
Dini hari, hujan mengguyur deras membasahi bumi. Padahal, semalam tiada terlihat awan mendung menggantung di langit sana. Tetiba saja paginya hujan sudah mengguyur. Cuaca memang tidak bisa diprediksi. Namun, cuaca terang ataupun hujan tetap harus disyukuri.
Azan subuh berkumandang. Anjani yang baru selesai mandi pun merasa kedinginan. Sementara hujan di luar sana masih saja deras, tanpa ada tanda akan mereda walau sebentar saja. Meski demikian, niatan untuk menunaikan fardu subuh sama sekali tak tergoyahkan.
"Alhamdulillaah," ucap Anjani usai memanjatkan doa.
Anjani melipat mukena dan sajadahnya. Jilbab instan warna navy dipilih untuk dipakai olehnya. Setelahnya Anjani bercermin sebentar, melihat satu jerawat merah di tengah-tengah dahi. Anjani sudah mirip pemeran wanita di film India saja.
"Aw!" Anjani menyentuh jerawatnya, dan masih terasa sakit.
Segera Anjani mengambil krim jerawat yang baru semalam dibelinya. Dioleskan krim itu di bagian jerawat yang berukuran besar dan masih merah. Lumayan, sejuk dari olesan krim sedikit memudarkan rasa sakitnya.
Kaki Anjani kemudian membawanya ke jendela kamar. Anjani membuka jendela kamarnya sedikit untuk mengintip hujan yang mengguyur di luar. Terlihatlah hujan yang masih mengguyur dengan derasnya.
"Semoga hujan membawa berkah." Anjani berdoa.
Hawa dingin hujan di luar masuk lewat jendela kamar yang dibuka Anjani. Terasa begitu dingin hingga Anjani menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menciptakan rasa hangat. Akan tetapi, rasa hangatnya bertahan hanya sebentar saja dan hanya di bagian telapak tangan. Sementara tubuh Anjani masih merasakan dingin.
Dapur menjadi tempat tujuan selanjutnya. Anjani merebus air dalam teko. Sembari menunggu air itu mendidih, Anjani menuangkan gula dan teh ke dalam cangkir. Segeralah secangkir teh diseduh demi menghangatkan tubuh.
Terdengar suara langkah mendekat ke arah dapur. Anjani tahu siapa yang datang, pastilah Paman Sam. Anjani segera membuatkan Paman Sam secangkir kopi.
"Rajin kali kau. Belum disuruh udah dibuatin kopi," kata Paman Sam sambil menuju penggorengan.
"Hehe. Kalau nggak mau kopinya buat Anjani saja," sahut Anjani.
"Eh, mana bisa gitu. Pasti kuminum. Sekarang, tolong ambilkan terigu di wadah biru!" perintah Paman Sam.
Anjani melangkah menuju wadah yang dimaksud Paman Sam. Sebungkus terigu segera diambil dan dibawa menuju Paman Sam.
"Mau bikin apa, Paman?" tanya Anjani.
"Pisang goreng," jawab Paman Sam.
"Biar Anjani aja yang buatin. Paman kan harus buka warung," kata Anjani.
Anjani benar. Usai menyeduh kopi paginya, Paman Sam biasanya akan bersiap membuka warungnya. Sementara Anjani yang akan mengurus dapur dan kebersihan rumah.
"Di luar hujannya masih deras. Siapa pula yang mau ke warung. Nanti saja buka warungnya nunggu agak reda," kata Paman Sam.
"Heeem, tapi gimana kalau misalnya ada tetangga yang ingin buat gorengan dan butuh terigu. Terus terigunya masih harus beli di warung. Udah jalan ke warung, eh warungnya tutup. Sementara gorengan itu nantinya akan dimakan bersama keluarganya. Menikmati waktu bersama sambil menunggu hujan reda. Kalau ada yang seperti itu gimana?" tanya Anjani di akhir penjelasannya.
Awalnya Anjani hanya bercanda dengan cara menduga-duga, membuat suatu pemikiran bahwa kemungkinan di luaran sana ada yang seperti itu. Namun, Paman Sam menyikapinya dengan serius. Ajaib.
"Ah, nggak tega juga kalau ada yang seperti itu. Baiklah, aku buka warungnya sebentar lagi. Kamu yang urus pisang gorengnya, " kata Paman Sam pada akhirnya.
Anjani tersenyum. Meskipun pamannya itu mantan preman, tapi hatinya justru kini menjadi 'nggak tegaan'.
Paman Sam menuju kopinya. Segera meminumnya sebelum menjadi dingin. Sementara Anjani mulai meracik adonan tepung untuk kulit pisang goreng.
"Anjani, boleh paman kau ini beri tahu kau sesuatu?" tanya Paman Sam tiba-tiba.
"Boleh. Ada apa, Paman?" Anjani mempersilakan.
Paman Sam menyempatkan diri menyeruput kopinya sekali lagi. Sesaat kemudian mimik wajahnya berubah, seperti sedang ada yang dipikirkan.
Anjani memperhatikan perubahan ekspresi wajah Paman Sam sambil tetap mengaduk-aduk adonan tepung. Akan tetapi, Anjani memutuskan untuk menunggu saja dan tidak tergesa mengajukan tanya.
"Begini. Di pasar sana, di tempat langganan ada janda muda beranak satu. Em, terus ...." Kata-kata Paman Sam terhenti.
Paman Sam terlihat bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Namun, Anjani sudah bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh Paman Sam. Seketika Anjani melangkah mendekat, dan duduk persis di seberang Paman Sam sambil membawa wadah berisi adonan.
"Janda muda anak satu. Terus paman jatuh cinta. Terus paman ingin menikah sama dia. Eh, dianya mau dan bersedia menikah dengan paman. Terus pagi ini paman meminta persetujuan Anjani. Terus ...." Kini giliran kata-kata Anjani yang terhenti karena tawa Paman Sam.
Anjani berkata cepat dan tepat sekali. Paman Sam sampai terkekeh mendengarnya.
"Gini kalau punya ponakan cerdasnya nggak ketulungan," celetuk Paman Sam.
"Eh, tapi bener kan?" tanya Anjani.
Paman Sam mengacungkan jempolnya.
"Jadi, paman kau ini boleh nikah lagi?" tanya Paman Sam sekali lagi untuk memastikan persetujuan Anjani.
"Boleh," jawab Anjani sembari tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillaah. Kalau gitu paman kau ini bisa lega buka warung hari ini," kata Paman Sam.
"Eh, jangan lupa telpon Ma juga!" seru Anjani setengah berteriak karena Paman Sam sudah mulai melangkah menuju depan rumah.
"Siaaap!" seru Paman Sam juga ikut berteriak.
Anjani tersenyum. Hati Anjani merasa senang mendengar pengakuan Paman Sam. Anjani sadar bahwa dirinya tidak bisa selamanya tinggal di rumah Paman Sam. Suatu saat nanti jika Anjani menikah, pastilah akan ikut dengan suaminya. Saat hari itu tiba, Anjani sudah tidak khawatir lagi karena ada sosok yang menemani Paman Sam di rumah. Anjani sungguh bersyukur pagi itu dapat mendengar kabar baik dari Paman Sam.
Ngomong-ngomong tentang kabar baik, apa sebenarnya kabar baik yang dimaksud Mario? batin Anjani.
***
Pukul 06.00 pagi. Hujan masih saja mengguyur bumi. Tadi sempat mereda sekitar sepuluh menit, tapi lekas kembali deras lagi.
Anjani telah selesai melakukan semua rutinitas pagi. Rumah sudah tersapu bersih. Piring-piring kotor bekas sarapan juga telah dicuci. Miko di kandang pun juga telah diberi pakan dan diberi air minum yang bersih. Bahkan, Anjani sempat membantu Paman Sam juga melayani pembeli yang tetap berbelanja di tengah derasnya hujan.
Anjani ada kuliah, tapi masih pukul 9 nanti. Kebetulan juga hanya ada penugasan yang dikumpulkan secara online dan berbatas waktu, sebab dosen pengampu ada tugas luar kota hari itu. Alhasil, Anjani santai saja meskipun hujan deras, karena hari itu sedang tidak terburu-buru pergi.
Anjani duduk di teras depan rumah, sementara Paman Sam di dalam warungnya. Anjani mengecek satu per satu chat yang masuk di smartphone miliknya setelah diabaikan sejak semalam.
Dari sekian banyak chat, Anjani lebih tertarik membaca pesan di grup chat 'ciwi-ciwi belajar ngaji'. Grup itu beranggotakan empat muslimah cantik yang sama-sama sedang belajar mengaji, yakni Anjani, Meli, Berlian, dan Alenna.
Pembahasan di grup chat berbeda dari biasanya. Jika biasanya mereka akan membahas tentang jadwal mengajinya bersama ustaza Nuri, maka semalam yang dibahas adalah Vina. Hanya Meli, Berlian, dan Alenna saja yang mengobrol semalam, sementara Anjani tidak ikutan karena tidur lebih awal.
Pagi itu Anjani sungguh terkejut hingga membaca berulang chat di grup. Setelah membaca ulang, barulah Anjani yakin bahwa yang dimaksud benar-benar Vina yang dikenalnya.
"Vina?" gumam Anjani dengan nada lirih.
Sejenak Anjani melepaskan pandangannya dari smartphone. Bola mata Anjani tertuju pada hujan deras yang masih saja mengguyur. Seolah ada bayang-banyang wajah Vina sedang berekspresi sinis di tengah guyuran hujan di depannya. Ya, Anjani terbayang-bayang karena kejadian di parkiran waktu itu masih membekas dalam benaknya.
"Astaghfirullah," ucap Anjani yang tiba-tiba sadar.
Anjani menepuk-nepuk pipinya, lalu mengedipkan kedua matanya dengan cepat. Seiring dengan itu juga diselingi dengan bacaan istighfar yang dituturkan.
"Aku nggak boleh berprasangka buruk. Setiap hati manusia itu bisa berubah, termasuk Vina." Anjani kembali bertutur lirih, dan hanya dirinya saja yang mampu mendengarnya.
Yakin dengan hatinya, segera Anjani mengirim sebuah chat balasan di grup chat 'ciwi-ciwi belajar ngaji'. Anjani setuju jika Vina gabung dalam kelompok mengaji bersama ustaza Nuri. Begitu pesan terkirim, Meli menelepon Anjani.
"Assalamu'alaikum," salam Anjani setelah meng-klik pilihan terima panggilan.
"Eh?" Anjani terheran karena panggilan suara itu tiba-tiba saja terputus.
Anjani mencoba menghubungi Meli lagi. Panggilan itu sempat diterima, tapi tidak ada suara siapa-siapa. Beberapa detik kemudian panggilan suara itu pun kembali terputus.
"Tumben banget. Ada apa, ya?" Anjani terheran.
Anjani menunggu beberapa menit, dan mencoba menghubungi Meli lagi. Akan tetapi, nomor Meli tidak aktif.
Tak biasa-biasanya Meli aneh seperti pagi itu. Anjani pun jadi sedikit khawatir tentang Meli. Sehingga, Anjani memutuskan untuk pergi ke rumah Meli saat hujan sudah reda nanti.
"Oke, aku akan ke rumah Meli nanti." Anjani berkata mantap kali ini.
Setelahnya Anjani hendak ke dalam rumah, berniat menuju kamarnya. Namun, smartphone Anjani tiba-tiba bergetar. Anjani cepat-cepat melihat siapa yang mengiriminya pesan. Berharap itu adalah Meli, tapi ternyata bukan.
"Mario?" kata Anjani sedikit terkejut.
Anjani lekas membaca pesan dari Mario. Rupanya Mario mengabari Anjani tentang Vina yang akan bergabung dalam kelompok mengajinya. Mario bahkan memberi tahu Anjani bahwa Vina sudah bersedia dan antusias satu kelompok dengan Anjani.
"Em? Vina antusias sekelompok sama aku?" Anjani terheran saat membaca bagian itu.
Dalam pesan itu pula Mario berharap agar Anjani bisa menerima Vina menjadi bagian kelompoknya. Mario juga berharap agar Anjani tidak terlalu mengambil hati atas kejadian di parkiran tempo hari.
Anjani tersenyum, karena Mario menghubunginya secara pribadi meskipun lewat pesan singkat. Anjani pun segera membalas pesan dari Mario itu dengan hati riang.
Alhamdulillaah semakin banyak yang berhijrah. InsyaaAllah aku dan Vina akan berteman dengan baik. Balasan pesan dari Anjani.
"MasyaaAllah, entah kenapa hati ini terasa lebih lega sekarang. Alhamdulillaah," ucap Anjani.
***
Pukul 07.30 hujan mereda. Hati Anjani pun gembira. Segera Anjani menuju kamar dan berganti pakaian. Gamis casual dipadu dengan jilbab instan lavender yang senada dengan warna gamis, dipilih Anjani untuk dikenakan. Usai berganti pakaian, Anjani menuju teras depan untuk berpamitan kepada Paman Sam. Ya, Anjani pamit hendak pergi ke rumah Meli.
"Bawa mantel!" seru Paman Sam dari dalam warungnya. "Eh, jangan lupa titipan paman kau ini, ya!" imbuhnya.
"Siaaap. Berangkat dulu. Assalamu'alaikum!" pamit Anjani.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," sahut Paman Sam menjawab salam Anjani.
Anjani berangkat menggunakan motor milik Paman Sam. Seperti biasa, Anjani mengendarainya dengan kecepatan sedang. Anjani sungguh tidak suka kebut-kebutan, apalagi jalanan beraspal masih basah dengan air hujan.
Sebelum itu Anjani mampir ke penjual martabak manis. Anjani akan membawanya ke rumah Meli untuk dimakan bersama. Saat Anjani menunggu pesanannya jadi, sebuah pesan masuk dan itu adalah pesan dari Meli.
"Alhamdulillaah. Kirain kenapa? Syukurlah kalau tadi hanya kehabisan baterai saja," kata Anjani setelah membaca pesan dari Meli.
Segera Anjani membalas pesan dari Meli. Anjani juga memberi tahu Meli bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
Anjani kembali mengemudikan motornya, sambil membawa martabak manis menuju rumah Meli. Akan tetapi, tiba-tiba saja tetes air hujan kembali hadir. Awalnya hanya sebuah rintik, tapi lama-lama hadirnya semakin deras saja. Segera Anjani menepikan motornya di teras sebuah toko yang sedang tutup.
"Semoga hujan membawa berkah," kembali Anjani berdoa.
Anjani melepas helmnya dan mengelap bagian yang basah. Begitu selesai mengelap, ada orang lain yang menepikan motornya di tempat yang sama. Bedanya, orang itu sudah basah kuyup.
Anjani memperhatikan sosok yang baru datang itu. Terlihat dari penampilannya, dia adalah seorang muslimah. Begitu helm dibuka, barulah Anjani mengenalnya.
"Mbak Bida?" kata Anjani sambil melihat ke arah muslimah cantik di depannya itu.
Muslimah cantik bernama Bidadari, yang saat ini berdiri di depan Anjani. Senyum manis lekas tersuguh untuk Anjani disertai salam darinya.
"Assalamu'alaikum," salam sapa Mbak Bida pada Anjani.
Anjani masih terbengong karena tidak percaya yang ada di hadapannya adalah sosok cantik yang selama ini mengusik rasa penasarannya. Lewat perantara hujan, Anjani dan Mbak Bida bisa bertemu kembali.
"Anjani, assalamu'alaikum." Mbak Bida kembali mengucap salam, karena salam yang pertama belum dijawab oleh Anjani.
"Eh, iya. Wa'alaikumsalam." Anjani pun menjawab salam dari Bidadari.
Anjani sedikit kikuk saat itu. Sungguh Anjani bingung harus bicara apa. Sosok yang berhari-hari begitu ingin diketahui asal-usulnya, kini ada di depannya. Anjani memiliki kesempatan yang baik untuk tahu sesuatu tentangnya.
Dipandanginya muslimah cantik bernama Bidadari itu. Terlihat kedinginan karena tubuhnya basah kuyup oleh hujan.
"Mbak Bida ada acara talk show lagi?" tanya Anjani.
"Oh tidak. Saya baru saja tiba di kota ini, nanti siang ada acara temu kangen bareng teman-teman geng masa kuliah dulu. Hehe," jawab Mbak Bida dengan tutur kata lembut seperti biasanya.
"Bentar lagi kalau agak reda ikut aku, ya Mbak. Kita mampir ke rumah temanku dulu, Mbak Bida bisa ganti baju kering di sana." Anjani menawari, dan yang dimaksud adalah di rumah Meli.
"Em, gimana ya. Sebenarnya saya tidak enak hati, jadi merepotkan. Tapi nggak mungkin juga pakai baju basah gini," terang Mbak Bida.
"Sudah, nggak apa-apa. Ikut, ya Mbak?" ajak Anjani sekali lagi.
"Baiklah. Barakallah, Anjani." Mbak Bida kembali menunjukkan senyum manisnya.
Anjani tersenyum senang karena Mbak Bida mau.
"Em, hujannya deras sekali, ya?" tanya Anjani basa-basi.
"Iya. Tadi aku berangkat dari rumah cerah. Waktu sampai di perbatasan kota mulai gerimis dan deras deh." Mbak Bida menanggapi dengan baik.
Anjani memperhatikan Mbak Bida menggosok-gosokkan telapak tangannya. Terlihat sekali Mbak Bida kedinginan. Namun, Anjani tidak punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menghangatkan. Hanya doa yang Anjani dengungkan dalam hati agar hujan lekas berhenti, dan Mbak Bida bisa diajak ke rumah Meli.
"Em, Mbak Bida berarti ketemu teman-temannya masih nanti siang, ya?" Anjani tidak ada obrolan lain lagi, sehingga kembali bertanya.
Mbak Bida tiba-tiba tersenyum, lalu menggeleng.
"Nggak juga, sih. Sebelum ketemu sama teman-teman ada janji temu dengan seseorang," terang Mbak Bida sembari menoleh pada Anjani.
"Wah, semacam jumpa fans ya, Mbak?" tanya Anjani ingin terlihat lebih akrab dengan Mbak Bida.
"Hehe. Bolehlah dibilang begitu," jawab Mbak Bida.
"Siapa dia, Mbak?" tanya Anjani lagi tanpa memudarkan senyumnya.
"Em ...." Mbak Bida tersenyum lebih dulu sebelum melanjutkan kata-katanya. "Namanya Mario," jawab Mbak Bida.
Deg!
Ma-Mario? batin Anjani, terkejut mendengar nama Mario disebut.
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author selalu ditunggu, lho. Vote juga agar author semakin semangat melanjutkan cerita Mario-Anjani. See You. 😉
__ADS_1