
"Juno ...!" teriak Anjani dengan raut wajah kesal.
Kaleng cat yang telah dilempar sembarangan oleh Juno sukses mendarat di bahu Anjani sebelah kiri. Cat yang masih tersisa di kaleng kembali menodai orang yang tidak bersalah. Baju Anjani terkena cat warna merah darah. Semakin Anjani berusaha membersihkan cat di bajunya, cat semakin merembet kemana-mana. Tubuh Anjani bagian bahu dan dada sebelah kiri seolah telah berlumur darah. Jelas, Anjani semakin kesal.
Awalnya Juno terkejut bisa bertemu Anjani di tempat itu. Namun, dia lebih terkejut lagi saat tahu kaleng cat yang tadi dia lempar telah mengenai Anjani. Juno sedikit bingung harus berbuat apa. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dilanjut menyisir ulang rambutnya dengan jari, kemudian berlari menghampiri Anjani.
"Satu permintaanmu akan kukabulkan asal kau tidak marah padaku. Gimana?" Juno memberi penawaran.
"Ikut aku!" kata Anjani tegas.
"Tapi Boy ... loh, di mana dia? Aduh, Mas Mario bakal ngamuk ini. Gawat!" Juno panik.
"Cepat Juno!" Anjani meneriaki Juno agar bergegas mengikuti langkahnya.
Masih setengah bingung, Juno menyempatkan diri untuk berlari mendekat ke arah Ken, kemudian memberi kode agar mengikuti dirinya. Bergegas Juno berlari lagi untuk menyusul langkah Anjani. Mereka berdua berjalan bersisian dan tidak ada percakapan. Sementara Ken mengemudikan motornya dengan laju lambat, mengekor di belakang Anjani dan Juno.
***
Anjani tidak percaya dengan kondisi yang saat ini begitu tidak biasa. Terlihat antrian mengular ke jalan. Antrian rata-rata dipenuhi oleh ibu-ibu pecinta drama. Anjani sempat bertanya-tanya perihal antrian panjang itu. Demi segera mengusir rasa penasarannya, dia pun bergegas mendekat. Akan tetapi, kondisi tubuh Anjani yang mirip korban penganiayaan, malah membuat ibu-ibu dalam antrian menjerit kaget.
____________________________________
"Oh, no!"
"Anjani, kau berdarah!"
"Sam, keponakanmu terluka!"
"Uwaaaa, siapa yang berani melukaimu?
"Jangan-jangan lelaki yang di belakangmu itu ya pelakunya?"
"Tapi dua lelaki yang bersama Anjani itu juga tampan."
"Siapanya Anjani kira-kira ya?"
"Yang satu pacarnya, yang satu selingkuhannya. Yakin, deh!"
_______________________________________
Bisik-bisik berkembang menjadi gosip dalam sekejab. Paman Sam menangkap obrolan yang berasal dari antrian dan bergegas menghentikan sebelum berkembang menjadi gosip viral.
"Anjani, ke sini kau!" Paman Sam berkata tegas.
Mulai dari antrian panjang, hingga reaksi Paman Sam diperhatikan dengan seksama oleh Anjani. Dia masih bersikap tenang, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian, dia terlihat tersenyum kemudian menuding Juno yang saat itu berdiri tepat di sebelahnya.
"Dia pelakunya!" kata Anjani sambil tersenyum ke arah Juno.
__ADS_1
Juno kaget mendapat tudingan dari Anjani. Ken yang sedari tadi menaiki motor di belakang Juno pun tidak kalah kaget. Bahkan, dia bergegas memarkir motornya dan cepat-cepat berdiri di samping Juno.
"Anu, itu ... saya juga ikut bersama Juno, Om." Ken berkata demikian agar Juno tidak menanggung semuanya sendirian.
"Di antara kalian berdua yang merasa tampan cepat masuk ke dalam rumah. Se-ka-rang!" Sekali lagi Paman Sam berkata tegas.
Mendengar perintah Paman Sam, Ken dan Juno saling lirik. Tiba-tiba keduanya bergegas masuk ke dalam rumah, bahkan sampai berebut siapa yang masuk lebih dulu. Nah, itu artinya baik Ken ataupun Juno keduanya sama-sama merasa tampan.
Sesaat setelah Ken dan Juno masuk, Paman Sam berganti menyuruh Anjani untuk segera masuk ke dalam rumah. Usai menyuruh Anjani masuk, Paman Sam membubarkan antrian panjang dengan janji akan memampang sebuah foto spesial nantinya.
Foto? Apa sebenarnya maksud paman, sih? Anjani sedikit curiga.
Bagai kata ajaib, sekali Paman Sam menyuruh antrian untuk segera bubar dengan iming-iming foto, seketika kerumunan pun bubar. Anjani pun menuruti perkataan Paman Sam untuk segera masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan itu, Paman Sam cepat-cepat menutup warungnya dengan wajah riang gembira. Tentu saja pemandangan itu semakin membuat Anjani curiga.
"Mario? Ternyata sudah sampai. Ah, aku tau sekarang." Anjani mulai bisa menebak situasi saat dia baru masuk rumah.
Mario terlihat duduk santai di kursi tersendiri, terpisah agak jauh dari ketiga teman lainnya. Sementara di kursi lainnya tengah berkerumun Meli, Ken, dan Juno seolah sedang adu cepat makan kue bolu.
"Kenapa bengong begitu, Anjani? Terkejut melihatku?" tanya Mario sambil mulai mengumbar senyum manisnya.
Akan tetapi, Anjani sama sekali tidak menggubris pertanyaan Mario. Dia malah melangkah menuju dua piring kosong di dekat Meli, kemudian memenuhinya dengan pisang goreng yang tadi dia beli sebelum akhirnya terjadi tragedi tertimpa kaleng cat yang dilempar Juno.
"Hei, Anjani. Aku senang Kak Mario mengusulkan untuk belajar di rumahmu. Seru!" Meli berkata di sela aktivitas memakan bolu.
"Ooo ... jadi Mario pergi untuk belajar. Pelajaran apa yang pakek bunga sama cokelat segala, he?" Kali ini Ken bertanya setelah puas dengan tiga bolu.
"Apa kau ingin kuberi bunga dan cokelat juga, Ken? Tidak perlu sungkan jika kau mau!" kata Mario.
"No no no ... mending aku beli sendiri!" Rupanya Juno juga menolak.
Anjani duduk diam memperhatikan tingkah teman dan seniornya. Dia tidak menyangka agenda minggu pagi akan kacau. Dengan rentetan kekacauan yang telah terjadi pagi itu, sepertinya dia harus menunda kegiatan belajar untuk sementara waktu.
Paman Sam selesai menutup warung. Kini Paman Sam terlihat berlarian kecil menuju dapur dan bergegas kembali membawa nampan dan gelas-gelas berisi es sirup rasa kelapa. Potongan es batu dalam gelas berdenting merdu, hingga memancing perhatian setiap pasang mata di ruang tamu Paman Sam. Warna hijau dari sirup serta bulir-bulir embun es yang memenuhi gelas membuatnya semakin terlihat segar. Dan ... sudah bisa ditebak siapa yang bereaksi lebih dulu melihat minuman segar itu.
"Anjani, kenapa pula kau tak bilang kalau teman-teman kau yang mau datang tampangnya tampan. Macam artis korea. Haha, paman kau ini sampai bingung liat antrian tetangga. Banyak yang mau minta foto. Sama yang ini nih. Mario. Harusnya paman kau ini tetap nyewa bodyguard buat dia."
Rasanya Anjani ingin tertawa, tapi takut dosa. Dia sama sekali tak menyangka Paman Sam akan begitu tertarik dengan penampilan teman-temannya, terutama pada muka tampan Mario.
"Em, Mario. Sepertinya rencana belajarnya harus ditunda dulu, deh. Juga ... aku minta maaf atas kekacauan pagi ini. Mungkin antrian panjang tadi memang terpesona dengan wajahmu. Jadi, aku saranin kalau belajar di sini lagi pakek muka yang biasa aja, ya!" kata Anjani sambil tersenyum penuh arti. Kata-kata terakhirnya sangat tidak biasa.
"Huss, ngomong apa kau. Tak sopan kali ngomong gitu, Anjani. Model kayak gini pasti sudah tampan dari lahir. Tak boleh iri sama dia kau. Ayo, cepat minta maaf!" paksa Paman Sam.
Anjani enggan mengikuti saran Paman Sam untuk meminta maaf. Lagipula kata-katanya tadi memang keluar begitu saja. Itu artinya memang tulus dari hati. Namun, ternyata Paman Sam terus memberi kode pada Anjani untuk menarik kata-katanya. Anjani kukuh pada pendiriannya, dan tetap tidak mau minta maaf.
"Haha, maafkan ponakanku ya. Tak bermaksud seperti itu dia. Ngomong-ngomong nak Mario ini apa sudah punya calon istri?" tanya Paman Sam blak-blakan.
Pertanyaan Paman Sam begitu tak terduga. Meli, Ken, dan Juno seketika menoleh bersamaan karena kaget mendengarnya. Anjani lebih kaget, bahkan dia langsung menunduk karena malu. Mario? Ah, reaksinya lebih tak terduga.
__ADS_1
Mario tersenyum. Senyuman penuh pesona khas ala dirinya. Tiba-tiba Mario beranjak dari tempat duduknya. Sebelum melangkah, dia sempatkan melirik ke arah Anjani. Mario melangkah mendekati Paman Sam. Begitu sampai di sebelahnya, Mario mengeluarkan smartphone dan mulai mengajak Paman Sam untuk berfoto dengannya. Selesai, Paman Sam langsung meminta kiriman foto pada Mario.
"Sudah diputuskan, kegiatan belajar tetap dilaksanakan. Aku masih bersedia menjadi tutor. Perhatian semuanya, yang merasa ingin ikut belajar silakan ambil posisi duduk di depanku. Mulai dari ... sekarang!" kata Mario serius.
Lagi-lagi Anjani tak menduga. Meli bergerak paling pertama, disusul oleh Juno. Ken bahkan ikut-ikutan mengambil posisi siap belajar. Lebih tak diduga lagi, Pam Sam mengambil posisi tepat di samping Ken untuk ikut belajar juga.
"Ah, kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi. Mario, izin sebentar buat ganti baju, ya!" kata Anjani.
"Bergegaslah. Aku tidak memberi toleransi pada murid yang bermalas-malasan!" kata Mario sambil memasang ekspresi menakutkan.
Berlarian kecil, Anjani bergegas mengganti pakaiannya yang sempat terkena cat. Tidak sampai lima menit, Anjani kembali dengan buku dan alat tulis di tangannya. Dan ... kegiatan belajar pagi itu akhirnya terlaksana juga.
***
Malam hari di rumah Paman Sam
"Anjani, nih kubagi cokelat dari Mario si tampan. Lain kali ajak dia belajar di sini lagi, ya. Sekarang kau cepat tidur, biar besok tak kesiangan."
"Iya, Paman."
Meski sempat kacau di awal, kegiatan belajar tadi pagi berjalan sebagaimana mestinya. Meli tetap dengan semangat belajarnya, meski sesekali bercanda dengan Ken atupun Juno. Semua antusias belajar, termasuk Paman Sam, Ken, dan Juno yang semula hanya ikut-ikutan.
Di balik semua itu, Anjani kagum pada sosok Mario yang justru bisa bersikap profesional menjalankan kesepakatan. Entah kenapa tiba-tiba saja Anjani tersenyum saat bayangan Mario memenuhi ingatannya. Sungguh berlawanan dengan sikap acuh yang kadang ditunjukkan Anjani di depan Mario.
"Ah, ada apa denganmu Anjani?" kata Anjani berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya.
Ting!
Ada yang aneh. Anjani merasa tiba-tiba ada yang aneh di kamarnya. Dia mendengar dentingan, meski hanya sekali. Suara apa itu?
Tidak tidur lagi, Anjani mengambil posisi duduk di tepi ranjang. Dia menoleh ke segala arah, mengamati setiap sudut kamarnya. Tidak ada apa-apa di sana. Sekali lagi bola mata Anjani berkeliling mengamati kamarnya, dan tetap tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan. Hingga kemudian Anjani kembali tidur di ranjangnya.
Tepat saat Anjani tidur dalam posisi miring, seketika seperti ada yang naik ke atas ranjangnya. Mendadak jantung Anjani berdegup kencang. Dia takut. Bantal yang sedari tadi dibuat alas kepala bahkan langsung ditarik dan digunakan untuk menutupi wajahnya.
"Siapa itu?" Suara Anjani terdengar sedikit bergetar.
Tak ada jawaban atas pertanyaan Anjani. Mencoba tegar, Anjani berusaha mengumpulkan keberanian. Bantal disingkirkan perlahan, kemudian dia menoleh. Dan ....
"Miaauw!"
"Ah, kucing!"
Lega. Anjani mengelus dada. Rasa takutnya mereda. Dia senang tidak bertemu sosok menakutkan. Kucing lucu yang saat ini ada di kasurnya begitu tidak asing. Dia pun menggendong kucing itu, kemudian mengelus kepalanya.
"Ini kan kucing waktu itu. Baiklah, akan kukembalikan kau pada tuanmu besok. Boy." Anjani membaca nama yang terukir pada kalung yang dipakai oleh si kucing.
***
__ADS_1
Kepo-in lanjutannya, ya 😉
❤ like and vote ❤