CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Sikap yang Berubah-ubah


__ADS_3

Azan isya' telah berkumandang sejak tiga puluh menit lalu. Anjani telah selesai menunaikan kewajibannya. Hafalan surat-surat pendek juga telah diulang beberapa surat. Sajadah dan mukena kembali dilipat dan diletakkan di tempatnya.


Anjani melihat kembali buku catatan kuliahnya. Beberapa menit setelahnya Anjani larut dalam pengerjaan tugas kuliah yang dikumpulkan secara online. Anjani juga menyelesaikan bahan presentasi, meski masih digunakan untuk minggu depan.


"Alhamdulillaah, selesai juga. Sekarang tinggal menyiapkan buku untuk kuliah besok," kata Anjani berkata sendiri.


Anjani mengecek smartphone dan membaca chat di grup kelasnya. Barangkali ada tugas yang terlewatkan olehnya. Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang penting di sana. Grup chat sepi. Hanya ada beberapa emoticon dari beberapa teman yang sedang bercanda.


Selesai. Anjani merapikan buku-buku dan tas kuliahnya. Meja belajar di kamarnya telah tertata rapi kembali usai kegiatan belajar. Sobekan beberapa kertas juga telah dibuang di tempat sampah. Kini, Anjani bisa bersantai sejenak.


Jendela kamar Anjani dibuka perlahan. Terlihat suasana malam dengan langit yang berbintang dan bulan sabit yang tersenyum menyapa. Anjani tersenyum melihatnya. Setelah pagi hujan mengguyur, malamnya pun cerah. Sungguh suatu anugerah.


Anjani kembali teringat obrolannya dengan Berlian dan Alenna tadi sore di tempat mengaji. Anjani masih ingat betul Berlian dan Alenna hendak mengerjai Vina di hari pertamanya bergabung mengaji di kelompok ustaza Nuri. Cepat-cepat Anjani langsung ceramah saat itu, dan seketika Berlian dan Alenna memanggil Anjani dengan sebutan ustaza. Untungnya, Vina tidak jadi hadir sore tadi.


"Em, kenapa Vina tadi nggak datang, ya? Aku sampai lupa nggak chat." Anjani tiba-tiba teringat.


Smartphone yang tergeletak di meja lekas diambilnya. Anjani berniat untuk bertanya pada Vina alasan tidak hadir di kelompok mengaji sore tadi, melalui pesan singkat. Pesan sudah terketik dan tinggal dikirim, tapi lekas dihapus oleh Anjani. Setelah menimbang-nimbang, Anjani pun memberanikan diri untuk menelepon Vina.


Panggilan pertama, langsung di-reject oleh Vina.


"Eh? Mungkin kepencet kali, ya. Coba lagi," kata Anjani dan lekas mencoba menghubungi Vina kembali.


Berhasil. Panggilan kedua diangkat oleh Vina.


"Halo!" seru Vina begitu telepon diangkat.


"Assalamu'alaikum," salam Anjani pada Vina, tapi tidak dijawab.


"Iya, halo. Siapa ini?" tanya Vina.


Apa nomorku nggak disimpan, ya? batin Anjani.


"Halo! Siapa sih ini? Niat nelpon nggak?" gerutu Vina di seberang.


"Aku Anjani," kata Anjani pada akhirnya.


"Oh. Kirain siapa. Ada apa?" tanya Vina ketus.


"Em, gimana kabarmu, Vin? Sehat?" tanya Anjani berniat memulai obrolan.


"Ya sehat, dong. Lu nyumpahin gue sakit, ha?" Nada bicara Vina semakin tidak enak didengar.


Anjani kaget mendengar jawaban Vina yang menurutnya terdengar agak kasar. Namun, Anjani terus mencoba mencari obrolan demi ikhtiar untuk berteman baik dengan Vina.


"Maaf, aku tidak berniat seperti itu, Vin. Aku cuma ingin tanya, kenapa tadi sore kamu tidak datang ke tempat mengaji?" tanya Anjani tetap ramah.


"Bukan urusan lu!" seru Vina, dan seketika panggilan terputus.


Tut-tut-tut.


"Astaghfirullah. Apa salahnya aku bertanya sama dia, sih? Hm. Mungkin dia lagi PMS. Biarlah." Anjani berusaha acuh.


Anjani tidak mau ambil pusing. Harinya sudah begitu baik dengan hujan yang membawa berita baik pagi tadi. Ditambah kode cinta yang ditunjukkan Mario, membuat hati Anjani masih berbunga hingga malam tiba. Anjani tidak mau hanya karena sikap Vina suasana hatinya jadi beralih. Anjani tidak mau itu terjadi, dan memilih abai.


***


Hari telah berganti. Anjani telah bersiap pergi ke kampus untuk kuliah. Pagi itu Anjani berangkat sendirian menggunakan motor Paman Sam. Anjani tidak berangkat bersama Meli seperti biasanya, karena Meli ke Jogja.


Tak butuh waktu lama bagi Anjani untuk sampai di kampus. Anjani lekas masuk ke dalam kelas, karena saat itu ada jadwal mata kuliah umum dengan dosen dari luar jurusannya.


Dua jadwal mata kuliah di hari itu, dan dua-duanya telah terlewati. Anjani senang karena kuliahnya berjalan lancar dengan dosen mata kuliah yang menyenangkan.


"Anjani, mau langsung pulang?" tanya Berlian.

__ADS_1


"Iya, nih. Kan udah nggak ada kuliah lagi," jawab Anjani.


"Meli kemana?" tanya Dika yang berdiri di samping Juno.


"Idih. Kalau Meli nggak ada nyariin. Giliran ketemu berantem melulu," celetuk Juno.


"Meli ke Jogja, Dik." Anjani menjawab pertanyaan Dika dengan lebih baik, tidak seperti Juno.


"Eh, Anjani. Mau kuantar pulang?" tanya Juno.


"Makasih, Jun. Aku bawa motornya Paman Sam, kok." Anjani menolak tawaran Juno dengan ramah.


"Huh. Jangan mau, Anjani. Juno modus. Cari-cari kesempatan," celetuk Berlian.


"Ih, iri aja sih. Sana-sana, minta antar pulang Mas Ken." Juno menanggapi Berlian dengan membawa-bawa nama Ken.


Juno tahu Berlian akan bersikap di luar dugaan saat nama Ken disebutkan. Makanya Juno memanfaatkannya, dan benar saja, Berlian jadi salah tingkah.


"Sudah ya bercandanya. Pulang, yuk!" seru Anjani mengajak pulang teman-temannya.


"Yuk! Eh, Anjani. Jangan lupa nanti ngajinya libur, diganti besok sore karena ustaza Nuri ada perlu. Tolong bilangin Vina ya," kata Berlian meminta tolong pada Anjani.


Anjani sempat ragu saat nama Vina disebut. Namun, Anjani sudah bertekad untuk berteman baik dengan Vina. Sehingga, Anjani pun mengiyakan saja.


Berlian, Juno, dan Dika lebih dulu pulang. Mereka berpisah di parkiran. Sementara Anjani masih menyempatkan diri untuk menelepon Vina.


Tiga kali menelepon, sia-sia. Vina tidak mengangkat telepon dari Anjani. Pada akhirnya Anjani memutuskan untuk kembali menghubungi Vina saat tiba di rumah. Namun, saat Anjani berniat segera pulang dan hendak memasang helmnya, tiba-tiba ada yang mengucap salam.


"Assalamu'alaikum," salam seseorang yang begitu Anjani kenal.


Senyum Anjani seketika mengembang karena tahu siapa yang datang. Itu adalah suara Mario. Anjani pun menoleh, tapi seketika senyumnya luntur saat melihat Vina ada di sebelah Mario.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani.


"Hai Anjani, apa kabar?" tanya Vina pada Anjani dengan ramah.


"Alhamdulillaah, baik. Kamu?" Anjani bertanya balik dengan ramah.


"Alhamdulillaah baik juga. Maaf ya, kemarin sore gue nggak datang mengaji karena mendadak nyokap minta temenin pergi ke rumah teman. Nggak enak mau nolak. InsyaAllah selanjutnya gue akan datang," kata Vina begitu ramah.


Anjani benar-benar terheran. Sikap yang ditunjukkan Vina benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Apa karena ada Mario sehingga Vina bersikap baik seperti ini? Nggak-nggak. Aku nggak boleh berpikir macam-macam. Astaghfirullah, batin Anjani.


Anjani mengangguk dan tersenyum.


"Jadwal mengaji selanjutnya besok sore. Datang, ya." Anjani memberi tahu Vina.


"Siaap!" Vina menyikapi dengan semangat.


Anjani selanjutnya mengarahkan pandangan ke arah Mario. Tampak Mario sedang tersenyum ke arahnya, dan lekas dibalas dengan senyum yang sama oleh Anjani.


"Tumben sendiri? Meli kemana?" tanya Mario.


"Meli ke Jogja. Em, kalau begitu aku pulang dulu, ya." Anjani pamit.


"Em, Anjani. Hati-hati di jalan dan jangan lupa ulang terus bacaan suratnya agar semakin hafal," kata Mario perhatian.


Anjani senang Mario perhatian padanya. Terlebih, Mario mengatakannya saat ada Vina, dan dengan raut wajah yang berhias senyum merekah.


Anjani mengangguk dan lekas memberi salam. "Assalamu'laikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Mario dan Vina bersamaan.

__ADS_1


Anjani melajukan motornya hingga sampai di rumah. Jam-jam berikutnya digunakan Anjani untuk mengulang hafalan surat-surat Alquran. Tak lupa pula Anjani melanjutkan mengerjakan bahan presentasi yang masih digunakan untuk minggu depan.


***


Keesokan harinya.


Kembali Anjani berangkat ke kampus sendiri pagi itu. Anjani mulai merasa harinya ada yang berbeda tanpa hadirnya Meli yang selalu ceria dan asal ceplos semaunya.


"Mel, kamu pasti sudah seru-seruan di Jogja." Anjani berkata sendiri sambil tersenyum teringat Meli.


"Assalamu'alaikum," salam sapa Berlian.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani sambil tersenyum ramah.


Anjani melihat penampilan Berlian yang terkesan cerah pagi itu. Berlian memakai gamis warna pink soft, dipadu jilbab polos warna senada. Berlian tampak modis meski terbalut gamis dan hijab lebar yang menjulur panjang.


"Cantik," puji Anjani.


"Makasih. Kita kan memang muslimah cantik, hehe. Apalagi kamu, tuh. Duh, banyak banget yang mendekat sampai bersaing merebut hatimu." Berlian menyenggol pundak Anjani dan memainkan alisnya.


Anjani tahu Berlian sedang bercanda, dan Anjani terkekeh menanggapinya.


"Eh-eh. Aku mau ke kelasnya Kak Ken bentar ngasihkan ini. Titip bangku, dong. Di sebelahmu, ya. Begitu selesai aku langsung ke kelas," pinta Berlian setengah memohon.


"Iya-iya. Udah buruan ke sana," kata Anjani.


"Makasih. Sampai jumpa." Berlian berlarian kecil meninggalkan Anjani.


Anjani segera melanjutkan langkahnya menuju kelas. Namun, sebelum sampai di kelas tetiba saja Anjani melihat Vina. Anjani ingin sekali bisa berteman baik dengan Vina. Oleh karena itu, Anjani pun memutuskan untuk menghampiri Vina yang saat itu sedang duduk sendirian.


"Assalamu'alaikum. Vina," salam sapa Anjani pada Vina.


Deg!


Vina tidak menjawab salam dari Anjani. Vina hanya melirik Anjani sekilas, lalu kembali sibuk dengan smartphone-nya.


Anjani jadi kikuk sendiri. Vina kembali bersikap berbeda, padahal hari sebelumnya sangat ramah pada Anjani.


"Em, Vin. Lagi apa?" tanya Anjani mencoba akrab.


Vina kembali melirik Anjani. Hanya sesaat dan tidak ada kata yang meluncur darinya. Usai bersikap demikian, Vina kembali sibuk dengan smartphone-nya.


"Um, aku mengganggu, ya?" tanya Anjani dengan hati-hati.


Vina seketika mendongakkan kepala, dan segera melayangkan tatapan sinisnya.


"Iya. Mending lu pergi aja sana. Nggak perlu ngingetin gue. Nanti gue bakal datang ke kelompok ngaji kalian," seru Vina.


"Astaghfirullah," lirih Anjani.


"Em, nanti sore pakai jilbab ya, Vin. Pasti bakal terlihat lebih cantik," kata Anjani, sekali lagi mencoba akrab meski Vina teramat ketus padanya.


"Lu pikir gue nggak bisa jadi kayak lu. He, gue emang udah cantik. Iya, gue bakal pakai kayak lu nanti," seru Vina kembali dengan nada kasar, tidak semanis saat ada Mario. "Dahlah, gue pergi aja. Bye!" Vina pergi meninggalkan Anjani sendiri.


"Ya Allah. Apa ada kata-kataku yang menyinggung sampai Vina begitu juteknya sama aku? Astaghfirullah." Anjani mengelus dadanya sembari mengucap istighfar.


Anjani balik badan, dan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Meski sempat mendengar ucapan ketus dari Vina, dalam hati Anjani masih terbersit rasa senang. Anjani senang karena Vina akan datang dengan berhijab sore nanti saat belajar mengaji.


Kalau Meli tahu sikap Vina seperti tadi padaku, pasti akan lain lagi ceritanya. Meli, sedang apa kamu di Jogja saat ini? Anjani bertanya-tanya dalam hatinya.


Bersambung ....


Ingin tahu apa yang sedang dialami Meli di Jogja? Silakan baca novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti

__ADS_1



Tunggu lanjutan cerita Cinta Strata 1. Apakah sikap Vina pada Anjani akan terus berubah-ubah? Kepo-in selalu, ya. Agar author lebih semangat, klik like dan beri komentar. See You 😉


__ADS_2