CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Senang Seharian (1)


__ADS_3

Ujian akhir semester telah usai. Para mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan ekonomi tinggal menunggu nilai hasil ujian keluar. Sebagian mahasiswa harap-harap cemas menanti IP (Indeks Prestasi) yang akan didapat di semester itu. Sebagian mahasiswa lainnya optimis akan mendapat hasil terbaik karena telah melaluinya dengan penuh doa dan usaha.


Seperti telah menjadi rutinitas. Sebagian besar mahasiswa yang berasal dari luar kota memilih untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Pulang kampung. Ada pula yang masih menetap di tempat kos sembari membuat rencana liburannya sendiri bersama beberapa teman akrab. Sebagian kecil mahasiswa lainnya ada yang memanfaatkan waktunya untuk freelance, mencari pemasukan tambahan. Ada lagi yang membuat kegiatan-kegiatan baru bersama teman, kenalan baru, ataupun keluarga mereka. Sungguh, ada banyak sekali ragam aktivitas yang dilakukan mahasiswa saat liburan semester tiba.


Anjani dan teman-temannya tentu juga memiliki aktivitas yang berbeda selama liburan tiba. Anjani pun juga sudah berniat pulang kampung untuk bertemu Ma di desa. Namun, itu masih besok. Hari ini Anjani dan teman-teman akan jalan-jalan bersama di salah satu tempat perbelanjaan di kota Jember.


Terhitung kurang lebih sejak satu setengah tahun lalu Anjani datang ke kota Jember. Selain demi menghindari perjodohan dengan Juno, kala itu Anjani memiliki mimpi besar untuk bisa meraih gelar sarjana. Hari-hari Anjani dipenuhi rutinitas seputar dunia perkuliahan sejak saat itu. Akan tetapi, pada kenyataannya yang menghampiri kehidupan Anjani bukan hanya tentang kuliah dan pertemanan belaka. Ada pula hal manis yang mewarnai langkahnya, yakni kisah cinta. Sampai saat ini kisah cinta Mario-Anjani di jenjang Strata 1 masih belum usai.


***


“Ayo turun teman-teman!” seru Meli bersemangat begitu mobil sampai di halaman parkir pusat perbelanjaan.


“Mel, harus teriak-teriak, ya?” Alenna protes.


“Ini namanya ekspresi keceriaan. Yuhuuu! Anjani, ayo kamu cepetan turun dulu. Aku mau lewat, nih!” pinta Meli tak sabaran.


“Sabar-sabar. Sling bag-mu hati-hati tertinggal.” Anjani mengingatkan.


“Ups, hehe. Iya lupa,” kata Meli cengar-cengir. Sling bag-nya hampir saja tertinggal di mobil Alenna.


“Sudah nggak ada yang tertinggal lagi?” tanya Alenna.


“InsyaAllah tidak ada,” jawab Anjani.


“Yuk, gabung sama yang lain dulu!” ajak Alenna setelah berkaca di spion mobil.


Anjani, Meli, dan Alenna berjalan menghampiri Vina dan Berlian yang baru saja turun dari mobil mereka masing-masing. Sementara Mario, Ken, Juno, dan Dika berada di dalam mobil Mario yang masih parkir di halaman parkir pusat perbelanjaan itu.


“Jilbab gue udah rapi belum, sih?” tanya Vina yang sejak turun dari mobilnya terus saja merapikan jilbab yang dipakainya.


“Sudah rapi, kok. Yuk, tunggu Kak Mario dan lainnya di depan pintu masuk!” ajak Berlian.


Anjani, Meli, Alenna, Berlian, dan Vina menuju pintu masuk pusat berbelanjaan. Tak lama kemudian, Mario, Juno, Ken, dan Dika berjalan mendekat.


“Teman-teman, selamat berbelanja. Jika kalian kesulitan menghubungiku, kalian bisa menghubungi Alenna.” Mario berpesan.


“Siap!” seru Alenna mantap.


“Ayo masuk!” ajak Mario.


Baru saja Mario selesai berkata, Ken, Juno, dan Dika sudah berlarian masuk ke dalam pusat berbelanjaan seolah ada sesuatu yang mereka incar untuk cepat-cepat didapatkan. Melihat Ken, Dika, dan Juno yang berlarian masuk, membuat Berlian ingin segera masuk juga. Berlian tidak mau kehilangan jejak Ken. Tanpa pikir panjang, Berlian menarik lengan Meli dan membawanya masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Sebelum itu, Meli sempat menarik lengan Vina untuk ikut bersamanya. Meli mengira lengan Vina yang ditariknya itu adalah lengan Anjani.


Tersisa Anjani, Alenna, dan Mario yang masih berdiri terdiam di tempat semula. Anjani bingung dengan reaksi cepat teman-temannya saat berbelanja. Jiwa ekonomi mereka seakan bergelora.


“Aku ditinggal,” lirih Anjani.


“Tenang, aku temani. Ada kakakku juga, nih.” Alenna yang mendengar penuturan Anjani pun menawarkan diri untuk menemani Anjani.


“Yuk, masuk!” ajak Alenna.


Anjani mengangguk. “Yuk!” Anjani mulai melangkahkan kakinya.


Alenna sengaja berjalan di belakang Anjani karena hendak berbicara sebentar dengan kakaknya, Mario.


“Sst!” kode Alenna memanggil Mario yang berjalan hampir sejajar dengan langkah Anjani.


“Hm. Apa?” tanya Mario sambil melambatkan langkah dan menyejajari Alenna. Sementara itu, Anjani asik mengedarkan pandang, barangkali menangkap sosok Meli dan lainnya.


“Aku tinggal, ya?” kata Alenna setengah berbisik.


“No. Anjani pasti tidak suka jika aku hanya berdua saja dengannya.” Mario ikut-ikutan memelankan suaranya.


“Ini pusat perbelanjaan, Mario. Banyak orang di sini. Bukan hanya kalian berdua, kok. Aku tinggal dulu, ya. Good Luck. Bye.” Alenna terlihat girang hendak meninggalkan kakaknya bersama Anjani.


“Tunggu! Alenna!” seru Mario, hingga membuat Anjani menoleh.


Alenna sudah berlarian meninggalkan Mario-Anjani.


“Alenna mau kemana?” tanya Anjani pada Mario.


“Em, itu … entahlah.” Pada akhirnya Mario tidak tahu harus berkata apa pada Anjani.


Anjani mulai kikuk sendiri kala mendapati dirinya hanya berdua saja dengan Mario. Saat berbelanja biasanya ada Meli yang heboh sendiri memilih barang ini-itu. Namun, kondisinya berbeda. Anjani bingung apa yang harus dilakukan saat itu, saat hanya ada dirinya di dekat Mario.


"Aku," kata Anjani dan Mario bersamaan.


"Em, kamu duluan." Anjani mempersilakan Mario lebih dulu.

__ADS_1


"Kamu duluan saja," kata Mario balik mempersilakan Anjani berkata lebih dulu.


Mario-Anjani berdiri berhadap-hadapan. Masing-masing dari keduanya merasakan getar candu yang merdu. Akan tetapi, atmosfir saat itu diliputi kekikukan. Alhasil, terciptalah batas komunikasi di antara mereka berdua. Alasannya adalah perasaan yang campur aduk, hingga mampu menenggelamkan kata-kata yang hendak diluncurkan.


"Aku ... pergi duluan ya. Mau nyusul yang lain," kata Anjani pada akhirnya.


"Eh. Tunggu!" seru Mario mencegah langkah Anjani.


Anjani yang sudah mulai melangkah pun kembali menoleh, berhadap-hadapan lagi dengan Mario.


"Ada apa?" tanya Anjani sambil tersenyum.


"Anjani, bisa bantu aku memilih hadiah untuk seseorang?" Mario kali ini bersungguh-sungguh. Dia memang berencana mencari sebuah hadiah. "Sambil jalan nanti pasti akan berpapasan dengan yang lain," imbuh Mario.


Anjani mengangguk. "Baiklah. Ayo!" Anjani setuju menemani Mario mencari hadiah untuk seseorang yang dimaksud Mario, tanpa bertanya siapa orangnya.


Mario tersenyum lega sekaligus senang. Dipandanginya muslimah cantik yang saat ini berjalan beriringan langkah dengannya. Mario curi-curi pandang. Di mata Mario, Anjani terlihat begitu cantik dengan balutan gamis maroon dan jilbab lebar yang senada.


Mario-Anjani melangkah sambil sesekali membuat obrolan ringan. Lama-lama kecanggungan di antara mereka pun sirna. Topik obrolan yang saat itu mereka bahas adalah seputar pelaksanaan ujian semester yang sudah berakhir kemarin. Bagi mereka berdua, meski obrolan itu hanya seputar kuliah, tapi tetap saja terasa ada yang berbeda.


Satu hal yang membuat obrolan biasa ini menjadi menarik. Itu karena kamu yang menjadi teman obrolanku, Mario. Batin Anjani.


"Anjani, coba lihat ini!" Mario melangkah menuju rak penuh boneka lucu-lucu.


"Gemes-gemes-gemes!" seru Anjani sambil memegang boneka sapi.


"Menurutmu ini yang paling menarik?" tanya Mario, tersenyum sambil menunjuk boneka sapi yang dipegang Anjani.


"Iya. Jadi ingat desa. Tetangga banyak yang punya sapi. Moooo!" Anjani malah menirukan suara sapi dan itu terdengar lucu.


Mario terkekeh.


"Kamu ngetawain aku, ya?" Anjani cemberut.


"Nggak. Aku ketawa karena muka sapinya lucu," jawab Mario.


"Oh." Anjani hanya ber-oh ria.


"Kamu juga lucu. Maksudku suara sapinya yang lucu." Mario kembali terkekeh, dan Anjani pun ikut-ikutan tertawa saat itu.


Mario melihat boneka sapi yang masih dipegang Anjani. Mario dengan gesit merebutnya dari Anjani sambil tersenyum.


"Eh? Aku kan juga ingin itu." Anjani memelas agar Mario tidak mengambil boneka sapi yang hendak dipilihnya.


Dalam hati Mario merasa senang karena bisa melihat Anjani berekspresi lepas seperti saat itu. Mario tak henti-hentinya tersenyum melihatnya.


"Ini. Aku pilihkan satu untukmu. Sama-sama sapi cuma beda warna. Kamu pegang sapimu, aku pegang sapiku. Beres, kan?" Mario terlihat bersemangat saat menyodorkan boneka sapi pilihannya pada Anjani.


Anjani terkekeh, sama sekali tak bisa menyembunyikan tawanya. Namun, pada akhirnya Anjani mengangguk juga. Anjani pun memutuskan untuk mengambil boneka sapi yang dipilihkan Mario.


"Wah, yang itu lucu. Itu juga bagus. Apalagi yang itu murah." Anjani antusias saat melihat barang-barang berlabel diskon.


"Sepertinya sudah mendarah daging pada jiwa wanita, ya?" tanya Mario iseng.


"Eh, apanya?" tanya Anjani sambil menoleh ke arah Mario.


"Barang diskon," jawab Mario singkat sambil tersenyum.


"Hehe. Entahlah. Suka aja lihat tulisan diskon," jelas Anjani, lalu kembali melihat barang-barang yang merupakan alat masak-memasak.


Mario mendekat dan mellihat-lihat alat pemotong kentang. Dia sengaja berdiri tak jauh dari Anjani yang saat itu terlihat begitu bersemangat melihat alat pemotong serba guna yang berlabel diskon.


"Ehem, kamu mau belajar masak, ya?" tanya Mario basa-basi.


"Aku kan sudah bisa masak. Nasi goreng petai yang dulu aku buatin enak, kan?" Anjani balik bertanya.


"Enak sekali. Aku suka rasa kres petainya. Lain kali buatin lagi, ya?" pinta Mario.


"Boleh," jawab Anjani. Dia menoleh sebentar pada Mario lalu kembali melihat alat pemotong serba guna berlabel diskon yang masih dipegang olehnya.


"Kalau begitu aku mau ambil yang ini," kata Mario sembari merebut alat pemotong serbaguna berlabel diskon yang dipegang Anjani.


"Hehe. Buat apa? Kamu mau belajar masak?" tanya Anjani setengah terkekeh.


"Iya. Aku ingin jago masak juga. Nanti kamu bagian tester, bagaimana rasanya. Rasa gurih, pedas, asin, atau rasa ...." Kata-kata Mario terhenti, dia melirik Anjani sambil tersenyum.


Mendengar Mario tak melanjutkan kata-katanya, Anjani pun menoleh dan mendapati Mario sedang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Atau rasa?" tanya Anjani, ingin segera mendengar lanjutan kata-kata Mario.


Rasa cinta, batin Mario.


"Ya ... rasa nasi goreng," lanjut Mario. Anjani, yuk main game!" ajak Mario tiba-tiba.


"Game? Game apa?" tanya Anjani ingin tahu.


"Lihat sendiri nanti. Dijamin seru," kata Mario antusias mengajak Anjani.


"Oke, deh. Ayo!" Anjani setuju dan lekas mengekor di belakang Mario.


***


Sementara itu, di sisi lain di dalam pusat perbelanjaan.


"Mel, kamu ngapain sih tarik-tarik lengan gue dari tadi?" seru Vina yang sudah lelah ditarik lengannya.


"Loh, Anjani mana?" tanya Meli sambil melepas lengan Vina.


"Aaaah. Lu sih main tarik aja nggak liat-liat. Yang dari tadi lu tarik sampai sini tuh gue!" seru Vina sebal.


Meli cengar-cengir karena telah salah sangka.


"Hehe. Maaf-maaf. Udah sana kalau mau balik ke pintu masuk," kata Meli santai.


"Meliiiiii! Ngapain juga gue balik lagi ke sana. Ya mending gue belanja." Usai berkata demikian, Vina melangkah santai melihat-lihat barang-barang di sekitar.


Bibir Meli manyun melihat tingkah Vina.


"Berlian, perlu cari Anjani nggak?" tanya Meli pada Berlian yang sudah asik melihat-lihat kaca mata hitam.


"Udah lanjut aja. Paling-paling Anjani sudah sama Kak Mario," duga Berlian.


Berlian masih asik melihat-lihat kaca mata hitam. Kaca mata hitam yang dia pegang adalah kaca mata hitam yang baru beberapa saat lalu dicoba oleh Ken.


"Kok bengong lihatin aku, sih?" tanya Berlian.


Meli memang tengah memperhatikan kaca mata yang dipegang Berlian.


"Itu kacamata yang dicoba Kak Ken barusan, kan?" kata Meli setengah menggoda Berlian dalam senyumnya.


Berlian tidak menyangkal perkataan Meli. Dia hanya tersenyum.


"Kamu mending lihat-lihat barang yang lain juga, deh. Tuh-tuh. Ada Dika lagi lihat-lihat topi. Samperin gih!" saran Berlian pada Meli.


"Ogah! Bisa-bisa diajakin ribut sama Dika kalau aku ke sana," seru Meli sambil membuang muka dari arah Dika berada.


"Emmm. Yakin, nih? Bukannya kamu ada rasa sama Dika?" Giliran Berlian yang memanfaatkan kesempatan untuk menggoda Meli.


Deg!


Meli tersudut. Meli bingung harus berkata apa untuk membalas kata-kata Berlian.


"Em .... Eng-enggak juga, tuh. Rasa apa? Rasa ngajakin ribut? Mending aku main rasa sama Mas Azka di Jogja," kata Meli.


"Cie. Ternyata. Temanya jadi 'Hero-ku Pujaan Hatiku', nih. Kirain kamu naksir Dika. Dugaanku salah berarti." Berlian antusias menanggapi perkataan Meli.


Kamu benar Berlian. Aku aja yang gengsi mengakui. Lagipula Dika sama sekali nggak peduli sama aku. Hmm. Pada akhirnya aku senang, karena rasa itu perlahan memudar sejak Mas Azka hadir dalam kehidupanku. Batin Meli.


Tanpa sadar Meli pun tersenyum saat mengingat nama Azka.


"Idih. Pakai senyum-senyum segala. Hayo, mau mikirin Azka atau mau hunting barang belanjaan?" tanya Berlian sambil menyenggol bahu Meli.


"Ya aku pilih dua-duanya dong. Hehe, Meli gitu loh. Ayoo, lanjuut!" Meli semakin bersemangat.


"Ayo!"


Antusias Meli menular pada Berlian. Dua gadis berhijab itu selanjutnya melihat barang-barang lainnya. Sesekali Meli jahil menggoda Vina. Meski demikian, canda tawa selalu menjadi bumbu manis di tengah jalinan pertemanan mereka.


"Canda tawa selalu menjadi bumbu manis yang mewarnai jalinan pertemanan semasa kuliah." (Cinta Strata 1)


***


Bersambung ....


Nantikan lanjutan cerita keseruan Mario-Anjani dkk di pusat perbelanjaan. Apakah ada hal-hal lain yang akan terungkap? Atau justru Mario akan berpamitan pada Anjani di sana? Kepo-in lanjutannya, ya. Like, vote, dan komentarnya selalu author tunggu, lho. Dukungan kalian membuat author makin semangat melanjutkan ceritanya. See You.

__ADS_1


Hei, rasa-rasanya perasaan Meli pada Azka di Jogja makin dalam saja, tuh. Cari tahu sosok Azka yang penuh pesona di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti, yuk. 💃



__ADS_2