CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Siapa Dalangnya?


__ADS_3

Kedua telapak tangan ditangkupkan di kedua pipi, lantas menutupi muka Anjani. Sungguh malu dirinya dengan teguran halus Mommy Monika. Baru saja Mommy Monika menegur dirinya dan Mario karena begitu ceroboh kemarin malam.


Berbeda dengan sang istri, Mario justru hanya mengusap pelan tengkuknya. Rasa malu memang ada, tapi tak begitu dianggapnya. Diperhatikannya sang istri yang justru masih saja menutupi wajahnya.


"Maafkan kami, Mom. Nanti malam tidak akan terulang kecerobohan yang sama. Akan Mario pastikan nanti malam pintunya tertutup rapat," terang Mario dengan santainya.


Anjani lekas menyingkirkan kedua tangannya dari wajah. Sorot matanya begitu gemas memperhatikan sang suami yang dengan entengnya berkata nanti malam. Seolah mereka akan melakukannya lagi malam nanti. Satu cubitan lekas mendarat tepat di perut Mario.


"Aw!" desis Mario yang sebenarnya tidak merasa sakit sama sekali. "Ada apa, Sayang? Mau nambah lauk?" Mario menawarkan dengan senyum jahilnya.


Anjani tidak meneruskan, karena posisi mereka sedang ada di meja makan.


"Anjani, makan yang banyak, ya. Hari ini kamu ada kuliah nggak? Kalau tidak ada, main masak-masakan bareng Mommy, yuk!" ajak Mommy Monika.


"Em, maaf Mom. Hari ini Anjani ada ..."


"Tidak ada, Mom. Mommy bisa main masak-masakan seharian ini dengan Anjani. Sekalian belajar ngaji. Ya, Sayang?" Mario mengedipkan sebelah matanya.


Sama sekali Anjani tidak mengerti maksud Mario. Namun, dia memilih untuk mengangguk saja. Usai sarapan, dirinya akan bertanya lebih.


Tak lama, John bergabung di meja makan. Suami Mommy Monika pagi itu tampak cerah. John sama sekali tidak mengetahui masalah perusahaan ataupun skandal yang tengah dialami Mario. Begitu pula dengan Mommy Monika yang juga tidak tahu menahu soal itu. Mario-Anjani sepakat menyembunyikan berita itu agar ayah dan Mommy bisa fokus pada pernikahan Alenna dan Rangga.


"Mario, hari ini ayah ada perjalanan bisnis ke luar kota. Selama empat hari. Ayah sempatkan pula untuk mengunjungi Alenna di Jakarta nanti. Kamu tetap bantu ayah mengawasi Daniel, ya."


"Iya, Ayah."


Wajah John tampak berbeda ketika menyebut nama Daniel. Mario jelas sekali merasakan kekhawatiran sang ayah. Meski Mario tidak memberi tahu keanehan yang terjadi di anak perusahaan, tapi Mario sangat yakin bahwa insting sang ayah tidak salah.


***


Mario-Anjani terlibat adu argumen usai kegiatan sarapan.


"Tolong dengarkan aku, Sayang. Aku tidak ingin kamu dipojokkan karena foto licik itu," tegas Mario dengan kelembutannya.


Sedari kembali dari sarapan tadi, Mario terus membujuk Anjani agar tidak pergi ke kampus demi kebaikannya.


Anjani tersenyum. Dia menatap lekat ke manik mata sang suami. Dengan lembut dia meyakinkan Mario dengan tatapan itu.


"Aku percaya padamu. Kamu tidak pernah selingkuh. Aku percaya itu. Aku pun percaya kamu segera akan bisa mengatasi semua ini. Membersihkan kembali namamu. Nama baik dan pernikahan kita. Tolong, percaya padaku juga. Izinkan aku tetap pergi kuliah. Insya Allah, semua akan baik-baik saja," tutur lembut Anjani.


Hati Mario luluh. Tutur lembut dan tatapan mata sang istri cukup meyakinkan dirinya.


"Baiklah. Jaga dirimu!" Mario mendekap tubuh Anjani. Meski khawatir, Mario memberi izin untuk pergi.


***


Seorang profesional yang kemarin dimintai tolong untuk membantu melacak nomor ponsel pun memberi keterangan. Rupanya nomor ponsel yang digunakan untuk mengirim foto adalah nomor hasil sabotase. Pemiliknya sendiri mengaku baru kemarin lusa kehilangan ponsel beserta nomor sim card di dalamnya.


"Foto itu bukanlah editan. Hanya diambil di saat yang tepat. Sungguh licik, dan sepertinya ini sudah direncanakan jauh sebelumnya. Kemunculan Nona Vina di lokasi pun juga seperti sudah diatur. Si pengambil foto bahkan tahu Tuan Mario akan ke anak perusahaan waktu itu," terang si orang profesional.


"Maksud paman, apa selama ini ada yang memata-mataiku?" tanya Mario. "Tapi untuk apa?" imbuhnya.


"Dugaan sementara iya, Tuan. Untuk motif, maaf, kami sendiri belum menemukan. Namun, melihat foto yang beredar itu, kemungkinan si dalang ingin menjatuhkan nama baik dan keharmonisan keluarga Tuan dan Nona Anjani."


Ucap istighfar lirih terdengar. Mario menyayangkan sikap licik si dalang yang saat ini masih belum terungkap sosoknya. Sungguh tindakan yang merugi. Tak berfaedah sama sekali. Jika niat hati hanya ingin menjatuhkan orang lain, sejatinya kejatuhan itu justru akan menimpa diri sendiri. Begitulah pikir Mario.

__ADS_1


"Apakah Vina terlibat?" tanya Mario.


"Sama sekali tidak, Tuan. Nona Vina hanya dijadikan sebagai pendukung rencana si dalang. Orang-orang saya sudah memastikan. Baru saja Nona Vina kami lepaskan," terang si profesional lagi.


Mario sedikit terkejut mendengar fakta yang ada. Rupanya bukan Vina otak dari pembuat dan penyebar foto itu.


Tetiba saja terdengar suara perempuan yang memanggil-manggil nama Mario. Itu adalah Vina. Vina berlarian tergesa menghampiri Mario. Saat itu Mario ada di area parkir anak perusahaan.


"Mario! Please dengerin gue. Gue sama sekali nggak tahu menahu tentang foto itu. Gue berani sumpah!" seru Vina.


Vina tidak berani mendekat ke arah Mario. Jarak mereka sekitar dua meter. Vina kapok. Tak berani mendekat lagi setelah kemarin diancam akan dijebloskan ke penjara atas kejahatan besar di masa lalunya.


"Mario. Gue sungguh minta maaf. Kemarin gue bodoh. Gue sempat terbutakan oleh cinta sepihak yang gue rasakan sama loe sejak SMA. Maaf." Isak tangis Vina pecah.


Sama sekali Mario tidak memedulikan isak tangis Vina. Hingga beberapa menit berlalu, Mario jadi iba.


"Aku maafkan. Jangan pernah muncul lagi di kehidupanku dan Anjani. Menjauhlah!" tegas Mario.


"Baik. Sudah dimaafkan saja gue sungguh berterima kasih. Gue akan pindah kuliah ke luar negeri. Terima kasih atas semuanya. Sampaikan salam gue untuk Anjani. Doa gue untuk kalian. Berbahagialah."


Vina tersenyum lantas mengusap air matanya. Dia pergi. Menjauh dari kehidupan Mario-Anjani. Dalam hatinya pun terpatri akan berbenah diri. Sehingga tiada hampa yang terasa lagi.


"Paman. Bagaimana dengan Pak Daniel? Apakah mungkin dia terlibat dalam hal ini?" tanya Mario.


Mario menduga-duga karena teringat tatapan Daniel yang tak biasa pada Anjani malam itu. Malam saat Daniel pertama kali mengenal Anjani dan menghadiahi mereka kado pernikahan.


"Semua orang yang terlibat langsung dengan kehidupan Tuan Mario dan Nona Anjani sudah kami telusuri. Dalam hal ini Pak Daniel tidak terlibat. Tapi, kami justru mendapatkan sebuah petunjuk baru atas penyalahgunaan dana investasi oleh Pak Daniel," terang si profesional.


Mata Mario membulat. Kembali dia teringat percakapannya dengan Amanda tempo hari. Amanda juga membahas tentang transferan dana ke rekening pribadi Daniel.


"Masih belum, Tuan. Kami masih fokus pada pencarian dalang atas foto yang menjatuhkan nama baik Tuan Mario," terangnya.


"Bagus. Tolong jangan beri tahu ayah. Aku akan mengamati Daniel lewat Amanda. Jika benar dana itu dirupakan bahan mentah untuk keperluan pabrik, maka bisa kita pertimbangkan ulang. Untuk sementara, bentuk tim kecil yang mengawasi pergerakan Daniel. Satu lagi, jangan mencolok!" pinta Mario.


"Siap laksanakan, Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu untuk Tuan Mario?" tanya si profesional.


Pikiran Mario berputar. Mencari-cari celah demi mengetahui dalang di balik foto yang tersebar.


"Apa paman dapat info di mana si pemilik nomor kehilangan ponselnya?"


"Di area Dedaun Timur Raya, Tuan. Depan outlet penjual jamur krispi. Seberang jalan depan pertokoan yang menjual peralatan elektronik."


Mario mencoba mengingat-ingat daerah yang dimaksud. Sebuah ide lekas terbersit.


"Paman, tolong usahakan akses untuk melihat rekaman CCTV di hari pelaku mengambil ponsel. Jika prediksiku tidak meleset, ada tiga CCTV di area itu yang bisa menyorotnya. Begitu tahu ciri fisik dan plat nomor kendaraan pelaku, lekas susun rencana pencarian. Walau bagaimana pun, dalangnya harus ditemukan!" tegas Mario. "Anjani tidak seharusnya terdzolimi seperti ini," imbuhnya. Mario tidak memedulikan nama baiknya. Dia lebih mementingkan perasaan Anjani atas skandal yang terjadi.


Si profesional kepercayaan John dan Mario pun menunduk takzim. Siap melaksanakan dan membantu penyelesaian permasalahan.


***


Mario segera menuju kampus usai bertemu si profesional kepercayaan. Meski hanya ada jadwal kuliah online bagi dirinya, Mario tetap ke sana guna memastikan kondisi Anjani baik-baik saja.


"Gue kira loe bakal terpuruk setelah tau suami loe selingkuh," celetuk seorang yang memang sedari awal iri dengan pernikahan Mario-Anjani.


"Syirik aja sih jadi orang. Hus-hus!" Meli membela dan menyuruhnya menjauh.

__ADS_1


Tatapan dingin dilayangkan pada Anjani dan Meli bergantian. Namun, si pencaci langsung tertunduk dan ketakutan begitu melihat Mario yang tiba-tiba datang.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mario dengan tatapan lembut.


"Tenang aja, Kak. Ada Meli yang bantu ngulek yang usil sama Anjani, kok." Meli terkekeh.


Mario tersenyum dan berterima kasih.


"Mel, terima kasih selalu jadi sahabat terbaik untukku. Aku pulang dulu, ya?" pamit Anjani.


"Iya. Pulang aja sana. Aku nungguin Juno, nih. Mana tuh anak nggak nongol-nongol!" Meli celingak-celinguk.


"Baiklah. Duluan ya, Mel. Assalamu'alaikum," salam Mario.


"Wa'alaikumsalam."


Meli melambaikan tangannya sambil tersenyum. Melihat godaan pernikahan Mario-Anjani yang masih muda, membuatnya turut berdoa agar pernikahannya dengan Azka tak ditimpa dengan permasalahan yang serupa.


"Mel!" panggil Juno.


"Woi. Akhirnya muncul juga. Ada apa nih?" tanya Meli tanpa basa-basi.


"Cuma mau tanya. Ini foto Mas Mario sama Vina beneran? Terus Anjani gimana?" Juno menunjukkan foto yang didapatkannya tadi pagi-pagi buta saat perjalanan pulang dari Jakarta.


Meli geleng-geleng kepala melihat Juno yang telat informasi.


"Kemarin sih pakai acara bolos kuliah. Jadi nggak tau kan yang lagi heboh di kampus!" protes Meli.


"Ya maaf, Mel. Kemarin itu aku ke Jakarta. Niatnya sih pengen ketemu Alenna. Eh, malah ngehabisin waktu berdua sama Ranti sampai larut malam," terang Juno tanpa filter. Ups. Aduh. Keceplosan! seru Juno dalam hati.


Meli menautkan alisnya. Kekepoan dirinya seketika menjulang tinggi sekali.


"Siapa itu Ranti? Ngapain juga berduaan sampai larut malam. Jangan bilang kamu udah ...." Kata-kata Meli lekas dipotong oleh Juno.


"Sudah-sudah. Jangan bahas itu lagi. Ini foto beneran nggak? Atau editan?" Juno kembali ke topik.


"Itu jebakan! Setelah ujian pernikahan Kak Mario-Anjani terlewati, aku yakin mereka akan dihadiahi momongan," jawab Meli asal.


"Aaah. Gaya bicaramu, Mel. Terus-terus? Siapa dalangnya?" tanya Juno lagi.


"Ya mana kutahu. Kak Mario masih nyari tuh dalang. Begitu dapat, pasti langsung diulek jadi sambel. Heeem!" Meli gemas.


Juno mengangguk-anggukan kepala. Setelahnya pamit hendak menemui Rangga.


"Loh, sejak kapan kamu kenal Kak Rangga? Mau ngapain nemuin dia?" tanya Meli.


"Yang jelas bukan mau nyari dalang foto. Aku mau bahas masa depan Alenna. Da-da!" Juno main nyelonong pergi begitu saja.


Meli tak mau ambil pusing. Dia ingin segera pulang dan ber-VC ria dengan Azka. Jika diangkat, sih. Meli mengira suaminya itu sedang sibuk di Medan. Atau justru, sedang terjadi sesuatu?


Bersambung ....


Siapa sih dalangnya??? Tunggu lanjutan ceritanya. Kepo tentang Juno yang berduaan dengan Ranti sampai larut malam, cuuus kunjungi novel baru author yang judulnya IKATAN CINTA ALENNA.


And than, penggemar Azka-Meli. Hayuuuk, cari tahu keberadaan Azka di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Apakah suami Meli itu sedang dalam masalah? Yuk cari tahu! Dukung karya kami ya. 😉

__ADS_1



__ADS_2