
Dua karyawati tampak sibuk melayani pembeli. Obrolan Anjani dan Daniel di teras ruko sama sekali tidak mereka sadari. Posisi Dika ada di bagian packing orderan, sedangkan Ken ada di lantai dua ruko.
Kebetulan sekali Ken yang hendak kembali menemui Dika, tidak sengaja melihat Daniel di teras depan. Ken yang sedikit tahu tentang pimpinan anak perusahaan itu pun lekas menghampiri. Belum sempat sampai, Daniel sudah berbalik arah hendak menuju mobil.
“Anjani!” panggil Ken.
Anjani menoleh, lantas memberi isyarat pada Ken bahwa dia ada urusan sebentar dengan Daniel. Ken yang tidak tahu apa-apa itu pun lekas mengangguk dan tidak bertanya lebih. Hingga kemudian Anjani masuk di mobil yang sama dengan Daniel, Ken kembali bekerja bersama Dika dan dua karyawati lainnya.
Dua box sepatu permintaan Dika sudah didapatkan. Ken lekas membawanya agar segera dieksekusi oleh Dika.
“Size 38 dan 40, kan?” Ken memastikan lagi.
“Sip. Makasih, Kak. Eh, tadi Berlian telepon tuh!” seru Dika.
“Uwwo. Calon istriku telepon?” Wajah Ken berubah cerah.
“Loh. Memangnya Kak Ken jadi nikahin Berlian? Kapan?” Dika kepo.
“Ya jadilah. Orang udah sama-sama suka. Insya Allah begitu lulus kuliah,” terang Ken.
“Nggak kerja dulu?” Dika ingin tahu.
“Mario sudah meminangku untuk bekerja di perusahaannya. Ini yang dinamakan berkah sebelum lulus kuliah. Masa depan sudah di genggaman, Bro.” Antusias Ken menguar, memotivasi Dika.
“Wah, enak banget ya punya link orang sukses,” celetuk Dika.
Ken membetulkan letak kacamatanya, lantas tersenyum pada Dika.
“Tenang, Bro. Mario bahkan sudah melirikmu! Tunggu saja tanggal mainnya,” jelas Ken.
Dika adalah mahasiswa jenius. Tentu saja dia bisa dengan mudah mengartikan kata-kata Ken. Dika bersyukur jika demikian. Namun, Dika berharap bisa mengembangkan sendiri bisnis cokelatnya di masa depan. Juga, mencari sosok pendamping yang kebaikan, kelembutan, dan kehebohannya sebanding dengan Meli.
Dika, sepertinya kamu benar-benar sudah bisa mengikhlashkan Meli untuk Mas Azka. Good Job! Batin Dika, memuji dirinya sendiri.
Beberapa jam berlalu. Ibadah dhuhur juga sudah ditunaikan beberapa menit lalu. Tetiba saja alis Dika bertaut sembari menatap serius layar smartphone miliknya.
"Kenapa, Dik?" tanya Ken yang baru saja kembali dari membantu dua karyawati di depan.
"Sepertinya ada eror sistim. Ini isian deskripsi malah masuk di gambar lain. Duh! sejak kapan ini ya?" Dika sedikit panik.
"Tunggu. Orderan yang sudah sampai di pelanggan sampai kemarin malam clear, sama sekali tidak ada complain. Berarti aman. Kemungkinan baru-baru saja terjadi, Dik." Ken mencoba meneliti.
Mencoba tenang, Dika tampak berpikir. Dia menimbang apa yang sebaiknya dilakukan. Walau bagaimanapun ruko tidak boleh merugi banyak karena system eror ataupun human eror.
"Gimana kalau begini. Orderan yang masuk sampai menit ini ada lima. Akan kucoba chat satu per satu akun pemesan, memastikan pesanan mereka. Atas ketidaknyamanan ini, kita beri gift yang pernah disiapkan Anjani untuk pelanggan setia. Kalau tidak salah ada banyak di lantai dua. Menghindari retur jika salah produk pesanan, serta menghindari ongkos kirim ganda jika memang orderan salah pada sistim kita." Dika berpendapat.
Ken seketika mengacungkan jempolnya di depan Dika.
"Kau pasti jadi jenius seperti ini karena sering bergaul denganku, ya?" Ken kepedean.
"Ngawur!" sahut Dika yang disusul dengan tawa.
"Oke, aku cek sistimnya hingga kembali normal. Tidak butuh waktu lama. Aku jago di bidang ini. Oya, kamu hubungi Anjani. Bos cantik kita ini harus tau," saran Ken.
Ken menuju ke lantai dua untuk berkutat dengan perangkat komputer dan smartphone. Sementara Dika menghubungi Anjani.
__ADS_1
"Kok tumben Anjani nggak bisa dihubungi." Dika merasa ada yang aneh setelah mencoba tiga kali telepon, tapi tidak juga diterima.
Fokus Dika beralih lebih dulu pada pelanggan. Satu per satu akun pelanggan di chat untuk memastikan pesanan. Alhamdulillaah, semua merespon dengan baik dan lekas mengklarifikasi pesanan yang diinginkan. Tebakan Dika benar. Ada pesanan yang tidak sesuai, tapi kini sudah teratasi.
"Alhamdulillaah. Beres. Sekarang coba hubungi Anjani lagi."
Kembali Dika mencoba menghubungi Anjani, tapi tetap saja tidak diangkat sama sekali.
"Nggak biasa banget sih Anjani kayak gini. Tuh anak nggak mungkin juga kehabisan daya baterai, karena selalu sedia power bank." Kembali Dika merasa ada yang aneh.
Ken kembali dari lantai dua dengan wajah ceria. Keahlian seputar IT yang dimilikinya bermanfaat juga. Dalam sekejab Ken bisa mengatasi masalah yang ada.
"Sistim beres, Bro. Gimana pelanggan?" tanya Ken.
"Beres juga, Kak. Tapi Anjani nih yang nggak beres. Dari tadi nomornya nggak bisa dihubungi," lapor Dika.
"Masa, sih? Tumben. Coba aku telepon suaminya. Kalau benar bersama Mario, berarti alasan Anjani mematikan ponselnya karena suami mesumnya itu," ujar Ken dengan santainya.
Beralih, jemari Ken lincah mencari kontak Mario. Begitu ketemu, dial pemanggil dipilih, segeralah terdengar suara khas Mario di seberang sana.
"Bro, Anjani di situ nggak?" tanya Ken tanpa basa-basi?
"Hm? Bukannya istriku sedang di ruko?"
"Nggak ada. Kukira pergi ke perusahaan," tebak Ken.
"Bagaimana kau bisa mengira Anjani ke perusahaan, Ken?" Mario mulai curiga.
"Ya, tadi itu ada Pak Daniel ke ruko. Mereka ngobrol bentar, habis itu Anjani ikut mobilnya. Ya kukira nyusul ke perusahaan," terang Ken.
"Bro! Hei? Halo?" Ken memanggil-manggil Mario.
"Ken, sekitar pukul berapa Anjani masuk mobil Daniel?" Nada bicara Mario terdengar berbeda. Ada kepanikan di dalamnya.
"Sekitaran tiga jam lalu," perkiraan Ken.
"Baik. Ambil alih kendali ruko seharian ini. Aku punya firasat Daniel punya niatan buruk pada Anjani." Nada bicara Mario terdengar serius.
"Ha? Seriusan nih? Oke-oke. Kau percayakan padaku. Semoga Anjani baik-baik saja."
Ken mengakhiri panggilannya. Segera dia
membagi info itu pada Dika.
***
Mario menggebrak meja dengan asal. Emosinya tak terbendung begitu mendengar fakta bahwa tim yang ditugaskan Paman Li untuk mengintai Daniel, kelima-limanya terluka akibat terpojok situasi yang sama sekali tidak mereka duga. Pimpinan tim berhasil kabur dan saat ini sedang memberi kesaksian di depan Mario, Amanda, dan si profesional kepercayaan John.
"Tuan Mario, tolong tenangkan diri dulu," saran si profesional.
Mario lekas beristighfar. Benaknya sudah dipenuhi wajah Anjani, sang istri tercinta.
"Sepertinya Daniel bekerja untuk orang lain. Dia tidak bergerak atas kehendaknya sendiri. Kemunculan orang-orang brutal yang menghadang tim kita itu pun juga dari pihak Bos Daniel," terang pimpinan tim yang berhasil kabur.
"Sepertinya masalah ini lebih pelik. Tidak sebatas penggelapan dana perusahaan, tapi sudah ke ranah kriminal," pendapat Amanda.
__ADS_1
Mario masih terus beristighfar. Dia berusaha menjadikan dirinya tenang. Begitu tenang, Mario mencoba memutar ulang memori.
"Daniel ada yang menggerakkan? Siapa? Vina sudah menjauh ke luar negeri. Leon juga sudah hilang akal. Tidak mungkin sanggup merencanakan kejahatan lagi. Lalu siapa dalangnya? Apa aku masih punya musuh? Atau justru ini ulah pesaing bisnis ayahku? Apa mungkin Vero, yang berinvestasi besar hanya untuk menggaet hati Alenna?" Pikir Mario bertanya-tanya.
"Maaf, salah satu tim sempat menempelkan alat pelacak di mobil Daniel. Tapi kendali akses ada padanya dan seorang lagi dari tim kami. Sekarang, keduanya masih terluka parah dan belum sadarkan diri," terang pimpinan tim yang berhasil kabur.
"Rusak saja sistim keamanannya. Paman bisa lakukan untukku?" tanya Mario pada si profesional.
"Akan saya coba, Tuan. Amanda, pegang kendali perusahaan untuk sementara. Katakan saja aku yang memberi perintah atas titah Tuan Mario. Kamu, ikut aku!"
Amanda mengangguk, lantas menuju ruang kerja Daniel. Sementara pimpinan tim yang berhasil selamat diminta membantu si profesional untuk membobol sistim keamanan alat pelacak.
Mario mengusap pelan wajahnya. Air mukanya tak secerah biasanya. Hati dan pikirannya gelisah. Istrinya dalam bahaya, dan Mario harus segera menyelamatkannya.
"Anjani, Sayang. Maafkan aku. Mengetahui resiko dunia bisnis dengan pesaing yang sikut menyikut, harusnya aku sadar kondisi dan ekstra menjagamu. Aku lalai. Setelah ini, aku berjanji akan lebih menjagamu, membuatmu selalu nyaman di sisiku." Ikrar Mario, terpatri dalam hati.
***
Beberapa jam lalu Anjani masih duduk santai di sebuah cafe bersama Daniel. Banyak hal yang mereka bahas khususnya tentang tren baru dunia sepatu. Tak lama berselang, situasi yang tidak pernah Anjani duga pun datang. Suasana renyah seketika berganti menakutkan.
Dua pergelangan tangan Anjani diikat jadi satu. Kedua matanya ditutup rapat dengan sehelai kain lusuh. Mulut Anjani bebas, tanpa sumpalan. Membuatnya begitu lancar melontarkan kata-kata makian.
"Dasar licik! Beraninya main culik!" seru Anjani, dan sudah banyak sekali memaki-maki Daniel.
"Hahaha. Jangan banyak mengeluh, Sayang. Teruslah berjalan!" bisik Daniel di telinga Anjani.
Anjani bergidik ngeri merasakan hembusan nafas Daniel yang menerpa wajahnya.
"Mario, maafkan aku. Dengan mudahnya aku abai dengan nasihatmu. Aku tak menyangka Daniel bisa mempunyai rencana selicik ini. Kukira dia hanya bermain dengan dana perusahaan. Nyatanya sekarang dia bahkan menjadi seorang kriminal. Batin Anjani.
Sesak dada Anjani. Ingin menangis, tapi tak boleh dia lakukan. Menunjukkan sisi rapuhnya hanya akan membuat Daniel merasa menang.
"Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, Mario. Aku sadar betul menikah dengan siapa, bagaimana kehidupannya. Perasaanku tulus padamu. Aku mencintaimu. Cinta yang kurasakan, sama sekali tanpa alasan. Sungguh, aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Sayangku, temukan aku. Tolong aku." Batin Anjani menyeru. Begitu sesak rasanya.
Lengan Anjani terus digenggam erat oleh Daniel. Anjani tidak bisa melihat sekitar karena akses pandang terhalang kain lusuh yang dieratkan menutup kedua matanya. Hanya bisa dirasakan olehnya gerak lift yang membawanya naik. Hingga lift terbuka, dia digiring menuju sebuah ruangan.
Panik. Kali ini Anjani panik begitu merasakan benda empuk dengan wangi ruangan dan AC dingin yang tak seberapa menusuk tulang.
"Ranjang? Hah? Lepaskan aku!" Anjani meronta.
"Eits. Tenanglah. Aku tidak berniat melukaimu, Sayang. Aku hanya penasaran denganmu. Kenapa bisa Mario tertarik dengan penampilanmu yang tertutup ini. Padahal di luaran sana banyak si cantik berpakaian terbuka. Bodohnya Mario!" ejek Daniel.
"Beraninya kau menghina suamiku. Dasar gila!" Kembali Anjani memaki. Dia terus meronta.
"Cukup, Anjani. Biarkan aku membuatmu nyaman beberapa menit ke depan. Hahahaha!"
"Tidak! Menyingkirlah! Mario, tolong aku!" teriak Anjani dengan kencangnya.
"Hahahaha."
Bersambung ....
Penasaran dengan lanjutannya? LIKE-nya buat author dong. Terima kasih sudah mampir dan membaca. Intip juga Meli dan Azka di Jogja sana. Eit, siapa yang lagi lamaran di Jogja, ya? Cari tahu yuk di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung selalu karya kami, like, dan tinggalkan jejak komentar. 😘
__ADS_1