli mengedipkan sebelah mata lalu melangkah riang menuju kamar mandi untuk menggosok gigi.
Alangkah terkejutnya Meli saat keluar dari kamar mandi, yang dilihatnya bukan Azka tapi Dika.
"Dik, ngapain kamu di sini. Keluar!" seru Meli.
"Aku menyukaimu, Mel." Dika memandang lekat ke arah Meli.
"Jangan mendekat. Aku panggilin Mas Azka, nih. Mas Azka!" seru Meli.
Dika terus melangkah maju mendekati Meli. Sementara Meli terus-terusan mundur hingga tersudut.
"Aku menyukaimu, Mel."
"Mas Azkaaaaa!"
Meli terbangun dari mimpi indah dan mimpi buruknya. Indah karena hadirnya sosok Azka. Buruk karena sosok Dika yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Duh. Dikaaa! Ngapain sih pakek nongol segala! Gagal deh ciuman sama Mas Azka!" protes Meli.
Akhir-akhir ini Meli sering bermimpi jelas melihat sosok Azka. Bahkan, sebelum Meli mengenal sosok Azka di Jogja, Meli pernah bermimpi tentangnya, dan pernah menceritakan mimpinya itu pada Anjani. Sungguh isyarat mimpi yang manis, saat itu berkaitan dengan Azka. Akan tetapi, tidak demikian jika ada sangkut pautnya dengan Dika.
Bersambung ....
Meli-Azka akan segera menikah. Cari tahu yuk gimana persiapannya di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Mahar apa ya yang akan diberikan Azka? Kepo-in yuk di sana. Terima kasih banyak atas dukungan kakak-kakak semua. Tetap dukung kolaborasi karya kami, ya. Vote, like, dan komentari. See You. Barakallah. 😊
__ADS_1