CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Sore hari yang sedikit mendung. Terlihat beberapa awan abu-abu menggantung. Semilir angin sore itu pun terasa dingin menerpa kulit wajah. Pertanda, sang hujan akan segera tiba.


Anjani duduk di teras depan rumah. Anjani sedang menerima telepon dari seseorang. Sesekali Anjani mengusap-usap pipinya yang terasa dingin lantaran hembusan angin.


“Iya, ustaza. Dengan senang hati Anjani akan membantu, dan teman-teman akan memahaminya juga, kok. Ustaza Nuri tidak perlu khawatir,” ungkap Anjani via telepon. “Sama-sama, ustaza Nuri. Wa’alaikumsalam.” Anjani menutup telepon itu.


Baru saja Anjani menerima telepon dari ustaza Nuri. Ustaza Nuri meminta izin tidak bisa mengajar ngaji sore itu. Ustaza Nuri meminta maaf pada Anjani dan teman-temannya karena informasinya mendadak. Ustaza Nuri dan suami ada keperluan pekerjaan sore itu. Sebagai istri yang baik, ustaza Nuri menemani suaminya. Sehingga, berharap Anjani dan teman-temannya akan memahami.


Anjani mengiyakan sekaligus memahami. Apalagi kondisi cuaca sore itu sudah mendung. Hujan akan turun kapan saja. Anjani juga khawatir jika ustaza Nuri harus berangkat mengajar ngaji dalam kondisi hujan-hujanan.


Via telepon bersama ustaza Nuri, Anjani sempat meminta izin untuk mengajari seorang temannya yang saat itu baru bergabung dalam kelompok mengajinya. Ustaza Nuri pun senang karena Anjani sukarela mau mengajari temannya. Ustaza Nuri juga memberikan sedikit arahan tentang apa-apa yang lebih dulu harus diajarkan pada teman yang dimaksud Anjani itu.


“Bismillah,” ucap Anjani seraya memegang smartphone untuk segera mengirim pesan kepada teman-temannya.


Anjani menelepon secara grup, agar teman-temannya bisa sepaham dan tahu alasan agenda mengaji sore itu ditiadakan. Anjani, Berlian, dan Alenna saling bertelepon ria. Anjani menelepon sambil duduk di teras depan rumah. Berlian menerima telepon itu sambil menemani Kak Lisa masak air di dapurnya. Sementara Alenna menerima telepon itu sambil duduk di kursi nyaman ruang kerja kantornya.


"Biar sorenya lebih manfaat, kita sambung ayat, yuk!" ide Anjani, mengajak Berlian dan Alenna sambung ayat via telepon.


Kelompok mengaji yang beranggotakan Anjani, Meli, Berlian, dan Alenna memang sedang dalam ikhtiar menghafal juz 30 dengan bimbingan ustaza Nuri. Saat Anjani menawari sambung ayat via telepon, tentu saja Berlian dan Alenna antusias.


"Anjani, surat Al Bayyinah aja, ya. Hehe ... aku baru sampai itu," saran Alenna.


"Setuju. Hafalanku sama Meli juga masih nggak jauh dari itu," sahut Berlian.


"Siap. Yuk, satu, dua, tiga!" komando Anjani pada teman-temannya.


Tiga muslimah cantik yang sedang berikhtiar menghafal juz 30 itu pun sambung ayat surat Al Bayyinah via telepon. Anjani, Berlian, dan Alenna membaca ayat demi ayat secara bergiliran.


"Alhamdulillaah," ucap Anjani setelah selesai.


"Meli kapan datang, ya? Udah kangen sama cerewetnya, nih." Alenna membuka obrolan lain dengan mengungkap kerinduan terhadap kebawelan Meli.


"Ah, kalian berdua emang cocok kalau suruh ikut lomba bawel. Pasti menang, haha." Berlian bercanda.


"What? Aku sih udah tobat. Udah nggak bawel-bawel amat. Ya, kecuali kalau lagi iseng ya kumat, deh. Hihi," kata Alenna diikuti tawa pelan.


"Sudah-sudah ngebahas bawelnya. Berlian, nanti tolong share file yang dibagikan Pak Koko hari Rabu lalu, dong. Aku lupa naruh flashdisk di mana." Anjani menyempatkan diri mengatakan keperluannya pada Berlian.


"Oke, siap!" seru Berlian menanggapi.


"Anjani, jangan lupa Vina kamu telepon juga. Ntar nggak dikabarin bisa aktif mode juteknya," kata Alenna mengingatkan.


"Astaghfirullah. Hampir aja aku lupa karena terlalu asyik ngobrol sama kalian. Em, aku tutup ya teleponnya. Assalamu'alaikum," salam Anjani, lalu menutup teleponnya.


Rencananya tadi Anjani hanya akan mengobrol sebentar saja via telepon bersama Berlian dan Alenna. Nyatanya Anjani terlalu asyik, karena sempat melakukan sambung ayat via telepon.


Anjani segera mencari nomor Vina yang dulu sempat diberi oleh Mario. Ketemu, Anjani lekas membuat panggilan suara. Sembari menunggu telepon diangkat, Anjani melihat jam dinding yang dipasang di warung Paman Sam. Sudah pukul empat sore kurang 15 menit. Itu artinya tersisa lima belas menit lagi dari kesepakatan jadwal mengaji. Anjani khawatir Vina sudah bersiap-siap.

__ADS_1


Terlihat Anjani berjalan mondar-mandir di teras depan rumah sambil menempelkan smartphone ke telinga kanannya. Anjani tampak gelisah karena sudah dua kali mencoba menghubungi Vina, tapi tak kunjung diangkat juga. Anjani mencoba sekali lagi, dan masih belum diangkat juga oleh Vina.


"Astaghfirullah. Apa mungkin Vina sudah berangkat, ya?" tebak Anjani.


Anjani memutuskan untuk mengirimi Vina pesan singkat, sekaligus permintaan maaf. Pesan itu berhasil terkirim. Ada tanda centang dua warna biru di bagian kanan bawah pesan yang dikirim Anjani. Itu artinya pesan sudah dibaca. Akan tetapi, hingga beberapa menit berlalu, Anjani tak kunjung menerima pesan balasan dari Vina.


"Astaghfirullah," ucap Anjani, kembali duduk di kursi. "Semoga Vina tidak marah," imbuhnya.


Anjani memandang ke arah halaman rumah. Rintik-rintik hujan mulai terlihat. Kilat putih disusul guntur pun tak ketinggalan. Selang beberapa detik, hujan pun mengguyur dengan derasnya.


"Semoga hujan membawa berkah. Aamiin." Anjani berdoa kala pertama kali melihat hujan turun membasahi halaman rumahnya.


"Aamiin," seru Paman Sam ikut meng-aamiin-kan doa yang dibaca Anjani.


Anjani tersenyum melihat Paman Sam yang berdiri di ambang pintu warungnya.


"Paman, nikahnya jadi kapan?" tanya Anjani menanyakan rencana pernikahan Paman Sam dengan seorang janda yang berhasil mencuri hati pamannya itu.


"InsyaAllah tiga minggu lagi. Sederhana saja nikahnya. Yang penting ...."


"SAH," kata Anjani dan Paman Sam berbarengan.


Itu artinya pernikahan Paman Sam dilaksanakan seminggu sebelum acara pernikahan Pak Nizar dan Mbak Bida. Anjani dan teman-temannya sudah berniat akan membantu sebisanya, baik itu persiapan pernikahan Paman Sam ataupun Pak Nizar.


"Bantu Paman, dan kau doakan supaya lancar. Eh, ajak Meli juga buat bantu-bantu. Begitu pulang dari Jogja kau beri tahu dia, ya." Paman Sam antusias.


Anjani mengatur ibu jari dan telunjuk kanannya membetuk tanda OK, diringi senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


Gemuruh guntur semakin menggelegar. Hujan mengguyur semakin deras. Hawa dingin pun semakin terasa menerpa kulit. Anjani menggosok-gosokkan telapak tangannya demi menciptakan sedikit kehangatan. Meski demikian, hawa dingin masih saja terasa.


Berlama-lama duduk di teras depan rumah dalam kondisi hujan tentu saja membuatnya semakin merasakan hawa dingin. Paman Sam yang saat itu ada di dalam warung tidak terlalu merasakan hawa dinginnya karena tengah duduk di antara tumpukan barang-barang. Anjani sempat mengintip Paman Sam sebentar yang rupanya sedang sibuk menghitung barang. Usai mengintip aktivitas Paman Sam, Anjani pun mulai melangkah hendak masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi, urung.


Sebuah mobil mewah yang begitu dikenal Anjani mulai memasuki halaman rumah Paman Sam. Klakson mobil sempat dibunyikan sebagai tanda bahwa penumpang mobil tersebut hendak menuju rumah Paman Sam.


"Vina?" lirih Anjani.


Ya, mobil yang berhenti di halaman rumah Paman Sam adalah mobil Vina. Anjani bertanya-tanya dalam hati, tentang bagaimana Vina tahu rumahnya dan apa keperluan Vina sehingga sampai di rumahnya.


Sosok yang pertama kali dilihat oleh Anjani bukanlah Vina. Ken, turun pertama kali dari mobil milik Vina itu. Ken lebih dulu mengembangkan payung, lalu turun dari mobil Vina. Wajah Ken terlihat kesal, hingga keningnya berkerut saat itu.


"Assalamu'alaikum!" salam Ken dengan sedikit seruan agar suaranya tidak kalah dengan suara guyuran hujan.


Anjani lekas menjawab salam dari Ken dan mempersilakan Ken untuk masuk.


"Wa'alaikumsalam, Kak Ken. Silakan masuk!"


Saat Ken hendak melepas sandal yang dipakainya, terdengar seruan dari mobil Vina memanggil-manggil nama Ken.

__ADS_1


"Woi, Ken!" seru seorang wanita berhijab.


Anjani kaget, tapi kemudian terselubung rasa senang. Wanita berhijab yang saat itu berteriak memanggil nama Ken adalah Vina.


"Duh!" keluh Ken begitu mendengar teriakan Vina memanggil namanya. "Apa?" tanya Ken dengan berteriak.


"Lu gila, ya?" seru Vina dari kaca mobil yang setengah dibuka.


"What? Nih orang penampilan doang yang berubah. Mulut tetep aja nggak bisa dijaga," protes Ken.


Anjani terkekeh mendengar protes dari Ken.


"Sst, Kak Ken. Sabar. Bertahap," kata Anjani.


Ken masih saja terlihat kesal. Kening Ken bahkan tak berkurang kerutannya, malah semakin bertambah.


"Ken-Ken-Ken! Malah diem aja di situ! Nggak peka banget sih jadi cowok!" teriak Vina sekali lagi.


"Whaaaat? Malah ngebahas kepekaan cowok. Apa'an sih, Vin?" teriak Ken pada Vina.


"Payung ke siniin. Masa lu doang yang pakek payung. Lu pengen gue basah kuyub? Udah cantik gini, nih!" teriak Vina, lagi-lagi.


"Aaaaah. Ngomong dong kalau minta dipayungin!" protes Ken lagi.


Ken segera menuju mobil dan berbagi payung dengan Vina. Ken dan Vina pun menuju ke teras rumah.


"Hai, Anjani." Vina menyapa ramah sambil mengibas-ngibaskan cipratan air hujan yang mengenai gamis barunya.


"Masya Allah. Aku sampai pangling. Kamu cantik, Vin. Lebih cantik saat berhijab," puji Anjani.


Vina memainkan alisnya, dan tersenyum penuh percaya diri saat Anjani memujinya.


"Ayo, silakan masuk!" ajak Anjani mempersilakan Ken dan Vina masuk ke dalam rumah.


"Tunggu sebentar. Di dalam mobil masih ada orangnya lagi. Aku anterin payungnya dulu," kata Ken lalu bergegas menuju mobil Vina.


"Masih ada lagi? Siapa?" tanya Anjani.


"Juno," jawab Vina singkat.


"Juno?" Anjani terheran, mulai bertanya-tanya tentang kedatangan mereka yang tiba-tiba dan sungguh tak terduga.


"Satu lagi. Mario," imbuh Vina.


"Ma-Mario?" Anjani semakin terheran dan bertanya-tanya.


Anjani lekas melihat ke arah mobil Vina. Benar, ada Juno dan Mario yang bersiap turun dari mobil, menunggu giliran payung yang dibawa oleh Ken.

__ADS_1


Bersambung ....


Untuk apa Mario, Juno, Ken, dan Vina datang ke rumah Anjani sore itu? Apakah akan ada pembahasan seputar kuliah, atau justru perselisihan yang akan terjadi di sana? Kepo-in lanjutannya, ya. Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. See You 😉


__ADS_2