
Emm ... Happy Reading aja deh buat akak akak semua. Akibat lanjutin cerita usai Mario-Anjani nikah nih. WARNING : MOHON BIJAK membaca part ini. Skip aja kalau ragu, dan Like bila mau 😉
__________________________________
Isyarat yang diberikan Meli cukup membuat Ken dan Dika mengurungkan niat mereka untuk bertanya lebih. Ken dan Dika kompak balik badan dan melanjutkan pekerjaan.
Melangkah menuju kulkas, Meli mengambil sebotol air mineral dingin lainnya. Bukan untuk Anjani, tapi untuk diminumnya. Sejujurnya Meli juga syok melihat foto memalukan yang menampilkan sosok Mario dan Vina.
Kembali mendekati Anjani, Meli duduk persis di samping kiri. Dia membiarkan Anjani menumpahkan rasa sesaknya. Menangis semaunya dengan bantal sofa menutupi wajahnya. Usai terlihat tanda-tanda Anjani tenang, Meli pun menyodorkan sebotol air mineral lainnya.
"Habis nangis pasti haus. Minum dulu," tutur lembut Meli sambil memindahkan bantal sofa dari wajah Anjani.
"Makasih, Mel." Lirih sekali Anjani berkata.
"Kadang yang tampak mata belum tentu kebenarannya. Aku ini saksi perjalanan cintamu sama Kak Mario. Anjani, mustahil rasanya bila Kak Mario selingkuh." Meli mulai menenangkan.
Anjani menghela nafas dalam. Satu senyuman ringan segera dihiaskan.
"Aku percaya pada suamiku. Aku tadi hanya syok, Mel. Karena wanita di foto itu Vina. Siapa yang tega melakukan ini, ya?" Kembali Anjani menghela nafas dalam. Istighfar berulang kali dituturkan.
"Tapi, Mel. Kalau kamu, Kak Ken, dan Dika juga mendapat foto yang sama. Apakah mungkin foto itu juga menyebar ke teman-teman lainnya?" tanya Anjani.
Belum sempat Meli menjawabnya, beberapa pesan masuk di smartphone Anjani. Kembali Anjani beristighfar membaca satu per satu pesan yang masuk. Bahkan, satu selesai dibaca, berdatangan pesan yang lainnya. Hampir semuanya sama. Ada yang mengirim ulang foto mesra Mario dan Vina. Ada pula yang malah memojokkan Anjani akibat caption di bawah foto.
Karena penasaran, Meli pun mengambil alih ponsel Anjani. Meli sama terkejutnya saat membaca hujatan teman-teman yang belum tahu pasti kebenaran foto yang mereka terima.
Gimana sih loe! Nggak bisa jagain suami. Selingkuh kan dia! Mending dulu gue nembak Kak Mario aja biar nikah sama gue! Bunyi salah satu pesan.
"Yee, bilang aja iri karena Kak Mario nikah sama Anjani," celetuk Meli usai membaca pesan, dan langsung membaca yang lainnya.
Service loe kurang sama suami loe. Sini gue ajarin! Bunyi pesan lainnya.
"Huh! Bikin geregetan!" Kembali Meli terpancing.
Melihat Meli yang semakin lama semakin geram, Anjani menarik kembali smartphonenya.
"Jangan diladenin. Aku percaya pada suamiku, Mel. Bantu doa, ya. Semoga semua isu miring ini segera mereda," pinta Anjani.
"Doa terbaik untukmu dan Kak Mario. Andai Mas Azka ada di sini, pasti dia juga akan mendoakanmu. Sabar ya!" Satu pelukan dilayangkan pada sahabatnya itu.
***
Penat. Panik. Dua kata itu menggambarkan kondisi Mario saat ini. Baru saja dia ditelepon Ken, lantas dikirimi foto kemesraan dirinya dengan Vina.
"Licik!" umpat Mario.
Mobil Mario dilajukan menuju ruko. Hati dan pikirannya campur aduk. Yang saat ini ada di pikirannya adalah Anjani, Anjani, dan Anjani.
Sesampainya di ruko, Mario disambut Ken.
"Anjani baru saja pamit pulang," jelas Ken.
Mario berdecak. Tampak jelas dia kepikiran Anjani.
"Dari mana kau dapat kiriman foto itu?" tanya Mario.
"Nomor asing. Dika dan Meli juga dapat foto itu dari nomor tak dikenal." Ken menunjukkan nomor pengirim setelah Mario memintanya.
Menit berikutnya, Mario tampak menghubungi seseorang. Seorang profesional yang bekerja untuk John. Mario meminta bantuan untuk melacak dan mengetahui info detil si pengirim.
"Bro, Tenang. Sabar!" nasihat Ken.
"Aku kepikiran Anjani." Mario berterus terang. "Apa kau tau bagimana tadi reaksi Anjani setelah melihat foto itu?" tanyanya.
"Menangis, tapi ada Meli yang menenangkan. Banyak yang menghujat Anjani, Bro. Sepertinya banyak yang iri dia menikah denganmu," duga Ken.
"Tolong bilang Rangga untuk meng-handle ruko beberapa hari ke depan. Jika ada yang bertanya padamu tentang foto itu, abaikan saja. Aku akan mencari dalangnya," tegas Mario.
Sorot mata Mario jelas menunjukkan keseriusan. Ken yang notabene sudah lama menjadi sahabat Mario pun sampai bergidik.
***
Berlarian, Mario memasuki rumah. Lekas dia menuju kamar, tapi tak menemukan Anjani di sana. Beralih ke mushola, tak juga dijumpa sosok Anjani di sana. Terus berlarian, Mario menuju sapur, balkon, dan terakhir taman belakang. Sama sekali tak ada Anjani di sana.
__ADS_1
"Mario, ada apa?" Mommy yang baru tiba pun bertanya.
"Mommy lihat Anjani?" tanya Mario tergesa.
"Tadi Anjani sempat pulang. Setelah itu pamit pergi sebentar katanya. Ada apa sih?" Mommy Monika kepo.
Mario menggeleng. Sama sekali tak ada niat untuk menceritakan masalah yang sedang dia hadapi.
"Anjani pergi sendirian atau sama Meli?" tanya Mario lagi.
"Sama Meli, kok. Ada apa, sih? Kalau nggak ada yang gawat, Mommy mau keluar lagi, nih. Mau persiapan sama ayahmu ke rumah Rangga. Mengakrabkan diri dulu sama calon besan," terang Mommy.
"Iya, Mom. Em, Rangga kuhubungi dulu untuk pulang kerja lebih awal. Rangga belum tahu niat baik keluarga kita untuk menikahkan dia dengan Alenna." Mario mencoba tenang. Dia sama sekali tidak mau merusak acara lainnya. Dia yakin bisa mengatasi ini semua.
"Oke, deh. Mommy siap-siap dulu. Mungkin pulangnya agak malam, karena masih ada perlu lainnya sama ayahmu. Salam ke Anjani, ya. Nanti nggak perlu nungguin Mommy di depan TV."
"Iya, Mom."
Mario mencoba menghubungi Anjani. Tidak diangkat. Mencoba menghubungi lagi. Tetap tidak diangkat. Alternatif kedua, Mario menghubungi Meli. Cukup lama dering panggilan itu hingga akhirnya diterima juga oleh Meli.
"Assalamu'alaikum, Kak." Nada Meli setengah berbisik. Meli khawatir Anjani mendengar obrolannya.
"Wa'alaikumsalam. Mel, maaf. Anjani bersamamu?" tanya Mario.
Beberapa detik tak ada jawaban. Mario masih bersabar.
"Iya, Kak. Ini Anjani lagi baca Quran dari tadi. Anjani ada di rumahku," terang Meli.
"Apa dia baik?" Nada Mario sedikit bergetar.
"Insya Allah. Anjani percaya kalau Kak Mario nggak selingkuh. Tapi saat ini Anjani butuh waktu untuk menangkan dirinya. Em, gini-gini. Nanti malam Kak Mario kirim sopir aja ke rumah Meli. Setelah ini Meli bakal bujuk Anjani untuk pulang." Meli menyarankan.
"Baik-baik. Mel, terima kasih banyak sudah membantu kami. Maaf merepotkanmu," ucap Mario.
"Sama sekali tidak merepotkan, kok. Aku tutup dulu, ya Kak. Anjani manggil Meli, nih."
Telepon dimatikan usai salam. Hati Mario sedikit lega karena Anjani bersama sahabat baiknya.
Sorot lampu mobil mulai terlihat. Mario bergegas menuju mobil yang membawa Anjani. Begitu Anjani turun dan menutup pintu mobil, Mario lekas menyambarnya dengan pelukan erat.
"Sayang," lirih Mario tanpa melepaskan pelukannya.
Anjani tersenyum, lalu membalas pelukan suaminya.
"Ayo masuk dulu!" ajak Anjani.
Mario menggenggam tangan Anjani begitu erat, seolah tak ingin kehilangan. Anjani pun menyambutnya. Membiarkan sang suami menggenggam tangannya sampai di kamar mereka.
"Sayang, apa kamu marah?" tanya Mario.
Anjani tersenyum. Bisa dirasakan olehnya bahwa sang suami mengkhawatirkan dirinya.
Kedua tangan Anjani dilingkarkan di leher Mario. Ditatapnya bola mata sang suami.
"Aku percaya padamu, tapi aku tetap butuh penjelasanmu atas foto mesra itu." Anjani bertutur lembut, membuat hati Mario tersentuh.
Mendadak saja Mario hendak menepis jaraknya dengan Anjani, tapi lekas dicegah oleh istrinya itu.
"Cerita dulu," isyarat Anjani, disusul anggukan Mario.
[Flashback ON]
Usai berbincang dengan Ken di gazebo, Mario menuju parkiran. Begitu mobil hendak dilajukan, Vina datang.
"Mario! Berhenti!" seru Vina.
Setengah hati, Mario mematikan mesin dan membuka jendela mobil.
"Ada apa, Vin?"
"Mario, gue balik lagi sama lu, ya. Tunangan gue yang bule itu selingkuh. Sekarang gue sadar, perasaan gue kembali ke lu lagi. Beri gue kesempatan, ya?" bujuk Vina.
Mario menggeleng tegas.
__ADS_1
"Aku sudah menikah dengan Anjani, Vin. Dari dulu sampai sekarang hanya Anjani yang kucintai," tegas Mario.
"Tapi gue punya cinta yang lebih besar dari cinta Anjani. Buat lu!" seru Vina.
"Maaf, Vin. Aku pergi dulu," pamit Mario lantas melajukan mobilnya.
"Mario!" Vina teriak-teriak, tapi percuma saja.
Vina membuntuti mobil Mario hingga sampai di parkiran anak perusahaan. Begitu Mario membuka pintu mobil satunya hendak menurunkan barang, tiba-tiba Vina lancang masuk mobilnya.
"Apa lagi yang mau kau bahas, Vin? Sudah jelas aku tidak akan memilihmu," tegas Mario.
"Jangan menolakku, Mario." Vina ngeyel.
Tiba-tiba saja Vina memeluk Mario dengan erat. Mario sempat terdiam sejenak karena kaget. Begitu sadar, Mario melepaskan pelukan Vina.
"Kumohon jangan seperti ini, Vin. Aku ini lelaki beristri," terang Mario tanpa memedulikan Vina lagi.
Mario turun dari mobilnya. Vina pun mengikuti Mario. Langkah Mario beralih ke pintu mobil satunya, hendak mengambil barang. Namun langkahnya dihadang Vina.
"Vin, sebaiknya kau pulang!" usir Mario.
Detik berikutnya, Vina justru bertindak berani. Jarak bibir mereka terputus. Mario yang terkejut pun lekas mendorong Vina.
"Sebaiknya kau tidak melakukan hal itu lagi, atau kau akan menyusul Leon. Kau adalah otak penyebaran berita perselingkuhan ayahku waktu itu. Menjauhlah dariku, jika masih ingin bergerak bebas tanpa lapas!" ancam Mario.
"Maaf," lirih Vina.
[Flashback OFF]
"Kemungkinan ada yang memotret kami diam-diam. Entah itu suruhan Vina, atau memang ada yang sengaja menjebakku." Mario membuat dugaan di akhir ceritanya.
Anjani tidak memedulikan penjelasan Mario yang terakhir. Dia menyorot bagian Vina memutus jaraknya dengan Mario.
"Vina berani nyium kamu?" Anjani menatap Mario lekat.
"Iya. Tapi aku langsung mendorongnya. Percayalah padaku, Sayang!"
"Di bibir?" tanya Anjani, serius.
Begitu anggukan didapatkan, Anjani segera menangkup pipi Mario dan langsung menyerbunya dengan ciuman yang begitu dalam.
"Ada lagi yang Vina sentuh darimu?" tanya Anjani usai melepas.
Mario menggeleng. Dia tersenyum jahil karena menyadari sang istri tengah cemburu.
"Aku senang melihatmu cemburu seperti ini," bisik Mario di telinga Anjani.
Deg!
Mendadak saja Anjani berdebar-debar. Jika nada dan hembusan nafas Mario sudah seperti itu, artinya sang suami menginginkan lebih darinya.
"Boleh, ya?" bisik Mario lagi.
Anggukan malu-malu dari Anjani cukup membuat Mario lebih berani. Jarak lekas terkikis. Mario-Anjani kembali larut dalam penyatuan mereka. Deru nafas semakin lama semakin memburu. Sapuan tangan Mario di bawah leher Anjani pun selalu menjadi candu.
Bunyi-bunyian samar-samar terdengar saat Mommy Monika hendak memanggil Anjani untuk makan martabak dan nonton TV. Namun, niat Mommy diurungkan karena mendengar suara tadi.
"Its so crazy," ucap Mommy Monika sambil menutup matanya.
Ceklek!
Pintu ditutup pelan oleh Mommy Monika. Sama sekali Mommy Monika tidak melihat Mario-Anjani di dalam sana karena pintu kamar hanya sedikit terbuka. Meski tak melihat, Mommy Monika tahu apa yang sedang dilakukan anak dan menantunya itu.
"Besok pagi aku ceramahin mereka. Masa ***-*** tanpa mengunci pintu kamar. Its so crazy, but ... dengan begini bisa cepet gendong cucu sih. Hihi. Eh. No-no! Tetap saja mereka ceroboh. Besok pagi, awas ya kalian!" Mommy Monika gemas.
Bersambung ....
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapa sebenarnya dalangnya? Benarkah Vina? Tunggu lanjutan ceritanya. Intip juga panasnya kisah Alenna di novel baru author, IKATAN CINTA ALENNA.
Hayuuuk. Penggemar suaminya Meli, Azka di Medan lagi ngapain tuh. Kepoin yuk di novel kece Kak Cahyanti. SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dijamin seru abis ceritanya. Dukung karya kami ya 😉
__ADS_1