
Mario didampingi oleh Paman Li dan beberapa anak buah John turun di salah satu ruko di area jalan raya pusat kota. Ruko besar dengan halaman parkir luas itu begitu strategis letaknya. Sering dilewati mahasiswa dan para pekerja kantoran. Ruko itu adalah ruko yang disiapkan John untuk pengembangan olshop sepatu Mario.
“Mohon maaf jika Tuan Mario kurang berkenan dengan ide Tuan Besar. Semua ini semata-semata karena Tuan Besar peduli pada Tuan Mario,” terang Paman Li setengah membungkukkan badannya.
“Jangan seperti itu, Paman Li.” Mario memberi isyarat agar Paman Li tidak terus membungkuk.
Dalam hati Mario sedikit kesal dengan keputusan sepihak ayahnya. Tiba-tiba saja sang ayah telah membeli sebuah ruko untuk pengembangan bisnis olshopnya. Semua stok sepatu size lengkap juga telah didistribusikan dari pabrik sepatu milik John hingga memenuhi lantai satu ruko baru itu.
Dengan laba yang telah dikumpulkan Mario dari olshop sepatunya selama ini, sebenarnya bisa saja dia mendirikan rukonya sendiri dengan ukuran yang tidak sebesar ruko pemberian ayahnya. Namun, apalah daya kemandirian yang telah diusahakan Mario lagi-lagi harus mendapat campur tangan dari sang ayah.
“Tuan Besar juga berpesan untuk mencarikan beberapa karyawan demi membantu bisnis Tuan Mario. Jadi ….” Kata-kata Paman Li langsung disela oleh Mario.
“Maaf, Paman Li. Untuk yang satu itu aku bisa sendiri,” pinta Mario. “Lagipula, aku sudah bisa menebak niatan ayah. Setelah lulus kuliah, aku akan ditarik lagi ke perusahaan, kan?” tebak Mario.
“Benar sekali, Tuan. Tuan Mario akan menggantikan posisi Tuan Leon. Nantinya bersama-sama Nona Alenna mengembangkan anak perusahaan,” terang Paman Li.
Mario mengangguk. Meski sang ayah mendukung pengembangan bisnis olshop sepatunya, tapi ujung-ujungnya nanti Mario tetap diminta untuk kembali memimpin perusahaan.
“Apa perlu saya jemput Nona Anjani untuk menemani Tuan Mario di sini?” tanya Paman Li.
Mario menautkan alisnya. Mario terheran kenapa Paman Li tiba-tiba saja menyebut nama Anjani.
“Untuk apa?” tanya Mario.
“Berdasarkan pengamatan saya, Tuan Mario akan bisa bersikap rasional saat ada di dekat Nona Anjani. Selain itu, mood Tuan Mario juga akan membaik,” terang Paman Li.
Mario tersenyum. Semakin lama senyumnya semakin mengembang. Perkataan Paman Li ada benarnya, tapi tetap saja Mario kadang bisa salah tingkah hingga keluar dari karakternya jika dekat-dekat dengan Anjani.
“Senangnya bisa melihat senyum Tuan Mario kembali. Nona Anjani memang benar-benar membawa pengaruh besar di kehidupan Tuan.” Paman Li tersenyum senang.
Mario menyadari. Sedari sang ayah mengabari keputusan sepihaknya, senyum Mario sama sekali tidak menghiasi wajahnya. Begitu Paman Li menyebut nama Anjani, barulah senyum itu kembali.
“Terima kasih, Paman Li. Biar aku sendiri yang menghubungi Anjani nanti,” pinta Mario tanpa memudarkan senyumnya.
“Satu lagi, Tuan. Untuk segala persiapan pernikahan Nona Meli yang Tuan Mario pesan, sudah siap. Kapan pun backdrop wedding bisa langsung dipasang di rumah Nona Meli. Untuk kado pernikahan Nona Meli, apa perlu sekalian saya siapkan?” Paman Li menawarkan.
“Aku akan menyiapkannya sendiri, Paman. Terima kasih.” Mario kembali berterima kasih kepada Paman Li, tangan kanan sang ayah.
Paman Li pamit. Sebelumnya Paman Li berpesan kepada anak buahnya untuk menyiapkan ruko baru Mario agar segera bisa dipakai. Begitu Paman Li pamit, Mario lekas ke lantai dua ruko itu.
Mario menghubungi Anjani dan Meli untuk datang ke ruko barunya. Sembari menunggu kedatangan Anjani dan Meli, Mario melihat sekitar. Pikirannya jauh ke depan, memperkirakan segala macam hal yang dia butuhkan untuk kebutuhan ruko.
Empat puluh menit berlalu. Mario melihat dua muslimah cantik memasuki area ruko. Itu adalah Anjani dan Meli. Mario lekas turun ke lantai satu menemui mereka.
__ADS_1
“Kak Mario, ruko ini punya kakak?” Meli antusias melihat sepatu-sepatu yang mulai dipajang oleh beberapa pria kekar yang tak lain adalah anak buah John.
Mario mengangguk sambil tersenyum.
“Mau lihat-lihat? Nantinya kan kalian ikut andil di sini,” kata Mario.
Anjani dan Meli serempak mengangguk. Mereka berdua seketika teringat dengan Azrina milik Via di Jogja. Anjani dan Meli sudah tidak sabar menerapkan ilmu yang mereka pelajari dari Via dan Ratna untuk bisnis yang dikembangkan Mario.
Lantai satu ruko berukuran luas dan terbagi dalam dua bagian. Paling depan menyerupai toko pada umumnya, tempat sepatu-sepatu terpajang. Ada sekat yang memisahkan area depan dan belakang lantai satu. Area belakang lebih luas dan dikhususkan untuk packing orderan via olshop. Di lantai dua terlihat lebih luas lagi. Ada rak-rak berjajar untuk stok sepatu. Ada pula dua single bad, satu set sofa, televisi, kulkas, dan meja makan empat kursi.
“Sejak kapan kamu merencanakan semua ini, Mario?” tanya Anjani.
“Sejak tiga jam lalu,” jawab Mario sambil tersenyum melihat Anjani
Anjani membalas senyum itu. Tanpa dijelaskan pun Anjani tahu bahwa semua itu adalah rencana ayah Mario. Anjani tahu betul bagaimana karakter ayah Mario.
“Kak, banyakin sepatu ceweknya ya yang dipajang di depan. Mahasiswi kampus kita pasti banyak yang melirik ke sini. Ini kan deket banget sama kampus,” ide Meli.
“Siap. Rencanaku semua pekerja di sini adalah mahasiswa. Sistem part time, menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Itu pasti akan membantu uang saku sekaligus ketrampilan mereka untuk belajar bisnis ini. Gimana menurut kalian?” Mario meminta pendapat Anjani dan Meli.
“Setuju,” jawab Anjani dan Meli kompak.
Anjani dan Meli setuju, karena mereka berdua pernah merasakan berada di posisi mahasiswa yang sedang freelance. Anjani dan Meli beberapa kali freelance di toko bunga Kak Lisa. Dari freelance itu Anjani dan Meli tidak hanya mendapat tambahan upah untuk uang saku kuliah, tapi Anjani dan Meli belajar banyak sekali tentang bisnis toko bunga.
“Setelah semua siap. Segera. Kemungkinan setelah pernikahan Meli,” jelas Mario.
Meli senyum-senyum saat ada yang membicarakan pernikahannya. Sungguh Meli tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya karena segera akan menyandang status baru sebagai Nyonya Azka.
“Kenapa senyum-senyum begitu, Mel?” tanya Mario.
“Sepertinya habis mimpiin Mas Azka lagi, nih.” Anjani menebaknya.
“Meli, bagaimana persiapan di rumahmu?” tanya Mario.
“InsyaAllah semua sudah siap, Kak. Bahkan di kamarku sudah dikasih bunga sedap malam. Haruuum. Sudah berasa jadi pengantin.” Meli kegirangan.
“Backdrop wedding mau dipasang kapan? Besok?” tanya Mario lagi.
“Aah, jangan Kak. Kalau dipasang besok bisa-bisa dibuat background main sosmed sama Adit. H-1 aja, Kak. Hehe.” Meli mengusulkan.
“Baiklah. Anjani, ada yang ingin kamu tanyakan? Kuperhatikan dari tadi kamu senyum-senyum terus sambil melihatku?” tanya Mario tiba-tiba.
“Eh?” Anjani kaget, hingga berhenti tersenyum.
__ADS_1
Aduh! Apa aku ketahuan curi-curi pandang, ya? Batin Anjani.
“Eng-nggak, kok. Nggak ada yang mau kutanyakan. Aku senyum-senyum karena melihat Meli senyum-senyum,” dalih Anjani.
Jawaban Anjani yang sedikit gugup malah membuat Mario semakin tersenyum.
“Ya Allah, semoga dua insan di dekat hamba ini segera Engkau takdirkan menyusul kebahagiaan hamba. Mereka berdua ini MALU-MALU MAU, Ya Allah. Tolong satukan mereka berdua segera dalam ikatan pernikahan. Aamiin.” Doa Meli diucapkan dengan begitu keras.
Satu cubitan meluncur ke pinggang Meli. Cubitan dari Anjani itu seketika membuat Meli terkekeh.
“Kak Mario sekarang aku tanya. Kak Mario mau nggak segera nyusul Meli sama Mas Azka?” tanya Meli sambil menahan cubitan tangan Anjani.
“Ya mau, dong.” Mario langsung menjawab tanpa banyak berpikir.
“Naaaah. Sama Anjani kan, Kak?” tanya Meli, tapi langsung dibungkam oleh Anjani.
“Mario, kita berdua pamit dulu, ya. Assalamu’alaikum.” Anjani mendadak pamit.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mario tanpa memudarkan senyumannya.
“Heeeeeemm.” Meli berseru agar Anjani melepaskan tangannya.
Begitu dilepas, Meli langsung mencubit gemas pipi Anjani sambil terkekeh.
“Bye-bye, Kak Mario. Anjani salting nih, Kak. Makanya pamit pulang.” Meli kembali menggoda Anjani.
“Me-li, ayo pulang.” Anjani memegangi lengan Meli, lalu mengajaknya segera turun.
“Hati-hati di jalan. Kabari saja kalau ada yang kurang!” seru Mario.
“Siaaap, Kak. Nanti aku hubungi Anjani agar segera telpon Kak Mario.” Meli membalas seruan Mario dengan masih mengaitkannya dengan Anjani.
Selangkah lebih maju. Akan ada langkah baru ke depan. Mario optimis bisa melakukan semuanya dengan baik di masa pendidikan Strata 1. Menyeimbangkan antara ibadah, kuliah, bisnis olshop dan rukonya, juga perasaan cintanya.
“Anjani,” gumam Mario menyebut nama Anjani sembari tersenyum.
Bersambung ….
Double up hari ini 😁 Semoga kalian suka 😉
Yang belum cari tahu mahar Azka buat Meli apa, segera meluncur ke novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR Karya Kak Cahyanti, ya. Meli-Azka segera menikah, tuh. Dukung Kolaborasi kami, ya. Barakallah bagi kakak-kakak yang sudah fav, vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya. See You.
__ADS_1