
Obrolan seputar olshop harus berakhir saat Meli selesai menerima telepon dari ibunya. Meli tampak panik. Anjani berusaha menenangkan hati sahabatnya itu. Tidak lama berselang, Anjani dan Meli pamit pulang dari rumah Mario. Wajah Meli saat pulang tidak lagi seceria ketika datang tadi.
“Anjani, gimana ini?” rengek Meli sambil memegangi lengan Anjani.
"Sekarang aku tanya lagi. Apa kamu ingin segera tahu jawaban ayahmu?" tanya Anjani serius.
"Tentu saja aku mau," jawab Meli mantap.
“Kalau begitu hadapi. Bismillaah. InsyaAllah dipermudah. Oke?” Anjani meyakinkan sahabatnya itu.
Meli mengangguk. Kontak motor lekas diberikan pada Anjani. Kode bahwa Anjanilah yang harus mengemudi. Sebagai sahabat yang baik, Anjani memahami betul kondisi hati Meli. Sepanjang jalan Anjani sering kali meyakinkan Meli bahwa semua akan baik-baik saja.
Meli kembali meluapkan rasa cemasnya saat sampai di rumah Anjani. Meli mengantar Anjani pulang lebih dulu, sebelum pulang ke rumahnya.
"Anjani .... Aku cemas, tapi juga penasaran dengan jawaban ayah." Wajah Meli muram.
"Hadapi. Maju lebih baik untuk segera tahu jawaban Paman Roni." Anjani tersenyum, lalu memeluk Meli.
"Doakan, ya." Meli membalas pelukan Anjani.
"Pasti. Sekarang berangkatlah temui Paman Roni!" Anjani menyarankan Meli agar tidak berlama-lama.
"Baiklah. Aku pamit. Assalamu'alaikum," pamit Meli.
"Wa'alaikumsalam."
Motor Meli meninggalkan halaman rumah Anjani. Motor itu dilajukan menuju rumahnya. Sepanjang jalan doa terbaik terus didengungkan. Berharap restu sang ayah akan segera didapatkan.
***
Ragu-ragu, Meli melangkah memasuki rumahnya. Salam diucapkan sebagai tanda kedatangan. Meli lekas mendengar jawaban salam dari ibu dan ayahnya. Jawaban salam itu membuat Meli semakin deg-degan, hingga membuat langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk.
“Meli, kenapa bengong di situ? Ayo masuk!” ajak Fatimah sembari mendekati putrinya.
“Bu, Meli takut.” Meli terus terang pada sang ibu.
“Apa sih yang kamu takutkan?” tanya Fatimah dengan nada lembut agar putrinya itu tenang.
“M-Meli …. Meli takut nggak dapat restu dari ayah,” jelas Meli dan langsung memeluk sang ibu.
Fatimah mengelus punggung putrinya. Dia yang terbiasa melihat Meli ceria jadi tidak tega melihatnya khawatir berlebihan seperti saat itu.
“Bismillaah. Segera temui ayahmu agar kamu tidak terus menduga-duga . Ayo, masuk!”
Fatimah melepas pelukannya, lalu menggandeng tangan Meli menuju sang ayah.
Saat Meli dan Fatimah sampai di ruang keluarga, Roni terlihat sedang berkutat dengan kalkulator dan bolpoin. Tangannya asik menari-nari di atas kertas. Bahkan, saat Meli dan Fatimah duduk di sofa pun, fokus Roni masih tetap tertuju pada kertasnya.
“Bu,” lirih Meli memanggil sang ibu yang duduk persis di sebelah ayahnya. Sementara Meli duduk di seberang ayah dan ibunya.
__ADS_1
“Te-nang.” Fatimah memberi kode bibir dan anggukan agar putrinya tenang.
Roni seolah acuh dengan kehadiran Fatimah dan Meli. Pandangan matanya terus saja tertuju pada kertas dan angka yang tertera pada kalkulator.
“Ayah, sudah selesai?” tanya Fatimah dengan hati-hati.
“Sebentar,” jawab Roni singkat tanpa mengalihkan perhatiannya.
Tangan Meli berkeringat. Wajahnya tampak gusar. Beberapa menit berlalu tanpa ada obrolan. Baik Meli ataupun Fatimah sama-sama menunggu Roni. Hingga tiba-tiba, Roni menatap Meli.
“Meli, apa kamu masih ingin melanjutkan kuliah?” tanya Roni serius. Bolpoin diletakkan di samping kertas.
“InsyaAllah iya, Ayah.” Meli memberanikan diri melihat wajah ayahnya yang serius.
“Bagaimana caramu melakukannya jika kamu juga memutuskan untuk menikah?” tanya Roni lagi, tanpa jeda.
Meli terdiam. Dia tidak sedang berpikir, melainkan sedang menata hati agar tidak kalah dengan rasa khawatir.
“Meli sama sekali tidak masalah jika harus LDR untuk sementara waktu. Mas Azka juga tidak keberatan. Namun, jika suatu saat Mas Azka meminta Meli untuk pindah kuliah agar bisa berdekatan jarak, maka Meli akan menurut. InsyaAllah,” jawab Meli mantap. Kekhawatiran itu perlahan memudar lantaran sebuah keyakinan.
Roni mengangguk-angguk mendengar penjelasan putrinya. Roni menyempatkan diri menoleh ke arah Fatimah. Sang istri hanya tersenyum padanya, lantas memberi kode untuk melanjutkan pertanyaannya.
“Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Bukan main-main. Apa hatimu sudah yakin memilihnya sebagai calon imam?” Roni masih memasang wajah serius.
“InsyaAllah. Hati Meli mantap memilih Mas Azka,” tegas Meli.
"Meli yakin karena akhlak baik Mas Azka. Mas Azka beberapa kali menolong Meli. Dan yang utama, Mas Azka selalu menjaga sholatnya. InsyaAllah Mas Azka akan menjadi imam yang baik bagi Meli." Seutas senyum tergambar jelas saat Meli mengatakannya.
Lagi-lagi Roni mengangguk.
“Bagus. Tapi ….” Kata-kata Roni terhenti.
“Tapi apa, Ayah?” Meli kepo, ingin segera tahu lanjutan kata-kata ayahnya.
Roni tidak melanjutkan. Kembali Roni menoleh istrinya, dan memintanya untuk membantu menjelaskan. Sempat terjadi aksi saling tunjuk antara Roni dan Fatimah. Berdebat menentukan siapa selanjutnya yang akan menjelaskan pada putrinya. Sekian detik kemudian, Fatimalah yang menjelaskan.
“Mel, ayahmu khawatir. Keluarga Nak Azka itu kan keluarga berada, sedangkan keadaan kita seperti ini. Tidak sebanding dengan mereka.” Fatimah menyampaikan dengan hati-hati agar putrinya bisa memahami.
Meli tersenyum. Hatinya tidak sekhawatir tadi. Meli menatap ibu dan ayahnya bergantian, kemudian mantap berkata.
“Mas Azka dan keluarganya adalah orang baik. InsyaAllah mereka tidak akan memandang dari segi materi. Meli yakin sekali,” terang Meli tanpa memudarkan senyumnya.
Senyum Roni mengembang. Senyum itu lantas direkam oleh Meli, hingga membuat senyumnya juga mengembang. Lampu hijau yang ditunggu perlahan menyala.
“Jadi, apakah ayah merestui Meli dan Mas Azka?” Kali ini Meli antusias bertanya. Wajah cerianya kembali.
“Siapa yang bilang ayah sudah merestuimu?” Roni kembali serius.
Deg!
__ADS_1
Senyum Meli memudar. Lampu hijau yang diangankan meredup. Meli langsung melihat sang ibu untuk meminta penjelasan lebih. Namun, sang ibu mengangkat bahu, tidak mengerti dengan suaminya.
Meli menghela nafas panjang. Kepalanya langsung tertunduk.
“Ayah, lampu ijo dari ibu sudah nyala, lho. Masa ayah nggak mau ngasih yang ijo-ijo juga, sih?” lirih Meli, tapi cukup bisa didengar oleh Roni dan Fatimah.
Roni dan Fatimah, sepasang suami istri itu kompak saling toleh, lantas tertawa. Menurut mereka pertanyaan putrinya begitu lucu. Seketika Meli menatap orangtuanya dengan heran.
“Sayang, tolong ambilkan yang ijo-ijo di dapur. Ada kue putu yang kubeli di pasar tadi,” perintah Roni pada sang istri.
“Siaap, Ayah. Ibu ambil sebentar di dapur,” pamit Fatimah. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Meli sebelum beranjak.
Bibir Meli manyun. Pipi digelembungkan ala anak kecil yang sedang ngambek. Meli masih menangkap tawa di wajah ayahnya. Sungguh, rasanya ingin protes tapi tak mampu Meli lakukan.
Fatimah lekas kembali dari dapur sambil membawa sepiring kue putu. Tidak hanya itu, Fatimah juga membawa segelas air putih. Hanya satu gelas saja dan itu untuk Meli.
“Minumlah dulu,” perintah Fatimah sembari menyodorkan gelas berisi air pada Meli.
Meli langsung meraih gelas yang disodorkan oleh sang ibu. Diawali dengan membaca basmalah, setelahnya isi gelas pun tandas. Meli mengusap bibirnya, kemudian menyambar kue putu di depannya. Satu kue putu, lalu dua, tiga, hingga empat kue putu telah berhasil berpindah ke perutnya.
“Ini baru Meli yang doyan nyemil,” celetuk Roni. Lama-lama dia tidak tega melihat wajah tegang putrinya.
“Ayah …. Jadi gimana, nih? Ayah merestui Meli menikah sama Mas Azka atau tidak?” Meli tak sabaran.
“Tunggu dulu. Ayah harus memastikan Azka itu cocok sama kamu atau tidak,” jawab Roni sambil meraih gawainya.
“Sudah pasti Meli cocok sama Mas Azka, ayah. Iya kan, Bu?” Meli melihat sang ibu berniat mencari dukungan.
“Loh, kok ibu? Ibu kan juga belum tahu Nak Azka itu seperti apa rupanya.” Fatimah lagi-lagi mengangkat bahunya.
Meli kembali manyun. Dia bingung harus mencari dukungan siapa kali ini. Sempat terlintas di benaknya untuk menelpon Anjani agar membantunya meyakinkan kedua orangtuanya. Dipikir-pikir lagi itu butuh waktu, dan Anjani tidak akan bisa cepat sampai di rumahnya.
“Meli, kemarikan ponselmu!” perintah Roni.
“Ini.” Meli menyerahkan smartphone miliknya begitu saja tanpa meminta penjelasan.
“Ayah mau menyalin nomor telepon Azka,” kata Roni sambil mulai mengetik nomor Azka di ponselnya.
“Untuk apa, Ayah?” tanya Meli. Rasa penasarannya memuncak.
“Ayah mau video call Mas Azka-mu,” jawab Roni santai.
“Apa?” Meli terperanjat, spontan berdiri.
Bersambung ….
What? Ayah Meli mau video call Azka? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah restu sang ayah berhasil didapatkan? Ayoo, cari tahu juga sosok Azka yang sudah bernyali besar ingin menjadikan Meli sebagai istri. Cuss datangi novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti buat kenalan sama Azka dan keluarganya. Terima kasih yang sudah mendukung karya kami. Vote, Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian, ya. See You 😉
__ADS_1