CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Bahagia


__ADS_3

Sejak sore itu, usai mengaji di kontrakan Mario, Anjani merasa lebih nyaman. Tak ada lagi kekhawatiran. Tak lagi harus menghindar ataupun bersikap kikuk di depan Mario. Semua telah kembali normal. Salam sapa, obrolan, dan canda tawa kembali seperti semula. Tak ada sungkan, tapi tetap dalam batas wajar. Mario-Anjani jadi lebih sering bertemu di majelis limu, terutama saat belajar mengaji bersama Pak Nizar juga ustaza Nuri.


Peserta mengaji sore semakin bertambah. Ken ikut bergabung di hari ketiga. Sementara Juno tidak pernah absen, padahal sebelumnya tidak punya rencana bergabung. Namun, karena ada Anjani di sana, Juno pun ikut-ikutan bergabung, hingga tak pernah melewatkan satu jadwal kehadiran sekalipun.


Satu minggu telah berlalu sejak hari pertama belajar mengaji. Kebahagiaan dan rasa nyaman menyelimuti hari-hari Anjani. Melalui bimbingan ustaza Nuri, bacaan Alquran Anjani semakin baik, juga semakin lancar saja. Selama satu minggu itu pula Anjani telah tuntas mempelajari bacaan Alquran juz 30. Anjani memang belum bisa menghafalnya, tapi dia sedang berusaha melakukannya.


"Terima kasih. Semoga suka dengan buketnya," kata Anjani ramah pada seorang pelanggan buket bunga di toko Kak Lisa.


"Sama-sama," jawab pelanggan dengan ramah.


Anjani baru saja menyelesaikan pesanan buket bunga. Pagi itu sudah ada lima pelanggan yang terlayani. Pesanan bunga di toko bunga Kak Lisa membludak hari itu. Anjani berbagi tugas dengan Meli mengatur semua pemesanan. Hari itu pula Berlian membantu di toko kakaknya lantaran banyaknya pesanan bunga.


"Anjani, yang di atas etalase tinggal ngasih pita perak saja. Tolong, ya. Aku disuruh Kak Lisa ngitung stok mawar putih di depan." Berlian menjelaskan dengan senyum ceria.


"Wah, ceria sekali kamu hari ini. Oke, siap laksanakan." Anjani mengiyakan.


"Hehe. Sip. Aku ke depan dulu," kata Berlian lalu melangkah keluar.


Di depan toko dekat pintu masuk memang berjajar bunga-bunga. Berlian menghitung jumlah mawar putih sesuai permintaan kakaknya. Saat Berlian asik membungkuk sambil menghitung mawar, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyejajarinya.


"Kak Ken," sapa Berlian.


"Hai. Lagi sibuk, ya?" tanya Ken.


"Lagi bantuin Kak Lisa aja, kok. Kak Ken ada perlu apa di sini?" Berlian bertanya balik.


Ken memperbaiki posisi kacamatanya sambil tersenyum, baru menjawab pertanyaan Berlian. "Ehem, ini lagi nganterin Mario. Tuh!" tunjuk Ken pada Mario yang baru saja selesai memarkir motornya.


"Ken, aku ke dalam dulu. Mau pesan buket," jelas Mario.


Ken hanya mengangguk, disusul salam sapaan dari Berlian kepada Mario. Sementara Mario masuk ke dalam toko, Berlian dan Ken asik mengobrol lagi.


Di dalam toko.


Mario mengedarkan pandang begitu sampai di dalam toko bunga Kak Lisa. Terlihat Meli sedang membantu Kak Lisa menyelesaikan buket di sisi kanan toko. Sementara Anjani berdiri di dekat etalase sambil memasang pita perak pada buket bunga yang tadi dibuat oleh Berlian.


Tidak ada yang menyadari kehadiran Mario, sehingga tidak ada yang menghampirinya. Salah Mario juga yang tidak mengucap salam atau memanggil salah satu dari mereka.


Mario tidak masalah dengan itu. Langkah Mario pun kemudian membawanya menuju tempat Anjani berdiri.


"Assalamu'alaikum," salam sapa Mario pada Anjani.


Anjani sedikit kaget karena suara salam itu begitu dekat, dan suaranya begitu dikenal olehnya. Anjani pun lekas berbalik badan karena sudah tahu suara siapa itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani dengan nada ceria. "Eh!" seru Anjani kemudian.


Mario melihatnya juga. Jilbab Anjani terkait di kawat yang menjadi batang bunga imitasi. Rupanya ada salah satu bunga imitasi yang kawatnya kurang rapi, sehingga terkait di jilbab Anjani.


"Astaghfirullah," kata Anjani sembari berusaha melepas kawat tersebut.


Beberapa detik Anjani berusaha, akhirnya terlepas juga. Senyum mengembang seketika, disusul kekehan kecil.

__ADS_1


"Hehehe. Bolong dikit," kata Anjani.


Mario tersenyum bukan karena jilbab tadi, melainkan karena melihat keceriaan Anjani.


"Tidak terlihat, kok. Masih terlihat cantik," kata Mario kemudian.


Anjani sedikit terkejut mendengarnya, tapi dia tidak ingin berprasangka macam-macam. Setelahnya, Anjani pun menanyakan maksud kedatangan Mario ke toko bunga Kak Lisa.


"Em, ada yang bisa dibantu? Mau pesan bunga?" tanya Anjani.


Mario mengangguk sambil tersenyum. "Satu buket mawar kombinasi berukuran jumbo, ya. Aku tunggu bisa?" tanya Mario.


"Tentu saja bisa, Mario. Silakan duduk sebentar di sana, ya. Aku buatkan dulu," kata Anjani.


Mario melangkah menuju tempat duduk yang dimaksud Anjani. Dari tempat duduknya itu, Mario bisa melihat jelas Ken yang sedang asik mengobrol dengan Berlian di depan toko.


"Ken, kau menyukainya, kan?" gumam Mario seraya tersenyum melihat Ken dan Berlian yang mengobrol.


"Kak Mario. Pesan bunga buat siapa, Kak?" tanya Meli yang sudah selesai membantu Kak Lisa.


Mario lebih dulu menanggapi senyum sapaan Kak Lisa yang lewat di depannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan. Meli.


"Bunga untuk Alenna. Sedang ingin bunga katanya. Ini hari kelahirannya," jelas Mario.


"Oh. Kok nggak minta sama Juno, sih. Mereka kan masih menjalin hubungan," celetuk Meli.


"Sst. Mel, yuk bantuin aku." Anjani lekas menyuruh Meli untuk membantunya. Alasannya juga agar Meli tidak membahas yang aneh-aneh.


Begitu nama Juno dan Alenna disebut sebagai sepasang kekasih, seketika membuat Mario berpikir. Mario tahu persis bagaimana sikap Juno akhir-akhir ini pada Anjani. Mario jelas bisa menebak bahwa perasaan Juno pada Anjani kembali bersemi. Namun, Mario sedikit tidak terima karena hingga saat ini Juno masih saja menjalin hubungan dengan adiknya, Alenna. Namun, Mario tidak mau mencampuri urusan cinta adiknya.


"Halo, Mas Mario. Pasti mau mengingatkanku tentang ulang tahun Alenna, kan? Tenang. Sudah teratasi. Aku sudah beli bunga, sekotak cokelat, dan hadiah. Segera aku akan menemui Alenna," terang Juno.


"Hm. Padahal aku hanya ingin tanya perkembangan acara persiapan penyambutan mahasiswa baru, Jun. Bukankah sudah semakin dekat?" tanya Mario.


Ya, Mario memang menelepon Juno untuk bertanya tentang perkembangan persiapan penyambutan mahasiswa baru di jurusan ekonomi. Bukan membahas tentang Alenna, karena Mario tidak ingin mencampuri urusan cinta adiknya. Namun, Juno malah membahas tentang hadiah untuk Alenna.


"Hehe. Kirain mau bahas Alenna, Mas. Untuk acara kampus sudah beres, Mas. Aku hampir tiap hari neror Mas Ken di kamarnya buat bantuin. Kalau ada apa-apa pasti aku sharing lagi sama Mas Mario seperti waktu itu." Juno menjelaskan panjang lebar dengan nada riang.


"Baguslah. Sampai jumpa nanti sore. Assalamu'alaikum," salam Mario.


"Wa'alaikumsalam. Eh, mas-mas." Juno berseru, membuat Mario urung mematikan teleponnya.


"Hm. Apa?" tanya Mario.


"Ini ada mahasiswa pindahan. Seangkatan sama Mas Mario. Aku ikutkan dalam acara juga, ya? Cuma acara penyambutannya saja, nggak sama OSPEK." Juno meminta pendapat.


Pasti yang dimaksud Vina, batin Mario.


"Hallo, Mas. Gimana?" tanya Juno.


"Tidak perlu, Jun. Meski kau masukkan pasti nanti akan ada pembatalan. Fokuskan saja pada mahasiswa baru," saran Mario.

__ADS_1


"Siaaap," jawab Juno bersemangat.


Begitu telepon ditutup, Mario menghampiri Anjani dan Meli yang masih sibuk mengerjakan buket bunga pesanannya. Mario rupanya pamit keluar sebentar selama beberapa menit.


Mario pun keluar dari toko bunga Kak Lisa. Sengaja Mario tidak mengajak Ken, karena Ken masih saja asik mengobrol dengan Berlian. Setelahnya Mario pun berjalan kaki menuju sebuah toko yang tidak jauh dari toko bunga Kak Lisa. Mario menuju sebuah toko busana wanita. Mario tidak lama berada di dalam toko tersebut. Setelah mendapat apa yang diinginkan Mario pun kembali ke toko bunga Kak Lisa.


***


Di toko bunga Kak Lisa, Anjani dan Meli sudah hampir selesai membuat buket bunga pesanan Mario. Tinggal memberi pita pink kombinasi warna emas pada buket berukuran jumbo tersebut.


Anjani tersenyum melihat buket bunga itu.


"Cie, bahagia banget, sih. Seneng lihat bunganya apa seneng lihat yang pesan bunganya, nih?" goda Meli.


"Astaghfirullah. Meli apa'an, sih?" Anjani protes mendengar Meli menggodanya seperti itu.


Awalnya Anjani memang protes digoda demikian. Akan tetapi, beberapa detik kemudian Anjani malah senyum-senyum juga. Tentu itu efek samping godaan Meli.


"Hehehe, ngaku deh kalau suka. Nggak papa lagi. Perasaan cinta di hati manusia itu kan anugerah. Ya, meskipun kita harus tidak berlebihan menyikapinya. Betul begitu?" Meli berkata sembari mengedipkan mata.


Anjani hanya terkekeh menanggapi penuturan Meli. Anjani tidak mengiyakan juga tidak menyangkalnya. Satu hal yang Anjani rasakan saat itu adalah perasaan senang.


"Sudah selesai?" tanya Mario yang rupanya sudah berdiri di belakang Anjani dan Meli.


Anjani terkejut melihat Mario yang tiba-tiba saja sudah kembali ke toko bunga Kak Lisa.


Astaghfirullah. Apakah Mario mendengar obrolan yang barusan? Batin Anjani.


"Ehem, Kak Mario sudah balik ternyata." Meli basa-basi.


"Ini buket bunganya," kata Anjani sembari menyerahkan buket bunga pesanan Mario.


Mario tersenyum mengambil buket bunga dari tangan Anjani. Setelahnya, Mario menuju meja kasir dan membayar buket bunga tersebut. Ada Kak Lisa yang berjaga di sana.


"Anjani, Meli. Sampai ketemu di mushollah nanti sore. Aku pulang dulu," pamit Mario.


Anjani mengangguk, sementara Meli melambaikan tangannya. Baik Anjani ataupun Meli sama-sama tersenyum ke arah Mario.


Mario masih berdiri sambil membalas senyuman itu. Setelahnya Mario melangkah menghampiri Anjani. Sampai di hadapan Anjani, Mario lekas memberikan paper bag untuk Anjani.


"Apa ini?" tanya Anjani bingung.


"Jilbab untukmu. Semoga suka," kata Mario sembari tersenyum.


Anjani menerima paper bag itu, lalu tersenyum ke arah Mario.


Ada dua hati yang bahagia saat itu. Merasakan sebuah rasa tak biasa yang membara dalam dada. Seiring perjalanan hijrah yang Mario-Anjani pilih, dengannya banyak hal yang telah terbatasi. Termasuk benih cinta yang kembali bersemi di hati Mario-Anjani. Namun, keduanya masih sama-sama bertahan dengan perasaan yang masih tersimpan.


Anjani, aku tadi mendengar obrolanmu dengan Meli. Aku bahagia karena tahu perasaanmu masih sama. Ya Allah, jagakan hatinya untukku, batin Mario dengan senyum menghias wajahnya.


***

__ADS_1


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Ditunggu krisan buat author 😊. Vote-nya juga boleh, lho. See You.


__ADS_2