CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Kode Cinta dari Mario


__ADS_3

"Assalamua'alaikum." Terdengar salam dari seseorang yang begitu dikenal oleh Anjani.


Segera Anjani melihat ke arah pintu, dan ternyata dia adalah ....


"Mario?" ucap Anjani lirih sambil menampilkan wajah terkejut.


Mbak Bida lekas berdiri dan tersenyum manis pada Mario. Mario pun mengangguk dan membalas senyuman Mbak Bida.


Anjani memperhatikan sikap Mario dan Mbak Bida. Akan tetapi, hati Anjani tak lagi diliputi rasa cemburu seperti sebelumnya. Fakta yang telah diketahui tentang Mario dan Mbak Bida membuat Anjani telah bisa bersikap biasa saja.


"Kak Mario, silakan masuk!" Meli sebagai tuan rumah mempersilakan Mario untuk masuk.


"Terima kasih, Meli." Mario begitu ramah dan segera masuk.


Mario memilih tempat duduk persis di sebelah Anjani. Namun, tetap ada jarak beberapa jengkal di antara keduanya. Begitu mengambil posisi duduk, Mario sempat tersenyum pada Anjani dan melihat ke arah bros yang sedang dipakai Anjani.


Alhamdulillaah. Kamu masih memakai bros pemberianku, batin Mario.


Anjani membalas senyum Mario dan lekas menundukkan pandangan. Ada rasa malu tanpa sebab yang menguasai dirinya. Dadanya pun terasa berbeda, dan ada debar-debar yang indah.


Meli dan Mbak Bida seketika saling lirik. Keduanya kompak tersenyum, disusul saling angguk melihat sikap Mario-Anjani.


"Sudah kuduga. Kalian berdua terlihat serasi," tutur Mbak Bida dengan senyum menghiasi wajahnya.


Anjani seketika mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Mbak Bida tentang keserasian. Anjani malu karena ada Mario di sebelahnya. Penasaran dengan reaksi Mario, Anjani pun menoleh ke arah Mario. Terlihatlah Mario sedang terkekeh pelan di sampingnya.


"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Anjani pada Mario. Anjani merasa Mario sedang menertawakan dirinya.


"Siapa yang tertawa?" jawab Mario santai sambil tetap tersenyum.


"Lah barusan itu apa kalau bukan tertawa?" Anjani terus mendesak.


Mario tersenyum manis sambil menatap Anjani. Tatapan mata yang tak lagi pernah dilakukan semenjak gagalnya rencana pernikahan. Cukup lama Mario menatap Anjani, dan anehnya Anjani pun tak mampu menolak tatapan itu.


"Ehem!" seru Meli dengan nada dibuat-buat. Sementara di sampingnya, Mbak Bida sudah terkekeh pelan melihat sikap Mario-Anjani di depannya.


"Astaghfirullah," ucap Anjani seketika menundukkan pandangan.


Duh, malu! batin Anjani berseru.


Anjani sampai salah tingkah karena tatapan Mario barusan. Karena bergerak-gerak tanpa arah tujuan, kaki Anjani tanpa sadar menendang sudut meja.


Astaghfirullah, seru Anjani dalam batinnya.


"Santuy saja Anjani. Kak Mario nggak terburu-buru pulang, kok." Meli malah memanfaatkan keadaan untuk menggoda sahabatnya itu.


Anjani lekas memberi kode bibir dan kode mata kepada Meli. Namun, Meli acuh saja dan terus menggoda Anjani.


"Kak Mario, jawab dong pertanyaan Anjani tadi. Kenapa Kak Mario tadi tertawa?" tanya Meli dengan nada ceria sambil berlagak memperbaiki posisi jilbabnya.


"Tadi aku senang, karena ada juga yang bilang kami serasi setelah sekian lama." Mario tak sungkan berkata demikian.


Anjani seketika melotot, dan refleks menutupi mulutnya. Anjani tak percaya Mario berkata demikian.


Ada apa dengan hujan? Kenapa begitu banyak membawa kejutan? Anjani bertanya-tanya dalam hatinya.


Mario sekali lagi memperhatikan Anjani yang berekspresi kaget di sebelahnya. Mario tak melewatkan satu ekspresi pun yang ditunjukkan oleh Anjani. Gadis ayu yang kini berhijab itu tampak begitu mengagumkan di mata Mario. Mario sampai tak bisa mengontrol debar jantungnya sendiri.


Maaf, Anjani. Aku ingin kamu sadar bahwa aku masih memiliki perasaan padamu. Aku pun tak bisa hanya diam saja saat Juno tengah berusaha mendekatimu. Hati Mario berseru seiring tatapan matanya pada Anjani.


"Cie-cie," ucap Meli dan Mbak Bida bersamaan.


Jujur, Anjani senang bisa mendengarnya langsung dari Mario. Setelah sekian lama Anjani menerka-nerka, hari itu pun terjawab sudah. Anjani telah yakin Mario masih mencintainya.


"Semoga kalian berdua berjodoh, dan lekas menyusulku dan Nizar ke jenjang pernikahan," kata Mbak Bida.

__ADS_1


"Aamiin," ucap Mario terang-terangan.


Anjani kembali dibuat terkejut, meski hatinya teramat senang mendengar Mario meng-aamiin-i doa Mbak Bida. Diam-diam, Anjani pun juga meng-aamiin-kannya dalam hati.


"Apa?!" seru Meli tiba-tiba.


Obrolan pun teralihkan, dan semua mata kini menuju ke arah Meli. Anjani, Mario, dan Mbak Bida kompak melihat Meli.


"Ada apa, Mel?" tanya Anjani.


"P-pak Nizar dan Mbak Bida mau menikah? Huaaaa!" Meli lebay.


"Ah, kirain apa, Mel." Anjani sudah tahu arah pikiran Meli.


"Eh? Kenapa? Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Mbak Bida terlihat bingung.


"Kak, tidak ada apa-apa. Reaksi seperti Meli akan sangat wajar terjadi di kalangan teman-teman kampus nantinya. Maklum, Pak Nizar memang dosen idola." Mario menjelaskannya agar Mbak Bida tidak bingung.


"Termasuk Meli, Mbak. Meli masuk dalam kategori penggemar Pak Nizar." Giliran Anjani kini yang menggoda Meli.


Bibir Meli manyun mendengar penjelasan Mario-Anjani. Sementara Mbak Bida sudah tidak terlihat bingung lagi dan malah tersenyum melihat tingkah Meli.


"Tenang saja. Meli merestui Mbak Bida, kok. Untung Pak Nizar dapat wanita solihah," kata Meli tiba-tiba.


Mbak Bida kembali terkekeh melihat tingkah Meli yang di luar dugaannya. Tawa yang serupa juga ditunjukkan oleh Mario-Anjani atas sikap Meli.


"Oh iya, Kak Mario ada perlu apa kok ke sini?" tanya Meli yang baru saja ingat bahwa belum ada yang menanyakan keperluan Mario datang ke rumah Meli.


"Kak Bida tadi kirim pesan, mengubah tempat bertemunya di rumahmu, Mel. Kondisi cuaca juga hujan dan Kak Bida masih ada acara sama teman-temannya nanti," jelas Mario. "Lagipula, sepertinya sebelum ini ada seseorang yang cemburu melihatku dengan Kak Bida," imbuh Mario sambil melihat ke arah Anjani.


Deg!


Anjani tahu Mario sedang melihat ke arahnya. Anjani pura-pura tidak tahu, meski pada kenyataannya dia paham betul bahwa yang dimaksud Mario adalah dirinya. Anjani terus berpura-pura acuh, bahkan mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya," seru Meli.


"Tidak perlu repot-repot. Aku hanya sebentar saja. Hanya ingin menyampaikan titipan Pak Nizar pada Kak Bida. Ini, Kak. Maaf, Pak Nizar ada tugas luar hari ini." Mario memberikan paper bag kecil titipan Pak Nizar pada Mbak Bida.


"Terima kasih, Mario. Nizar sudah menghubungiku, kok." Mbak Bida terlihat senang menerima paper bag itu.


"Oh, manis banget. Berarti Mbak Bida akan tinggal di kota ini bersama Pak Nizar, dong?" celetuk Meli.


Mbak Bida mengangguk. Mbak Bida akan tinggal bersama suami tercinta setelah menikah nanti.


"Huft." Hembusan nafas Anjani kentara.


Anjani lega karena sudah tidak ada yang membahas dirinya dengan Mario. Namun, saat Anjani menoleh, rupanya Mario juga melakukannya. Alhasil, Mario-Anjani terjebak saling tatap lagi. Akan tetapi, kali ini tidak selama tadi. Anjani sudah bisa menguasai diri dan lekas membuat obrolan baru.


"Apa Vina jadi gabung mengaji?" tanya Anjani pada Mario.


"Iya, mulai sore nanti Vina akan gabung bersama kalian. Sebentar, aku kirimi nomor Vina." Mario mengeluarkan smartphone dan mengirim nomor Vina pada Anjani.


"Baik, aku save." Anjani menyimpan nomor Vina dengan mengucap basmallah.


Beberapa obrolan singkat sempat terjalin setelahnya. Lebih banyak hanya seputar obrolan basa-basi. Selama obrolan itu terjadi, Anjani bisa merasakan Mario berulang kali memperhatikan dirinya. Hingga tibalah saat Mario harus pamit pulang.


"Aku pamit dulu," kata Mario, dan anehnya Mario mengatakan itu pada Anjani. Padahal, ada Meli dan Mbak Bida juga di sana.


"Iya, hati-hati di jalan." Anjani tetap bersikap wajar.


"Assalamu'alaikum," salam Mario, dan kini ditujukan untuk Anjani, Meli, dan Mbak Bida.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani, Meli, dan Mbak Bida bersamaan.


Tiga muslimah yang berdiri di teras melihat kepergian Mario, hingga tak terlihat lagi. Barulah, setelah itu Meli dan Mbak Bida kompak berkata 'cie' pada Anjani.

__ADS_1


"Cie ...." Meli dan Mbak Bida begitu kompak.


"Subhanallah," kata Anjani, lalu mendahului langkah menuju ruang tamu rumah Meli.


Lima menit kemudian, Mbak Bida pun pamit ke tempat pertemuannya dengan teman-teman semasa kuliah. Acaranya memang masih lama, tapi Mbak Bida mau mampir membeli sesuatu.


"Anjani, Meli, terima kasih atas kebaikan kalian hari ini. Sampai ketemu lagi, ya. Setelah menikah, kita akan bisa lebih sering bertemu." Mbak Bida berkata begitu ramah.


"Siap!" seru Meli dengan ceria.


"Sama-sama, Mbak." Anjani menyalami Mbak Bida, diikuti oleh Meli.


Mbak Bida menuju motornya. Lambaian tangan juga dilakukan sebelum motor dilajukan. Anjani dan Meli membalas lambaian tangan itu diiringi dengan senyuman.


"Em, awan mendung masih saja menggantung di langit sana," kata Meli sambil menengok langit.


"Mungkin hujan masih mau membasahi bumi lagi," sahut Anjani menanggapi.


"Semoga besok pagi cuaca kembali cerah," doa Meli.


"Aamiin. Tumben berharap cerah? Biasanya oke-oke aja mau hujan ataupun cerah." Anjani sedikit heran.


"Aku nanti sore ijin nggak bisa gabung ngaji, ya. InsyaAllah aku ulang hafalannya di rumah, dan aku hafalkan surat Al Bayyinah. Hehe, aku masih suka kebolak-balik. Belum hafal betul." Meli menjelaskan pada Anjani.


"Oke. Eh, tapi tumben?" Anjani masih kepo.


"Aku mau siap-siap. Beberapa hari ke depan juga izin nggak masuk kuliah. Tenang, nggak bakal kuminta buat TA (titip absen), kok. Aku ambil jatah izin aja," jelas Meli lagi.


"Iya, tapi ada apa? Kamu mau kemana?" tanya Anjani merasa belum puas dengan penjelasan Meli.


"Aku besok mau ke Jogja," jawab Meli.


"Hah? Jogja? Jauh banget? Bukan untuk liburan, kan?" Anjani memberondong Meli dengan tanya.


"Hehe, ya nggak, dong. Nanti kalau liburan aku ajak-ajak kamu, Berlian, sama yang lainnya. Aku ada perlu, dan bakal kuceritain begitu sampai di kota ini lagi." Meli kembali menjelaskan, tapi dengan nada kurang bersemangat.


"Oke, deh. Hati-hati ya di jalan. Jember-Jogja jauh, loh." Anjani berkata sambil mencubit gemas pipi sahabatnya itu.


"Iya, nggak perlu cubit-cubit gini, dong." Meli protes karena pipinya dicubit. Akan tetapi, itu bukan protes kesal, melainkan protes candaan.


"Eh, tapi kok kamu kurang bersemangat gini, sih. Aku tahu aku tahu, pasti galau karena nggak bisa ketemu Dika. Iya, kan?" Anjani kembali menggoda Meli.


Meli seketika tertawa lepas. Dugaan Anjani tepat sekali hingga membuatnya tak mampu mengelaknya, dan berujung tawa pada akhirnya.


"Tau aja sih kamu, nih!" Giliran Meli yang mencubit gemas pipi Anjani.


"Aw-aw!" Anjani mengaduh, tapi tidak protes.


"Kamu harus bersyukur karena perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan. Nggak kayak aku ke Dika. Dika cuek banget orangnya," curhat Meli.


"Sst, Mel. Jodoh itu nggak ada yang tahu. Siapa tahu saat di Jogja malah kamu ketemu sama jodohmu," kata Anjani.


"Ih, aku maunya jodohku Dika." Meli kembali lebay.


"Bucin, deh. Sudah, ah. Aku pamit pulang juga. Ingat, kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kabari aku. Oke?" Anjani membentuk tanda OK dengan jari tangannya.


"Oke," jawab Meli kembali riang gembira.


Anjani pulang. Meli mengantarnya hingga di teras depan. Banyak hal mengejutkan dan berita menggembirakan di kala hujan. Meski awan masih menggantung di langit sana, hati Anjani tetap begitu cerah. Bukan hanya karena pertemuan dan obrolannya dengan Meli dan Mbak Bida, tapi juga karena ada Mario yang tadi berulang kali mencuri pandang dan memberikan kode cinta padanya.


Bersambung ....


Apa yang dilakukan Meli hingga pergi ke Jogja? Lalu, sore nanti, bagaimana pertemuan Anjani dengan Vina di kelompok mengajinya? Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Jangan lupa dukungannya agar author semakin semangat untuk berkarya. See You 😉


***

__ADS_1


__ADS_2