
Mbeeek .... Mbeeek ....
Dua delman berjalan depan belakang. Sungguh kendaraan yang ramah lingkungan, karena tidak ada asap yang ditimbulkan. Kaki kuda mantap melangkah, menimbulkan derap langkah khas kuda. Gelang lonceng pun bergemerincing merdu, mengikuti panduan sang kusir yang ramah.
Mbeeek .... Mbeeek .... Mbeeek ....
Delman yang berjalan paling depan ditempati Anjani, Meli, dan Dika. Anjani mengusulkan untuk menggunakan dua delman agar lebih leluasa duduk dan bisa lebih santai menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanan. Jadilah, delman yang berjalan di belakang delman pertama ditempati oleh Juno, Ken, dan Mario.
Terlihat ada yang aneh pada delman kedua. Para penumpangnya tidak seperti penumpang di delman pertama. Delman kedua memang memuat trio tampan yang sudah terkenal memiliki banyak penggemar di kampus, tapi saat itu kelakuan ketiganya sama sekali tidak mencerminkan pribadi sang idola. Mario duduk di sisi kanan sambil terus merekam pemandangan indah lewat handycam yang dia bawa. Bukan hanya pemandangan yang dia rekam, tapi juga drama kedua sahabatnya. Tidak ada niat bagi Mario untuk memberi solusi ataupun menengahi. Dia hanya asyik merekam dan menikmati tontonan.
Mbeeek ....
"Hentikan, Juno! Aku bosan mendengarmu menirukan suara kambing," tutur Ken yang sedari awal naik delman memilih duduk tepat membelakangi kusir demi tidak melihat rupa kuda.
"Yaelah, Mas. Aku udah baik, nih. Biar Mas Ken lupa sama kuda di depan." Juno protes
karena usahanya tidak dihargai.
"Oke-oke. Kalau begitu ganti dengan suara gajah!" pinta Ken pada Juno.
"Hu, maunya! Udah, deh. Capek!" Juno berhenti menirukan suara kambing.
"Lanjut," tutur Mario sambil tetap merekam aksi Juno dan Ken dengan handycam miliknya.
Ken langsung mengambil paksa handycam yang digunakan Mario untuk merekam. Ken gemas dengan kelakukan sahabat-sahabatnya. Sedikit ceramah juga sempat dituturkan oleh Ken, tapi tidak digubris oleh Mario ataupun Juno.
Melihat dua sahabatnya asyik menikmati pemandangan, Ken pun memutuskan menggunakan handycam Mario untuk merekam pemandangan sebuah ladang jagung yang sedang digarap oleh pemiliknya. Terlihat tumpukan jagung menggunung, dengan petani-petani yang ramah menyapa.
"Juno, sepertinya kamu cukup terkenal di desamu," tutur Ken. Dia sudah menjumpai beberapa orang yang menyapa Juno.
"Aku artis di sini, Mas. Ayahku kepala desanya," jelas Juno.
"Izinkan aku mengajukan kerjasama bisnis dengan ayahmu, Juno." Mario mencoba menuturkan ide yang baru saja terbersit di pikirannya.
"Liburan dulu, Mas. Liburan. Oke?" Juno mengingatkan.
"Oke," jawab Mario singkat.
Delman terus berjalan. Pemandangan lahan-lahan hijau mulai tergantikan dengan satu dua rumah penduduk. Jarak antar rumah tidak berdekatan. Setiap rumah bahkan memiliki halaman yang luas, dengan aneka tanaman. Semakin lama rumah yang ditemukan semakin banyak. Hingga kemudian sampailah di perbatasan desa. Sebuah gapura sederhana bertuliskan selamat datang mulai tampak mata. Sang kusir pun menghentikan delmannya di dekat gapura.
Anjani dan Juno hendak membayar tarif delman, tapi kedua kusir menolak. Kusir-kusir itu beralasan bahwa semua tarif sudah dibayari oleh kepala desa. Kepala desa yang tak lain adalah ayah Juno telah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan anak kesayangan yang datang bersama teman-temannya.
"Oh, ayah! Anakmu senang sekali mendengarnya. Haha!" tawa Juno pecah.
Semua penumpang sudah turun, begitu pula dengan barang bawaannya. Meski masih takut, tapi Ken juga turun dari delman. Namun, betapa terkejutnya Ken saat hendak mengikuti langkah kaki teman-temannya. Mendadak kuda dari delman yang tadi dinaikinya menyudul pelan pantat Ken.
"Huaaa ...!" teriak Ken sambil berlari menjauh, kemudian bersembunyi di balik tubuh Mario.
"Selamat, Ken. Kuda itu menyukaimu." Mario mencari-cari kata untuk menggoda Ken.
__ADS_1
"Ya-ya-ya. Terima kasih, kuda. Berikan saja rasa cintamu pada kuda yang benar-benar mencintaimu!" ujar Ken.
Sontak semua yang ada di sana tertawa, termasuk kusir-kusir delman. Ken ada-ada saja. Namun, kehadiran dan tingkahnya telah banyak mengundang tawa, bahkan saat mereka baru saja sampai di desa.
***
Anjani tampak kesulitan membawa koper miliknya. Mungkin karena jalan yang saat ini dia lewati bergeronjal dan tidak beraspal. Bahkan, roda koper miliknya sudah terkena lumpur. Lelah dengan semua itu, Anjani memutuskan untuk mengangkat kopernya. Akan tetapi, saat dia hendak melakukannya tiba-tiba saja ada tangan lain yang lebih dulu meraih kopernya. Itu tangan Mario.
Mario sigap membantu Anjani, dan itu membuat Anjani sungguh berterima kasih. Mario kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani.
Deg!
Anjani berkedip cepat. Dia kaget mendapati sikap Mario yang tiba-tiba.
"A-ada apa?" tanya Anjani sedikit terbata.
"Tidakkah kau ingin memperhatikan wajahku dari dekat seperti saat di kereta?" tanya Mario sambil mengukir senyum di wajahnya.
"I-itu ... haha!" tawa Anjani pecah. Dia kemudian mundur perlahan dan terus tertawa sampai mengundang rasa heran dari Meli.
"Kembalikan koperku!" ujar Anjani sambil merebut kembali koper miliknya.
Mario tersenyum melihat tingkah Anjani. Walau sebentar, itu sudah cukup membuat hatinya senang. Entah kenapa Mario mulai suka melihat Anjani salah tingkah.
"Kalian berdua ngapain, sih? Ayo, cepat jalannya!" Meli mengingatkan.
Jalanan terlihat mulai bercabang. Dari sanalah tujuan mereka akan terpisah. Juno yang melangkah lebih dulu, mendekat ke arah Anjani. Juno tersenyum, kemudian dibalas senyum yang sama oleh Anjani.
"Dika, Mas Ken, dan Mas Mario akan ada di rumahku. Kau bersama Meli, ya. Dari sini kita berpisah, Anjani. Kuharap kau tidak merindukanku." Juno berkata seolah sedang melafalkan dialog sebuah drama. Hal itu membuat teman-teman yang lain melirik aneh ke arah Juno.
"Ayunan pohon kersen, pukul 3 sore. Da!" ujar Anjani kemudian memalingkan wajahnya. Dia pun bergegas mengajak Meli untuk menuju ke rumah Ma.
***
Enam bulan meninggalkan desa, telah banyak yang berubah, termasuk kondisi rumahnya. Begitu Anjani sampai di rumahnya, dia sedikit terkejut karena melihat halaman rumahnya sedikit lebih luas dibanding sebelum dia kabur dari rumah.
Anjani meletakkan koper dan tas ransel miliknya lebih dulu di teras rumahnya. Dia juga menyuruh Meli untuk meletakkan tas ranselnya. Setelah itu Anjani terdiam sambil terus mengamati perubahan-perubahan di sekitar. Beberapa menit dia mengedarkan pandang, barulah dia sadar apa saja yang telah berubah.
"Ma, aku pulang!" teriak Anjani dari teras rumah.
Tepat setelah Anjani berteriak, terdengar suara kaki sedang berlari dari dalam rumahnya. Anjani sudah menduga siapa yang berlarian di dalam rumahnya. Itu adalah Ma. Dan ... itu terbukti saat Ma membukakan pintu untuk Anjani.
Ma langsung memeluk Anjani erat, tanda bahwa rindunya sudah terlalu berat. Untaian kata-kata rindu pun mengucur deras, membuat siapa saja yang mendengarnya pasti terharu juga. Seperti Meli yang saat itu ikut terisak melihat Anjani dan Ma yang tengah melepas rasa rindu mereka.
"Ma, kemana warung kita?" tanya Anjani ketika Ma melepaskan pelukannya.
"Sudah kubongkar," jawab Ma singkat, kemudian beralih memeluk Meli. "Ayo, masuk-masuk!" ajak Ma pada Meli.
"Terus, kemana ayam-ayam kita?" tanya Anjani lagi.
__ADS_1
"Sudah kujual semua," jawab Ma, kemudian mempersilakan Meli untuk duduk.
"Ma ...." Ucapan Anjani diputus oleh Meli.
"Sst, sini duduk dulu. Tanya-tanyanya nanti dulu, Anjani." Meli mengingatkan sambil menarik lengan Anjani untuk duduk di sebelahnya.
Ma pamit sebentar ke dapur. Benar-benar sebentar, karena tidak sampai satu menit Ma sudah kembali dengan membawa aneka macam camilan, minuman, dan pisang. Sepertinya Ma sudah menyiapkan semuanya sejak pagi, karena Ma memang mengetahui rencana kepulangan Anjani bersama teman-temannya.
"Ma, kalau warung sama ayam-ayamnya sudah nggak ada, terus Ma di rumah ngapain?" tanya Anjani sesaat setelah Ma ikut duduk bersamanya.
"Rebahan," jawab Ma singkat, kemudian tertawa. "Haha, itu bahasa anak kota yang kekinian, ya. Tenang saja kau, Anjani. Tak perlu risau pula kau. Ma kau ini sekarang petani jagung, sama cabe-cabean."
"Ha? Cabe-cabean? Bukan cabe beneran?" tanya Meli.
"Ah, Meli. Ya cabe beneran, dong!" jelas Anjani.
Seketika Anjani dan Meli mendengarkan cerita Ma. Rupanya Ma memilih untuk membuat ladang-ladang miliknya lebih produktif menghasilkan sesuatu yang menguntungkan. Ma menjual ayam-ayamnya untuk tambahan modal. Alhasil, Ma kini sibuk bekerjasama dengan salah satu warga desa untuk mengembangkan usahanya.
"Oh, begitu. Jadi si Roki ikut dijual, dong?" tanya Anjani menanyakan ayam kesayangannya. Dia sungguh penasaran.
"Betul kali tebakan kau, haha ...." Ma mengacungkan jempolnya.
Anjani penasaran, karena sebelum kabur ke kota dia sudah terbiasa merawat ayam-ayam di halaman rumahnya. Ayam-ayam itu bahkan mencapai belasan. Dan, salah satu di antara ayam-ayam itu ada ayam kesayangan Anjani.
"Siapa yang beli, Ma?" tanya Anjani seperti masih penasaran.
"Ayahnya Juno. Pak Kades. Waktu itu mau ditukar sama dua ekor sapi, tapi aku tolak. Siapa pula yang mau merawat. Haha!" tawa Ma pecah mengingat saat itu. Lima belas ekor ayam sempat akan ditukar dengan dua ekor sapi.
"Apa?" teriak Anjani dan Meli bersamaan.
Mereka berdua tidak percaya mengapa Ma bisa menolak pertukaran itu. Jelas-jelas ayah Juno memberi tawaran menarik dengan menawarkan dua sapinya untuk ditukar dengan lima belas ekor ayam. Andai Ma saat itu menerima sapinya, sapi-sapi itu bisa dijual, dan jelas akan menambah modal.
"Sudah-sudah. Sekarang kalian berdua santai dulu. Setelah ini kalian wajib ikut Ma pergi ke ladang!" ujar Ma.
"Boleh nawar?" tanya Anjani.
"Tidak," jawab Ma singkat.
"Sudahlah, Anjani. Berbakti kepada ibu itu perlu. Anggap saja ini bagian dari liburan. Hihi."
"Ah, baiklah."
***
Mata itu mengintip dari celah dedaunan rimbun. Mata yang terus mengawasi Anjani bahkan sejak delman menepi di gapura. Seketika sebuah senyum mengembang, menandakan sebuah hati yang merasa senang.
"Aku akan menemuimu, Bunga Busuk."
***
__ADS_1