
Mempelai wanita telah berganti pakaian biasa. Gamis yang dipilihnya adalah gamis pemberian Via dari Jogja, termasuk pula dengan jilbabnya. Dari semua itu, Meli tidak pernah melupakan bros pemberian suaminya, Azka. Bros itu selalu dipakai, dan dijaga layaknya permata berharga.
Anjani, Berlian, dan Alenna minta izin masuk ke kamar Meli. Begitu ketiganya masuk, aroma sedap malam lekas menyeruak memanjakan hidung. Pandangan mereka juga dipenuhi bunga-bunga bertaburan di atas ranjang. Kamar itulah yang seharusnya menjadi kamar pengantin untuk malam pertama Meli dan Azka.
“Sudah selesai, Mel?” tanya Anjani sambil mendekati Meli yang berdiri di depan cermin.
“Sedikit lagi,” lirih Meli.
Anjani tidak bertanya lebih. Dia membiarkan Meli lanjut menghapus riasan wajahnya. Berlian dan Alenna segera berinisiatif memasukkan kado-kado pernikahan ke dalam kamar Meli. Anjani setuju dan ikut membantu. Tidak butuh waktu lama bagi mereka bertiga memindahkan kado-kado pernikahan ke dalam kamar Meli.
“Anjani,” panggil Meli. Dia telah selesai menghapus riasan wajahnya.
“Iya, ada apa?” tanya Anjani sembari mendekat.
Meli menunjuk gaun pengantinnya yang sudah tergantung rapi. Di sebelahnya ada rangkaian melati yang tadi dipakai oleh Meli. Melati yang dipakai Azka juga ada di sana.
“Kamu nggak mau nyuri melati pengantin? Kata orang dulu sih biar cepet nyusul nikah,” kata Meli. Meski nadanya tidak terlalu bersemangat, tapi itu sukses membuat Berlian dan Alenna tertawa.
“Gimana, Anjani? Curi tuh melatinya,” suruh Berlian dengan candanya.
“Aaaah, kelamaan!” Alenna berdiri, mengambil salah satu rangkaian melati, lalu bergerak cepat mengalungkan melati itu di leher Anjani.
Anjani tersenyum gemas melihat tingkah teman-temannya yang begitu antusias mengharapkan dirinya lekas menyusul menikah dengan Mario. Anjani menanggapinya juga dengan candaan, agar Meli bisa terhibur dengan itu.
“Teman-teman yang lain apa sudah pulang?” tanya Meli dengan raut wajah lebih baik, efek samping candaan teman-temannya.
“Belum. Masih bantu beres-beres di depan,” terang Berlian.
Meli menghela nafas dalam. Dia memejamkan kedua matanya, kemudian tersenyum. Anjani, Berlian, dan Alenna membiarkan Meli seperti itu. Kepergian Azka yang tiba-tiba akan sangat wajar bila membuat Meli bersedih hati.
Beberapa detik berlalu, Anjani, Berlian, dan Alenna saling lirik. Mereka mulai khawatir melihat Meli terus-terusan tersenyum sambil memejamkan mata. Apalagi, sedari tadi mereka tidak melihat Meli berkeluh kesah ataupun menitihkan air mata. Mereka bahkan menyaksikan ketegaran hati Meli yang tetap tersenyum saat Azka berpamitan padanya.
“Mel, kalau kamu ingin menangis, kamu bisa pakai bahuku untuk bersandar, “ tutur Berlian.
Mata Meli terbuka. Wajahnya masih berhias senyum. Dia melihat satu per satu teman-temannya.
“Insya Allah aku baik-baik saja teman-teman. Aku akan selalu mendoakan suamiku, meski jarak kami tidak lagi sedekat bibir kami saat menyatu,” jelas Meli.
Mendadak wajah Meli tersipu malu mengingat momen saat Azka menghapus jarak darinya dan menyatukan bibir mereka. Tidak berhenti hanya dengan sebatas tersipu, kini Meli mulai senyum-senyum sendiri di depan Anjani, Berlian, dan Alenna.
“Ehm, Mel. Sebaiknya kami pulang saja, ya. Biar kamu bisa istirahat.” Anjani hendak pamit.
Anjani tahu, Meli butuh waktu untuk sendiri. Perlu istirahat pula agar badan dan pikirannya lebih baik. Alenna dan Berlian seolah bisa membaca niatan Anjani. Mereka berdua pun mengangguk, ikut pamit pulang.
Meli mengantar teman-temannya ke depan rumah. Dijumpainya teman-teman lelaki baru saja selesai membantu merapikan perlengkapan pernikahannya. Mereka juga ikut-ikutan pamit pulang.
“Anjani, Kak Mario, terima kasih sudah membantu semuanya dari awal. Alenna, terima kasih untuk make-up cantiknya. Berlian, hiasan kamarku cantik, terima kasih,” kata Meli sembari tersenyum tulus.
Pandangan Meli beralih pada Juno, Ken, dan Dika. Meli tersenyum manis.
__ADS_1
“Kak Ken memang juru kamera yang keren. Juno, terima kasih sudah membantu angkat-angkat kursi, ya. Semoga tidak encok. Hehe.” Meli terkekeh pelan, lalu pandangannya beralih pada Dika.
Dika terdiam. Pandangan matanya masih tertuju pada Meli. Raut wajah Dika menampakkan kekhawatiran sejak Azka berpamitan pada Meli tadi.
“Dik, terima kasih sudah datang,” kata Meli dengan senyum yang sama seperti senyum yang disuguhkan untuk teman-teman lainnya.
Dika tidak merespon Meli. Masih saja terdiam di tempatnya berdiri. Tidak ada senyum, juga tidak ada kata apa pun yang meluncur. Hingga kemudian, Juno yang berada di sampingnya segera menyenggol bahu Dika.
“Sst. Bengong aja sih! Sadar, ikhlash!” bisik Juno.
Tampak jelas oleh semua orang yang ada di sana, khususnya Meli. Dika menghela nafas kasar, lalu menampilkan senyum cemerlang untuk Meli.
“Sama-sama, Mel. Kalau butuh hiburan, kami semua siap menghiburmu.” Dika tetap tersenyum pada Meli.
Meli kembali terkekeh. Ada perasaan tidak enak karena teman-temannya begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun, Meli terus berusaha untuk tidak berkeluh kesah, apalagi sampai menitihkan air mata. Setelahnya, salam dan lambaian tangan mengiringi kepergian teman-temannya. Ma, Paman Sam, Bibi Sarah, dan Renal juga ikut pulang.
“Nduk, lebih baik kamu istirahat dulu,” saran Fatimah dengan nada keibuan.
“Benar. Ayah dan ibumu mau mengantar berkatan yang masih tersisa untuk beberapa langganan di kios. Adit mau ikut?” Roni menawari.
“Iya. Adit ikut,” sahut Adit, antusias.
Meli tersenyum, mengangguk, lantas kembali ke kamarnya.
“Nduk, Meli. Ini, sambil dimakan.” Fatimah menyerahkan sepiring penuh isi kue-kue hidangan pernikahan tadi.
“Iya, Bu. Meli masuk dulu, ya.” Meli izin masuk ke kamarnya.
Meli tidak istirahat seperti yang disarankan orangtua ataupun teman-temannya. Meli lekas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Basuhan air wudhu menyegarkan segalanya, temasuk pikiran dan hatinya. Meli tersenyum sambil membaca doa usai wudhu.
Mas kawin di atas ranjang menarik perhatian. Mukena yang masih rapi dalam model kreasinya lekas diambil, digunakan untuk sholat saat itu juga. Meli begitu khusuk dalam sholat dan doa-doanya. Beberapa kali nama Azka disebut menyertai doa-doa Meli. Tekad untuk menjadi istri yang berbakti lekas terpatri dalam hati. Meli akan selalu mendoakan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan Azka, sang suami tercinta.
“Mas Azka, aku mencintaimu,” tutur Meli tulus.
Begitu dalam doa dan perasaannya, hingga setitik air mata meluncur dari sudut mata. Itu adalah air mata pertama yang meluncur. Bibir Meli terus tersenyum. Dzikir tetap terlantun. Meli terus mendoakan suaminya, tanpa jeda, tanpa lelah.
***
Rumah Paman Sam.
“Anjani, bisa ke sini sebentar kau?” Ma memanggil Anjani.
“Iya, Ma. Ada apa?” Anjani duduk di samping Ma.
“Oleh-oleh yang Ma kau ini titipkan pada Juno apa sudah kau terima waktu itu?” tanya Ma.
“Sudah, kok. Terima kasih, gamisnya bagus.” Anjani tersenyum manis pada Ma.
Ma mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bahkan meninggalkan Anjani sebentar untuk mengambil gamis lainnya. Hobi baru Ma adalah memberi sang putri gamis untuk bisa dipakai sehari-harinya. Tentu saja Anjani sangat menyukainya.
__ADS_1
“Kau tahu Pak Kades desa kita, kan?” tanya Ma kemudian.
“Ayahnya Juno, kan?” Anjani menjawab sesuai yang dia tahu.
Ma menggeleng. Mimik wajah dan jari telunjukkan mengisyaratkan kata bukan.
“Sudah ganti. Kepala desanya bukan ayah Juno lagi. Dalam waktu dekat ayah Juno akan pindah ke kota ini. Punya usaha baru dia di sini. Ayah Juno bilang biar sekalian bisa dekat dengan Juno dan mengajak Juno berbisnis,” terang Ma.
Anjani mencerna penjelasan Ma. Anjani sama sekali tidak tahu tentang itu. Selama ini Anjani tidak terlalu dekat dengan Juno, karena Anjani sedikit menjaga jarak dengannya agar Juno tidak berlebihan membuatnya baper karena terus-terusan bilang cinta.
“Ma punya satu kabar lagi,” imbuh Ma.
“Apa, Ma?” Anjani ingin tahu.
“Ayah Juno kembali memintamu untuk menjadi menantunya,” terang Ma.
“Apa?” Anjani terperanjat dengan berita yang dibawa Ma.
Seminggu lalu, saat Juno mengantar oleh-oleh ke rumahnya, Juno sempat sedikit membahas sang ayah yang masih berharap agar Anjani bersedia menjadi menantunya. Anjani mengira niatan itu hanya dikatakan pada Juno saja. Rupanya, ayah Juno juga mengatakannya pada Ma.
“Terus, Ma menerimanya?” Anjani sudah heboh sendiri.
“Tidak semudah itu. Ma tahu perasaan kau sama Juno seperti apa. Meskipun Juno amat terkenal ketampanannya di desa, tapi yang namanya hati mana bisa dipaksa. Jadi, Ma bilang pada ayahnya Juno. Ma menyerahkan semuanya padamu.” Ma menceritakan kembali.
Anjani tertunduk. Pikirannya kemana-mana. Dia tidak ingin kabur-kaburan lagi seperti awal sebelum dia tiba di kota.
“Karena ayah Juno segera akan tinggal di kota ini, jangan kaget kau ya kalau semisal tiba-tiba ayah Juno menemuimu,” saran Ma. “Hadapi, jangan kabur seperti dulu lagi!” nasihat Ma lagi.
Anjani tidak langsung menjawab. Dia masih terkejut dengan kabar-kabar yang dibawa Ma dari desa.
“Hei, bengong pula kau!” Ma mendapati Anjani masih saja terdiam.
“Insya Allah Anjani tidak akan kabur-kabur lagi, Ma.” Anjani mencoba lebih dewasa dalam menyikapi keadaan yang ada.
“Baguslah. Eh, kalau Nak Mario masih punya niatan untuk melamar kau lagi. Suruh cepat. Jangan sampai kecolongan malah ayah Juno yang duluan.” Ma memahami putrinya.
Anjani tersenyum. Ada perasaan senang saat Ma menyebut nama Mario. Terlihat jelas bahwa Ma ada di pihak Mario. Namun, di satu sisi Anjani mulai bingung. Akan sangat konyol jika tiba-tiba dia meminta Mario untuk menikahinya dengan segera.
Drrt … Drrt … Drrt
Baru saja dibahas, Mario muncul dalam sebuah pesan singkat untuk Anjani. Mario meminta Anjani untuk datang ke ruko barunya.
“Apa sebaiknya aku ceritakan tentang ini pada Mario?” pikir Anjani.
Bersambung ….
Saat Anjani dilanda kebingungan tentang kabar yang dibawa Ma, Meli masih larut dalam doa-doanya untuk Azka yang terbang ke Medan untuk melihat kondisi Om Candra. Bagaimana kondisi Om Candra seusai kecelakaan saat akan menghadiri pernikahan Meli-Azka? Bagaimana pula Azka melalui hari-harinya tanpa Meli? Yuk, rame-rame kunjungi novel Kak Cahyanti yang berjudul SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Cari tahu di sana. Tetap dukung karya kami, ya. Vote, Fav, Like, dan tinggalkan jejak komentar kakak-kakak semua. Barakallah. 😊
__ADS_1